Selasa, 08 September 2020

SANG AHLI RACUN -- Sebuah Cerpen

 purple jungle and lake

*Sumber Gambar: Pinterest



Dengan bayi sekarat di gendongannya, Tajul memasuki Hutan Satani yang dipenuhi tetumbuhan subur berwarna ungu, hutan yang pada bagian tengahnya berdiri gubuk reot tempat tinggal sang ahli racun.


Menjumpai sang ahli racun adalah pilihan terakhir yang Tajul ambil setelah bayinya sekarat selama seminggu, meski tak sedikit orang yang menyarankannya untuk tak mengambil pilihan tersebut. Mereka berpikir bahwa lebih baik bayi itu menderita sampai mati, ketimbang Tajul mesti ikut mati dengan menjumpai sang ahli racun dan mengalami kehancuran organ-organ dalam tubuh. Atau, lebih buruk, Tajul dan bayinya mengalami hal menyakitkan itu bahkan sejak memasuki Hutan Satani yang telah sang ahli racun jadikan daerah kekuasaan, hutan yang dulunya sehijau rumput-rumput yang baru bertumbuhan di tanah makam Istri Tajul. Namun, berkat perasaan bersalah sebesar pepohonan di sekelilingnya kini, Tajul memutuskan untuk mengambil pilihan terakhir itu.


Tak lama, Tajul tiba di depan pintu gubuk sang ahli racun. Kata orang-orang, “Seandainya kau memasuki gubuknya, jangan menyentuh benda apa pun yang ada di sana. Apalagi sampai menelan makanan-minuman yang disajikan. Segala apa yang ada di sana pasti beracun. Kalau bisa, malah sebaiknya kau tak usah menghirup udara di dalam gubuk itu!” Dan Tajul berpikir, sangatlah mungkin bahwa pintu gubuk itu telah diolesi racun yang dapat menggerogoti kulit tangannya.


Tiba-tiba, pintu gubuk dibuka dari dalam. Tajul segera menghirup aroma tengik yang berembus dari dalam sana, segera tak sengaja menatap sepasang mata wanita paruh baya, wanita yang konon tatapannya sungguh beracun.


“Masuklah.”


Mendengar kalimat itu, Tajul tahu dirinya sudah tak mungkin lari dari hadapan sang ahli racun, sekalipun ketakutannya telah meluap secara hebat. Seolah-olah kalimat wanita itu meracuni kehendak Tajul untuk lari, sehingga kehendak tersebut mati seketika.


Melewati pintu masuk gubuk, Tajul menjumpai ruang persegi yang membuatnya dipenuhi perasaan tak nyaman. Berseberangan dengan pintu masuk, terdapat selembar tirai merah yang menutupi ruang-entah-apa di baliknya. Di tengah ruang, terdapat dua kursi berhadap-hadapan, seakan keberadaan ruang itu memang hanya untuk sang ahli racun dan Tajul—beserta bayi di gendongannya. Selain itu, tak tampak hal lainnya.


Diarahkan sang ahli racun, Tajul duduk di salah satu kursi, sedang wanita itu duduk di kursi satunya lagi. Duduk sedemikian dekat dengan sang ahli racun, Tajul merasa berada di dalam gelembung rapuh, sementara di luar gelembung adalah udara beracun yang panas.


“Mestinya aku menyuguhkan teh dan makanan ringan,” ucap sang ahli racun. “Tapi kau akan menyangka aku hendak meracunimu.”


“Tolonglah anakku ....” Suara Tajul bergetar.


“Aku tahu kau akan mengucapkan itu.” Sang ahli racun diam sejenak. “Dari aroma napasnya, aku tahu bayimu telah menelan racun dari bunga Alph belum lama ini. Racun itu memang mempunyai aroma khas. Tapi hanya orang-orang tertentu yang bisa membauinya, sehingga wajar jika kau tak menyadari aroma tersebut.”


Tajul menelan ludah. Ia harap wanita itu mau langsung mengobati bayinya, tanpa melontarkan pertanyaan-pertanyaan personal terlebih dahulu.


“Semestinya naga dewasa pun segera tumbang setelah keracunan bunga Alph,” sambung sang ahli racun. “Anehnya, bayimu—”


“Belum ada yang berhasil mengobati bayiku,” sela Tajul. “Lalu, aku berpikir, semestinya orang yang paling mengerti cara mengobati racun adalah orang yang ahli membuat racun—”


“Walaupun orang-orang di sekitarmu sepertinya curiga bahwa akulah yang atas suatu alasan meracuni bayimu, setelah meracuni istrimu,” tukas sang ahli racun. “Bukankah begitu?”


Tajul semakin ketakutan. Ia curiga, jangan-jangan wanita di hadapannya bukan hanya ahli membuat racun, melainkan pula ahli membaca pikiran.


“Jika bukan kau yang meracuni istriku, bagaimana bisa kau tahu bahwa istriku mati keracunan?!” Tajul tak menyangka ketakutan yang meningkat dapat menaikkan nada bicaranya. “Jarak antara tempat tinggal kita lumayan jauh. Lebih-lebih, tempat ini begitu terasing. Bukankah aneh bila kabar kematian istriku sampai kemari?!”


Sang ahli racun tersenyum licik. “Kau mencurigaiku sekarang?”


“Tentu saja!”


“Baiklah. Silakan pergi dari sini.


Tajul terdiam. Tatapannya terarah ke lantai. Ia hendak mengatakan sesuatu, tapi ia tergagap-gagap sehingga kalimatnya tak kunjung keluar secara tuntas. Akhirnya, Tajul menyerah untuk berkata, dan menatap sang ahli racun dengan tatapan memohon.


Sang ahli racun tertawa mengejek. “Seandainya kau memang mencurigaiku, kenapa kau masih ingin meminta pertolonganku?”


Tampaklah ketakutan di wajah Tajul semakin bertumbuh subur. Ia merasa gelembung yang mengurung—atau melindungi—dirinya menjadi bertambah rapuh.


“Bagaimanapun, aku akan menolong bayimu,” sambung sang ahli racun. “Kemarikan bayimu.”


“A-apa?”


“Biarkan aku menggendong bayimu. Tenang saja, aku tak akan meracuninya. Kalau memang itu yang kukehendaki, aku bisa meracuni air yang bayimu minum tadi pagi, sehingga tubuhnya membusuk secepat daun gugur mencapai tanah.”


Jeda beberapa jenak. Tajul tak kunjung menyerahkan bayinya.


“Aku memang benar-benar ingin menolong bayimu,” lanjutnya. 

“Aku paham, kehilangan adalah racun paling menyakitkan. Aku pernah merasakan racun itu saat suamiku membawa kabur bayiku bersama wanita simpanannya.”


Mendengar kalimat itu, Tajul lantas membiarkan sang ahli racun menggendong bayi sekaratnya. Sang ahli racun, dengan tatapan keibuan yang muncul secara tak terduga, tersenyum ke arah wajah sang bayi, lalu melantunkan sebuah lagu yang sering almarhum Istri Tajul lantunkan untuk membuat bayi itu tertidur. Suara merdu sang ahli racun membuat Tajul mematung. Membuat Tajul yakin bahwa tak akan terjadi hal buruk saat wanita itu membawa bayinya memasuki ruang-entah-apa di balik tirai merah.


Sang ahli racun keluar dari ruang tersebut sekitar tiga puluh menit kemudian, dan selama itu pula Tajul menunggu dengan sabar di kursinya. Bayi Tajul tak ada di gendongan sang ahli racun, bayi itu pasti ditinggalkan di dalam sana.


Setelah duduk di kursinya, sang ahli racun berkata, “Bayimu sudah sembuh.”


“Hah? Secepat itu?” Dengan gerakan cepat, Tajul langsung bersujud dan menciumi kaki wanita itu. Tersedu-sedu, Tajul bertanya, 


“Bagaimana caraku membalas kebaikanmu?”


“Biarkan aku menjaga bayimu.”


“Maksudmu, bayiku belum sepenuhnya sembuh, jadi kau mesti merawatnya selama beberapa hari?”


“Bukan begitu, Bodoh. Bayimu sudah sepenuhnya sembuh. Namun, aku akan merasa amat berdosa bila membiarkan ia tumbuh serumah dengan orang yang membunuh ibunya.”


Tajul terbelalak kaget dan bangkit perlahan. Gelembung rapuh yang melindunginya dari udara beracun panas pun pecah. Tajul baru akan menjotos rahang sang ahli racun, ketika tiba-tiba wanita itu berdiri dan menancapkan sebatang jarum kecil ke lehernya. Tubuh Tajul seketika lumpuh dan tumbang.


“Aku sudah bisa membaca hampir segalanya,” ucap sang ahli racun. 


“Karena bayi itu belum mati, berarti ada yang membuat racun Alph melemah. Dan, aku tahu betul, racun Alph hanya bisa menjadi selemah itu jika terkontaminasi air susu ibu.”


Tajul ingin melontarkan kalimat. Tapi lidahnya kaku.


“Kau mungkin ingin membela diri,” sambung sang ahli racun. “Tapi kau tak bisa membohongiku. Barangkali kau tak tahu bahwa saking kuatnya racun bunga Alph, ketika menyentuhnya pun kau telah keracunan. Tetapi, efeknya tak semematikan jika ditelan, setidaknya sampai dua minggu kemudian. Dan, kau yang ternyata telah keracunan pun mengeluarkan aroma napas khas yang sudah kuendus dari awal perjumpaan kita.”


Andai saraf-saraf di tubuhnya tak lumpuh, tubuh Tajul pasti akan bergetar hebat, karena ia merasa begitu ditelanjangi.


“Aku membayangkan kejadian ini: setelah kau meracuni istrimu lewat makanan atau minuman, istrimu itu langsung menyusui bayi kalian. Sayangnya, kau telat mencegahnya. Karena tak berniat untuk membunuh bayi itu, kau merasa berdosa dan membawanya kemari. Sungguh pilihan yang tepat.


“Dan, sebagai bentuk ucapan terima kasihku karena kau telah membawa bayimu kemari, pada jarum di lehermu itu telah kuoleskan penawar racun Alph, selain racun tak mematikan yang melumpuhkanmu hanya selama tiga jam.


“Omong-omong, kurasa kini sudah tiba waktu bagiku untuk mengucapkan selamat tinggal.”


Wanita paruh baya itu menghilang di balik tirai merah. Sekitar sejam kemudian, ia keluar dari sana dengan membawa bayi Tajul dan buntalan kain yang tersampir di punggung. Sang ahli racun lantas meninggalkan gubuk.


Ketika akhirnya tubuh Tajul tak lagi lumpuh, ia segera bangkit, mencabut jarum di lehernya, dan cepat-cepat keluar dari gubuk. Lalu, Tajul tercekat; tumbuh-tumbuhan di Hutan Satani kini tak lagi berwarna ungu, melainkan kembali ke warna yang semestinya. Tajul langsung menangis meraung-raung.


Tajul merasa lebih baik dirinya tetap dihinggapi racun Alph, ketimbang disiksa oleh racun paling menyakitkan, bernama kehilangan.




*) Cerpen ini dimuat di Cendana News pada 25 Juli 2020.

Rabu, 15 Juli 2020

SEDIKIT MENGANALISA VIAN, 2 dan Puisi-Puisi Lainnya


*Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi




Sedikit Menganalisa Vian, 2

vian adalah jam dinding
yang mencengkeram lambungku
membuatku memuntah hantu-hantu
kenangan masa depan yang kaku

vian adalah kematian sejarah
yang menusuk keningku
mengusir seribu doa gagal
dari lubang luka membusuk

(Jakarta, Oktober 2019)





Jendela yang Baik

sebagai sebuah jendela yang baik,
yang merasa beruntung sebab telah
diciptakan ayahmu, di tubuhku
aku memasang pagi, siang, dan malam

untuk menghiburmu,
sesekali kubuatkan hujan salju
atau dedaunan gugur atau hal lainnya
agar kaupikir segalanya

terus bergerak di luar sana,
meski tubuhmu setengah lumpuh
dan akan sepenuhnya lumpuh.
kautahu, aku melihat kau tersenyum

umpama lelaki tua melihat usainya perang
dari balik jendela kamar, perang yang
berlangsung sedari dirinya bocah.
sebab, apa lagi yang bisa kulihat

selain pemandangan di dalam rumah?

di luar tinggal hitam ....
di luar kini hitam pekat ....

(Denpasar, Oktober 2019)





Hancurnya Rumahku

rumahku bersembunyi di balik
sangkar igaku. rumahku tahu bahwa
sesuatu hendak mengetuk pintunya,
atau bahkan membobol jendelanya;
sesuatu yang melesat dari lubang kecil
di puting kirimu, dan akhirnya bersemadi
di titik pusat rumahku, membuat panas
dada, membuat rumahku

meleleh
menetes
ke puting kananmu.

(Denpasar, Oktober 2019)





Menjadi Sepasang Matamu

aku ingin menjadi sepasang matamu
sehari saja
sepasang mata yang secara langsung
melihat ketelanjanganmu di depan cermin
serta ledakan bintang-gemintang di sana

aku ingin menjadi sepasang matamu
sehari saja
sepasang mata yang secara langsung
melihat hantu-hantu bergentayangan di dadamu
dan para petualang membangun tenda
dari kesedihan mereka

aku ingin menjadi sepasang matamu
sehari saja
sepasang mata yang mampu membuatku
memahami bagaimana pohon-pohon bahasa
yang membuahkan mentari-mentari kecil
dapat bertumbuh begitu subur di pusarmu
dan bagaimana pohon-pohon itu
tak kunjung punah meski berkali-kali
ditumbangkan lidah para penyair keji

aku ingin menjadi sepasang matamu
sehari saja
meski kini matamu menuju buta
sebab berkali kucuri penglihatanmu
dan kusembunyikan dalam puisi-puisiku

(Denpasar, Oktober 2019)





Kota yang Terjatuh

kota ini terjatuh dari rambut ikalmu.
kota ini retak di segala sisi,
dari area istana negara
hingga apartemenku.

tapi, ada area yang tak retak setitik pun:
bahasa kota.
kalimat-kalimat masih mengatur kematian
para gelandangan gila secara tertib,
kalimat-kalimat masih mengatur
macet jalanan secara sempurna.

namun tak ada puisi di muka kota ini
pun dalam celah tiap retakan.
puisi masih terjerat dengan nyaman
di rambut ikalmu.

(Jakarta, Oktober 2019)





*) Catatan: Puisi-puisi ini dimuat di majalah Mata Puisi No. 2, Juni 2020.

Kamis, 09 April 2020

DINDING-DINDING RUMAH SEORANG PEMBUNUH -- Sebuah Cerpen

*Sumber Gambar: Takanta.id




Gempa membangunkan si Pembunuh dan istrinya yang tengah hamil besar pada tengah malam. Gempa tersebut berlangsung selama kira-kira lima detik, membuat seluruh dinding rumah si Pembunuh dipenuhi retakan, hingga tampak seperti cangkang telur yang hampir dipecahkan oleh seekor anak ayam dari dalam. Lucunya, langit-langit pun lantai tak terluka sama sekali.
            
“Biaya renovasinya pasti akan amat mahal,” komentar si Pembunuh.
            
“Berapa orang yang mesti kau bunuh untuk memenuhi biaya renovasi itu?” tanya sang istri.
            
“Entah. Akan segera kupikirkan.”
            
Mereka memutuskan untuk lanjut tidur. Ketika si Pembunuh hampir kembali terlelap, mendadak ia mendengar suara-suara aneh dari seluruh penjuru mata angin, begitu dekat dengan dirinya. Tentu ia segera membuka mata. Dan, si Pembunuh pun mendapati roh-roh memasuki kamarnya melalui retakan-retakan di dinding; mereka tampak seperti cairan yang bisa melewati celah sekecil apa pun. Ia mengingat wajah seperempat dari roh-roh itu, yang tak lain adalah korban-korbannya terdahulu. Roh-roh lainnya pasti juga para korbanku, hanya saja telah kulupakan.

***

Sembari sarapan di ruang makan, si Pembunuh menceritakan pada istrinya soal roh-roh yang semalam ia lihat, roh-roh yang sang istri tak lihat karena tidur terlalu nyenyak.
            
“Tapi, ke mana mereka semua sekarang?” tanya sang istri.
            
“Entah. Mungkin mereka hanya muncul pada malam hari, seperti di cerita-cerita fiktif.”
            
“Maksudmu, malam nanti dan malam-malam seterusnya mereka akan muncul lagi?”
            
“Entah. Tapi toh aku tidak takut pada mereka. Kau juga, pastinya.”
            
Sang istri tampak menimbang-nimbang sejenak. “Mereka tidak akan melukai kita?”
            
“Tidak. Karena telah banyak roh yang kulihat, aku jadi bisa membedakan mana yang akan melukai, mana yang sekadar menakut-nakuti dengan menampakkan diri, atau mana yang sekadar lewat. Hantu-hantu yang semalam muncul adalah jenis kedua.”
            
“Bagaimanapun, sebaiknya kita segera merenovasi dinding-dinding rumah ini, jika memang mereka masuk melalui retakan-retakan itu. Apa kau mau persetubuhan kita disaksikan banyak roh? Tidakkah kau merasa risih, sekalipun tidak takut?”
            
“Ya. Pasti akan membuat risih.” Si Pembunuh mengembuskan napas berat. Lalu ia mengganti arah pembicaraan, “Lucu sekali kalau dipikir-pikir. Kenapa mereka masuk lewat retakan-retakan di dinding yang baru muncul semalam, alih-alih lewat ventilasi yang telah ada sejak rumah ini dibangun?”
            
“Mungkin faktor selera?”
            
Mereka pun tertawa terbahak-bahak.

***

Siangnya, seorang ahli bangunan berkunjung ke rumah mereka. Setelah mengamati dinding di seluruh ruangan, ia mengucapkan sebuah harga. Si Pembunuh pun berpikir, Setidaknya aku mesti membunuh tiga orang.
            
Sorenya, si Pembunuh menerima surat pemesanan untuk membunuh seorang gigolo muda. Menjelang malam, ia langsung berangkat menuju lokasi targetnya, dan sukses menyelesaikan tugas dengan tak terlalu sulit pada pukul sembilan malam. Pukul sepuluh malam di hari yang sama, ia berjumpa dengan orang yang memberinya order dan menerima bayaran di tempat. Dua jam kemudian, si Pembunuh memasuki rumahnya dan mendapati roh-roh telah memenuhi ruang depan, beterbangan di udara, umpama ikan-ikan di akuarium. Berdiri di depan pintu kamar, ia mendengar desahan-desahan sang istri. Ia merancap sebab tak sabar menungguku pulang. Begitu membuka pintu, kontan si Pembunuh dan istrinya menjerit kaget. Sang istri menjerit karena melihat si Pembunuh baru pulang; si Pembunuh menjerit karena melihat sang istri sedang bersetubuh dengan diri si Pembunuh yang lain! Diri si Pembunuh yang lain pun serta-merta berubah ke wujud aslinya: roh sang gigolo muda. Itu adalah pembalasan dendam paling menyakitkan yang pernah si Pembunuh terima dari korbannya.

***

Si Pembunuh berbisik pada istrinya, “Aku akan mengucapkan kode begitu aku-yang-asli pulang nanti. Kodenya: pisau jatuh dari langit.”
            
Sang istri bergumam, mengulang kode tersebut.
            
“Jika aku tak mengucapkan kode itu,” tambah si Pembunuh, “berarti itu bukan aku.”
            
Si Pembunuh pun pergi ke lokasi target pembunuhan selanjutnya, di sebuah rumah sakit. Menurut surat pemesanan yang diterimanya pagi tadi, targetnya adalah seorang dokter kandungan. Entah kenapa si Pemesan ingin dokter tersebut mati. Yang jelas, setelah membunuh sang dokter kandungan dan menerima bayaran dari sang pemesan, si Pembunuh langsung pulang dan mendapati sang istri, dikelilingi roh-roh yang berdansa-dansi bahagia, menangis tersedu-sedu di tempat tidur.
            
Pisau jatuh dari langit. Ada apa? Apa hantu-hantu membuatmu takut?”
            
Setelah bertanya demikian, tanpa sang istri menjawab, si Pembunuh tersadar bahwa perut wanita itu telah mengempis. Bakal bayi mereka lenyap entah ke mana, dan pembalasan dendam itu lebih menyakitkan ketimbang yang kemarin.

***

Sebelum menuju lokasi target pembunuhan berikutnya, si Pembunuh mengantarkan istrinya ke Penginapan X yang jauh dari rumah—dan tak terkena dampak gempa—yang tiap sisi dindingnya terbebas dari retakan. Tentu itu dilakukannya karena pembalasan dendam yang ditujukan pada orang-lain-yang-dicintai jauh lebih merepotkan ketimbang yang ditujukan pada diri sendiri. Lebih-lebih, ia diberi tahu bahwa target pembunuhannya kali ini adalah pensiunan pembunuh bayaran.
            
Dan, sesuai dugaan si Pembunuh, terjadi pertempuran sengit antara ia dan targetnya. Di akhir pertarungan, si Pembunuh kehilangan tangan kiri, sedang sang lawan kehilangan nyawa.
            
Tidak, itu bukan akhir pertarungan. Rupanya, korban si Pembunuh belum benar-benar kalah; sesaat kemudian muncullah rohnya, yang segera memberi serangan bertubi-tubi. Tapi tetap saja roh itu gagal menang, meski si Pembunuh telah benar-benar kelelahan. Bagaimanapun, sebelum roh itu mati, si Pembunuh mesti kehilangan tangan kanannya pula.

***

Para pekerja bangunan sedang menumpas retakan-retakan pada setiap sisi dinding di rumah si Pembunuh. Sementara itu, si Pembunuh diopname di sebuah rumah sakit sederhana—yang, telah ia pastikan, tak memiliki retakan sama sekali pada tiap sisi dindingnya—di dekat Penginapan X.
            
“Berjanjilah untuk tak membunuh lagi,” kata sang istri, ketika menjenguk suaminya untuk pertama kali, pada suatu pagi.
            
“Tentu. Aku juga tak akan mendapat surat pemesanan lagi begitu kondisiku diketahui oleh para pelanggan.”
            
“Kita akan sama-sama memikirkan cara lain untuk mencari uang.”
            
Seminggu berlalu, akhirnya sepasang suami istri itu sudah bisa beristirahat dengan nyaman di kamar mereka, di rumah yang setiap dindingnya tak dihiasi retakan sekecil apa pun. Tentu saja kemudian mereka bersetubuh untuk “mengembalikan” bakal bayi yang hilang, tanpa disaksikan roh-roh yang mengisi udara malam. Tiba-tiba, gempa bumi. Sekitar lima detik kemudian, mereka yang masih telanjang dan berada pada posisi menyenangkan pun tak lagi melihat dinding-dinding di sekeliling, melainkan roh-roh yang berdansa-dansi bahagia.




*) Cerpen ini dimuat di Takanta.id pada 29 Maret 2020.

MEMBACA LOVECRAFT dan Puisi-Puisi Lainnya

*Sumber Gambar: Pinterest




Membaca Lovecraft

monster-monster memasuki mataku
sebab matahari pecah
rumahku segelap gua asing
dalam kata-katamu
terlihat taring memotong lenganku
tentakel menjerat batang leherku
cakar menyisir perih ususku

sebelum mata terpecah
tak mampu menampung horor
yang tiba sebelum matahari
lahir kembali
dari akhir ceritamu
dan aku, dalam butaku, merindukan
ketakutan yang menggoda itu

(Jakarta, Juni 2019)




Setelah Kau Pergi dari Kamarku
            –kepada Erviana Madalina

1/

aroma tubuhmu tertinggal
di kasurku, aku menjelma
sehelai rambutmu tanggal
ke lantai dan kesepian

2/

potret-potret tidurmu melekat
pada bulan di mataku, tampak seorang
astronaut sekarat + pasrah seakan
bumi “tergoda” hela napas black hole

 3/

odysseus pun akhirnya terdampar
di halaman selembar buku, ia tergoda
dogma-dogmamu yang mematikan
seperti kepala-kepala scylla

4/

andrei tarkovsky menonton film
di bioskop usang, sutradara itu
merasakan sentuhan waktu
sepelan hancurnya aku

5/

kepergianmu menjatuhkan neraka
di kamarku, rindu membirukan tubuh
sampai aku tersadar: neraka ini
adalah neraka dante yang indah

(Jakarta, Juni 2019)





Mengorbankan Ikarus


kunaikkanlah suhu matahari
tatkala ikarus terbang melintas

hingga jatuh ia ke matamu
dan leleh lilin di bebulu berserakan

kupakai untuk merekatkan
perasaanmu kupecah

*
di matamu ikarus mati tenggelam
terbebaslah aku dari daftar

tumbal redakan amuk minotaur
pada gelap labirin dadamu

(Jakarta, Juni 2019)





Pahlawan Baru

biarkan hercules menyusu
di dadamu, kepala-kepala hydra

terus bertambah, sedang pedangku
akhirnya patah, dan kau perlu

pahlawan baru untuk hinggapi
tubuhmu. selamat tinggal.

(tertanda: aku yang kepalanya
kaurenggut dan tak kunjung
tumbuh kembali)

(Jakarta, Juni 2019)





Dalam Vian, Aku Mencoba Bunuh Diri

keluar dari rahim ibu,
aku bercita-cita mati
di rahimmu, kutelan belati
atau kubakar diri

biar darahku mengiris laparmu
biar darahku menghanguskan
rumah-rumah hantu di perutmu

(Jakarta, Juli 2019)





*) Puisi-puisi ini dimuat di Takanta.id pada 22 Maret 2020.