“Ini baru bagian awal—perhatikan
baik-baik,” kata Adam, menggeser posisi duduknya mendekati Hawa, dan kasur
berderit. “Pertama, mereka akan telanjang. Lalu, lebih aneh dari itu!” Tangan Adam
yang memegangi ponsel bergoyang, dan Hawa memegang punggung tangan bocah lelaki
itu sebagai penyangga.
“Oh ya,”
lanjut Adam, “mereka berdua bicara dalam bahasa Inggris, bukan?”
“Bahasa
Inggris. Tapi aku tak paham apa pun,” balas Hawa, mendekatkan tangan Adam yang
memegang ponsel ke wajahnya, sebab cahaya dari jendela kamar membuat layar
silau. “Bahasa Inggris di tempat kursusku tidak sesulit ini. Mereka berdua
bicara terlalu cepat.”
Raung
mobil-mobil terdengar dari jalan di depan rumah. Adam mengambil earphone dari samping bantal, lalu
mencolokkannya ke ponsel, dan memasangkan earphone
kiri ke telinga kanannya sendiri, dan memasangkan earphone kanan ke telinga kiri Hawa, sebelum bocah lelaki itu
menaikkan volume video hingga lima puluh persen. Kemudian ia menjulurkan kaki,
untuk menekan tombol off pada kipas
angin di samping kasur dengan jempol kakinya. Sempurna: kini percakapan dua
orang dewasa itu semakin jelas.
“Ada
kata-kata yang kau pahami?” tanya Adam.
“Tidak.
Mungkin waktu SMA nanti aku akan—Hei! Mereka benar-benar membuka pakaian!”
“Lihatlah
terus. Nanti akan lebih aneh lagi.”
Hawa
terus memerhatikan video. Ia mendekatkan wajah ke layar ponsel. Semakin lama
kerutan pada dahinya semakin dalam.
***
Adam dan kakak lelakinya duduk di
meja makan. Aroma opor ayam dan desis kompor dan samar-samar nyanyian Mama
datang dari dapur. Adam memainkan jari telunjuk dan tengahnya di meja, menggerakkannya
sedemikian rupa seperti seseorang yang menari, mengikuti nyanyian Mama yang
samar. Tahu-tahu Kakak bergeser ke sampingnya, dan ia tersenyum jahil,
menampakkan taring kanannya yang ompong; ia pun menunjukkan video aneh itu
lewat ponselnya.
“Ini baru
bagian awal—perhatikan baik-baik,” kata Kakak, seraya memasangkan earphone kanan ke telinga kanan Adam.
Lalu ia menjeda video. “Nanti akan ada bagian yang aneh. Dan, ini cuma di
antara kita berdua. Oke?”
Adam
mengangguk, dan video diputar kembali. Semakin lama kerutan pada dahi Adam
semakin dalam.
“Kata Mama,
orang dewasa akan malu jika telanjang,” bisik Adam.
“Mama
pembohong.”
“Mama
pembohong ...?” Adam membeo.
“Ini cuma di
antara kita berdua.”
“Boleh
kutunjukkan video ini besok Minggu pada Hawa?”
“Hmm … biar
kupikirkan dulu. Tapi, sampai aku berkata oke,
ini tetap di antara kita berdua. Jika ada orang ketiga, kucubit pahamu sampai
memar.”
***
“Ah, aku tahu artinya!” Hawa mendadak
berseru. “Wanita itu bilang, Oh Tuhan-ku,
Oh Tuhan-ku! Tapi kenapa ia dan teman prianya telanjang? Mereka sedang
berdoa? Tapi kenapa tak di gereja?”
“Sekarang
wanita itu bilang, Oh ya, oh tidak,”
sambung Hawa cepat. “Aneh sekali.”
“Aneh
sekali ....” Adam menaikkan volume video hingga enam puluh persen. “Apa agama
mereka?”
“Entahlah
.... Orang luar negeri punya cara berdoa yang aneh. Kadang memejam, kadang membelalak
lebar.” Hawa menyeka hidungnya yang sedikit mengeluarkan ingus dengan lengan
baju. “Sepulang dari sini, aku akan bertanya pada Mama dan Papa.”
***
Mama memanggil Adam dan Hawa dan
Kakak dari dapur, makan siang sudah siap. Mama menuangkan jus jeruk ke empat
gelas dan duduk bersama ketiga bocah itu.
“Ponselku
hilang,” kata Kakak tiba-tiba. “Adam pasti mencurinya.”
“Hanya
meminjam,” balas Mama cepat. “Adam akan mengembalikan ponselmu nanti, setelah
PR-mu untuk besok Senin selesai. Bukan begitu, Adam?”
Adam
mengangguk, dan Hawa ikut mengangguk.
“Kau
ikut memakai ponselku, Hawa?” tanya Kakak.
Sekali
lagi Hawa mengangguk. Kakak tersenyum. Setelah itu Kakak tak bicara apa pun; ia
mengunyah paha ayam panggang, dan tetap tersenyum ke Hawa. Mata Adam bergiliran
mengarah ke Hawa yang fokus pada sayap ayamnya, ke Kakak yang fokus pada Hawa,
dan kembali ke Hawa. Adam menenggak jus jeruk: terlalu asam: air liur seketika
berkumpul di mulutnya, ia mengernyit.
***
“Kakak tak pernah tersenyum padaku,”
kata Adam, memerosotkan punggungnya, sehingga sol sandalnya dapat menyentuh
langit-langit terowongan. Hujan semakin deras di luar terowongan di bawah
perosotan itu. Hawa menjulurkan telapak tangan keluar terowongan, lalu meraupkan
air hujan ke wajah. “Tetapi, Hawa, ia kerap tersenyum padamu—kau sadar?”
“Aku tidak
sadar.” Sejenak Hawa melipat bibir bawahnya, dan mengerutkan keningnya, dan
isapan pada bibir bawahnya menghasilkan suara seperti saluran TV yang rusak. “Tapi
aku sadar, bau tubuh kakakmu aneh sekali. Persis daging busuk yang dipanggang
di permukaan knalpot. Untung saja ia mempunyai globe salju yang bagus. Hanya
itu yang kusuka darinya.”
***
Dan makanan mereka habis. Kakak
menarik selembar tisu dan menyeka saus tomat di sudut bibir Hawa. Gadis itu
hanya diam, menatap balik padanya. Adam langsung menendang pelan kaki Hawa.
“Mama
akan pergi sebentar,” ucapnya, menumpuk piring-piring kotor di hadapannya. “Adam,
jangan lupa tidur siang. Hawa, ingat, mama dan papamu bilang kau harus pulang
pukul dua belas siang.” Mama memasukkan semua sendok-garpu kotor ke gelasnya,
lalu menatap tajam Kakak. “Dan kau … Mama ingin melihat PR-mu sudah selesai
begitu tiba di rumah nanti.”
***
Dari jendela kamar Adam, terlihat
mobil Mama meninggalkan rumah, dan Kakak menutup gerbang. Adam dan Hawa kembali
mengenakan earphone, dan memainkan
video aneh itu, dan mengernyit kebingungan.
“Aku
baru sadar hal ini,” kata Hawa. “Perempuan dewasa tak mengulum jari sendiri.
Mereka mengulum ular!”
Adam
menarik karet pinggang celananya dan memerhatikan seekor ular yang tidur.
“Kenapa
…?”
“Entahlah—Hei!
Tutup celanamu. Ayo kita tonton lagi video ini.”
Tiba-tiba
Kakak membuka pintu. Adam cepat-cepat menutup video aneh itu.
“Apa
yang kau tunjukkan ke Hawa?”
“Tidak
ada ....” Adam menunjukkan wallpaper ponsel.
“Lihat, tidak ada.”
“Lantas,
untuk apa kalian memasang earphone?”
Adam
dan Hawa bertukar tatapan.
“Hawa … Adam
tak menunjukkan apa pun padamu?”
Ragu-ragu,
Hawa menggeleng.
Kakak
menutup pintu. Lalu ia mendekat pada Adam dan Hawa, berdiri di tepi kasur,
bayangannya menimpa kedua bocah yang menunduk itu.
“Kalian
akan habis,” kata Kakak. “Mama akan memukul kepala kalian dengan kemoceng. Kau
ingat rasa sakitnya, Adam?”
Adam
mulai terisak-isak. Hawa memegang tangan kawannya, dan meremasnya pelan, dan dengan
jempol ia mengelus punggung tangan lelaki itu. “Maaf ....” Hanya itu yang Hawa
ucapkan. Dan, Adam membeo.
“Kalian
akan selamat kalau paham tentang video itu. Tentang rahasia itu,” kata Kakak. “Tapi kalian masih kecil. Kalian tak
paham maksudnya.” Kakak duduk di samping Hawa. “Tapi, Hawa, kau lebih pintar
dari Adam. Kau akan lebih cepat paham, dan kau akan selamat.”
Hawa
mendongak menatap Kakak. “Tapi aku tidak paham. Mereka berbicara bahasa Inggris
terlalu cepat.”
“Aku
paham. Aku akan memberi tahu kalian sekarang.”
Berhentilah
isakan Adam. Kakak tersenyum, dan mengelus-elus kepala Hawa.
“Sekarang,
Adam, kau harus merekam. Dan Hawa …” Kakak melepas earphone dari ponsel dan telinga Adam dan telinga Hawa, “ini adalah
rahasia di antara kita berdua. Tidak—kita bertiga, maksudku. Siapa pun yang
membocorkannya, akan kucubit pahanya hingga memar. Apa kalian bersumpah akan
menjaga rahasia ini?”
Adam dan Hawa
mengangguk.
“Bagus. Untuk
Adam, nanti kau akan kutunjukkan lebih banyak video aneh. Untuk Hawa, aku akan
memberimu globe saljuku.”
Kakak
berdiri. Bayangannya kembali menimpa Adam dan Hawa. Ia tersenyum jahil,
menampakkan taring kanannya yang ompong. Lalu ia menurunkan celana. Seekor ular
meliuk, mendesis, sisiknya lembap dan merah. Ular itu mengedipkan sebelah mata
ke Hawa.
***
Adam mampir ke rumah Hawa. Mama dan papanya
bilang gadis itu sakit dan sudah hampir seminggu tak keluar dari kamar. Adam
pun naik ke lantai dua sendiri, membuka pintu kamar Hawa yang penuh stiker
tokoh-tokoh kartun, dan … gadis itu tak ada di sana.
Jendela
masih tertutup gorden hijau; cahaya terik menembus gorden itu dan memenuhi
kamar dengan warna hijau yang tipis. Suhu pendingin ruangan membuat keringat
Adam cepat mengering. Dan, sayup-sayup terdengar tangis seorang gadis. Adam
mendekati nakas di samping kasur. Di atasnya, di samping pigura—yang berisi
foto mereka berdua di terowongan bawah perosotan—adalah globe salju. Globe itu
sekepalan tangan Kakak. Di dalamnya, berdiri di permukaan salju, adalah
sebatang pohon tak berdaun, ranting-rantingnya seperti deduri penuh lekukan.
Dan, di bawah pohon tersebut, Hawa meringkuk dan menangis. Seekor ular merah
membelit tubuhnya.
*) Cerpen ini dimuat di Kurungbuka.co pada Agustus 2023.