Kamis, 13 Agustus 2026

OPERASI GORONG-GORONG -- Sebuah Cerpen

*Ilustrasi oleh: Chenny Aviana




 

1/

 

Dari lantai lima, dari jendela kamar sebuah hotel, seorang pria meneropong ke luar.


Mereka sudah mengelilingi manhole di tengah jalan:


a) 10 orang anggota Satpol PP, dengan tongkat dan borgol di pinggang;

b) 2 orang anggota Polres, bersenjata Glock 17;

c) 15 orang wartawan, dari 8 media berbeda;

d) 2 orang anggota tim Dinas Pekerjaan Umum;

e) Ajudan Gubernur;

f) target utama: Gubernur.


Sesuai checklist.


Sisanya hanya para warga yang tak penting, yang ingin masuk TV atau sekadar menonton sebuah gimik.


Kedua anggota tim Dinas Pekerjaan Umum mengangkat tutup manhole. Ajudan dan Gubernur melakukan peregangan ringan; mereka memakai helm dan rompi proyek, bot karet sepaha dan masker medis. Salah seorang wartawan berpakaian serupa pun mendekati Gubernur, mengambil medium shot-nya dengan handycam. Gubernur memberi isyarat jari hati ala Korea.


Hanya satu wartawan yang akan ikut turun ke gorong-gorong. Bagus.


Pria di hotel itu mendekatkan walkie talkie ke mulut. “Ajudan bersiap turun.”

 

Sabtu, 04 Juli 2026

AYAM; DAN PUISI-PUISI LAINNYA

*Sumber Gambar: Kurubungka.co


Ayam

 

menyeberang ke kantor:

teringat seekor ayam

di sebuah teka-teki

 

(Jakarta, Maret 2024)


Minggu, 31 Mei 2026

LAPORAN KEPADA KOMANDAN: PELUANG REPRODUKSI DI BUMI -- Sebuah Cerpen

*Ilustrasi oleh: Mujahidin Nurrahman




Kepada Komandan Tim Riset Interplanet,

 

Melalui laporan ini saya, M931, sekaligus mewakili mendiang F929, akan menyampaikan hasil riset kami di Bumi, mengenai peluang kolaborasi reproduksi dengan Homo sapiens, dalam rangka memperluas penyebaran spesies kita dan mencegah kepunahannya.


Sejak dua tahun lalu, saya dan F929 telah mempelajari secara intensif salah satu bahasa Homo sapiens dari Kamus Bahasa Interplanet oleh mendiang M172, karena penguasaan bahasa adalah salah satu aspek penting dalam kolaborasi reproduksi. Akhirnya, pada 25 Ptorias 1997[1], kapsul kami turun ke Bumi; koordinat pendaratan kami adalah tempat dari mana bahasa dalam kamus M172 berasal. Kami sengaja menunggu hari gelap untuk mendarat, ketika aktivitas Homo sapiens paling minimum, sehingga potensi mereka menyadari kehadiran kami sangatlah kecil. Kapsul kami meluncur menembus permukaan sungai berair cokelat dan penuh sampah—tidak ada siapa pun di sekitar sana—dan parkir di dasarnya. Setelah berenang keluar ke bantaran, kami mengubah wujud menyerupai Homo sapiens: saya menjadi pejantan; F929 menjadi betina—lengkap dengan kostum khas spesies tersebut.


Dari bantaran, kami berjalan ke sembarang arah. Tiba di pinggir sebuah lapangan, kami melihat sepasang Homo sapiens jantan-betina sedang melakukan sesuatu di antara semak-semak: si Betina duduk di atas si Pejantan, mengulang-ulang gerakan dan kalimat pendek yang sama. Kami pun bersembunyi di balik pohon, saya mengaktifkan mode rekam pada mata dan telinga (rekaman saya sertakan bersama laporan ini); kemungkinan mereka tengah bereproduksi karena kata-kata si Betina menyiratkan demikian.


Melalui teleserfo[2] F929 berkata, “Ayo bajak percintaan mereka? Aku dengan si Pejantan, kau dengan si Betina.”

JURU CATAT -- Sebuah Puisi

*Ilustrasi oleh: Gemini AI




aku ditugaskan di bahu kirimu

tanganku pegal mencatat

sayapku pegal terbang bolak-balik

membeli pulpen dan buku catatan baru

sedang temanku di bahu kananmu

apa yang ia kerjakan?

hampir tak ada

Rabu, 18 Maret 2026

POHON KEPALA -- Sebuah Cerpen


*Ilustrasi oleh: Marc Chagall



Pohon itu tumbuh di halaman belakang rumahku, tampak serupa pohon mangga, tapi pohon mangga tidak berbuah kepala. Awalnya hanya ada satu kepala di sana, tak lama menjadi dua, lalu tiga, lalu terus membanyak seakan sekarang musim kepala.

Sebelum pohon kepala ada, dinding bata abu-abu di halaman belakang hanya setinggi leherku, dan sambil bermain kelereng aku bisa melihat segerombolan mahasiswa berjalan melewati belakang rumahku, membawa spanduk-spanduk dan meneriakkan nyanyian marah. Suatu Sabtu Ayah membawa para tukang untuk meninggikan dinding halaman belakang, katanya: “Mungkin ada maling di antara para mahasiswa itu, bukan?” Para tukang pun membangun dinding setinggi atap rumahku, dan halaman belakang terkubur bayangan dinding, dan pot-pot tanaman hias dipindahkan ke halaman depan agar tak kekurangan sinar matahari.

Beberapa hari setelah dinding ditinggikan, sepulang sekolah, aku mendapati Ayah berjongkok di halaman belakang, mengubur sesuatu dengan sekop tanah kecil. “Ini biji pohon kekayaan,” jelas Ayah. “Kau akan berkuliah di luar negeri. Kau tidak perlu berdemo.” Ayah menarik pisau dapur yang terselip di pinggang, dan menyayat telapak tangannya tanpa meringis, dan meneteskan darah ke biji yang ia tanam. “Berapa nilai ulanganmu tadi?”

“Tujuh puluh lima.”

“Tolong jangan buat Ayah sia-sia mencari uang.”