Rabu, 18 Maret 2026

POHON KEPALA -- Sebuah Cerpen


*Ilustrasi oleh: Marc Chagall



Pohon itu tumbuh di halaman belakang rumahku, tampak serupa pohon mangga, tapi pohon mangga tidak berbuah kepala. Awalnya hanya ada satu kepala di sana, tak lama menjadi dua, lalu tiga, lalu terus membanyak seakan sekarang musim kepala.

Sebelum pohon kepala ada, dinding bata abu-abu di halaman belakang hanya setinggi leherku, dan sambil bermain kelereng aku bisa melihat segerombolan mahasiswa berjalan melewati belakang rumahku, membawa spanduk-spanduk dan meneriakkan nyanyian marah. Suatu Sabtu Ayah membawa para tukang untuk meninggikan dinding halaman belakang, katanya: “Mungkin ada maling di antara para mahasiswa itu, bukan?” Para tukang pun membangun dinding setinggi atap rumahku, dan halaman belakang terkubur bayangan dinding, dan pot-pot tanaman hias dipindahkan ke halaman depan agar tak kekurangan sinar matahari.

Beberapa hari setelah dinding ditinggikan, sepulang sekolah, aku mendapati Ayah berjongkok di halaman belakang, mengubur sesuatu dengan sekop tanah kecil. “Ini biji pohon kekayaan,” jelas Ayah. “Kau akan berkuliah di luar negeri. Kau tidak perlu berdemo.” Ayah menarik pisau dapur yang terselip di pinggang, dan menyayat telapak tangannya tanpa meringis, dan meneteskan darah ke biji yang ia tanam. “Berapa nilai ulanganmu tadi?”

“Tujuh puluh lima.”

“Tolong jangan buat Ayah sia-sia mencari uang.”

HARI INI PEKERJAANMU BELUM SELESAI -- Sebuah Cerpen

*Ilustrasi oleh: Kurt D. Peterson



Hari ini kau selesai bekerja pukul 19.36
―sedikit lebih cepat, eh?―lalu berdiri berdesak-desakkan di bus bersama mereka yang (semoga saja) sama pecundangnya denganmu, dan tiba di depan pintu kamar indekos pukul 21.01. Akhirnya hari ini berakhir, kau membatin, siap betul untuk membuat keturunan dengan istrimu malam ini juga, sekaligus merayakan ulang tahun pernikahan kalian. Tapi, begitu membuka pintu kamarmu, kau melihat ruang kerjamu di kantor.

Benar, matamu tak salah lihat, Pecundang.

Di balik pintu kamarmu, kau menemukan ruang kerjamu dengan meja rapat di tengahnya, plus Fatur dan Ryan dan Diana yang masih sibuk dengan laptop masing-masing di sana―dan tadi kau telah mengucapkan, “Selamat tinggal, Pecundang,” pada mereka. Entah ke mana lenyapnya kasur tanpa ranjangmu, lemari pakaian kainmu, maupun istrimu; entah ke mana lenyapnya kamar indekosmu.

Dan, terdengar langkah-langkah berat itu dari ruang kerjamu, dari kanan pintu; semakin lama semakin dekat, semakin memualkan seperti biasa. Akhirnya, masuklah babi itu ke area pandanganmu. “Kau tidur di toilet, eh?” ucapnya, membetulkan letak kaca mata di atas hidung yang penuh komedo. “Revisi.”

Oke, Bung, silakan tarik napas. Wajar jika kau tak siap menghadapi pemandangan ini. Toh, kau jarang siap menghadapi apa pun.

MALAM PERTAMA, KAMAR 404 -- Sebuah Cerpen


*Sumber Gambar: Kompas.id




Telentang di kasur, tangan kirinya menurunkan karet celana, tangan kanan meraba guratan-guratan di bawah pusar. Tatapan nanarnya terarah ke pintu balkon dan jendela di sampingnya. Jendela itu tertutup gorden marun tipis, menyala oleh cahaya bulan dan lampu-lampu jalan: satu-satunya sumber cahaya di kamar.

Ia mengambil ponsel dari samping bantal, mengangkatnya ke atas wajah, membuka chat di sebuah aplikasi. OTW. Pesan dikirim pukul 20.32. Di sudut kanan atas layar ponselnya: 21.04. Pendingin ruangan berdenging. Kulkas mini di kolong meja rias berdengung. Samar-samar terdengar rengek bayi dan motor-motor yang melintas.

Ting!

Sampai. Pukul 21.05.

Air matanya mengalir ke pelipis, meresap ke rambut hitam sebahu yang terurai di bantal. Jari-jarinya yang gemetar mengetik, Kamar 404, lantai 4. Ketuk saja. Kirim.

Segera ia menyalakan lampu kekuningan di kedua sisi ranjang dan lampu pucat di atasnya. Jejak air mata berbentuk lingkaran kasar tercetak di sarung bantal. Ia menghadap cermin, menarik tisu dari kotaknya di meja rias, menotol-notol basah pada wajah: celak dan bedaknya tak luntur. Ia memaksakan senyum, menyisir cepat rambut dengan jari-jari, mendorong naik cup bra dengan kedua tangan.

“Hai,” ucapnya ke cermin.

“Halo,” ucapnya lagi, lebih ramah.

“Ahh.”

“Aahhh!”

Ia membuang muka, menatap lantai, berdeham-deham. Tukang parkir di kejauhan berseru, “Terus, terus!” Ia menarik napas, menatap cermin lagi—wajahnya merah.

Oh, yes,” desahnya.

Oh, yes!

Pintu diketuk.

ADA SIAPA DI RUMAH INI SELAIN KITA? -- Sebuah Cerpen


*Sumber Gambar: Basabasi.co




Terdengar seseorang membuka-tutup pintu depan. Terdengar seseorang itu lewat dengan langkah ringan di depan Basar yang duduk di sofa. Aroma deodoran semprotnya tercium sesaat.

Felicia?” ucap Basar. Kau memakai deodoran pria sekarang?

Yang ditanya tidak menjawab; terdengar ia menaiki tangga.

Sesaat kemudian, seseorang membuka-tutup pintu depan lagi, sekilas angin menyentuh samping wajah Basar.

“Hai.” Ini jelas suara wanita. “Maaf lumayan terlambat.

Felicia?”

“Kau mengenali suaraku meski aku flu. Itu bagus.” Terasa Felicia duduk di sampingnya dan sofa berkeriut. Ia memakai parfum wanita. “Lapar?”

“Mamaku barusan kembali?”

“Ia ke kantor, bukan? Mobilnya tidak di depan.

“Siapa yang tadi ke atas …? Ia belum turun.

 

Minggu, 07 Desember 2025

SARANG TRAGEDI; DAN PUISI-PUISI LAINNYA


*Sumber Gambar: iStock




Sarang Tragedi

 

tragedi bersarang pada air yang mendinginkan kerongkonganmu

tragedi bersarang pada kopi yang mendentangkan jantungmu

tragedi bersarang pada manis krim di ujung lidahmu

tragedi bersarang pada kulit ayam yang berkriuk di gigimu

tragedi bersarang pada soda yang mengembungkan perutmu

tragedi bersarang pada gurih makan pagi dan siang dan malam