Senin, 21 Februari 2022

MAMA MENELEPON DARI NERAKA -- Sebuah Cerpen


*Ilustrasi oleh: Butet Kertaredjasa 


Peti jenazah Mama ditutup. Lalu aku keluar ke halaman rumah duka untuk menyulut rokok, meninggalkan para bibi dan paman yang tersedu-sedan di dalam; aku merenung soal dosa-dosa yang harus ditebus manusia di akhirat, dan tahu-tahu ponselku berdering: panggilan dari mamaku.

“Sayang …” ucapnya terbata, “Mama masuk neraka.”

Sudah kuduga. 


***


Mama layak masuk neraka. Mama pernah sengaja meninggalkanku di pasar, dan seorang pedagang lele berhasil membawaku kembali ke rumah pada esoknya, dan ketika Mama membuka pintu tatapannya berkata: Setan alas. Aku yakin lebih dari 80% ibu yang masuk neraka adalah tukang buang anak. Namun, bukan dosa itu yang ingin Mama tebus ketika ia meneleponku dari neraka.

“Kata iblis itu, Mama harus menebus tiga dosa terberat agar tak mendapat siksaan abadi—ia benar-benar berkata begitu,” jelasnya di telepon, ia tak pernah terdengar setakut itu. Entah suara berisik yang melatarbelakangi percakapan kami berasal dari mana: kendaraan-kendaraan yang melintas di depan gerbang rumah duka, atau instrumen-instrumen penyiksa di neraka. “Tentu tidak ada anak yang ingin mamanya mendapat siksaan abadi—bukan begitu, Sayang?”

“Luar biasa. Cuaca di neraka pasti membuat siapa pun ingat akan anaknya.”

Aku tak berminat menebus dosa Mama; aku pulang ke kota ini khusus untuk merayakan kematiannya. Aku mengulur-ulur percakapan dengannya, dengan mengingatkan dosa-dosa yang pernah ia perbuat padaku—tentu ia mengucapkan maaf bertubi-tubi—dan aku berharap dapat mendengar tubuhnya keburu dirobek instrumen penyiksa. Namun, aku tak bisa diam ketika ia berkata:

“Dosa pertama—dengarkan baik-baik. Mama dan papamu tak pernah bercerai. Ia berada di kebun belakang rumah kita—dari lima tahun lalu.”

 

***

 

Papa juga layak masuk neraka—tapi tak selayak Mama. Papa tak berbuat apa pun setiap Mama berbuat jahat padaku, baik ketika Mama menghajar ubun-ubunku dengan penggaris atau membuangku di pasar. Papa hanya peduli pada SPP sekolahku, dan itu tak menghentikan ketersiksaanku di rumah. Setidaknya, berkat SPP darinya, aku bisa mengejar cita-citaku: aku rajin belajar untuk mendapatkan beasiswa kuliah di luar kota, dan bekerja di luar kota setelah lulus, dan mempunyai alasan untuk tak pulang selama-lamanya—kecuali untuk merayakan kematian Mama. Mungkin Papa layak masuk neraka, tapi ia tak layak untuk kutemukan terkubur di kebun belakang—yang tersisa darinya hanyalah tulang-belulang.

Papa dikubur di bawah pohon mangga. Dengan dinding beton pembatas halaman, yang lebih tinggi sekitar 30cm dari kepalaku, tindakan Mama sangat mungkin dilakukan tanpa ketahuan. Dan dengan dibuangnya Papa oleh keluarganya sejak kawin-lari dengan mamaku, plus dengan jarangnya ia bergaul bersama para tetangga, sangat mungkin mayatnya tak diendus siapa pun selama bertahun-tahun.

Sekitar enam bulan setelah aku keluar kota, Mama mengirimiku SMS tentang perceraiannya. Aku tak peduli apa sebabnya; Mama layak ditinggalkan oleh semuanya. Harusnya aku lebih peduli pada perceraian Mama dan Papa: tak semua perceraian berujung pada lelaki dan perempuan yang tinggal di rumah berbeda; terkadang berujung pada mereka yang tinggal di alam berbeda.

Aku memakai sarung tangan, dan kumasukkan tulang-belulang Papa ke dalam tas gunung. Pada malam pukul sepuluh, seorang tetangga bertanya aku hendak pergi ke mana, ketika aku melintas di depan rumahnya, dan aku mengaku hendak mendaki untuk sekadar menghibur diri. Dan aku pun tiba di tempat pemakaman umum barang sejam kemudian, pemakaman di mana kedua orang tua Papa dikubur. Dan seperti fiksi kebanyakan, misi pertama berjalan mudah: aku menyogok si Penjaga Pemakaman sehingga ia bersedia menggali makam entah siapa, makam di samping kedua orang tua Papa, dan menumpuk tas gunungku di atas peti seseorang tersebut. Mama hanya meminta Papa dimakamkan di samping kedua orang tuanya—ia tak menyebutkan bagaimana seharusnya Papa dimakamkan.

“Sial. Aku akan masuk neraka ....” gumam si Penjaga Pemakaman setelah menutup kembali makam yang dibongkarnya. “Anak-anakku mungkin akan menanggung dosaku pula ....”

“Rileks. Malaikat mencatatmu sebagai penolong seekor tikus dari siksa abadi neraka.”

 

***

 

Aku menyulut rokok kedua. Aku sudah bertekad untuk tak merokok secara berantai; aku sempat batuk darah seminggu lalu; tapi mendengar dosa kedua Mama membuatku ingin merokok secara berantai.

Mama tak langsung menjawab ketika kutanya apa dosa berikutnya. Terdengar ia bernapas berat; kutahu dosa ini mestilah lebih berat. Bahkan saking beratnya, suara napas itu tak kalah dari pekik klakson truk besar yang lewat di depan rumah duka. Asap hitam dari knalpotnya memasuki gerbang dan seperti hantu terbang mendekatiku; aku terjebak dalam instrumen siksaan neraka, instrumen yang menyelipkan karet ban terbakar ke dalam paru-paruku. Aku hanya mengipaskan tangan di depan hidung, seolah berpindah tempat dapat membuat suara Mama menghilang selama-lamanya.

“Sebelum Papa tak ada …” akhirnya Mama menjawab, “ia berselingkuh dengan gadis SMP. Gadis itu sudah tamat SMP ketika Mama membalas dendam.”

 

***

 

Aku langsung menutup panggilan setelah Mama menjelaskan misi kedua. Menjalankan misi ini sama saja dengan melayakkan diriku untuk jatuh ke neraka. Tapi aku tak bisa menahan diri untuk tak datang ke rumah bocah selingkuhan papaku—aku hanya ingin melihat kondisinya sekarang.

Ia bocah yang baik, aku yakin begitu. Setiap bocah baik adalah bocah bernasib malang. Aku mengintipnya dari jendela di halaman belakang rumahnya pada pukul sebelas malam. Ia telentang di kasur, cahaya lampu tidur kekuningan membuatnya seperti berada di dalam perapian, dan ia tinggal menunggu maut. Selang medis menjulur dari mulutnya, tersambung ke kubus putih seperti mesin cuci dengan monitor komputer berdiri di atasnya, dan infus tersambung ke pergelangan tangannya. Aku berfirasat dulu ia gadis yang ceria, yang bermain ayunan di halaman belakang sembari merenungkan soal aljabar, dan papa-mamaku membuatnya serenta lidi di atas bara.

Papa berselingkuh dengan si Gadis SMP dan Mama memergoki mereka di hotel. Sekitar empat tahun kemudian Mama memberanikan diri mendatangi rumah ini, ketika hanya ada sang gadis yang sedang menonton TV sembari mengerjakan PR-nya, dan membenturkan kepala gadis mungil itu bertubi-tubi ke TV.

Mama memintaku membunuhnya. Bukan sebab Mama membencinya—meski benar ia masih membencinya—melainkan Mama harus menyelamatkannya dari maut yang menjilati tubuhnya tanpa membunuh.

“Lebih baik maut mendudukimu hingga remuk dan tewas, ketimbang sekadar menjilatimu sepanjang waktu,” ucap Mama. Aku tak tahu Mama bisa sedikit bijak.

Bagaimanapun aku tak berminat membunuhnya. Aku hanya akan memandanginya dari halaman belakang, dari bawah bayangan ayunan yang tergantung di dahan pohon mangga dan diayun-ayunkan udara. Cahaya pucat dari lampu di tepi kolam ikan membuat pantulan wajahku di jendela seperti hantu pengintip yang mesum.

Aku tak ingin membunuhnya. Meski aku percaya ia harus mati secepat-cepatnya. Aku tak ingin membunuhnya, sampai seorang wanita memasuki kamarnya—mungkin ia ibunya—dan duduk di tepi kasur sembari menangis—sang anak sudah seperti ini selama setahun terakhir, ibu mana yang tak sedih kecuali mamaku?—dan tiba-tiba wanita itu menampar anaknya. “Bangun!” Ia menampar lagi. “Bangun!” Ia menampar lagi. “Bangun!” Dan itu terus berulang hingga kali kelima, dan sang anak tak kunjung terbangun.


Setelah tamparan kelima, sang ibu tersedu-sedan dan mengusap-usapkan tangan ke pangkuan. Kakiku gemetar dan serenta es setipis lidi; udara menyelipkan salju ke balik sepatu serta jaketku; keringat berlesatan dari dahi dan ketiak dan punggungku—sang ibu menampar gadis itu untuk keeenam dan ketujuh dan kedelapan kalinya.

Aku tak bisa diam. Ia harus mati secepat-cepatnya. Penamparan selanjutnya masih berlangsung. Aku memungut dua batu sekepalan tanganku dari tepi kolam, kulempar batu pertama hingga kaca jendela pecah dan sang ibu menoleh—segera kulempar batu kedua hingga menghantam dahinya dan ia pun tumbang. Lalu aku membakar tali ayunan, kuangkut dudukan ayunan kayu itu ke depan jendela, dengannya kubersihkan birai jendela hingga terbebas dari pecahan kaca, dan aku memasuki kamar tersebut, sang ibu pingsan, kuhantam bertubi-tubi kepala sang gadis dengan dudukan ayunan.

Ia anak yang baik. Beberapa anak yang baik lebih baik mati secepat-cepatnya.

 

***

 

Tak ada siapa pun di rumah ini selain mereka berdua, jadi aku membuka pancuran air di kamar mandi—aku tak mungkin kabur dengan baju dan tubuh berlumur darah. Air hangat mengucur; aku duduk menekuk lutut di lantai; tubuhku melepuh dan ruangan dipenuhi uap—aku duduk pasrah di bawah cuaca panas neraka.

Tiba-tiba ponselku berdering, kukeluarkan dari pakaianku yang menumpuk di sudut wastafel—sial: sejak kapan pakaianku jadi bersih dari cipratan darah? Aku segera merentangkannya di depan cermin dan membolak-baliknya—pakaianku benar-benar bersih dari cipratan darah ....

Ah, ponselku masih berdering. Aku menjawab panggilan. Mama menelepon lagi dari neraka—ia menjelaskan dosa terakhirnya yang mesti kutebus: inilah dosa paling berat ketimbang dua dosa sebelumnya ....

Malam itu aku tak pulang. Aku tak menunggu esok malam untuk menebus dosa ketiga; aku tak menunggu esok malam seperti saat menebus dosa pertama dan dosa kedua.

Aku berdiri di depan makam Mama. Bunga-bunga segar mengepung makamnya. Wanita jahat tak layak dikepung bunga-bunga yang segar. Aku menendang semuanya. Aku membuka celana dan berjongkok di makamnya. Aku tak menunggu esok malam untuk menebus dosa ketiga—aku tak berminat menebus dosa ketiga—Mama layak masuk neraka—Mama layak mendapat siksaan abadi. Aku berak di atas makamnya.



*) Cerpen ini dimuat di Kompas pada Minggu, 20 Februari 2022.

Jumat, 20 Agustus 2021

KITA TAK BISA KE MANA-MANA LAGI: PENILAIAN ATAS KORELASI ANTARA THE FALL ARC PROTAGONIS DAN KONSEP STAGING


Artikel Ditulis oleh
Surya Gemilang
suryagem69@gmail.com


DATA FILM

 

Judul Film                   : Kita Tak Bisa ke Mana-Mana Lagi

Jenis Film                    : Film pendek

Durasi                         : 21 menit 18 detik

Rumah Produksi         : Rentjana

Tahun Produksi           : 2021

Produser                      : Andi Budrah Sadam Ramadhan & Hannan Cinthya

Penulis & Sutradara    : Fazrie Permana

Tautan Film                : https://www.youtube.com/watch?v=Nv5CxfRo2IM

 

PENDAHULUAN

 

Dalam medium film, cerita tidak berhenti pada bentuk tulisan naratif. Sutradara dan para kru lain harus mengonkretkannya dengan cara yang tepat, dalam bentuk audio dan visual, yang dapat mendukung penyampaian naratif. Dengan demikian, menurut Bordwell dan Thompson dalam buku Film Art: An Introduction, konsep naratif (bentuk) serta konsep visual dan audio (gaya) harus memiliki korelasi yang kuat. Prinsip ini berlaku untuk semua film naratif, termasuk film pendek yang berjudul Kita Tak Bisa ke Mana-Mana Lagi (selanjutnya hanya ditulis KTBKMML).

 

RINGKASAN CERITA

 

Nino (Rolando Octavio) dan Gigi (Sheila Dara Aisha) adalah sepasang mantan kekasih, masing-masing kini sudah memiliki tunangan. Pada suatu hari, mereka melakukan perjalanan dalam sebuah mobil, menuju rumah teman Gigi untuk suatu urusan. Selama perjalanan, mereka bercakap-cakap tentang masa lalu semasa mereka berpacaran, dan tentang rencana pernikahan masing-masing. Diam-diam, Nino sengaja mengulur waktu perjalanan mereka, dengan mengemudikan mobil melewati jalur yang lebih jauh. Menyadari terulurnya waktu, Gigi marah sehingga mereka bertengkar, sembari mengungkit-ungkit kesalahan di masa lalu, kesalahan yang tidak mereka perbaiki hingga sekarang. Beberapa saat kemudian, setelah urusan Gigi di rumah temannya selesai, Nino mengakui motif di balik tindakannya mengulur waktu perjalanan. Nino ingin menikmati momennya hari ini bersama Gigi lebih lama, sebab setelah ini mungkin mereka tidak bisa bertemu lagi. Lalu Nino mengantar Gigi ke sebuah hotel untuk perempuan itu bermalam. Di parkiran hotel, tiba-tiba Gigi mengajak Nino “mampir” ke kamar hotelnya.

 

PERANGKAT PEMBEDAHAN FILM

 

Tulisan ini bertujuan untuk menilai salah satu usaha Fazrie Permana, selaku penulis sekaligus sutradara film KTBKMML, dalam menciptakan naratif dan mengonkretkannya dalam bentuk visual. Penulis memilih fokus pada korelasi antara character arc protagonis dan staging. Sebab, character arc adalah bagian dari konsep naratif, bidangnya penulis skenario, dan staging adalah bagian konsep gaya yang merupakan bidangnya sutradara. (Khusus staging kamera, yang nanti akan penulis jabarkan lebih jauh, jugalah tanggung jawab penata kamera di samping sutradara.)

 

Character arc adalah alur perjalanan karakter yang menunjukkan bagaimana karakter berkembang seiring berjalannya plot. Berkembang bukanlah bagaimana fisik karakter bertumbuh dari kanak-kanak menjadi dewasa. Melainkan bagaimana prinsip hidup karakter itu berubah ke arah yang lebih baik, atau ke arah yang lebih buruk. Misalkan, di awal cerita, si Protagonis kerap berbohong demi mengejar kesuksesan, dan di akhir ia memutuskan untuk bersikap jujur demi mencapai kesuksesan tersebut.

 

Staging secara umum adalah penempatan dan pergerakan pemain serta kamera, dalam kaitannya dengan latar ruang di mana adegan berlangsung. Staging sangat memengaruhi dari arah mana penonton melihat pemain, seberapa dekat dengan pemain, dan impresi apa yang ditimbulkan oleh pemain.

 

Pertama-tama, penulis akan mengupas character arc protagonis di film KTBKMML. Setelahnya, barulah penulis beralih ke konsep staging, yang dipengaruhi oleh character arc.

 

THE FALL ARC: CHARACTER ARC PROTAGONIS DALAM KTBKMML

 

Umumnya, tidak hanya protagonis yang memiliki character arc. Antagonis dan karakter pendukung lain pun memilikinya. Tetapi, yang paling menentukan perkembangan plot utama adalah character arc protagonis. Hal ini pun berlaku dalam film KTBKMML.

 

Menurut Melanie Anne Phillips dan Chris Huntley dalam buku Dramatica: A New Theory of Story, protagonis adalah karakter yang memiliki tujuan (goal). Perjalanannya dalam mengejar tujuan secara aktif menjadikannya agen penggerak utama plot. Protagonis dalam KTBKMML adalah Nino. Tujuan karakter ini adalah berada bersama Gigi lebih lama, dan usaha aktifnya mencapai tujuan tersebut (dengan mengulur waktu perjalanan) membuat plot bergerak. Character arc yang terjadi pada Nino adalah: Di awal cerita, ia menyembunyikan keinginannya untuk lebih lama bersama Gigi; menjelang akhir, ia memutuskan mengucapkannya secara terang-terangan, meski mereka berdua sudah bertunangan. Jenis character arc Nino disebut the fall arc.

 

Menurut K. M. Weiland dalam buku Creating Character Arcs, the fall arc adalah alur perjalanan karakter di mana, pada mulanya, karakter memercayai kebohongan (lie), dan akhirnya karakter berkembang ke arah negatif, dengan memercayai kebohongan yang lebih kuat atau buruk. Agar lebih mudah dipahami secara lengkap, penulis mengutip skema the fall arc dari buku yang dimaksud:

 

KARAKTER MEMERCAYAI KEBOHONGAN ร  TERUS BERGANTUNG PADA KEBOHONGAN ร  MENOLAK KEBENARAN BARU ร  MEMERCAYAI KEBOHONGAN YANG LEBIH KUAT ATAU BURUK

 

Dalam konteks buku karya Weiland ini, “kebohongan” berarti prinsip hidup yang salah, dan “kebenaran” berarti prinsip hidup yang benar. Apa yang salah dan benar diukur dengan norma-norma yang berlaku secara umum di masyarakat.

 

Empat tahap penting the fall arc digambarkan dalam naratif KTBKMML sebagai berikut:


    1) Karakter Memercayai Kebohongan:

 

Kebohongan pada Nino adalah ia merasa diam-diam harus mengulur waktu perjalanan, agar bisa lebih lama bersama Gigi, sementara masing-masing mereka sudah bertunangan. Hal ini pertama kali ditunjukkan melalui Gigi yang menawarkan Nino menggunakan Google Maps, tetapi Nino berkata, “Udah, matiin aja map-nya, udah!”

 

(Gambar 1. Gigi menawarkan Nino menggunakan Google Maps.)

 

Kebohongan ini diperkuat lagi dengan jawaban Nino saat Gigi memastikan bahwa lelaki itu sudah yakin dengan tunangannya sekarang. Nino menjawab, “Ya … diyakin-yakinin ajalah.” Kemudian ponsel Nino berdering, Gigi menegur ia untuk menjawabnya, tetapi lelaki itu menolak. Belakangan kita tahu, itu adalah panggilan dari tunangan Nino.

 

    2) Karakter Terus Bergantung pada Kebohongan:

 

Nino terus bergantung pada kebohongan, dengan menepis Gigi yang memprotes bahwa waktu perjalanan mereka terasa sangat terulur, bahwa dari tadi mereka terasa berputar-putar terus di jalan. Nino mengaku tak ada yang salah dengan jalur ini. Akhirnya mereka bertengkar, mengungkit-ungkit kesalahan di masa lalu yang tak diperbaiki sampai sekarang.

 

(Gambar 2. Nino dan Gigi bertengkar masalah perjalanan yang lama.)

 

    3) Karakter Menolak Kebenaran Baru:

 

Kebenaran baru yang harus Nino tempuh adalah melanjutkan hubungan bersama tunangannya. Tetapi, setelah mengetahui tunangannya berkali-kali mencoba menghubunginya, dan membaca pesan bahwa sang tunangan sedang sibuk menyiapkan undangan serta suvenir pernikahan, Nino malah tetap mengabaikan wanita itu. Nino tak ingin momen kebersamaannya dengan Gigi diganggu pihak lain. Selanjutnya bahkan secara langsung ia mengucapkan apa yang ia inginkan kepada Gigi.

 

(Gambar 3. Nino membaca pesan dari tunangannya, sebelum memutuskan mengabaikannya.)

 

    4) Karakter Memercayai Kebohongan yang Lebih Kuat atau Buruk:

 

Terakhir, kebohongan yang lebih kuat itu adalah saat Nino menawarkan untuk mengantarkan Gigi ke hotel—kita bisa membaca subteks dari tawaran tersebut.

 

Sebagaimana lazimnya the fall arc, terlepas dari berhasil atau gagalnya protagonis mencapai tujuan, nasibnya akan berakhir buruk—secara tersurat maupun tersirat. KTBKMML menyiratkan nasib buruk Nino ke depannya. Tujuannya untuk bersama Gigi lebih lama memang tercapai. Tetapi, setelah ini, kita bisa memperkirakan hubungan Nino dengan sang tunangan—barangkali juga Gigi dan tunangannya—tidak akan baik-baik saja. Tersiratnya nasib buruk itu, pada adegan terakhir di parkiran hotel, digambarkan sebagai berikut:

 

    • Munculnya blackscreen ketika Gigi berkata pada Nino “… mau mampir dulu?” Blackscreen mengindikasikan akan adanya hal tabu, dan menjelaskan subteks dari ajakan Gigi; 
    • Melihat pola character arc, backstory, dan karakterisasi Nino, kita tahu bahwa lelaki itu tak akan menolak ajakan Gigi, malah setelah ini ia pun akan semakin sulit mengikhlaskan mantannya itu;
    • Pencahayaan low-key, mengindikasikan situasi buruk;
    • Aksi bisu di adegan terakhir menekankan kegelisahan Nino, yang telah menerima kebohongan yang lebih kuat.

 

(Gambar 4. Adegan terakhir di parkiran hotel, Gigi mengajak Nino “mampir” ke hotel.)

 

Pemilihan jenis character arc tentu tidak dilakukan secara suka-suka; pemilihan itu harus memiliki suatu kontribusi penting. The fall arc Nino memiliki kontribusi untuk menyampaikan argumen cerita: Kisah cinta lama yang dipaksakan berlanjut akan membuat kita tak bisa ke mana-mana lagi.

 

Jika kita menggunakan jenis character arc lain, adegan akhir dan argumen cerita jelas akan berbeda, dan tidak relevan dengan judul film. Misalkan, jika Nino mengalami the positive change arc, maka di akhir cerita—berdasar aturan dari struktur character arc ini—ia akan meninggalkan Gigi dengan ikhlas, dan hidup bahagia bersama tunangannya. Argumen cerita akan berubah: Kita harus mengikhlaskan kisah cinta di masa lalu. Judul film pun turut berubah: Kita Bisa Move On Sekarang—atau semacam itu.

 

Sekianlah pembahasan penulis tentang the fall arc protagonis dalam KTBKMML. Selanjutnya penulis akan membahas konsep staging.

 

STAGING PEMAIN DAN STAGING KAMERA

 

Terdapat dua jenis staging, yaitu staging pemain dan staging kamera. Dalam film naratif, keduanya tak dapat dipisahkan: kita tidak mungkin mendapat cerita tanpa adanya pemain di depan kamera sepanjang film; kita tidak mungkin mendapat cerita tanpa adanya kamera yang merekam adegan setiap pemain.

 

Sebagaimana konsep gaya lainnya, konsep staging berfungsi untuk mendukung naratif. Penulis akan membedah staging pemain dan kamera secara bergantian, serta menjabarkan hubungan keduanya dengan the fall arc Nino.

 

POLA-POLA STAGING PEMAIN

 

Berdasarkan pemosisian Nino dan Gigi di dalam latar ruang, terdapat dua pola staging pemain dalam KTBKMML:

 

    1) Pola I di Latar Ruang yang Sama;

 

(Gambar 5. Pola I di latar ruang yang sama.)

 

    2) Pola I di Latar Ruang yang Berbeda.

 

(Gambar 6. Pola I di latar ruang yang berbeda.)

 

Kedua pola ini adalah pola I, atau posisi antara pemain membentuk huruf “I”. Sepanjang film pola ini sangat dominan, berfungsi untuk menegaskan bahwa plot utama terfokus pada hubungan Nino dan Gigi, hubungan yang berkembang berdasarkan the fall arc Nino. Selain Nino dan Gigi, dua karakter lain adalah Teman Gigi dan Tunangan Nino. Teman Gigi tidak diperlihatkan secara jelas di frame, dan Tunangan Nino hanya terlihat melalui pesan WhatsApp; hal ini berfungsi untuk menekankan dominasi hubungan Nino dan Gigi dalam plot utama.

 

Dari kedua pola staging pemain yang ditulis di atas, pola nomor 1 adalah yang paling dominan. Nino dan Gigi dominan tampak di dalam mobil, atau ruang tertutup, dan duduk bersebelahan, hampir selalu diperlihatkan sejajar secara horizontal di frame. Pola ini berfungsi untuk menggambarkan betapa masih kuatnya hubungan mereka; penggunaan latar ruang tertutup menggambarkan kesan keterjebakan pada mereka berdua—keterjebakan dalam hubungan di masa lalu dan tak bisa ke mana-mana lagi, sebab, berdasar prinsip the fall arc, Nino terus memegang kebohongan dan menolak kebenaran.

 

Pola nomor 2 hanya terlihat sekali di sepanjang film, yaitu saat Nino membaca pesan dari tunangannya, dan Gigi berada di luar mobil. Karena hanya muncul sekali, maka staging ini sangat menarik perhatian, dan secara otomatis menggarisbawahi adegan yang terjadi. Dalam korelasinya dengan the fall arc, pola staging pemain ini berfungsi memberi penekanan bagi momen menjelang “karakter menolak kebenaran baru”, yaitu Nino menjelang memutuskan mengabaikan sang tunangan yang berusaha menghubunginya. Pola ini berakhir ketika Gigi kembali ke dalam mobil, dan pola staging permain bergeser ke pola nomor 1 lagi—menandakan bahwa Nino kembali memilih kebohongannya.

 

POLA-POLA STAGING KAMERA

 

Berdasarkan pemosisian kamera terhadap Nino di dalam latar ruang, terdapat tiga pola staging kamera dalam KTBKMML:

 

    1) Kamera diletakkan di belakang Nino, seolah penonton duduk di jok belakang mobil;

 

(Gambar 7. Kamera diletakkan di belakang Nino.)

 

    2) Kamera diletakkan sejajar di samping Nino;

 

(Gambar 8. Kamera diletakkan sejajar di samping Nino.)

 

    3) Kamera diletakkan di depan Nino.

 

(Gambar 9. Kamera diletakkan di depan Nino.)

 

Ketiga pola staging kamera ini berubah mengikuti the fall arc Nino.

 

Pola nomor 1, yang menghasilkan backshot, berfungsi mengisyaratkan adanya beban emosional yang berusaha karakter sembunyikan. Beban emosional itu adalah prinsip kebohongan yang Nino pegang dan masih ia sembunyikan: ia ingin bersama Gigi lebih lama.

 

Pola nomor 2 berfungsi sebagai transisi menuju pola nomor 3. Pada pola nomor 2, Nino sedang berhadapan dengan kebenaran baru (pesan dari sang tunangan), dan ia mempertimbangkan apa yang selanjutnya harus ia perbuat. Pola staging kamera ini menunjukkan Nino sedang berada di perasaan ambang, antara harus memilih kebohongan atau kebenaran.

 

Lalu berpindahlah staging kamera ke pola nomor 3, ketika Gigi kembali memasuki mobil dan Nino memutuskan mengabaikan sang tunangan; Nino memasuki fase “karakter menolak kebenaran baru” dalam the fall arc. Kali ini kamera berada di depan Nino. Jika sebelumnya backshot menunjukkan adanya beban emosional yang disembunyikan, maka di pola nomor 3 beban emosional itu sudah tidak disembunyikan—meskipun masih ada. Secara terang Nino menjelaskan pada Gigi apa motifnya sejauh ini; Nino memasuki fase “karakter memercayai kebohongan yang lebih kuat atau buruk”. Pola nomor 3 ini pun terulang kembali di adegan terakhir, ketika Gigi mengajak Nino “mampir” ke hotelnya. Meskipun tidak diperlihatkan jawaban Nino atas pertanyaan Gigi, pola staging ini mengisyaratkan apa jawaban lelaki itu.

 

KESIMPULAN

 

Fazrie Permana, sebagai penulis dan sutradara di film KTBKMML, berhasil memadukan konsep character arc (bidang penulis skenario) dan konsep staging (bidang sutradara). Ia telah memvisualisasikan the fall arc protagonis melalui konsep staging pemain dan kamera. Dengan demikian, penulis berpendapat bahwa Fazrie Permana mengambil salah satu langkah tepat dalam menentukan konsep gaya untuk mengonkretkan naratif di film KTBKMML.

 

PENUTUP

 

Sekali lagi penulis menegaskan, tulisan ini bertujuan untuk menilai salah satu usaha Fazrie Permana, selaku penulis sekaligus sutradara di film KTBKMML, dalam menciptakan naratif dan mengonkretkannya dalam bentuk visual. Tulisan ini tidak cukup untuk menentukan apakah keseluruhan film terbilang bagus atau buruk secara objektif. Untuk menentukan apakah film ini bagus atau buruk, kita perlu membedah hal-hal berikut lebih jauh:


  1. Elemen-elemen naratif selain character arc. Misalkan plot, karakter dan karakterisasi, latar ruang dan waktu, konflik, dan dialog;
  2. Elemen-elemen gaya selain staging pemain dan kamera. Misalkan konsep tata kamera secara lebih luas, tata cahaya, penyuntingan gambar, tata suara, dan tata artistik;
  3. Korelasi antara seluruh elemen naratif dan seluruh elemen gaya di film KTBKMML.

 

Penulis berharap tulisan ini dapat menjadi satu contoh kecil tentang cara membaca film KTBKMML. (Syukur jika menjadi contoh kecil juga untuk membaca film-film lain.) Barangkali, jika Anda berminat menilai film ini lebih jauh, Anda bisa berangkat dari segala apa yang telah penulis jabarkan dalam tulisan ini.

 

SUMBER-SUMBER BACAAN PENULIS

 

Bordwell, David & Thompson, Kristin. Film Art: An Introduction, 10th Edition. McGraw-Hill: New York, 2013.

 

DeKoven, Lenore. Changing Direction: A Practical Approach to Directing Actors in Film and Theatre. Focal Press: Oxford, 2006.

 

Katz, Steven D. Film Directing Shot by Shot: Visualizing from Concept to Screen. Michael Wiese Productions: Ventura Blvd, 1991.

 

Phillips, Melanie Anne & Huntley, Chris. Dramatica: A New Theory of Story, 4th Edition. Screenplay Systems Incorporated: 2001.

 

Proferes, Nicholas T. Film Directing Fundamentals: See Your Film Before Shooting, 3rd Edition. Focal Press: Oxford, 2008.

 

Rabiger, Michael. Directing Film Techniques and Aesthetics, 4th Edition. Focal Press: Oxford, 2008.

 

Weiland, K. M. Creating Character Arcs: The Masterful Author’s Guide to Uniting Story Structure, Plot, and Character Development. PenForASword Publishing: 2016.

Jumat, 23 Juli 2021

YANG JATUH CINTA, YANG MATI DUA KALI -- Sebuah Cerpen

*Ilustrasi oleh: Gigin Hilal Ahmadi


Setiap orang yang jatuh cinta menempuh jalan tololnya masing-masing, dan tak jarang jalan tolol itu begitu intim dengan jalan maut seperti sepasang kekasih, yang sehari lalu baru melaksanakan persetubuhan pertama mereka di hotel bintang lima setengah, dan jalan tolol semacam itulah ditempuh oleh kawanku Surya—di kebanyakan waktu rautnya seperti orang yang beberapa detik lalu menelan sianida. Di draf pertama cerita ini ia hanya kutulis S, tetapi ingatanku atas segala ketololannya, yang membuatku gemas untuk membelah tengkoraknya, membuatku tak mau repot-repot menggunakan inisial; aku tak mau menjaga kehormatannya terlalu tinggi. Jalan tolol yang ia tempuh adalah mati dua kali.

Serius. Surya mati dua kali, secara harfiah. Yang pertama, ia mendonorkan jantung kepada wanita yang dicintainya—tapi tak kunjung mencintainya balik; yang kedua, ia menggantung diri di kamar indekosnya setelah gagal memenggal kepala di rel kereta, karena sang masinis lumayan gesit dalam mengerem, atau lumayan jahat karena enggan membantainya. 

Sejak merantau ke kota ini, aku tinggal di sebuah rumah indekos dengan kamar yang kebetulan bersebelahan dengannya, dan kebetulan pula kami berkuliah di kampus dan jurusan yang sama; hal-hal ini tentu membuat kami cepat sekali dekat, atau setidaknya begitu yang kurasa. Sebagai orang yang dekat dengannya, aku tak pernah menemukan hal-hal ganjil padanya; semua hal di hidupnya tampak normal-normal saja, tidak di atas pun di bawah, dari segi finansial, kondisi fisik, kemampuan belajar di kampus, kemampuan menenggak bir dalam semalam, apa pun lainnya, sampai pada suatu hari yang biasa-biasa saja ia berkata padaku, “Kau pernah jatuh cinta?” dengan raut muka begitu tolol, seakan ia mendapati kenyataan bahwa selama ini jawaban yang benar dari satu ditambah satu adalah seribu. Dan, dengan sedikit ketajaman dalam membaca raut muka, aku langsung melempar kesimpulan, “Kau sedang jatuh cinta,” dan Surya mengangguk dengan raut semakin tolol.

Selanjutnya jelas aku bertanya pada siapakah ia jatuh cinta, di hadapan jempol kaki siapakah otaknya mengerut sebesar kacang, dan ia membalas, “Sebuah pulau rahasia akan tetap cantik jika tak dihuni seorang pun, atau maksimal satu orang—sejarah membuktikan begitu.” Penggunaan metafora—yang tak tepat-tepat amat—demikian sama sekali bukan gaya bicara Surya; jelas ia telah berubah dari makanan menjadi tahi, dan di titik inilah aku yakin seribu empat puluh enam persen: ia tak main-main dalam jatuh cinta. Aku lalu mengatakan bahwa aku tak akan jatuh cinta pada perempuan itu jika mengenalnya, toh selera kami soal perempuan bisa jadi tak ada samanya, dan kalaupun turut jatuh cinta aku tak akan berusaha melangkahi Surya sebagai teman—meski ia mendadak tolol. “Malah,” sambungku, “barangkali aku bisa menyatukan kalian, serekat tikus dan Lem Cap Gajah.” Sayangnya, Surya menggeleng.

Keengganan Surya untuk tak memberitahuku soal perempuan tersebut pun membuatku enggan bersenggolan dengan kisah percintaannya; hal ini kusampaikan padanya secara lisan dan jelas—tanpa metafora apa pun, sungguh—dan ia mengangguk, dan kupikir itu tandanya ia mengerti betul maksudku. Tetapi sehari kemudian, sekitar pukul sepuluh malam, saat gerimis menggaruk-garuk kaca jendela kamar, ia menggedor-gedor pintu kamarku; ia panik betul umpama dikejar iblis yang gigih mengajaknya berlibur ke neraka, dan aku yang tadinya ingin segera tidur karena demam langsung saja menyambutnya, dengan ekspresi yang menunjukkan betapa ingin aku melubangi perutnya, sebelum mengencingi lambungnya.

“Besok ia ulang tahun!” Surya berseru, dengan nada bicara yang cocok dipakai untuk membawakan kalimat, “Dokter memvonisku mati besok!”

“Dan kau bingung ingin memberinya hadiah apa, bukan?” balasku. Sebelum ia mengangguk—ia pasti hendak mengangguk—aku menyambung, “Kirimkan foto kemaluanmu ke WhatsApp-nya. Semua perempuan suka itu.” Dan aku membanting pintu di depannya, dan aku lanjut berusaha untuk tidur.

Kira-kira sejam kemudian, aku tercerabut dari mimpi yang ganjil—aku lupa apa isi mimpiku—berkat terdengarnya tangisan dari kamar sebelah; kuharap Surya tak memercayai ucapanku mentah-mentah, seharusnya tak ada manusia yang bisa setolol itu. Semoga saja ia menangis hanya sebab masalah remeh, seperti tak tahu bagaimana cara memasak udang goreng tepung tanpa tepung apa pun; tetapi segeralah terjawab bahwa ia menangis bukan sebab hal remeh, terbukti dari suara tangisnya yang terdengar mendekat, sebelum pintu kamarku digedor-gedor lebih keras ketimbang sebelumnya. Kupikir ia akan merebut nyawaku, jadi aku tak membukakannya pintu, sambil menunggunya menyerah dan kembali ke kamar, atau menunggu para penghuni indekos lainnya terbangun dan menghajarnya beramai-ramai. Namun, bukannya para penghuni lain membuatnya tumbang, ia berhasil menumbangkan pintu kamarku dengan satu tendangan, tendangan yang tak kutahu ia miliki, lebih-lebih ia berbadan sekurus mata obeng terkikis asam, dan aku langsung meringkuk, dengan punggung menempel ke dinding yang dingin. Dengan cepat ia menjambakku, dan ia melemparku ke dinding seringan melempar segenggam kacang pilus, dan ia menginjak-injak perutku ketika aku tergeletak di lantai, dan aku memuntahkan seluruh makan malamku. Rasanya aku hendak memuntahkan usus dan lambungku juga, untung saja Surya mendadak berhenti dan pergi, untung saja terjadi satu pergeseran emosi yang signifikan padanya. Dan, tak ada juga seorang penghuni indekos pun yang datang menolong. Aku akhirnya ketiduran di lantai, di titik itu juga, karena tak sanggup untuk sekadar menyeret tubuh ke kasur.

Keesokan paginya, aku dibangunkan suara ketukan palu dan mendapati Surya sedang memasang kembali pintu kamarku, tanpa sekali pun melirik atau bicara padaku—aku pun tak berusaha bicara padanya—dan seusai urusan itu ia langsung kembali ke kamarnya. Setelahnya barulah aku berani bangkit. Entah kenapa, aku merasa Surya akan menghajarku lagi semisal aku berani bangkit di hadapannya.

Aku meliburkan diri hari itu karena tubuhku luar biasa sakit, akar kacang-kacangan menembus kulitku, terutama pada bagian perut, bahkan untuk menelan makanan padat saat sarapan pun aku tak mampu, seakan yang kutelan adalah kulit durian. Bocah tolol, aku tak akan membiarkan ia membuatku bersenggolan sedikit pun dengan kisah percintaannya lagi.

Dan memang Surya tak berusaha melakukan hal itu lagi padaku; pasalnya ia tak keluar dari kamarnya hingga sekitar seminggu kemudian, atau hampir tak pernah keluar selama itu, terbukti dari terus adanya sepatu dan sandalnya di rak di depan pintu kamarnya. Tentu teman-teman sekampus menanyaiku soal kabarnya, yang selalu kubalas dengan mengaku tak tahu, agar aku tak diberi tugas untuk menjenguknya di kamar pun sekadar mengetuk pintunya, sebab memori tentang serangan-serangan mematikannya menggilas nyaliku. Di masa itulah aku iseng mencari tahu—tak lebih—soal sang perempuan misterius, yang Surya cintai tiga per empat mampus, dengan bertanya ke teman-teman sekampus, tetapi rupanya sama sekali tak ada yang tahu.

Meski tak mengalami kerugian apa-apa, tanpa kemunculan Surya minggu itu aku merasakan perasaan ganjil: bukan kesepian, rindu, atau apa pun, melainkan entah apa. Dan, ini memang aneh, sepanjang minggi itu, tiap malam, tiap lampu kamar kupadamkan—sehingga sumber cahaya satu-satunya hanyalah lampu-lampu jalan di balik jendela—aku jadi sering membayangkan sesosok hantu menyembulkan wajah dari dinding kamarku, dinding yang memisahkan kamarku dan Surya, sesosok hantu yang mirip dengan temanku itu. Saban aku membayangkan sang hantu, aku selalu merasa kamarku menggelap, lampu-lampu jalan di luar meredup, dan udara dari pendingin ruangan semakin menjadi dinginnya, udara dingin memarut-marut kulitku secara keji.

 

***

 

Pada Senin pagi yang agak cerah, kudapati selembar surat di lantai dekat pintu kamarku; seseorang pasti memasukkannya lewat celah bawah pintu ketika aku masih tertidur. Rupanya itu adalah surat dari Surya, ia menuliskan permintaan maaf dan mengabarkan bahwa subuh tadi ia berangkat ke rumah sakit, yang tak disebutkan nama pun alamatnya, karena perempuan yang dicintainya menderita suatu penyakit langka mematikan, yang tak juga disebutkan nama pun detail lainnya, dan Surya akan mendonorkan jantung untuknya. Itulah kematian pertama si Otak Kacang, membuatku terduduk di lantai dan menangis sesenggukan, lantas aku buru-buru berangkat ke kampus, menunjukkan surat tersebut kepada teman-temanku, lalu mereka menyampaikan kabar duka itu ke teman-teman yang lain, sehingga sore di hari yang sama, di lapangan kampus yang mendadak dihampiri gerimis dan angin kencang, kami melakukan upacara kematian kecil-kecilan, masing-masing membawa sebatang lilin yang terus-menerus gagal kami nyalakan.

Malamnya, untuk kesekian kali aku membayangkan hantu itu menyembulkan wajah dari dinding, untung saja sebagai hantu ia tak seram sama sekali; bagaimanapun aku malah jadi bertanya-tanya sendiri, mungkinkah hantu itu bukan sekadar bayangan di kepalaku lagi?

 

***

 

Soal bagaimana bisa Surya hidup kembali, jangan tanya padaku. Pokoknya, dua hari setelah upacara kematian kecil-kecilan untuknya, ketika aku baru saja akan berangkat ke kampus, tiba-tiba Surya mengetuk pintu kamarku. Sejenak kami bertukar pandang dengan pandangan khas orang tolol, sebelum ia buru-buru menunduk. Ketika itulah aku menyadari masing-masing tangannya memegang sebotol bir, salah satunya langsung ia sodorkan padaku; di tubuh botol tersebut, menutupi mereknya, tertempel selembar sticky note biru cerah dengan tulisan Maaf.

“Kamarmu belum dianggap kosong,” ucapku, sembari menerima sebotol bir darinya. “Aku belum memberi tahu si Pemilik Indekos apa pun. Yang ia tahu hanyalah kau masih sesegar kecambah—ia tak tahu kecambah itu telah dicabut seorang wanita.”

Aku duduk di tepi kasur, membuka tutup botol bir dengan gigi, dan melemparkan isyarat berbunyi masuklah, Bajingan kepada Surya, dan ia pun masuk, menutup pintu, duduk di lantai dekat pintu, sebelum membuka tutup botol bir dengan cara yang sama. Ketika aku menenggak bir, aku terkejut oleh rasa bir yang begitu nyata, sehingga aku sadar bahwa aku sedang tak bermimpi, dan aku terbatuk-batuk memuncratkan bir, dan melemparkan botolnya ke arah Surya, dan lelaki itu cepat menghindar, botol pun hancur menabrak dinding.

“Goblok! Kau pikir leluconmu lucu?!”

“Apa?” sahutnya gemetar, seraya berdiri perlahan, dan sesaat ia mematung, mencerna kalimatku yang tak rumit-rumit amat. Kemudian ia mendekat, meraih tanganku dengan satu gerakan cepat, dan meletakkannya di dada kirinya, sedetik, dua detik, tiga detik, lima detik, sepuluh detik .... Tak ada yang berdetak di sana ....

“Kau tak akan mau melihat bekas jahitannya. Mungkin kau juga menyesal karena telah meraba bekasnya.

“Jadi … kau ini apa?” tanyaku, terbata-bata.

“Aku masih manusia biasa. Hanya saja, berdasarkan organ dalam, aku agak tak biasa.”

 

***

 

Singkat cerita, kehidupan kedua Surya begitu singkat, satu setengah hari pun tak sampai, sebab akhirnya ia menyadari: bangkit dari kematian adalah jalan tertotol dari variasi jalan tolol yang ditempuh orang jatuh cinta.

Kata Surya, perempuan itu akhirnya menikah dengan lelaki lain. Di kamar rumah sakit tempat ia dirawat, upacara pernikahan kecil-kecilan—dengan pria berusia empat puluhan sebagai pasangannya—sedang diselenggarakan ketika Surya datang ke sana, dalam rangka menagih balasan cinta untuk jantungnya, dan kawanku itu langsung pergi menghampiri rel kereta terdekat, dan ia melakukan percobaan bunuh diri yang gagal. “Sekarang, aku tak berselera mendonorkan apa pun padanya. Upil pun tidak.”

“Ia pun tak berselera untuk menerima.” Ingin sekali kubalas begitu, untung saja aku tak jahat-jahat amat. Sebagai gantinya, aku mengajaknya bercakap-cakap soal cinta dari sisi yang agak filosofis, dengan tambahan sedikit kutipan inspiratif yang kucomot dari sebuah novel porno.

Percakapan kami hari itu diakhiri dengan Surya yang mendadak menjambakku, dan melemparku ke dinding, dan menginjak-injak perutku, entah atas motivasi apa, sampai sekarang pun tak terjawab; kuduga ia sekadar butuh pelampiasan atas kemalangan kehidupan keduanya.

Keesokan paginya, saat hendak pergi ke kampus, saat melewati pintu kamarnya yang terbuka lebar, kulihat ia telah mati gantung diri di dalam sana, di dahinya tertempel sticky note biru cerah dengan sebuah tulisan, yang untuk membacanya aku mesti mendekati mayatnya. Kirimkan foto mayatku ke pemilik jantungku—ini nomor ponselnya: 08xxxxxxxxxx. Semua perempuan suka itu. Sialan, sebelum mati untuk kedua kali pun ia masih sempat memamerkan ketololannya. Semoga ia tak jatuh cinta pada siapa pun di akhirat.


*) Cerpen ini dimuat di Nongkrong.co pada 5 Juli 2021.