Senin, 29 Mei 2023

SEKOLAH PASCAKEMATIAN -- Sebuah Cerpen

*Sumber Gambar: istockphoto.com




Kami membuat Pak Subadi bunuh diri di depan kelas, dan itu bukan kejadian tak menyenangkan terakhir di kelas IPA XIIA. Jumat siang itu kami tak bermaksud membuat Pak Subadi bunuh diri. Tak ada alasan bagi kami untuk membuat ia bunuh diri: ia hanya seorang pria lima puluhan, dengan tubuh seperti gagang sapu yang lapuk dan bengkok, yang tiga kali seminggu hanya menggambar angka-angka dan huruf-huruf dan garis-garis di papan, sambil mengoceh antusias seakan kami fokus mendengarkan pelajarannya. Poin terakhir itu yang terutama sekali membuat kami tak punya alasan untuk membuatnya bunuh diri: ia guru terbaik di SMA kami: saban kelas ia tak berusaha mengganggu kesibukan kami—yang tak berhubungan dengan pelajaran—dan ia tampak baik-baik saja dengan begitu.

Dan kami pikir Pak Subadi akan selamanya baik-baik saja dengan hal itu—dan seharusnya tak ada yang salah: ia tetap mendapat gaji meski kami tak mendapat ilmu.

Aku dan teman sebangkuku sedang membaca sebuah roman picisan, dan dua orang di belakangku sedang membicarakan pacar barunya, dan dua orang di depanku sedang membicarakan istri baru ayah tirinya, ketika mendadak aku tersadar: tak terdengar lagi ocehan antusias Pak Subadi di depan kelas. Ketika itulah aku menoleh ke papan dan aku menjerit sehingga seisi kelas turut menyadarinya: Pak Subadi telah tergeletak di lantai, cipratan darah menutupi angka-angka dan huruf-huruf dan garis-garis di papan. Pria itu tergeletak di lantai dan kulit lehernya menganga, ia berkelejotan seperti ikan yang terpeleset ke wajan berminyak mendidih, di tangannya yang penuh urat ia memegang cutter dengan bilah mencuat.

Tak lama murid-murid dan para guru dari kelas sebelah berkerumun di balik jendela kelas kami, dan para murid dibubarkan semenit kemudian melalui mikrofon di sudut setiap kelas. Mereka tampak baik-baik saja, murid-murid itu; mereka dengan antusias memenuhi lapangan parkir dan memacu kendaraan menjauhi sekolah. Dari lapangan parkir, aku menoleh beberapa jenak ke arah kelasku: para guru berkerumun di sana, mereka merapalkan doa bersama-sama, doa tersebut masih terdengar menggema ketika motor kupacu melewati gerbang, bahkan hingga sekitar seratus meter kemudian.

Esoknya adalah Sabtu, dan sepanjang Sabtu-Minggu grup Line kelas kami dipenuhi perbincangan menyangkut kematian Pak Subadi—yang kami duga kuat disebabkan ketidakmampuannya menghadapi kami—plus argumen-argumen tak penting: “Aku sedang tidak ribut waktu itu,” “Aku sedang mencatat waktu itu,” “Kau yang biasanya paling ribut di kelas,” dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya.

Dan pada Senin siang kami tak lagi berani ribut di kelas matematika. Bukan sebab kami tak ingin guru pengganti Pak Subadi ikut bunuh diri. Tak ada guru pengganti matematika di kelas kami. Pak Subadi memasuki kelas seperti biasa seolah ia tak pernah mati—bahkan di lehernya aku tak melihat bekas sayatan sama sekali. Pantas saja tak ada pengumuman apa pun selama upacara tadi pagi; biasanya akan ada sesi pengumuman khusus sebagai penutup upacara apabila ada berita besar.

Pak Subadi mulai mengoceh antusias seraya menggambar angka-angka dan huruf-huruf dan garis-garis di papan. Bunyi kapur yang menggesek papan membuatku ingin menutup telinga, tetapi aku tak berani. Udara dingin menyusup dari jendela-jendela yang terbuka, tetapi tak ada yang berani menutupnya pun mematikan kipas angin yang berputar kencang dengan poros berdecit-decit. Dengan tangan separuh membeku dan memucat dan gemetar, seperti refleks aku mulai mencatat angka-angka dan huruf-huruf dan garis-garis dari papan, teman sebangkuku dan setiap murid lain di kelas pun melakukan hal serupa. Jangan tanya berapa banyak di antara kami yang menahan diri untuk tak bertanya pada Pak Subadi soal kematiannya di kelas Jumat kemarin.

“Ada yang mau bertanya?” kata Pak Subadi. “Yang paling rumit, atau yang paling remeh—saya ingin mendengarnya. Atau, ada yang tak kalian pahami tentang apa pun itu di kelas Jumat kemarin?”

Teman sebangkuku mengangkat tangan. Telunjuknya tak mengacung lurus. Sikunya masih seperempat tertekuk. Dan kami serempak menoleh ke arahnya. Dan kipas angin mulai bergoyang-goyang tak stabil pada porosnya. Suara dari kelas-kelas lainnya sontak menghilang, seakan seisi sekolah ingin mendengar pertanyaan temanku. Pak Subadi mulai tersenyum sebab—seingatku—inilah saat pertama kali ada murid yang bertanya dalam kelasnya.

“Di pembagian yang itu, Pak,” Temanku menunjuk satu titik di papan dengan telunjuk tertekuk, “seharusnya hasilnya nol. Seharusnya sudah selesai di situ ....”

“Yang mana maksudmu?” Pak Subadi mengernyit sembari mempertahankan senyumnya. “Bisa kau maju dan tolong tunjukkan?”

Jeda beberapa detik, sebelum temanku berdiri, dan dengan langkah seseorang di atas seutas spageti ia berjalan ke samping Pak Subadi, dan menunjuk pembagian yang ia maksud.

“Kalau begitu, bisa tolong kauperbaiki?”

Temanku mengangguk dan mengambil penghapus, jari-jari pucatnya pasti semakin putih karena serbuk kapur. Ia mulai menulis ulang hasil pembagian dengan kapur yang pendek, tampak ia kesulitan karena kuku telunjuknya yang berkuteks merah muda itu lumayan panjang. Dan, terdengar bunyik tak! ketika ia menyambung garis untuk membentuk nol: kuku telunjuknya patah, dan tergeletak di lantai, dan tak sengaja ia injak saat berbalik dari papan untuk kembali ke bangkunya.

Saat bel pertanda pulang sekolah berbunyi, kami pulang dalam keadaan hening. Aku berharap grup Line kami akan penuh perbincangan soal Pak Subadi, tetapi seisi grup rupanya hening. Hingga malam larut aku menahan diri untuk tak menelepon teman sebangkuku, untuk bertanya apa yang ia rasakan saat berdiri di samping Pak Subadi; saat esok paginya kami berjumpa di kelas pun aku masih menahan diri untuk tak bertanya—entah karena apa.

Di gudang aula olah raga, di pagi yang sama setelah jam penjaskes, sesudah aku melakukan ritual rahasia setiap minggu bersama Pak Johan, padanya aku bertanya soal Pak Subadi yang hidup kembali. Guru yang setahun lalu baru lulus kuliah dan mengajar di SMA ini pun menjilat bibirnya yang penuh liur, sebelum ia menjawab, “Itu hanya hal besar yang terlalu kecil kepentingannya untuk dipusingkan. Bukan begitu, Cantik?” Ketika aku bertanya kenapa, ia lanjut menjawab, “Sebab kita dikutuk untuk belajar selamanya—sebusuk apa pun prosesnya.” Dan ia kembali membawaku ke jeratan sepasang lengan yang sekeras daging babi beku.

Pada Rabu siang Pak Subadi memasuki kelas dengan tas hitam yang panjang, sepertinya itu tas stik golf, dan ia mengatakan akan mengadakan ulangan mendadak, dan kuyakin hanya teman sebangkuku yang bisa menjawab ulangan—sebab secara ajaib ia pintar tanpa sering belajar. Dan, kupikir mendapat nilai buruk di kelas seorang guru yang pernah mati taklah elok sama sekali. Maka sesudah lembaran soal dibagikan dan Pak Subadi keluar ke toilet, aku mencontek jawaban teman sebangkuku, murid-murid lainnya pun mulai mengerumuninya—kami mencontek secara cepat berhubung jumlah soal hanya dua butir.  Kira-kira tiga puluh menit kemudian, Pak Subadi kembali; ia meminta kami mengumpulkan lembar jawaban di mejanya. Namun tak ada yang mau mengumpulkan lembar jawaban di meja seorang guru yang pernah bunuh diri. Refleks aku meletakkan lembar jawabanku di atas lembar jawaban teman sebangkuku, murid-murid di depan dan belakang kami lalu melakukan hal serupa, sebelum pelan-pelan para murid lainnya melakukan hal yang sama, dan teman sebangkuku sekali lagi berjalan di atas seutas spageti mendekati Pak Subadi.

Dan inilah awal mula aku merasakan pertanda kejadian tak menyenangkan kedua di kelas kami di bulan itu: “Harap tenang sebentar, saya akan memeriksa jawaban kalian satu per satu secara cepat.”

Kami menunduk. Kami yakin jawaban kami sama semua. Kami tak mau melihat dahi Pak Subadi yang mengerut. Aku bahkan menutup telinga, berjaga-jaga agar tak mendengar napasnya, jika ia mulai menarik-embuskan napas cepat-cepat karena menahan marah. Suara dari kelas-kelas lainnya juga menghilang, seakan seisi sekolah sedang duduk sambil menunduk. Decit poros kipas angin mulai menembus tanganku yang menutup telinga, seakan kipas itu berputar lebih cepat dengan sendirinya. Dan terdengarlah bunyi klik! yang dengan cepat disambung klak!

Aku menoleh ke depan kelas.

Kami menoleh ke depan kelas.

Pak Subadi telah berdiri dengan senapan mesin ringan siaga. Tatapannya nyalang. Ia mulai menembaki kami ....

Dan keesokannya kami bersekolah seperti biasa. Masih ada kejadian-kejadian tak menyenangkan lainnya yang menunggu kami. Baik itu di bulan yang sama, maupun di bulan-bulan berikutnya—dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Kami merasa aneh—dan jangan kauminta kami menjelaskan perasaan aneh yang seperti apakah itu. Tetapi, kami berusaha bertingkah seolah tak ada yang aneh pada esok harinya—begitupun seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya.



*) Catatan: Cerpen ini dimuat di kurungbuka.com pada 16 April 2023.

Jumat, 03 Februari 2023

PETUALANGAN SI PENGHAPUS PUTIH -- Sebuah Dongeng


*Sumber Gambar: illustAC



Dalam himpitan pensil-pensil, Penghapus Putih berciuman dengan Penghapus Merah Muda, ketika tiba-tiba saja tutup kotak pensil terbuka: percakapan-percakapan serta cahaya lampu dari kelas 2B memasuki kotak tersebut, dan aroma stroberi Penghapus Merah Muda perlahan mengabur. Lalu, di atas mereka, Kiki si Pipi Berbintik-bintik menundukkan wajah. Kiki menggenggam kedua penghapus, telapak tangannya dingin dan berkeringat; sesaat kemudian telapak itu membuka, tepat di hadapan wajah seorang murid lelaki yang menggigit-gigit ujung tumpul sebatang pensil.

Ambillah salah satu, Ardo,” kata Kiki terbata-bata, wajahnya memerah. “Aku menyukaimu.”

Dengan senyum mencemooh, tanpa ucapan terima kasih atau apa pun, Ardo mengambil Penghapus Merah Muda. Penghapus Putih menjerit—jeritannya tak terdengar oleh manusia—dan murid lelaki itu melangkah dengan dada membusung menuju mejanya di sudut belakang kelas.

Bel sekolah berdering ....

 

***

 

Bu Guru berbicara di depan kelas seraya menulis angka-angka di papan dengan spidol berdecit tajam. Di meja, di dekat buku catatan Kiki yang masih kosong, Penghapus Putih menangis tersedu-sedu—tangisannya juga tak terdengar oleh manusia. Sementara itu, Kiki tersenyum-senyum ke arah Ardo yang menguap dan terhalang murid-murid lainnya—meja mereka terlalu jauh: meja terbelakang dan meja terdepan: benda tanpa tangan maupun kaki seperti penghapus tak akan bisa pergi ke meja paling belakang.

Tiba-tiba terdengar jeritan Penghapus Merah Muda, jauh dan nyaring. Dari sela-sela tubuh para murid, yang berjajar di antara meja terdepan-terbelakang, terlihat Ardo menusuk-nusuk Penghapus Merah Muda dengan ujung runcing pensilnyaPenghapus Putih pun berteriak, “Sayang!!!”—lalu murid lelaki itu terhalang tubuh para murid lain ....

Kiki masih tersenyum-senyum ke arah Ardo, sementara para murid mendadak menulisi buku catatan dengan cepat, bunyi garukan mata pensil ke kertas memenuhi ruangan. Sekali lagi, terdengar jeritan Penghapus Merah Muda. Dan, saat Ardo kembali terlihat, ia sedang menggesek-gesekkan penggaris besi ke Penghapus Merah Muda!

“Kiki, kau tidak mencatat?” kata Bu Guru mendadak.

Kiki refleks menggeser tangan untuk menulis di buku catatan; sikunya mengayun dan menghantam Penghapus Putih hingga terjatuh ke lantai.

 

***

 

Penghapus Putih meluncur tepat ke samping kaki meja, dan terpental ke bawah meja, ke hadapan sepatu Kiki yang beraroma lembap. Dan, di ujung sepatu gadis itu, berdirilah seorang gadis lain yang seukuran Penghapus Putih, ujung kupingnya lancip, gaun serta rambutnya merah muda, dan membawa pensil yang pas di genggamannya.

“Selamat berpetualang, Pahlawan,” kata Gadis Merah Muda, mengayunkan pensil dan bola cahaya merah muda menyala di ujung runcingnya.

Bola cahaya itu melesat ke Penghapus Putih dan meledak, semuanya seketika begitu menyilaukan dan panas dan dingin dan panas dan dingin lagi dan, ketika cahaya menyilaukan mereda, sepasang tangan dan kaki telah tumbuh di tubuh Penghapus Putih. Penghapus itu terperangah. Sepasang tangan dan kaki tersebut berwarna serupa tubuhnya; ia pun berdiri dan melompat-lompat di tempat dan berlari berputar-putar—semua terasa normal, seakan sedari dulu ia telah memiliki sepasang tangan dan kaki.

Penghapus Putih memandang ke sudut belakang kelas, melewati kaki-kaki meja dan kaki-kaki para murid: kaki Ardo sedang tak bergerak sama sekali. Bu Guru menyuruh para murid membuka halaman selanjutnya, dan dari atas sana terdengar puluhan lembar kertas dibalik bersama-sama, dan jeritan Penghapus Merah Muda tak lagi berlanjut. Mungkin Ardo sedang diam. Mungkin Ardo sedang tertidur di tengah jam pelajaran. Mungkin sekaranglah kesempatan emas untuk menolong Penghapus Merah Muda!

Tapi, mungkin juga Penghapus Merah Muda sudah ....

Penghapus Putih berlari, berlari, berlari, melewati kaki-kaki yang tenang yang mengetuk-ngetuk lantai yang berayun-ayun hampir mementalkannya—dan tibalah ia di hadapan kaki meja Ardo. Murid lelaki itu mendengkur lemah. Penghapus Putih mengatur napas dan mendongak: meja itu tinggi, tinggi sekali—dan seperti dalam dongeng-dongeng yang Bu Guru ceritakan di kelas sewaktu Kiki masih kelas 1: para pangeran harus menggapai puncak menara atau tempat tinggi apa pun untuk menyelamatkan sang putri.

Para murid lain kembali mencatat dengan cepat. Penghapus Putih mengeretakkan jari-jarinya, memeluk kaki meja Ardo—rentangan tangannya hanya meliputi setengah dari lebar kaki meja—dan memanjatinya.

 

***

 

Penghapus Putih tiba di atas meja. Tak terlihat Penghapus Merah Muda, kecuali remah-remah tubuhnya. Selain itu hanya ada Ardo, yang meletakkan wajah di halaman buku catatan bergambar gedung-gedung tinggi, liurnya membasahi puncak salah satu gedung. Di samping buku catatan, terdapat kotak pensil besi berbentuk mobil; dari dalamnya terdengarlah samar-samar tangisan.

Penghapus Putih melangkah tanpa suara menuju kotak pensil. Tubuh kotak pensil membelah secara horizontal di bagian tengah, membelah pintu mobil menjadi dua bagian sama rata, dan ke celah belahan itu Penghapus Putih menyelipkan jari-jarinya. Ia mengerahkan seluruh tenaga untuk membuka tutup kotak pensil. Jari-jari dan pergelangan tangannya memanas. Tutup kotak sedikit terangkat. Ia mengambil jeda sesaat, menarik napas panjang, dan mengerahkan seluruh tenaga lagi—dan tahu-tahu ia melayang: Ardo mengangkatnya dengan jepitan jempol dan telunjuk, lalu mengarahkannya ke hadapan wajahnya.

Mulut itu mengeluarkan aroma serupa orang berserdawa, meski Ardo sedang tak berserdawa. Dengan tangan yang bebas, lelaki itu mengucek-ngucek mata; tatapannya penuh tanda tanya. Dengan ujung telunjuk, ia menyentuh-nyentuh sepasang tangan dan kaki Penghapus Putih, sehati-hati menyentuh sesuatu yang menyengat. Situasi aman—sejauh ini.

Dan mendadak Ardo mengentakkan tangan kanan Penghapus Putih. Tangan itu sontak memanjang. Kulit lengan dan apa pun di baliknya memanas. Tangannya akan terputus. Ia menjerit.

“Ardo,” kata Bu Guru. “Jawab soal nomor tiga di papan. Itu lebih baik untuk menghilangkan kantukmu ketimbang mencuci muka.”

Para murid lain tertawa. Ardo membuka kotak pensil, memasukkan Penghapus Putih ke sana, dan menutupnya segera. Gelap. Langkah-langkah Ardo terdengar menjauh.

 

***

 

“Sayang … kaukah di sana …?”

Suara itu begitu dekat. Tapi tak terlihat siapa yang berbicara. Tak terlihat apa pun. Penghapus Putih melangkah cepat di atas pensil-pensil berdempet. Aroma stroberi itu semakin dekat, begitu dekat. Dan, ia melompat memeluk penghapus Penghapus Merah Muda! Ia pun menarik napas sedalam-dalamnya, menghirup aroma stroberi sedalam-dalamnya, dan menciuminya.

Tapi, ada sesuatu yang tak lagi sama. Penghapus Putih meraba tubuh Penghapus Merah Muda: berlubang-lubang. Lalu ia mengelus bagian atasnya: terpotong penggaris besi di bagian sudut.

“Aku akan mengeluarkanmu dari sini, Sayang.”

Penghapus Putih menyelipkan jari-jarinya ke celah belahan tutup kotak pensil, mengangkatnya sekuat-kuatnya, tutup kotak berdecit, dan perlahan-lahan cahaya lampu serta kalimat Bu Guru menyusup masuk. Satu ayunan lengan kuat: akhirnya tutup kotak pensil terbuka sempurna.

Ia akan membopong Penghapus Merah Muda, dan melompat ke lantai, dan berlari melewati kaki demi kaki para murid—entah untuk kembali ke kotak pensil Kiki ataukah tidak. Tentu ia akan memungut penjepit kertas di dekat kakinya kini, barangkali ada sesuatu yang harus dilawan. Ia akan menjadi pahlawan bagi Penghapus Merah Muda, bagi sang putri.

Pikirannya buyar: Ardo kembali duduk ke kursinya. Murid lelaki itu menyipit menatap kotak pensilnya yang terbuka. Penghapus Putih menggendong Penghapus Merah Muda dengan tangan kiri dan memungut penjepit kertas dengan tangan kanan. Mata Ardo melebar, tak percaya akan apa yang ia lihat. Sesaat ia menoleh ke depan kelas, memastikan Bu Guru masih fokus mengajar; diam-diam tangannya mengangkat penggaris besi, kedua penghapus terpantul di sana.

Penghapus Putih mengeratkan pegangan pada Penghapus Merah Muda dan penjepit kertas. Jika dalam kondisi sekarang ia melompat keluar membawa Penghapus Merah Muda, lalu Ardo mengayunkan penggaris besi, kemungkinannya untuk menghindar sangatlah kecil. Kemungkinan Penghapus Merah Muda terluka lagi sangatlah besar.

Ia harus menghadapinya sendiri.

Penghapus Putih pun meletakkan Penghapus Merah Muda kembali, dan hanya dengan penjepit kertas ia melompat keluar dari kotak pensil dan berlari ke titik tengah meja. Ardo mengayunkan penggaris besi secara menyamping—swushhh!—Penghapus Putih berguling menghindar. Napas Ardo tertahan. Dan, seperti hendak membelah meja menjadi dua, Ardo mengangkat penggaris besinya tinggi-tinggi. Penghapus Putih mengeratkan genggaman pada penjepit kertas.

“Lari, Sayang!” pekik Penghapus Merah Muda dari kotak pensil.

Dan Ardo mengayunkan penggaris—stakkk!—Penghapus Putih menangkisnya. Mata penggaris tersangkut di celah penjepit kertas.

Mata Ardo nyalang. Dahinya mulai berkeringat. Urat-urat bertonjolan di tangannya yang gemetar. Ia mengangkat penggarisnya, dan Penghapus Putih terangkat bersama penjepit kertas yang masih menggigit mata penggaris. Kini penghapus itu bergelantungan tepat di depan mata Ardo; mulut sang murid menganga, bau busuknya menjerat.

Sekaranglah waktunya!

Penghapus Putih mengayun-ayunkan tubuh, melontarkan diri ke mulut Ardo—membuat murid itu tersedak.

Ardo terbatuk-batuk keras. Seisi kelas menoleh padanya. Ia ingin muntah, tetapi muntahan tak kunjung keluar, pasti terhalang penghapus itu.

“Ardo …” ucap Bu Guru, “kau butuh ke toilet …?”

Ardo menarik napas sekuat tenaga: tak bisa. Ia pun berlari keluar kelas. Air mata mengaburkan pandangannya. Dan, di tangga, kakinya tergelincir. Tubuhnya terguling. Kepalanya menghantam-hantam anak-anak tangga. Begitu mendarat, Ardo terbatuk keras, lebih keras dari sebelumnya, hingga muntahan dan Penghapus Putih terlontar ke permukaan beton pelapis tanah. Murid itu pun pingsan; muntahan meresap ke celah-celah beton.

Penghapus Putih bersorak penuh kemenangan.

 

***

 

Muncullah si Gadis Merah Muda di atas hidung Ardo. Ia mencengkeram ujung hidung lelaki itu, menariknya sambil mengerang, dan berhasil mencabut bola cahaya merah tua. Kemudian, dengan bola cahaya tersebut, Gadis Merah Muda menghilang begitu saja.

Para guru dan murid berkerumun, menunduk di atas tubuh Ardo. Di antara mereka adalah Kiki si Pipi Berbintik-bintik, matanya merah dan basah. Ia pun memungut Penghapus Putih, telapak tangannya dingin dan berkeringat.



*) Catatan: Dongeng ini dimuat di Magrib.id pada Desember 2022.

Jumat, 09 Desember 2022

TUHAN MENJAWAB DARI DALAM LEMARI -- Sebuah Cerpen

*Sumber Gambar: omong-omong.com



Tuhan menjawab doaku secara langsung, dari dalam lemari pakaian.

Malam itu aku hanya berdoa seperti biasa: bersila di kasur, dan memejam, dan mencakupkan tangan di depan dada. Pendingin ruangan berdecit dengan ritme konstan, bercampur pekik gergaji mesin dan geram ekskavator yang tak beraturan dari belakang gedung apartemenku. Aku baru saja berkata dalam hati, “Ya Tuhan …” dan tiba-tiba terdengar balasan: Aku mendengarmu. Aku refleks membuka mata. Suara itu berupa bisikan, tapi menggema memenuhi kamarku. Tidak ada siapa pun di sini selain aku; semuanya gelap kecuali lemari pakaian itu: cahaya lampu LED dari papan iklan menerobos jendela dan jatuh ke sana, pantulan diriku di bagian cerminnya tampak berkilau. Menghadap lemari itulah selama ini aku berdoa: bukan atas alasan khusus, melainkan sekadar karena kebiasaan; bagaimanapun baru kali ini pantulan diriku sedemikian berkilau. Aku langsung memejam lagi dan, dengan keringat seperti ujung jemari dingin meraba leher sampai punggungku, kurapalkan doa pengusir iblis.

Dan sesungguhnya tak semua manusia siap menerima kehadiran-Ku, balas-Nya, di tengah rapalan doa pengusir iblis; kubuka mata, kutebar pandangan. Sedang dalam setiap doa mereka Aku datang dalam hal-hal teremeh; sedang Aku senantiasa mendengar doa mereka meski tak senantiasa Aku menjawab.

Aku curiga, suara-Nya berasal dari dalam lemari pakaian itu. Lemari yang tubuhnya berbahan cedar, yang bagian cerminnya dipenuhi jejak-jejak stiker—yang di dalamnya kusimpan celana dalam Dara.

Entah buat apa Tuhan hadir dalam lemari pakaian; satu kemungkinan terbesit dalam pikiran, satu kemungkinan yang memanjang menuju kemungkinan lainnya: Apa karena di sana tersimpan celana dalam Dara? Mungkinkah Tuhan hadir di sana karena telah kuturuti satu perintah terberat-Nya, yaitu membunuh manusia homoseks?

Tidak—aku tak pernah benar-benar membunuh Dara. Secara tidak langsung, barangkali iya.

Aku mengenal Dara di kampus sejak semester pertama, dan ialah alasan kenapa aku sering menghabiskan sejam sendiri di toilet kampus. Pada semester ketiga, aku meminjamkan uang untuknya membayar SPP, dan sejak saat itulah hubungan kami begitu dekat: sepasang sahabat, ia berkata begitu, dan aku ingin lebih dari sekadar sahabat. Maka kuperkosa ia kemarin malam. Kujambak rambut merah sebahunya, tanganku hangat berkat keringat dari ubun-ubunnya; kukulum anting salib pada kuping kirinya, rasanya setengik garam yang busuk. Sejauh itu tubuhnya membeku, ia membisu; ia baru memekik sehabis kulepas celana dalamnya, kuendus dalam-dalam kain merah yang lembap tersebut—bau lavender dan koin berkarat menyatu. Sekitar lima menit kemudian, setelah ia mengenakan kembali pakaiannya—kecuali celana dalam yang masih sibuk kukulum, serasa mengisap daging ayam mentah penuh darah—seperti orang gila ia kabur dari apartemenku, menyeberangi jalan, dan tersambar Mercedes merah. Dengan cepat darahnya menggenang di aspal.

“Ya Tuhan, apa kau datang kemari untuk menghukumku? Atau memujiku?”

Bilamana kebaikan belum utuh engkau tunaikan, sesungguhnya belumlah kau layak mendapat puji-Ku. Bilamana kebaikan tak kunjung utuh engkau tunaikan, sesungguhnyalah keragu-raguanmu pada-Ku sedang menyala. Dan, sungguh, hukuman terberat adalah untuk mereka yang ragu-ragu pada tugas dari-Ku.

Apa Ia menganggapku ragu-ragu padanya? Aku tidak ragu sedikit pun pada-Nya—kuyakin begitu—tapi tampaknya tugasku belum selesai di sini. Apa tugasku? Dara sudah mati. Apa aku perlu mengakui perbuatanku?

Sejauh ini tak ada polisi atau siapa pun yang bertanya padaku perihal kematian Dara. Polisi yang menyelidiki kasus ini hanya bertanya pada si Penjaga Apartemen, dan pria itu tak tahu bahwa Dara adalah tamuku. Atau mungkin ia tak peduli? Harusnya ia bisa melihat rekaman CCTV, atau harusnya polisi menyuruhnya memperlihatkan rekaman tersebut: Dara datang sendiri ke sini pada tengah malam; langkahnya mesti tergesa, sebab lewat telepon kukatakan aku hendak bunuh diri.

Atau, mungkin Tuhan bermaksud lain? Mungkin Tuhan sengaja membuatku lolos dari penyelidikan, sehingga tugas suci ini lancar kujalankan. Dan jika memang begitu yang Ia rencanakan, maka aku tak harus mengakui perbuatanku, dan aku harus menumpas tak hanya Dara.

 

***

 

Di kampus, aku hanya bersahabat dengan Dara, namun ia tak hanya bersahabat denganku. Sahabat lainnyalah yang hendak Dara ajak menikah—secara langsung ia mengakui hal itu padaku. Namanya Eva, dan mereka bersahabat sejak kecil. Perempuan itu sering melihat tubuh telanjang Dara di kamar mandi, berhubung dari dulu mereka sering mandi bersamasedang aku tak pernah mendapat kesempatan itu, dan sekalinya kesempatan tersebut datang, tak lama kemudian Dara dihajar Mercedes merah.

Bagaimanapun, aku tak dekat dengan Eva. Kami hanya saling mengenal, dikenalkan oleh Dara tentunya, dan kami hampir tak pernah bepergian bertiga. Hanya ada aku dan Dara, atau Dara dan Eva—dan lebih sering yang kedua. Aku kerap membayangkan, saban Dara menginap di rumah Eva, perempuan itu akan bercerita tentang aku, lelaki murah hati yang meminjamkan uang SPP padanya, dan membuatnya diam-diam jatuh cinta. Eva tak pernah meminjamkan uang, begitu kata Dara padaku. Aku senang luar biasa: minimal ada satu hal yang membuatku lebih unggul ketimbang Eva.

Satu? Tidak, mestinya dua: karena aku lelaki, dan sahabat sebenarnya seorang perempuan adalah seorang suami.

Namun Dara dan Eva tak mengikuti kehendak Tuhan. Di hari ulang tahun Dara, ia mengundangku dan Eva ke apartemennya. Kami bertiga duduk di karpet beludru merah, beludru yang menggelitik sela-sela jemari tanganku; kami melingkari kue ulang tahun penuh krim stroberi, krim yang menyebar aroma gula; kemudian kami menyanyi bersama dan memotong kue dan menempelkan sepotong LSD ke lidah masing-masing—dalam halusinasiku, seluruh warna berubah menjadi negatif. Ketika tersadar, aku tergeletak di lantai yang dingin, belakang kepalaku tersandar di kaki sofa dan berdenyut-denyut, dan tak jauh dariku: Dara dan Eva bercinta di karpet beludru.

Tuhan tak suka manusia homoseks, dan tubuhku terlalu lemas untuk mengambil tindakan tegas.

Harusnya tak perlu ada sepotong LSD di lidahku, atau aku pasti dapat membantu-Nya memisahkan kedua manusia tak beriman tersebut. Sekarang, aku yakin, Tuhan menuntutku membayar utang.

 

***

 

Eva sudah mendengar kabar kematian Dara—begitulah yang ia katakan di seberang telepon. Namun ia tak tahu bahwa apartemen dari mana Dara berlari seperti orang gila adalah apartemenku, dan aku langsung memberitahunya.

“Kami di bawah pengaruh LSD,” kataku. “Aku tak dapat mencegahnya. Omong-omong, ia mengucapkan sesuatu yang penting padaku. Kau harus mendengarnya.

Malam itu juga Eva datang ke apartemenku. Ia melepas jaket kulit hitamnya, meletakkannya di punggung kursi dekat jendela yang terbuka—geraman alat-alat berat masuk lewat sana, dan kupingku berdenging. Di kursi itulah Eva duduk, aroma parfum pria menjulur dari tubuhnya, menjulur sejauh empat petak lantai menuju aku, yang duduk di tepi kasur, menyulut rokok bersamaan dengannya; asbak kuletakkan di lantai di antara kami. Di balik jaket hitamnya Eva memakai tanktop berwarna serupa; di atas payudara kirinya terdapat tato berupa tulisan: Dara. Aku menatap lemari pakaianku, dan dalam hati berkata, “Ya Tuhan, akan kutunaikan tugasku seutuhnya.” Kubayangkan Tuhan tersenyum padaku, meski tak sekali pun wajah-Nya muncul dalam kepalaku.

“Apa yang Dara katakan padamu?” tanya Eva, lalu mengembuskan asap lewat hidungnya; aroma mentolnya mendinginkan lubang hidungku.

Aku ingin sekali sedikit bermain-main dengannya. Sebagai jawaban, aku ingin mendadak berlagak misterius dan membuka lemari dan menunjukkannya celana dalam Dara. Aku ingin melihat ekspresi terkejut Eva. Aku ingin melihat bagaimana rautnya jika jeritan tertahan di kerongkongannya. Pasti menyenangkan. Namun sejak semalam aku tak membuka pintu lemari: Tuhan masih di sana dan ia belum tentu suka kuganggu. Maka sedari pagi tadi aku terus mengenakan pakaian ini, dan mengambil celana dalam Dara dari sana mungkin dapat mengganggu-Nya.

Demi Tuhan, aku tak bisa bermain-main! Bagaimana bisa aku berpikir untuk bermain-main, sementara yang kujalankan kini adalah tugas suci?

“Aku mau minum sebentar,” balasku.

Aku melangkah ke dapur, dengan tungkai gemetar. Rasanya sesulit melangkah dengan egrang yang retak, dan Eva pasti memerhatikanku dari belakang dengan curiga. Aku ingin menoleh ke arahnya, memastikan bagaimana tatapannya; aku tak berani; aku mempercepat langkah menuju dapur—apartemen kecilku sontak memanjang-melebar. Dan begitu melewati birai dapur, napas legaku berembus: dari sini Eva tak bisa melihatku. Kutekan sakelar, yang entah sejak kapan dingin dan membekukan ujung telunjukku. Di rak piring: mata pisau berkilau memantulkan cahaya lampu.

“Eva … boleh tolong tutupkan jendela?” kataku.

Ia tak menjawab. Tapi kudengar jendela ditutup.

Geraman alat-alat berat mereda. Tapi tidak denging dalam kepalaku ....

 

***

 

 “Sekarang, apa yang mesti kulakukan, ya Tuhan?”

Tuhan hanya diam. Aku mengulangi pertanyaanku, dan Tuhan masih diam. Tapi aku tetap tenang: aku masih merasakan betul Tuhan ada di dalam lemari. Dan setelah kupikirkan lebih detail, itulah jawaban Tuhan: diamnya Ia, disertai menghilangnya suara dari sekelilingku. Ia memberiku kesempatan untuk berpikir keras dan mandiri, tentang apa yang harus kulakukan selanjutnya. Mungkinkah aku perlu meletakkan celana dalam Eva di dalam lemari sebagai semacam sesajen, sebagaimana celana dalam Dara?

Ujung jari-jari kakiku menghangat. Aliran darah Eva menyentuhnya. Tergeletak di lantai, puntung rokoknya benar-benar merah sebab menyerap darah. Genangan itu melebar cepat: darahnya mengucur deras dari wajah dan perut dan, terutama, dada kirinya. Pisauku masih menancap di sana, di atas payudara kirinya, secara horizontal membelah tato bertuliskan Dara.

Aku pergi ke dapur, menuangkan obat pel ke ember, dan mengaduk-aduknya dengan pel seraya berpikir: Hadiah apa yang akan Tuhan berikan padaku?

Ketika aku kembali ke kamar, tampak pintu lemari sudah terbuka, mayat Eva melayang seringan kain ke dalam lemari, dan pintu lemari tertutup.

Terima kasih, kata Tuhan-ku.

 

***

 

Sembari mengepel darah Eva, aku membayangkan kemungkinan-kemungkinan hadiah yang akan Tuhan berikan padaku. Di kitab Tuhan berkata bahwa manusia tak boleh mengharapkan imbalan apa pun, tetapi aku tak sanggup menahan diri untuk tak mengharapkan imbalan apa pun.

“Jika kau tak keberatan, ya Tuhan,” kataku, setengah bercanda, “bolehkah aku mendapat cinta sebagai imbalan?”

Tuhan tak berkata-kata.

“Jika aku terdengar memaksa,” sambungku cepat, “kau boleh mengabaikan permintaanku barusan. Aku tidak keberatan, ya Tuhan.”

Tuhan tak berkata-kata. Maka aku lanjut fokus mengepel darah Eva. Sekitar dua jam kemudian, setelah tak tampak bekas darah sama sekali, setelah kubersihkan pelku di kamar mandi, di samping bantal ponselku berdering. Ada panggilan masuk dari Adam—mantan pacarku.

Aku memicing ke lemari pakaian ....




*) Catatan: Cerpen ini dimuat di omong-omong.com pada 27 November 2022.

Minggu, 27 November 2022

AYAH MENJADI POHON -- Sebuah Cerpen

*Sumber Gambar: Pinterest



Menonton berita pembakaran hutan itu, aku kembali terkenang pada Ayah yang secara menyakitkan berubah menjadi pohon.

Sebenarnya bukan sekali ini saja aku terkenang padanya. Kenangan itu selalu serupa ranting pohon berduri yang membelit kepala, setiap aku melintas di suatu tempat berpohon, atau tanpa sengaja melihat gambar pohon di koran atau majalah atau apa pun. Kenangan itu membuatku membenci pohon, membuatku memilih tinggal di tengah kota yang minim pohon dan terkepung pabrik-pabrik serta asapnya—dan terutama sekali membuatku ingin menebang setiap pohon yang kujumpai, tapi aku tak ingin bernasib serupa Ayah. Maka aku membiarkan diriku tersalib oleh kenangan buruk, dan aku tak kunjung terbiasa oleh kenangan buruk.

Dan berita pembakaran hutan itu membuat kenangan menyerang secara lebih menyakitkan: aku langsung muntah di depan televisi, sebelum kulempar benda itu keluar jendela apartemenku.


***


Pada Minggu pagi kedua di bulan April, waktu aku masih dua belas tahun, di sela jeritan ayam hutan aku mendengar Ayah terbatuk-batuk keras di kamar, seakan di kerongkongannya menyangkut sebilah silet. Aku, dengan ubun-ubun masih berdenyut nyeri akibat hantaman rotan semalam, buru-buru mengambil segelas air dari dapur dan berlari ke kamar Ayah; aku tak ingin ubun-ubunku dihantam sekali lagi, karena kurangnya inisiatifku sebagai anak untuk membantu orang tua. Menghadap cermin, Ayah menganga selebar-lebarnya. Ia terus terbatuk, atau tepatnya membatukkan diri sekeras-kerasnya, sampai ludah terciprat ke permukaan cermin. Ia pun menoleh padaku, dan menunjuk ke dalam mulutnya yang menyimpan deretan gigi kuning kecokelatan dan gusi menghitam. Perlahan aku mendekat, sampai tercium busuk mi kuah santapan semalam: dari kerongkongannya, mencuat tunas tumbuhan entah apa, dengan dua lembar daun selebar kuku telunjukku pada pucuknya.

“Ayah menelan biji?” tanyaku.

Ayah menampar pelipisku, sebelum menyambar gelas air dari tanganku dan menenggaknya. Tapi ia langsung terbatuk—air minum menciprati wajahku. Aku bertanya apa Ayah baik-baik saja, dan ia langsung mengambil pulpen, membuka telapak tanganku, lalu menulis sesuatu di sana: Panggilkan mantri!

Tanpa mengelap wajah, aku berlari keluar rumah, melewati setapak di antara barisan pohon yang cecabang dan daun-daunnya menggelapkan jalurku, lalu pematang sawah yang membelah barisan padi kering di tanah penuh retakan; keringat dari ubun-ubun membasahi wajah dan memerihkan mataku; hingga akhirnya aku menerobos antrean di depan tempat praktik Pak Mantri, antrean orang-orang yang menenteng bebuahan dan sayuran, lantas kepada Pak Mantri, yang sedang menempelkan stetoskop ke dada seorang pria tua, aku menceritakan apa yang terjadi.

Pak Mantri melepas stetoskop dari kupingnya, membisikkan sesuatu pada sang asisten, dan sembari memasukkan sejumlah peralatan ke tas ia berkata padaku, “Kulihat kemarin ayahmu membawa kapak ke hutan.”

Aku mengangguk.

Pak Mantri menutup risleting tas, mata berkantungnya mengarah ke kalender di dinding. “Kemarin bukan hari baik untuk menebang.”


***


Ayah duduk bersandar ke punggung kasur, menganga selebar-lebarnya, dan kepalanya  seperti tengkorak dengan rahang yang patah, sedang Pak Mantri menyorotkan senter ke kerongkongannya. Batuk Ayah sudah mereda: mungkin ia mulai terbiasa dengan sensasi mengganjal di kerongkongannya; mungkin ia mulai sadar membatukkan diri tak akan melontarkan tunas itu keluar.

Aku mengamati mereka dari tempat dudukku di depan cermin; cipratan ludah Ayah telah mengering di permukaan cermin, dikeringkan sorotan sinar matahari dari jendela bergorden rombeng. Jejak ludah yang mengering itu menguarkan bau bangkai kucing membusuk di got. Ya, aku yakin bau itu berasal dari jejak ludah; aku mendekatkan hidung ke permukaan cermin, dan muntahan menjotos pangkal lidahku, dan aku cepat-cepat membuang muka ke arah kasur.

Pak Mantri mengambil pinset dari tasnya dengan satu tangan, sementara tangan satu lagi tetap menyorotkan senter ke kerongkongan Ayah. Lalu, ketika Pak Mantri memasukkan pinset ke mulut Ayah, aku mendekat dan berdiri di sampingnya. Mata pinset menjepit ujung tunas. Ayah menarik napas panjang, Pak Mantri menarik napas panjang, dan aku pun sama—dan Pak Mantri mulai menarik tunas itu. Awalnya Pak Mantri menarik dengan kekuatan untuk mencabut rumput mungil di tanah, dan Ayah mengeluarkan suara kkkhhh! Kemudian Pak Mantri menggunakan kekuatan setara untuk mencabut gigi, dan Ayah terbatuk sekeras-kerasnya; Pak Mantri refleks melepas pinset, darah dan ludah terciprat ke kemeja putihnya.

Dan, yang tak kalah mengejutkan: Ayah langsung meninju leher Pak Mantri hingga ia tumbang. Dan seperti Ibu setelah dulu ditinju Ayah, Pak Mantri pun berlari keluar dari rumah.

Tunas itu tidak tercabut sama sekali.


***


Di lenganku, Ayah menuliskan: Bubur. Aku memasak untuknya; dari depan kompor aku dapat melihat Ayah duduk di ruang makan, ia menuangkan air dari teko ke gelas dengan tangan gemetar, dan minum perlahan-lahan. Percobaan pertama: ia terbatuk dan air terciprat. Ia menyeka meja dengan lengannya, sebelum melakukan percobaan kedua: ia minum lebih perlahan-lahan, dan kali ini berhasil. Aku menarik napas lega.

Untuk sesaat, aku bisa fokus ke wajan, mengaduk-aduk nasi yang semakin mengencer, dengan uap menghangatkan wajah. Sampai tiba-tiba, Ayah menjerit keras, ia terjungkal dari kursi, dan memegangi leher sendiri—batuknya semakin menjadi-jadi! Aku mematikan kompor. Mata Ayah membelalak padaku, seperti mayat hidup yang mengancam. Ia memekikkan maikhhh! beberapa kali, sampai aku tersadar maksudnya mantri, dan aku kembali berlari keluar.

Aku kembali menerobos antrean di depan tempat praktik Pak Mantri; mantri itu sedang menyuntik paha seorang wanita yang berbaring menyamping di ranjang, yang ujung dasternya terangkat sampai ke pinggang. Aku pun menjelaskan dengan kalimat terputus-putus apa yang tadi terjadi, dan Pak Mantri, setelah menurunkan ujung daster sang pasien, membalas, “Itu pekerjaan dukun, Nak.”


***


Ayah tak pernah percaya dukun sejak Ibu keguguran saat mengandung adikku—dan Ayah sempat meninju leher sang dukun. Maka aku langsung pulang dengan kaki selemas lidi; ubun-ubun dan pundakku basah: hujan sebenarnya cukup deras, tapi hanya terasa bagai gerimis, sebab terlalu banyak rintiknya tertahan oleh cecabang dan daun-daun lebat di atasku.

Ketika aku sampai di rumah, Ayah telah duduk dengan lebih tenang di meja makan. Ia mengisyaratkanku untuk melihat ke dalam mulutnya. Sial: tunas itu sudah bertumbuh. Kini tunas lebih panjang dan lebih lebar seujung kuku, daunnya berjumlah empat lembar. Apa tunas itu bertumbuh karena Ayah barusan minum? Entahlah. Lebih buruk lagi: mulut Ayah berbau bangkai kucing membusuk di got. Lebih buruk dari bau mulut Ayah beberapa jam lalu; bahkan bau bangkai ini lebih terkutuk ketimbang bau jejak ludahnya di cermin. Dan, karena tak ingin Ayah mengamuk, aku berkata, “Tampak baik-baik saja, Yah,” dan lanjut memasak bubur. Ketukan hujan di atap asbes jauh mereda.


***


Horor sebenarnya terjadi setelah bubur hampir matang. Air di bak mandi habis. Aku hendak ke sumur di belakang rumah sembari menunggu bubur matang, tapi Ayah memberi isyarat agar aku tetap fokus memasak, dan ia keluar. Tersisa gerimis di luar, dan gerimis membuatku cukup takut; aku membayangkan tiba-tiba tunas itu bertumbuh semakin besar di tubuh Ayah. Aku mematikan kompor dan diam-diam mengikuti Ayah ke sumur, dengan langkah-langkah pelan karena tanah yang licin.

Tampaknya Ayah baik-baik saja: ia menurunkan ember ke sumur, katrol berkarat itu berdecit-decit, dan tak ada tanda-tanda Ayah akan mendadak menjerit.

Aku hanya terlalu cemas. Sebelumnya, tunas itu bertumbuh karena Ayah minum—mungkin. Ayah tidak meminum gerimis, dan harusnya rasa cemas kusimpan untuk sarapan nanti, saat ia menelan bubur dan air. Aku pun kembali ke dapur, menyalakan kompor, dan mematangkan bubur.

Dan, di antara kuak kawanan kodok, terdengar sesuatu yang berat tercebur ke sumur!

Aku berlari ke halaman belakang, terpeleset jatuh hingga kerikil-kerikil tajam merobek telapak tangan serta lututku. Ayah tak tampak di mana pun. Katrol telah menghilang dari atas sumur. Dan ada yang ber-glubug. Aku berlari ke tepi sumur. Ember mengambang di bawah sana. Wajah Ayah muncul dari permukaan air. Matanya nyalang. Ia berusaha memanjat dengan merentangkan kedua tangan ke dinding sumur berlumut, di mana kawanan kecoak berlarian. Dan, ia menganga, daun-daun telah memenuhi mulutnya.

“Ayah!” pekikku.

Ayah terus memanjat, dan tangannya terpelest—ia tercebur, tenggelam, permukaan air ber-glubug. Entah berapa banyak air yang ia telan.

Ketika wajah Ayah muncul lagi ke permukaan, daun-daun dari mulutnya melebat, bahkan telah keluar dari mulutnya. Mulut Ayah menganga lebih lebar dari sebelumnya, tunas telah menjadi batang setebal pergelangan tanganku, rahang Ayah akan segera patah.

Hujan menderas.

Ayah kembali memanjat. Dan, perlahan-lahan, dari balik kulit leher dan lengannya, mencuat sesuatu yang cokelat dan selebar kelingking dan runcing. Akar. Akar terus mencuat memanjang dan merobek kulitnya semakin lebar dan kucur darah memerahkan air sumur. Ayah memekik. Darah mengucur dari kulit pipinya yang robek karena bukaan rahang melebar, dari lubang hidungnya yang melebar, dari matanya yang membelalak semakin lebar dan memerah dan seolah akan pecah—sebelum daun-daun berlapis darah keluar dari setiap lubang di wajah, termasuk dari sela kelopak mata. Terakhir, ujung-ujung akar selebar leher merobek perutnya dari dalam, membuat ususnya menjuntai—dan tangan Ayah terpeleset, byur!

Dan aku pingsan ....


***


Ketika aku siuman, langit merah dan matahari sudah di barat. Aku tergeletak telungkup dan kulepehkan tanah basah dari mulutku. Sekujur tubuhku basah. Aku menggigil. Dan, dari mulut sumur itu, telah menjulang sebatang pohon lebat, setinggi dua kali rumahku. Burung-burung gagak bertengger di cabangnya. 



*) Cerpen ini merupakan juara II di Sayembara Cerpen Media Indonesia 2022, dan dimuat di Media Indonesia pada Minggu, 27 November 2022.