Senin, 23 Januari 2017

U



U
di kota yang terbakar:
riuh kata-kata membangun
sebuah rumah untuk
dirobohkan
riuh kata-kata
merasuk aku dan kau
riuh kata-kata menjelma jadi
sebuah puisi untuk menikam
tanpa diketahui
(menikam dengan cara yang cantik
dan mengundang lelap)
*
di kota yang terbakar:
aku dan kelamin waktu adalah yang
paling sopan
dalam menyambut kefanaan bara

Denpasar, 2016


Jangan Bersepeda di Sana
tuan alfon bersepeda di tengah putaran
burung-burung pingai
di sepanjang setapak yang dibenci
pohon-pohon eru
butir-butir azab dari pori-pori di dahinya
tegangkan rahim bumi
(tak ada bayi di sana
dan tak boleh ada
dan tak pernah ada)
titik akhir yang dicarinya
diam-diam
mengikutinya dari belakang
—ingin melihatnya terus bersepeda:
ketegangan otot-otot kaki;
ketegangan penantian;
ketegangan kelamin waktu;
ketegangan janji-janji yang bertumpahan dari
sejumlah doa tuan alfon
o, tuan alfon,
takkah kaudengar anakmu memanggil melalui
kepak sayap pingai-pingai itu?
(tapi sepasang kakimu tetap mengayuh sepeda
kau ingin sampai
pohon-pohon eru mulai membencimu)
sekepal batu: tuan alfon tak melihatnya
sepeda tuan alfon melindasnya
tuan alfon terjatuh
(darah: aku menemukan sesuatu yang lebih hangat
ketimbang kepala pria itu: tanah)
burung-burung pingai bubar
pohon-pohon eru menjauh ke lembah dada
setapak mengerut di balik celana keyakinan
di rumah, anakmu menanti
bersama segelas jus apel
yang mulai kusam

Denpasar, 2016


Nurlela Kedua
—teringat Bing Slamet
/1/
nurlela tak cantik lagi; ia putih serupa
buih dan mayat, dan mayat yang ditelan
buih (sebelum kapal pemberontak
menemukannya
dan salah seorang awak kapal berkata:
“siapa yang mengeluarkan feses
sedemikian besar?!”)
nurlela tak cantik lagi; siapa kena lirik
benak terjebak intrik
(dan ia akan berdendang; rasamu
di awang)
/2/
nurlela tak pandai menari lagi;
kaki-kaki itu kupatah, aku kaupatah
dengan musim
nurlela tak pandai menari lagi;
tubuh bahasa rontok
memotong saraf dramaturgi
/3/
nurlela tidak cantik
nurlela tidak pandai menari
tapi nurlela tahu cara membunuh
pelantunnya


Jakarta, 2016


Sinopsis
kata hampir tuntas meminjam rupa. kata hampir
tuntas menanam kepala aku ke dalam botol bahasa.
kata hampir menjadi lampu yang menjelmakan puisi.
kata hampir membangun dinding-dinding “aku”
menjadi kau dan kata “penuh” yang jenuh terhadap
kata.
tapi gorden kau belum dibuka. tapi gorden kau belum
melihat tamu mana yang hendak menjadi aku. aku yang
jenuh; aku yang penuh—aku yang hampir dituntaskan oleh
rupa
dan
kata-kata.

Jakarta, 2016


Sinopsis, 2
menembak seekor burung camar. mencatatnya dengan
rumus yang salah. membawa pulang ke apartemen.
melewati komidi putar bahasa—yang dinaiki oleh bocah-
bocah logika cahaya. merekamnya dengan sebutir peluru
dan bau daging gosong. berangan mencetak-memajangnya
di kamar prosa
menikmatinya sambil masturbasi dengan puisi.
tunggu. burung camar menjadi kata “tembak”. kata “tembak”
lalu jadi bahasa. bahasa keluarga kita. tunggu. lidah kaku,
berasa bubuk mesiu. jangan kau campur dengan menu sarapan
aku. tunggu. aku tak bisa bicara dengan tembok jika ada
peluru
di mulutku.

Jakarta, 2016


Bayang-Bayang Merah: Scene 5
membiarkan kau diaduk secangkir kopi. mengajarkan kau
menahan belai dari belakang, lalu didorong ke tembok
untuk bercumbu. tidak berbicara satu kali pun. kecuali
alat perekam di tangan seseorang.

Jakarta, 2016



*) Puisi-puisi ini dimuat di Nusantaranews.co pada tanggal 22 Januari 2017.

Kamis, 19 Januari 2017

TES MASUK IKJ





Tes Masuk IKJ
dan kursi serta kantung kemih
ini semakin berkontraksi.
tawa atau amarah
adalah selaput tertipis
yang pernah kukoyak dengan
bualan pena.
“tapi kau bukan seniman yang
menciptakan derit pada nadi pintu.”
aku tak tahu.
tak tahu jika di antara nama-nama
yang asing terselip rasa
nyaman dan percaya
diri.
“tapi aku bukan seniman yang
menonjol pada putingmu.”
dan napas juga detak jantung
semakin mendekati film bisu
hitam dan putih. apa yang kutulis
pada kertas bukanlah puisi.
bukan keyakinan.
hanya pertanyaan yang
coba-coba
menjelma jadi pernyataan.
sementara itu, pergeseran daun pintu
adalah nama-nama yang dipanggil.
berarti pula penantian
dan sejumlah doa
yang beterbangan.
(Denpasar, 2016)

Persinggahan Data-data
data-data yang singgah
perlahan-lahan
hilang
ingatan.
sajak-sajak tak kunjung bertumpahan
dari mulutmu, mungkin
sebab bukan bagian
dari doa.
namun data-data yang singgah
masih hendak mengunggah-
menggugah doa-doamu,
sebelum ingatan mereka
menjadi hujan pada kata-kata
yang terpatah.
“izinkanlah kekataku singgah pada
jejak-jejak para musafir,
pada dosa-dosa para penyair,
dan pada hujan purba yang
menggigilkan senja di matamu!”
*
“menurutmu, apa yang lebih mudah ketimbang
meledakkan persinggahan data-data?”
(Denpasar, 2016)


*) Puisi-puisi ini dimuat di Nusantaranews.co pada tanggal 18 Desember 2016.

Jumat, 09 Desember 2016

LAGU BUKAN UNTUK AYAH

Negara tanpa Kepala -- Lukisan Bismar Siagian
(sumber: Nusantaranews.co)


Lagu Bukan untuk Ayah
ayah adalah seekor burung
ketika kematian tak jadi urung
aku adalah laras senapan—
selaras menembak luka yang tak mapan
(Jakarta, 2016)


Sang Nakhoda dan Teka-Tekinya
/1/
kepala dan leher: terpasang sempurna. dan kapal pun menginjak
dermaga sore ini. kau masih duduk di lambung itu, memasangkan
tangan dengan belati, kaki dengan kalimat “ibu berlari di tempat”.
sang nakhoda kemudian turun—kakinya merindu pasir pantai
dan aroma sosis bakar yang membakar para pengunjung pantai.
/2/
“laut mencintai orang yang tenggelam dalam darah bahasa,”
katamu. “laut selalu jatuh cinta pada orang yang giat
menanam rindu pada cahaya dan mata yang dirundung
gelap.”
memasangkan lambung dengan asam: berhenti! ada puisi
yang menyeberang ruang. akan selesai besok: menyatukan
lidah dengan bahasa dengan keingintahuan dangkal
sang nakhoda.
/3/
dermaga itu palsu. dan pulau itu palsu. sang nakhoda tak
memerlukan peta barang selembar. sebab ia pun lupa
meminjam mata dari laut—lupa meminjam asa dari kau
yang perlahan palsu.
(Jakarta, 2016)


Pelajaran Memasak
/1/
menulis tentang dapur. memasak diri kau di buku harian
yang kuning. yang sepi.
teko lalu bersiul. seekor burung mendidih (meniru kubangan
darah di cahya batokmu). perlahan-lahan tungku yang panas
itu menggigil, mengingin tangan kau menyentuh abu dan
aroma aneh di pipinya yang keras.
/2/
ibu akan meminjam luka dari tetangga sebelah.
tetangga sebelah akan menjadi batu, dan geligi ibu berubah
menjadi lagu yang lugu.
ibu pun memasak kau di dapur kenangan. dan kau memasak
lagu ibu hari ini—di buku harian yang kuning.
yang sepi.
(Jakarta, 2016)


Para Pemeran Sejarah
di balik meja, ada nama-nama
yang memangkas data.
tak ada bahasa yang sedang
bergurau
ketika kata-kata perlahan
berkarat.
“hei! ada perhitunganku yang
tertera di sepanjang garis
lehermu!”
ya, sesederhana itu.
kata-katamu sesederhana yang
akan lahir pun mati,
atau yang tak akan pernah lahir
tapi sudah mati terlebih dahulu.
“kau seperti kata-kata.”
“tapi aku keluar di sela-sela
percintaanmu.”
kelak akan lahir nama-nama yang
lebih sederhana,
hangat,
dan mudah dipahami.
mungkin mereka bukan
terdiri dari
kata-kata.
mungkin mereka tak akan
tercatat di satu pun
data.
tapi mereka adalah
para pemeran sejarah.
sesederhana itu.
(Jakarta, 2016)


*) Catatan: Puisi-puisi ini dimuat di Nusantaranews.co pada tanggal 4 Desember 2016.

Minggu, 06 November 2016

HANTU PUISI -- Sebuah Cerpen


Ilustrasi oleh: Citra Sasmita



Hantu itu terlihat menyusuri jalanan Kota Daging pada suatu sore. Orang-orang di kota itu pun pada ketakutan. Bergegaslah para suami mengurung istri masing-masing di kamar tidur, kamar mandi, loteng, gudang, atau di ruangan lainnya. Ada pula beberapa orang istri yang berinisiatif untuk mengurung diri mereka sendiri. Hal itu orang-orang Kota Daging lakukan demi menghindari terulangnya tragedi yang terjadi dua puluh lima tahun silam di kota mereka.

***

Dua puluh lima tahun yang lalu, pada sore hari pula, untuk pertama kalinya hantu itu terlihat menyusuri jalanan Kota Daging. Tak ada seorang pun yang takut sebab mereka merasa mempunyai Tuhan yang mahapelindung. Kemudian, hantu tersebut terlihat memasuki Hutan Sumsum.
            
Pada pagi keesokan harinya, pukul sembilan, tahu-tahu saja dari Hutan Sumsum terdengar sebuah puisi yang dinyanyikan dengan begitu indah, memenuhi sekujur Kota Daging. Puisi yang dinyanyikan itu mengisahkan tentang cinta seorang ibu yang begitu sia-sia, namun mahaagung. Dan, efek dari puisi tersebut sungguhlah mengerikan: seluruh ibu di Kota Daging kehilangan kendali atas diri sendiri dan dengan sendirinya mereka bergerak menuju sumber suara, sementara yang bukan-ibu mendadak mengalami kelumpuhan-sekujur-tubuh sehingga tak bisa mencegah kepergian para ibu.
            
“Kami, para ibu, akan pergi ke Hutan Sumsum untuk mencari puisi, mencari kemerdekaan,” kata para ibu, seperti kepada diri sendiri, dengan ekspresi dan nada yang datar sebelum meninggalkan orang-orang yang mengalami kelumpuhan-sekujur-tubuh itu.
            
Ketika siang tiba, kelumpuhan-sekujur-tubuh itu lenyap. Para suami dan para anak lantas segera pergi ke Hutan Sumsum sebab para ibu belum kembali. Tepat di titik tengah hutan itu, mereka menemukan hantu yang kemarin sempat terlihat menyusuri jalanan kota sedang duduk di atas sebongkah batu.
            
“Apakah kau yang tadi menyanyikan puisi itu?” tanya salah seorang pria.
            
“Ya,” sahut si Hantu. “Dan, seperti yang sudah kalian duga, dengan puisi itulah aku menyihir para ibu dan kalian semua.”
            
“Di mana ibuku sekarang?!”
            
“Di mana istriku?!”
            
“Di mana nenekku?!”
            
Keriuhan pun tak dapat dihindari. Si Hantu hanya terdiam, sampai ketika ada seseorang yang maju hendak menyerangnya. Apa yang kemudian dilakukan oleh si Hantu, sebelum serangan dari seseorang itu mengenainya, adalah menyanyikan sebuah puisi mbeling yang menyebabkan orang-orang yang mengerubunginya pada mengantuk … lalu jatuh-tertidur. Ketika mereka semua terbangun, pada sore hari di hari yang sama, mereka mendapati diri telah berada di kamar tidur masing-masing.
            
Segeralah para suami dan para anak kembali ke Hutan Sumsum, tepatnya ke titik di mana sebelumnya mereka menemukan si Hantu, tetapi mereka tidak mendapatinya lagi di sana. Pencarian-terhadap-si Hantu pun beralih ke pencarian-terhadap-para ibu. Namun hasil dari pencarian-terhadap-para ibu pada hari itu nihil, sebagaimana pencarian-terhadap-para ibu di hari-hari berikutnya, hingga akhirnya mereka pasrah.
            
Entah siapa yang kemudian menamai hantu itu Hantu Puisi. Yang jelas, nama itulah yang hingga kini digunakan oleh orang-orang untuk menyebutnya.
            
Dan, tentu saja tak ada yang menyangka bahwa Hantu Puisi bakal muncul lagi …

***

Suamiku mengurungku di kamar tidur. Ia tak ingin aku pergi-menghilang—jika pagi nanti Hantu Puisi terdengar menyanyikan puisinya—sebagaimana ibunya, ibuku, neneknya, dan nenekku dua puluh lima tahun silam.
            
Tentu saja bukan suamiku seorang yang melakukan hal ini kepada istrinya. Bahkan, aku yakin bahwa ada saja suami yang “menahan” istrinya secara jauh lebih ketat, sampai sang istri merasa tersiksa.
            
Tapi, apakah yang lebih menyiksa ketimbang terpisah dari keluarga?

***

Tatkala udara pagi akhirnya menghantarkan puisi—tentang cinta seorang ibu yang begitu sia-sia, namun mahaagung—yang dinyanyikan oleh Hantu Puisi di Hutan Sumsum ke sekujur Kota Daging, segeralah para anak dan para suami mengalami kelumpuhan-sekujur-tubuh. Tapi mereka yang mengalami kelumpuhan-sekujur-tubuh itu merasa sedikit tenang sebab para ibu telah “ditahan”. Sayangnya, ketenangan mereka yang sedikit itu taklah bertahan lama; rupanya, para ibu yang “ditahan” itu, entah mendapatkan kekuatan dari mana, berhasil melepaskan diri dari “tahanan” masing-masing—segala macam pintu-yang-terkunci yang menghalangi pada mereka robohkan dengan begitu mudahnya. Benda-benda yang digunakan untuk menyumpal telinga pun taklah berguna sama sekali karena puisi yang dinyanyikan oleh Hantu Puisi dapat didengar bukan melalui telinga saja.
            
Alhasil, pagi itu, jalanan Kota Daging kembali dipenuhi oleh para ibu yang bersama-sama berjalan ke Hutan Sumsum.

***

Puisi yang dinyanyikan oleh Hantu Puisi itu mulai terdengar. Indah sekali. Saking indahnya, sampai-sampai kegelapan dan keapakan di gudang ini lenyap. Dan, aku yakin bahwa, di luar sana, suami dan kedua anakku mendadak mengalami kelumpuhan-sekujur-tubuh.
            
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Puisi yang dinyanyikan itu tak menyebabkan apa-apa pada diriku.
            
Empat detik. Lima detik. Aku harus mencabut kalimatku yang barusan.
            
Ada semacam keindahan yang menyusup ke dalamku. Tapi, entah bagaimana, keindahan itu menyebarkan suatu perasaan ganjil ke sekujur badan dan mengambil alih otakku. Lalu, dengan sendirinya, aku melangkah. Pintu gudang—terkunci—yang menghalangi langkahku kurobohkan dengan begitu mudahnya …

***

Siangnya, sebagaimana dua puluh lima tahun silam, kelumpuhan-sekujur-tubuh yang menghinggapi para anak dan para suami sontak lenyap. Mereka pun langsung pergi ke Hutan Sumsum—beberapa orang dewasa membawa senjata.
            
Sebagaimana dua puluh lima tahun yang lalu, Hantu Puisi ditemukan sedang duduk di atas sebongkah batu di titik tengah Hutan Sumsum.
            
“Kembalikan para ibu!” teriak beberapa orang, nyaris bersamaan.
            
“Tidak,” jawab Hantu Puisi.
            
“Kalau begitu, kami akan menyerangmu!”
            
“Silakan.”
            
Rupanya mereka malah saling menunggu untuk menyerang Hantu Puisi.
            
“Ayo! Langsung saja kita bunuh ia!” seru seorang pria, begitu kesal karena semuanya, termasuk dirinya, tak kunjung menyerang.
            
“Kalau ia langsung kita bunuh, apakah para ibu sudah pasti bakal kembali?” sahut pria yang lain, agak lirih. “Lagi pula, kalau ada yang coba-coba menyerangnya, bukankah hantu itu akan segera menyanyikan puisi mbeling yang membuat kita semua tertidur, lantas berada di kamar masing-masing ketika terbangun, sebagaimana yang dilakukannya dua puluh lima tahun silam?”
            
“Dasar pengecut! Bilang saja kalau kau takut!”
            
“Tapi apa yang dikatakannya itu benar!”
            
“Nah! Kau juga pengecut!”
            
“Ayahku tidak pengecut!”
            
“Hei! Ayahmu memang pengecut!”
            
“Tidak! Ayahmu yang pengecut!”
            
Adu mulut yang panas pun terjadi di kerumunan itu.
            
“Aku tidak akan mengembalikan para ibu sebab kini mereka telah merdeka,” mendadak Hantu Puisi berkata lantang, membuat orang-orang yang mengerumuninya seketika berhenti beradu mulut.
            
“Merdeka?! Apanya yang merdeka kalau kauculik?!” teriak seorang perempuan remaja, disusul oleh teriakan-teriakan dari yang lainnya.
            
Kemudian, Hantu Puisi bersiul nyaring.
            
Orang-orang pun terpana …
            
Tahu-tahu saja para ibu, yang menghilang pagi tadi dan dua puluh lima tahun silam, sudah berada di sekeliling mereka. Ya! Di sekeliling mereka, berbaur dengan kerumunan itu! Ajaibnya lagi, para ibu yang menghilang dua puluh lima tahun silam pada tampak tak bertambah tua sama sekali!
            
“Ibu!”
            
“Nenek!”
            
“Istriku!”
            
“Mertuaku!”
            
Tapi para ibu tak tergerak hatinya oleh pekikan-pekikan pun pelukan-pelukan penuh haru yang mereka peroleh. Sekonyong-konyong, warna bola mata para ibu berubah menjadi merah menyala—begitu terang!—mengejutkan para anak dan para suami sehingga mereka reflek bergerak mundur beberapa langkah—dan terjadilah tabrakan-tabrakan kecil antara tubuh satu dengan tubuh lainnya di dalam kerumunan itu. Lalu, para ibu berteriak, “Biarkan kami tetap merdeka!!!”



*) Cerpen ini dimuat di Bali Post pada tanggal 6 November 2016.

KAU YANG BERCERITA

Wine glass the wine bottle bullet match still life/Lukisan Abstrak Bernard/Foto: id.aliexpress.com

Kau yang Bercerita
kepadaku, kau pernah bercerita tentang
ngarai yang lugu dan arwah-arwah
penuh lelah di rumahmu yang gagu.
*
/1/ ngarai lugu
kokang senapanmu, burai isi
kelaminku: tiada perangai yang
sebusuk ngarai. kepadamu, pelor-
pelor mengadu untuk pinta
yang berpadu di atap-atap
rumah. dan di atap-atap rumah
ada serpihan-serpihan badai
yang sedang menanti tidurmu.
kepadaku, ada yang bercerita:
kepak sayap hujan menerbangkan
apa yang ada di dalam kepalamu.
ngarai yang lugu mungkin tak
mengerti cara memagut rindu-rindu
purba dan gagunya randu yang
mempersiapkan tidurmu. tapi ia
dapat mempersiapkan kekalahanmu
yang sedia menjamu.
/2/ arwah-arwah penuh lelah
kematian bagi mereka serupa lelah
yang sehat dan menyenangkan,
seumpama kata-kata yang kadang
mengenyangkan. ternyata,
kelelahan adalah resep menuju
cinta pada rumahmu: kegaguan
yang abadi selain di kehidupan.
anak-anak maut berada di cermin,
kolong ranjang, kaca jendela, serta
di keremangan kamar tidurmu.
setelahnya, tidur bagimu adalah
cara untuk bunuh diri yang tak
pakai lelah. lelah itu tersimpan rapi
di lari pagimu dan di kesedihanmu
yang bertubi-tubi. hingga malam
terlarut di secangkir kopi, lelap hanya
mengetuk-ngetuk pintu kamarmu;
kepalamu tersembunyi di bawah
bantal yang tertimpa seribu kepala
yang berbeda setiap harinya.
*
kepadaku, kau pernah bercerita tentang
ngarai yang memudarkan kata-kata
dan arwah-arwah penuh lelah yang,
ke dalam sedihmu, hendak bertamu.

Peluru di Benakku
kau tak pernah usai mengendus
mesiu di tingkah laku dan
pikiranku. panas timah yang
mematangkanku memanggil-
memanggul nama-nama peristiwa
di sekitaran kita yang perlahan-lahan
dipalsukan, atau dilupakan.
*
kembali ke beberapa hari yang
lalu, ketika dengan sepucuk revolver
kau melubangi pelipisku, dan
aku memekik geli seraya mencubit
pipimu saking gemasnya. bau
mesiu yang membikin paru-paruku
jatuh cinta adalah aroma yang
membikin hidungku patah hati.
darahku yang mengucur deras
digunakan oleh seorang dewi cantik
untuk keramas, atau untuk mencuci
bajunya yang selangit punya harga.
dan keesokan harinya sang dewi
lesap entah ke mana, entah bagaimana.
*
aku mengecap karat pelatuk
di ciuman kita.

Sibuk Mati*
aku sedang sibuk mati hari ini. aku
sedang sembuh dari sakit yang
mengendap di jantungku dan di
jantungmu. aku sedang pulang dari
kepulangan lainnya yang tak
kunjung tampak. “selamat tinggal.”
*) Puisi ini terinspirasi dari puisi “Minggu” karya Joko Pinurbo.


Puisi-puisi ini dimuat di Nusantaranews.co pada tanggal 6 November 2016.