Selasa, 20 Juni 2017
Jumat, 16 Juni 2017
LELAKI ITU TAK BOLEH BELAJAR -- Sebuah Cerpen
Si Kutu tinggal di kepala si Lelaki yang berambut lebat. Rambut lebat itulah yang membuat tempat itu nyaman untuk ditinggali. Sayangnya, gara-gara si Lelaki jadi rajin belajar, rambutnya pun mulai rontok.
Si Lelaki mulai rajin belajar sejak ia berpacaran dengan si Perempuan—alasannya sederhana saja, yakni agar kehidupan rumah tangganya dengan si Perempuan kelak dipenuhi kecerahan. Tetapi jelas saja si Kutu tak bahagia dengan rencana tersebut. Oleh sebab itu, si Kutu memikirkan bagaimana cara membuat si Lelaki jadi malas belajar supaya rambutnya tidak rontok lagi.
***
“Kenapa kau tidak pindah ke kepala orang lain saja?” tanya si Nyamuk suatu ketika.
“Aku sempat melakukan hal itu beberapa kali,” sahut si Kutu. “Aku pernah melompat ke kepala ibunya, kepala ayahnya, dan kepala pacarnya, tetapi rambut di kepala-kepala itu, entah kenapa, tak mampu membuatku merasa senyaman di kepala ini. Rasa darah di balik kulit kepala ini pun adalah yang paling enak yang pernah kucicipi.”
Plak! Tepukan tangan si Lelaki hampir saja mengenai si Nyamuk yang berdengung-dengung di dekat kepalanya. Kemudian si Nyamuk hinggap di rambut si Lelaki, tepatnya di samping si Kutu, dan tak lagi berdengung-dengung sehingga si Lelaki kembali fokus ke buku pelajarannya, karena ia pikir si Nyamuk telah pergi atau mati.
“Omong-omong, bukankah rambut lelaki ini bukan di kepala saja, Kutu?”
“Maksudmu, aku harus pindah ke bagian tubuhnya yang lain yang juga berambut? Semisal … kemaluan?”
“Begitulah. Lagi pula, rambut kemaluan tak akan rontok serajin apa pun pemiliknya belajar.”
“Ah! Tidak berkelas sama sekali!”
Sekonyong-konyong enam helai rambut kepala si Lelaki rontok dan mendarat di pundaknya. Kecemasan semakin menusuk si Kutu. Itu baru rambut yang rontok dengan sendirinya. Jika si Lelaki belajar sembari menggaruk-garuk kepalanya—entah karena gatal yang muncul dengan sendirinya atau karena gatal yang ditimbulkan oleh aktivitas si Kutu—rambut yang rontok bakal lebih banyak lagi.
***
Rupanya ide itu muncul dengan sendirinya di benak si Kutu. Dan, ia yakin ide tersebut akan berhasil.
Malam itu, si Lelaki, sepertinya biasanya, sedang duduk di hadapan meja belajar, fokus pada buku pelajarannya. Tanpa disadarinya, si Kutu bergerak memasuki kepalanya melalui lubang telinga kanan, dan tak lama kemudian sampailah makhluk kecil itu di otaknya.
“Mau apa kau di sini, Makhluk Asing?!” sambut si Pikiran, tak ramah.
“Aku di sini untuk menemuimu … dan mengubahmu.”
“Pergilah! Aku sedang sibuk menerima data-data dari si Mata!”
Tetapi si Kutu tak mau pergi dari sana …
***
Si Buku Pelajaran bingung bukan main sebab tiba-tiba saja si Lelaki mencampakkannya dan meraih si Ponsel untuk dijadikan titik fokus.
Si Kutu keluar dari kepala si Lelaki—melalui lubang telinga kanannya pula—sembari tertawa puas. Si Kutu, yang telah sukses mengubah si Pikiran, yakin bahwa rambut si Lelaki tidak akan rontok lagi sebab kini ia memiliki hobi baru, yaitu bermain game.
“Ini semua pasti ulahmu!” hardik si Buku Pelajaran. “Mau jadi apa lelaki ini kalau ia bermain game terus dan tidak belajar?!”
“Taik kucing! Aku tidak peduli!”
***
Bagaimanapun, si Kutu tak dapat mengubah sifat serba-ingin-tahu si Lelaki yang besar, karena sifat serba-ingin-tahu itu bukan hanya ada di pikirannya, melainkan di hatinya juga.
Semula, keberhasilan rencana si Kutu tampaknya akan abadi sebab si Lelaki tidak lagi rajin belajar karena sibuk bermain game di ponselnya. Rambutnya pun tak lagi rontok dan dengan cepatnya bertumbuh. Namun, karena sifat serba-ingin-tahunya yang besar terhadap game, si Lelaki akhirnya mulai belajar keras—di antara kesibukannya bermain game—lagi agar di masa depan ia bisa menjadi pembuat game yang handal, mendapatkan banyak uang, dan hidup bahagia bersama si Perempuan. Buku-buku pelajarannya, terutama buku-buku tentang teknologi, pun kembali senang. Alhasil, rambut si Lelaki rontok lagi.
***
Saban belajar di kelas, rambut si Lelaki rontok dua kali lebih banyak dari biasanya—apalagi kalau ia belajar di kelas sembari menggaruk-garuk kepala. Itulah alasan kenapa si Kutu membenci kelas, meskipun kini si Lelaki tak seratus persen belajar selama di kelas, melainkan beberapa kali mencuri kesempatan buat bermain game di ponselnya kala si Guru lengah.
Jam istirahat tiba. Si Lelaki berjalan ke kantin, sementara si Kutu mengamat-amati aktivitas para murid di sekitarannya dan mereka-reka aktivitas manakah yang bakal membuat si Lelaki jadi pemalas murni. Tetapi, di sepanjang perjalanan menuju kantin itu, ia tak menemukan satu pun aktivitas yang tepat.
Di kantin, si Kutu melihat banyak orang sedang makan dan berpikir untuk membuat si Lelaki jadi suka makan banyak agar kegemukan, mudah lelah, dan sering mengantuk, sehingga tak sempat belajar. Kemudian ia pun berpikir bahwa bisa saja nanti si Lelaki malah jadi rajin mempelajari buku-buku kuliner dan yang lainnya—yang berhubungan dengan makanan.
“Kenapa belakangan ini kau jadi sering bermain game?” tanya kekasih si Lelaki, si Perempuan.
“Ini adalah bagian dari pelajaranku,” jawab si Lelaki, sesaat mengalihkan fokus ke wajah si Perempuan, tetapi jari-jemarinya tetap menari-nari di permukaan layar ponsel. “Belakangan, aku bercita-cita menjadi pembuat game yang handal. Untuk menjadi pembuat game yang handal, salah satu yang harus kulakukan tentu saja bermain game.”
Si Perempuan hanya tersenyum kecil.
Di pojok sana, si Kutu melihat beberapa orang murid sedang memakai narkoba secara diam-diam. Si Kutu berpikir bahwa, di mana-mana, para pecandu narkoba pasti pada malas belajar. Tapi, bagaimana kalau si Lelaki malah jadi rajin mempelajari cara-cara membikin narkoba, juga cara-cara menyelundupkannya, sampai-sampai rambutnya rontok? Kalaupun tidak begitu, bisa saja kerontokan pada rambutnya itu disebabkan oleh penggunaan narkoba.
Di pojok yang lain, sekelompok murid sedang mengerjai seorang murid yang tampaknya begitu lemah. Murid yang tampaknya begitu lemah itu sepertinya sebentar lagi akan menangis. Si Kutu berpikir bahwa mungkin saja si Lelaki akan melupakan kewajibannya untuk belajar jikalau dibuatnya jadi suka mengerjai orang yang lemah. Tapi secepat kilat pemikiran itu dibantahnya dengan pemikiran lain: Bisa saja orang yang dikerjai si Lelaki nanti terluka parah, kemudian melapor pada polisi, dan si Lelaki mendapatkan sebutan “penjahat”; karena mendapatkan sebutan itu, si Lelaki pun jadi rajin mempelajari cara-cara agar dirinya tak sampai ditangkap oleh polisi. Seandainya ia tidak mempelajari cara-cara tersebut, maka ia akan ditangkap, masuk penjara, mengalami depresi berat, kemudian rambutnya mengalami kerontokan.
“Kau tahu, Sayang, taring adikku yang waktu itu dicabut sekarang sudah tumbuh,” kata si Perempuan, menyurutkan keheningan yang sempat menggenang di antara mereka berdua.
“Benarkah?” Si Lelaki meletakkan ponselnya di meja, di antara piring makanan dan buku pelajarannya. Ia tampak begitu tertarik dengan apa yang diucapkan oleh si Perempuan. “Cepat sekali!”
“Begitulah. Waktu tadi pagi aku bangun tidur, ia langsung menunjukkan taringnya yang baru tumbuh itu padaku.”
Si Kutu terkejut mendengar kalimat itu.
Waktu tadi pagi aku bangun tidur …
… aku bangun tidur …
… tidur …
***
Pak Guru terkejut begitu melihat si Lelaki tertidur di kelasnya, padahal biasanya ialah yang paling bersungguh-sungguh menyimak pelajaran.
“Halo?” kata Pak Guru sembari mengguncang-guncang tubuh si Lelaki secara perlahan. Jikalau yang tertidur adalah murid yang lain, pastilah Pak Guru akan memukul atau menendangnya supaya terbangun. “Kau sakit, atau bagaimana?”
Si Lelaki tak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
Si Kutu tertawa puas.
Sebab si Lelaki tetap tidur meski telah diguncang-guncang lebih keras dan beberapa kali diciprati air, Pak Guru pun memutuskan untuk membopong si Lelaki ke UKS.
***
Hingga pulang sekolah, bahkan hingga dibawa ke rumah sakit oleh kedua orangtuanya, si Lelaki tetap tak bisa dibangunkan. Para dokter akhirnya pasrah, kedua orangtuanya menangis, dan si Perempuan yang mendengar kabar buruk itu memutuskan untuk mencari kekasih baru.
“Ia seperti tidak sakit … tapi juga tidak sehat,” kata seorang dokter. “Mungkin ia terjangkit suatu penyakit baru.”
Si Lelaki pun dipulangkan dan ditidurkan di kamarnya. Selama tidur, ia hanya makan melalui infus serta buang air melalui selang-selang yang dipasang sedemikian rupa.
Hari demi hari, rambut si Lelaki melebat tanpa rontok sama sekali, sebab ia tak ada belajar. Si Kutu merasa telah menang. Tentu saja ia bahagia. Namun kebahagiaan tak pernah abadi.
Dua bulan kemudian, masih tetap tidur, rambut si Lelaki mulai rontok lagi. Rupanya, si Lelaki telah menemukan cara untuk belajar di alam mimpi. Ia belajar serajin di dunia nyata demi masa depannya bersama si Kekasih Baru yang dijumpainya di alam itu.
*) Cerpen ini pernah dimuat di Litera.co.id pada tanggal 13 Juni 2017.
Senin, 29 Mei 2017
ANAK BARU YANG DIBUAT DARI "BIBIT" BERSAMA
Entah seberapa penting hadirnya buku berjudul "Seutas Tali & Segelas Anggur" ini bagi sastra Indonesia. Entah seberapa penting hadirnya karya-karya saya di dalam buku ini. Yang terpenting, saya bisa berbahagia sedikit (bwahahahaha!).
Buku ini adalah kumpulan dari cerpen dan puisi. Tepatnya, cerpen-cerpen dan puisi-puisi terpilih yang dimuat di portal online Litera.co.id sepanjang tahun 2016. (Artinya, ada banyak penulis yang terlibat di dalam buku ini.)
Kebetulan, saya menyumbangkan dua buah puisi untuk buku ini. Puisi-puisi itu berjudul "Diam yang Melumatmu" dan "Ritual". (Bisa dibaca di sini.)
Sekian. Itu saja.
Ah, saya lupa menyebutkan nama-nama penulis lainnya yang turut meramaikan isi buku ini.
Dari bagian CERPEN:
Armin Bell, Dianing Widya, Kasim MD, Kristiawan Balasa, Kurnia Gusti Sawiji, Mahan Jamil Hudani, Ni Komang Ariani, Setiyo Bardono, Seto Permada, Yuditeha, Zaenal Radar T.
Dari bagian PUISI (selain saya):
Budhi Setyawan, Dedy Tri Riyadi, Eddy Pranata PNP, Eko Ragil Ar-Rahman, Fikar W. Eda, Iwan Setiawan, Moh. Gufron Cholid, Rai Sri Artini, Rukmi Wisnu Wardani, Wahyu Gandi G, Willy Ana.
Selasa, 16 Mei 2017
DI PERSIMPANGAN PENDAPAT
di desa ini
anak-anak tak berhak menghentikan
kematian
anak-anak tak berhak menghentikan
kematian
anak-anak hanya boleh bermain dengan
ketegangan kelamin dan keasaman
senja yang tak tertebak
ketegangan kelamin dan keasaman
senja yang tak tertebak
di desa ini
pohon-pohon pencakar langit wajib menggantung
kebahagiaan untuk anak-anak di ketinggian
yang mustahil:
serangga-serangga penggigit menanti
di jarak yang mematikan;
keruncingan bumi mestilah mencintai
punggung anak-anak yang tak akan
pernah jatuh cinta
pohon-pohon pencakar langit wajib menggantung
kebahagiaan untuk anak-anak di ketinggian
yang mustahil:
serangga-serangga penggigit menanti
di jarak yang mematikan;
keruncingan bumi mestilah mencintai
punggung anak-anak yang tak akan
pernah jatuh cinta
anak-anak tak boleh mengacungkan tangan
untuk bertanya pada guru di kelas. pertanyaan
macam apa pun terlalu berbahaya dan belum
pantas untuk kerontang usia mereka.
anak-anak hanya boleh mengangguk untuk
apa yang mereka mengerti maupun tidak
untuk bertanya pada guru di kelas. pertanyaan
macam apa pun terlalu berbahaya dan belum
pantas untuk kerontang usia mereka.
anak-anak hanya boleh mengangguk untuk
apa yang mereka mengerti maupun tidak
di desa ini
anak-anak bertumpahan dari rahim
untuk menambal retak di perut
dan ubun-ubun orang dewasa
anak-anak bertumpahan dari rahim
untuk menambal retak di perut
dan ubun-ubun orang dewasa
anak-anak tak perlu menyadari betapa
rawannya dada mereka
di tengah desakan
sumber-sumber kematian
rawannya dada mereka
di tengah desakan
sumber-sumber kematian
(Denpasar, 2016)
PUISI MENULIS AKU
ranting-ranting berjatuhan sebagaimana
kota-kota
isi-isian perut terburai sebagaimana
kata-kata
surat-surat cinta terbakar sebagaimana
kota-kota
mata-mata terbutakan sebagaimana
kata-kata
sungai-sungai tercekik arusnya sebagaimana
kota-kota
kaki-kaki pada pincang sebagaimana
kata-kata
remah-remah roti tersapu angin sebagaimana
kota-kota
kepala-kepala meledak sebagaimana
kata-kata
kota-kota
isi-isian perut terburai sebagaimana
kata-kata
surat-surat cinta terbakar sebagaimana
kota-kota
mata-mata terbutakan sebagaimana
kata-kata
sungai-sungai tercekik arusnya sebagaimana
kota-kota
kaki-kaki pada pincang sebagaimana
kata-kata
remah-remah roti tersapu angin sebagaimana
kota-kota
kepala-kepala meledak sebagaimana
kata-kata
di belahan bumi yang tak terduga,
kota-kota hanya boleh ditinggali
oleh kata-kata—yang tak terduga.
kota-kota hanya boleh ditinggali
oleh kata-kata—yang tak terduga.
(Denpasar, 2016)
SUSU LOKAL
saya menyusu dari sembahyang
dan tangis kalian. menyusu pula
dari pohon tarra*
dan puisi-puisi puang matua**
dan tangis kalian. menyusu pula
dari pohon tarra*
dan puisi-puisi puang matua**
bila “waktu” tiba nanti,
di luar passiliran***,
adakah susu
yang tiba-tiba
menjadi fana?
di luar passiliran***,
adakah susu
yang tiba-tiba
menjadi fana?
(Denpasar, 2016)
*) Pohon besar—diameternya bisa mencapai 3 meter—yang dijadikan tempat untuk mengubur bayi di Toraja.
**) Tuhan.
***) Kuburan bayi di Toraja.
**) Tuhan.
***) Kuburan bayi di Toraja.
KEMEJA BASAH
menjemur kemeja putih di ruang berhujan
pintu dan jendela sila kaututup
agar panas pun angin tak mengganggu
ketenangan air
pintu dan jendela sila kaututup
agar panas pun angin tak mengganggu
ketenangan air
ratusan ekor lebah menjebak diri di dalam
pendingin ruangan
dua ekor ikan berenang-tanpa-jiwa
di langit-langit, mengitari bohlam yang
mewiru cahaya
pendingin ruangan
dua ekor ikan berenang-tanpa-jiwa
di langit-langit, mengitari bohlam yang
mewiru cahaya
sebuah kapal berlayar di kerah kemeja
itu. sesosok bayi kangguru dan bayi manusia
sekarat di dalam sakunya. para penduduk
desa mengungsi ke setiap kancing meski
mengetahui adanya bahaya di lubang-lubang
pasangannya.
itu. sesosok bayi kangguru dan bayi manusia
sekarat di dalam sakunya. para penduduk
desa mengungsi ke setiap kancing meski
mengetahui adanya bahaya di lubang-lubang
pasangannya.
*
terdengar ada yang mencakar-cakar pintu
ruang berhujan dari luar:
maaf, tapi aku tak memelihara anjing,
atau kucing, atau hewan apa pun yang bercakar
—lantas, siapa di luar sana?
terdengar ada yang mencakar-cakar pintu
ruang berhujan dari luar:
maaf, tapi aku tak memelihara anjing,
atau kucing, atau hewan apa pun yang bercakar
—lantas, siapa di luar sana?
terdengar ada yang mengetuk-ngetuk kaca jendela
ruang berhujan dari luar:
maaf, tapi tak ada orang lain yang hidup di negara
ini selain kami yang berada di dalam rumah ajaib
—lantas, siapa di luar sana?
ruang berhujan dari luar:
maaf, tapi tak ada orang lain yang hidup di negara
ini selain kami yang berada di dalam rumah ajaib
—lantas, siapa di luar sana?
*
menjemur kemeja putih di ruang berhujan
pintu dan jendela jangan kaubuka
agar tak ada apa-siapa pun yang terlibat
dalam hujan
menjemur kemeja putih di ruang berhujan
pintu dan jendela jangan kaubuka
agar tak ada apa-siapa pun yang terlibat
dalam hujan
pendingin ruangan mati. bohlam padam.
kapal karam. sesosok bayi kangguru dan
bayi manusia dibunuh musim. semua kancing
berjatuhan dari kemeja putih itu, membunuh
para penduduk desa yang mengungsi
sembari menantikan
bahaya di tiap-tiap lubang kancing.
kapal karam. sesosok bayi kangguru dan
bayi manusia dibunuh musim. semua kancing
berjatuhan dari kemeja putih itu, membunuh
para penduduk desa yang mengungsi
sembari menantikan
bahaya di tiap-tiap lubang kancing.
tak ada yang mencakar-cakar pintu
tak ada yang mengetuk-ngetuk kaca jendela
tak ada yang mengetuk-ngetuk kaca jendela
menjemur kemeja putih di ruang berhujan:
lima menit lagi aku harus pergi ke kantor,
mengenakan kemeja itu
lima menit lagi aku harus pergi ke kantor,
mengenakan kemeja itu
(Denpasar, 2016)
PERHITUNGAN
satu lembar gurun pasir
dua orang musafir
dua orang musafir
tiga ekor burung merpati
empat orang pemburu
empat orang pemburu
lima butir pelor
enam kali senapan menyalak
enam kali senapan menyalak
tujuh mayat mengambang di kali
delapan orang perempuan menangis
delapan orang perempuan menangis
*
tak ada yang sia-sia dalam perhitungan
tak ada yang berlebihan dalam kematian
tak ada yang akan berakhir jika tanpa permulaan
tak ada yang sia-sia dalam perhitungan
tak ada yang berlebihan dalam kematian
tak ada yang akan berakhir jika tanpa permulaan
(Denpasar, 2016)
DI HADAPAN LAYAR KOMPUTER
kau tak bisa menghilang
puisi menjeratmu
menikam jantung katamu:
kau tak bisa menemukan
jasadmu sendiri di baris-
baris sajak ini
puisi menjeratmu
menikam jantung katamu:
kau tak bisa menemukan
jasadmu sendiri di baris-
baris sajak ini
lantas, apa yang akan kautangisi?
“jasadku kausembunyikan di
sajakmu yang lain!”
sajakmu yang lain!”
(tapi diam-diam ada rindu
yang menjelma jadi malam.
tapi diam-diam ada sejarah
yang mengalir dari pangkal
pahamu. tapi diam-diam ada
cinta dan luka yang kehilangan
diamnya.)
yang menjelma jadi malam.
tapi diam-diam ada sejarah
yang mengalir dari pangkal
pahamu. tapi diam-diam ada
cinta dan luka yang kehilangan
diamnya.)
“tapi diam-diam …”
(Denpasar, 2016)
PERMAINAN BULAN
apa yang membikinmu
lupa bertandang ke
pucuk bulan?
lupa bertandang ke
pucuk bulan?
“bulan hilang dari jendela
kamarku. bulan hilang dari
pucuk kelaminku. bulan
hilang dari rimba benakku.
bulan hilang dari riuh kotaku!”
kamarku. bulan hilang dari
pucuk kelaminku. bulan
hilang dari rimba benakku.
bulan hilang dari riuh kotaku!”
bukankah bulan ya bulan,
ya orang yang mengatakan
bulan? bukankah lelaki
yang bulan ya bulannya
bulan yang hilangnya bulan?
bukankah bulan adalah pucuk
rindu yang kepada bulan ya
bukan orang yang bulan?
ya orang yang mengatakan
bulan? bukankah lelaki
yang bulan ya bulannya
bulan yang hilangnya bulan?
bukankah bulan adalah pucuk
rindu yang kepada bulan ya
bukan orang yang bulan?
“tapi aku bukan permainan kata-
kata,” bulan menjawab.
kata,” bulan menjawab.
lantas, apa yang membikinmu
lupa jalan pulang
dari bualan bulan?
lupa jalan pulang
dari bualan bulan?
(Denpasar, 2016)
*) Puisi-puisi ini pernah dimuat di Tatkala.co pada tanggal 13 Mei 2017.
ACHEMAR
Achemar
cermin hanyalah sebatang jarum penghubung
lazuardi dengan mata seorang pria yang
terperangkap di sebuah rumah makan. musik
jazz adalah jas hitamnya yang menyimpan
seekor belatung di bagian saku. pria itu
melamun seperti hendak menjelma pagi di
atasnya, sementara si pelayan rumah makan
bertanya, “anda ingin mati tanggal berapa,
tuan?” kepadanya yang lantas menjawab
dengan keheningan musim kemarau.
Permainan Anak-anak
aku mengutukmu sebab temaram matamu.
segala yang redup membelenggu riak
darahku. di kulit leherku ada nama dari
setiap embus napasmu, ada seluruh mantra
yang terkikis pada tiap lenguhmu kepada
purnama. di kemudian hari, kita sama-sama
menyulut ribuan kitab yang tak lagi suci.
kita menamatkan permainan anak-anak
lalu menyombongkan diri sebagai raja
dan ratu. belakangan, seorang anak yang
kalah menduduki bayang-bayang kursi
yang perlahan jadi nyata. dan kita masih
terperangkap dalam permainan anak-anak:
kita tak lagi saling mengenal, tak lagi
memuja bayang-bayang dan logika.
debur keringat di lehermu memandikan
luka sayat di kedua pahaku; jeram liurmu
menggerayangi luka tembak di mata
kiriku; desis air matamu padamkan luka
bakar di sekujur punggungku. dan kita
akan melanjutkan permainan anak-anak itu.
Sajak di Dalam Pesawat
bocah kecil yang duduk di sampingku
masihlah tertawa. pun ibunya.
mereka tak tahu
bahwa sebentar lagi pesawat ini
akan
jatuh.
mungkin meledak terlebih dahulu.
dan mereka hanya tidak tahu.
barangkali tidak mau tahu,
sebab ketidaktahuan begitu sederhana
dan membahagiakan.
Denpasar, 2016
*) Puisi-puisi ini pernah dimuat di Nusantaranews.co pada tanggal 7 Mei 2017.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)


