Jumat, 05 Agustus 2016

koffin - sebuah film pendek





cerita dalam film ini "tergantung" pada pikiran anda (penonton) sendiri. seperti menafsirkan sebuah puisi atau sebuah lukisan abstrak.

orang yang "tidak mengerti" mungkin akan berpikir bahwa menonton film ini hanya membuang-buang waktu. tapi, bagi orang yang mengerti, film ini akan menjadi "permainan pikiran".

DIAM YANG MELUMATMU


Ilustrasi oleh: Surya Gemilang




Diam yang Melumatmu

bahasa bagi kita adalah kapal yang karam
di tengah gurun pasir, atau jembatan
yang tak bisa diterjemahkan oleh kamus
mana pun, apalagi dilalui oleh kalimat.

tiupan angin malam mencoba mengajarkan
kita untuk memahami apa arti dari
kehancuran. kehancuran yang abadi,
mencakar-cakar sesuatu yang lebih
baik hampa.

sela-sela bibirku menjelma diam yang
melumatmu. aku menikmati hangat
dagingmu dan bahasa yang susah payah
kita rangkai untuk menjadi sesuatu yang
remuk. seremuk-remuknya.

*

ada seekor hewan buas yang tak bisa mati
di balik tempurung kepalaku, seperti
rasa rindu yang muram. hewan buas itu
adalah makhluk yang akan menghibur kita
sepanjang hari—dengan kelucuannya
—sebelum akhirnya menerkam kita dalam diam.




Sajak Tentang Sebuah Kerajaan Kecil

ada yang akan lenyap tanpa
isyarat di antara kita; ada
yang akan memiliki sepasang
sayap untuk mengecup
ketinggian yang kusam. di
dapur ibuku mungkin akan ada
seseorang yang menjelma
jelaga ketika aku lupa
cara untuk berhenti menangis.

ia menampung berbilah-bilah
pisau dapur di pekat bola
matanya, juga buku-buku
tebal yang membuat debu
jatuh cinta. ia meretih untuk
membahagiakan tungku,
untuk memberikan rasa
yang dalam pada sekilo beras
yang angkuh.

aku adalah jelaga yang berhasrat pada
minyak dan api. ada misteri yang menggerogoti
warna tubuhku juga warna bola matanya. dan,
akan ada sesuatu yang liar yang menjadikan kita
menu sarapan.




Ritual

kau boleh pergi setelah kecambah
kesedihan tumbuh di sudut bilik kiri
jantungku. aku akan selalu merawatnya.
untukmu. atas namamu.

di kamarku, kau sedang mengamati
gerbang rumahku: menanti tamu
yang kira-kira tak akan pernah
datang. atau mungkin kau sedang
mengamati kebunku yang dipenuhi
kesedihan, namun terdengar tawa
terbahak-bahak dari sana.

kau kerap mengingatkanku bahwa ada
beberapa pasang kekasih yang abadi di daun
telingaku. kau memintaku merekam segala desah
yang mereka rajut dari tanah liat: kenangan kita
yang kedap air.

*

mari kutunjukkan padamu akhir dari ritual
puisi yang payah ini: segalanya menyatu dalam
lingkaran kita, merayap pada muram yang
sedih
dan penuh tawa.



*) Puisi-puisi ini dimuat di Litera pada tanggal 4 Agustus 2016.

Rabu, 03 Agustus 2016

KEKASIH YANG KERA


Sumber gambar: Nusantaranews.co



Kekasih yang Kera

kekasih yang kera menginginkan
benakku. padahal, aku mempunyai
pisang yang panjang dan setajam
kata!

“tapi, tampan, hanya di benakmu
ada kerah buat kera.”

aku membalas, “jangan lupakan
gerah pada kerah!”

kekasih yang orang, kuinginkan
igau terpanjangmu. jangan yang
berdaging. jangan yang setajam
kata.

“jangan juga yang seramai kota!”

(Denpasar, 2016)




Hari Ini Bukan di Denpasar

hari ini lelucon enggak mampir
ke denpasar. atau mungkin sebenarnya
mampir, cuma saja ia berdiam di sudut-
sudut teranyir yang siapa pun
ogah menggapainya.

“apa yang membuat kamu nungguin
lelucon?” ucapmu. “bukankah lelucon
nungguin kamu dalam sembahyang?”

mungkin lelucon lagi mampir ke
kota-kota lain. semisal jakarta,
hongkong, atau new york. siapa
yang tahu?

“semakin hari, lelucon semakin
keparat!”

beberapa tahun yang lalu, lelucon
datang dari arah barat. atau mungkin
arah timurlah yang mengundangnya.
atau lelucon memang hobi banget
keliling dunia—dari sudut-sudut
purba sampai sudut-sudut modern.

“siapa yang peduli?!”

yang jelas, hari ini lelucon enggak
mampir ke denpasar. kayaknya.

(Denpasar, 2016)




Pan Kasim*, Dongengi Aku

/1/

yang capai berburu kayu bakar di hutan
bolehlah duduk bersandar padaku
sampai seekor ular yang bisa bicara
memanggil namamu!

“kau ular!” kata pan kasim. “kau seharusnya
enggak bisa dan enggak boleh bicara!”

ular itu besar—lebih besar dari ular di balik
celana pan kasim—dan tubuhnya terjepit
batang pohon yang tumbang sebab
raja langit bersin.

“kau manusia,” kata si ular. “kau seharusnya
bisa dan boleh membantuku dengan
menyingkirkan batang sialan ini.”

/2/

dan waktu pan kasim pulang, didapatinya
gubuk reot tempat ia tinggal telah berubah
jadi rumah yang bagus!

“aku enggak tahu kenapa bisa begini!”
sang istri, men kasim namanya, bingung.

“si ular enggak bohong!” pan kasim berseru. “aku
nyelamatin dia dan dia mau ngabulin apa pun pintaku!”

malam yang lugu dan gagu pun mengalirkan
aroma kentut keangkuhan.

/3/

“aku mau istana!
aku ingin jadi raja!
aku pengin istriku jadi ratu!”
demikian kalimat pan kasim ketika keesokan
harinya ia kembali ke hutan dan nemuin si ular.

“kau manusia, boleh tinggal di istana.
kau pria, bisa jadi raja.
kau punya istri manusia, berhaklah jadi ratu.”

/4/

“matahari pengin membakarku!” jerit ratu
kasim. “aku enggak mau jadi babi panggang!”

sebab raja kasim adalah anggota dari
“ikatan suami takut istri”, ia cepat-cepat lari
ke hutan—lagi-lagi buat nemuin si ular.

/5/

“jiwaku panas!” seru pan kasim.
“aku berhak jadi matahariii!!!”

si ular geram.
penginnya ia nerkam si egois.
si ular geram:
diam-diam
ia
jatuh cinta
pada
ular di balik celana pan kasim.

/6/

enggak ada matahari. enggak ada istana.
enggak ada raja-ratu. enggak ada rumah bagus.
enggak ada …

enggak ada kamu!

(Denpasar, 2016)

*) Cerita rakyat Bali.




Pun Sajak Bisa Merambat

nada yang merambat pengin nyusup
ke dalammu, melewati lubang
yang diinginkan tenggat
waktu.

can your hear me?

dan nada yang merambat hendaklah
mengantarmu tidur, bahkan
menjadi bagian dari
kentutmu yang tak
kausadari.

because you’re my blood, come
out from my ears!

*

kekasih, kenapa di antara kita enggak ada
yang peduli sama nada pun sajak?

“soalnya ada sekat kematian!”
kekasih menjawab.

coba tebak, kekasih, kenapa “kasih”
mesti pakek “logika”?

“jangan coba-coba menghubungkan mereka
berdua!” kekasih marah. “nanti bisa-
bisa kita diputus takdir!”

lho, enggak boleh, toh?
tapi bolehkah aku
menghubungkan
“kasih”
dengan
“etika”?

“hati-hati, sayang!” jerit kekasih.
“nanti kasih kita tanpa ‘ketika’!”

(Denpasar, 2016)




Racun Belukar Malam
—mungkin teringat salah satu
puisi m. aan mansyur

pada akhirnya, belukar malam
alirkan racun ke nadi mimpimu.
mungkin itu adalah ketika kau
lagi mimpi (ke)basah(an),
atau lagi iseng mengotak-atik
jejaring mimpi yang melangkahi
ketegangan sajak mbelingmu.

“apa yang lebih jahat dari
racun belukar malam, kekasih?”

“belukar kata-katamu! juga belukar
kota-kota!”

“ah! kalimatmu itu … pasti terinspirasi
dari salah satu puisi m. aan mansyur!
benar, kan, kekasih?”

aku ngakak. bukan menjawab tanyamu.
aku memasukkan penyair itu ke nadi
racunku. bukan ke nadi mimpiku.
soalnya di mimpiku sudah ada “kamu”
dan “basah”!

“tapi, kekasih, kamu di mimpiku
adalah gelisah yang berkisah.”

“jadi, kamu enggak basah?”

(Denpasar, 2016)




Sajak Pedang

“apa yang buat kamu berpikir
aku ini berpedang?”

“sebab kamu
gemar menusukku!”

“apa yang membuatmu merasa
aku tusuk?”

“ada rasa sakit dan nikmat
yang enggan berpisah!”

(Denpasar, 2016)




Serat

serat-serat kata kita enggak
sepanjang surat-surat cinta.
serat-serat kota kita enggak
seriuh surat-surat kata.

“cinta, kau ingin kuberi apa?
surat atau serat?”

“darimu, kumau urat.”

(Denpasar, 2016)



*) Puisi-puisi ini dimuat di Nusantaranews.co pada tanggal 31 Juli 2016.

Minggu, 31 Juli 2016

LENA, ETALASE, DAN PEMBUNUHAN -- Sebuah Cerpen





Sekonyong-konyong Lena menjerit ketakutan di hadapan etalase itu. Orang-orang lain yang juga memenuhi Toko Dapur Rupa pun terkejut, mematung sejenak, sebelum kemudian mengerumuni dirinya.
            
“Ada apa, Nona?” tanya seorang pria paruh baya. “Kenapa Nona menjerit?”
            
Gadis itu tiada menjawab. Napasnya berat, matanya membelalak, dan wajahnya mendadak pucat.
            
“Nona kenapa?” tanya si Satpam dengan cemas setelah berhasil masuk ke bagian terdalam kerumunan. “Apa ada yang menyakiti Nona?”
            
Lena tiada menyahut lagi.
            
“Tidak kedua-duanya, Pak,” jawab seseorang. “Saya melihatnya sedari tadi hanya berdiri menghadap etalase itu, lalu sekonyong-konyong menjerit.”
            
Si Satpam pun memerhatikan etalase yang dimaksud. Di dalam etalase tersebut terpajang berbagai macam pisau dapur. Satu-satunya yang mencolok di sana adalah sebilah pisau dapur yang gagangnya terbuat dari emas asli, dipajang di tengah pisau-pisau yang lain.
            
“Cuma pisau-pisau yang dipajang,” kata si Satpam pada Lena. “Apa pisau-pisau itu yang membuatmu menjerit, Nona?”
            
Sebetulnya Lena ingin sekali menjawab. Namun ketakutan yang mendekapnya erat menyebabkan kekakuan pada lidahnya. Akhirnya, ketakutan itu pun membuatnya pingsan di tempat.

***

Lena siuman tatkala pagi menyajikan suhu rendah serta hujan yang berisik. Entah siapa yang mengangkutnya dari toko itu ke kamar tidurnya.
            
Mendadak benak Lena disusupi oleh citra itu lagi; citra yang diperolehnya begitu saja ketika menatap pisau bergagang emas—di dalam sebuah etalase di Toko Dapur Rupa—itu. Citra tersebut berjalan bagai adegan film: Seseorang mengambil pisau bergagang emas itu dari dalam etalase dan menggunakannya untuk menebas leher orang lain.
            
Lena tak tahu siapakah si Pelaku pun si Korban sebab wajah mereka berdua sungguh tak jelas, macam kena sensor-buram di layar televisi.

***

“Satpam di toko itu menghubungi ponsel Ibu dengan ponselmu. Pastilah ia menemukan nomor ponsel Ibu di daftar kontakmu,” kata ibunya ketika mereka berdua duduk menghadap meja makan. “Langsung saja Ayah dan Ibu berangkat ke toko itu dengan mobil buat mengangkut kamu ke rumah.”
            
Lena mengoleskan selai nanas ke selembar roti tawar di tangannya.
            
“Omong-omong,” kata ibunya lagi, “kamu itu pingsan karena apa, sih?”
           
“Mungkin saya hanya kelelahan,” jawab Lena.
            
“Hanya kelelahan? Tapi, kata si Satpam, sebelum pingsan, kamu sempat menjerit.”
            
“Saya baik-baik saja, Bu.”
            
“Jujurlah pada Ibu, Lena.”
            
“Oh ya, kemarin saya pingsan sebelum kelar memilih pisau dapur untuk dibeli. Apa Ibu sekalian memilih dan membeli pisau dapur baru di toko itu waktu menjemput saya?”
            
Ibu Lena mengangguk.
            
“Baguslah kalau begitu.” Kemudian segeralah Lena menghabiskan sarapannya yang berupa selembar roti tawar itu, lalu pergi ke salon tempatnya bekerja, tanpa memberikan ibunya kesempatan untuk menanyainya lebih perihal kejadian yang kemarin.

***

Saat Lena bekerja, citra itu muncul lagi di benaknya, sungguh mengganggunya.
            
“Kenapa wajah Mbak agak pucat?” tanya Sita, wanita yang sedang dilayani Lena. “Sakit?”
            
“Agak pucat?” Lena tertawa kecil. “Tidak, kok.”
            
“Coba lihat di cermin.”
            
Lena tak mau menatap cermin. Ia tetap menunduk, memotong rambut Sita.
            
Mendadak Sita menjerit nyaring; Lena tak sengaja memotong daun telinga kanannya. Daun telinga itu terpisah dari tempatnya, pertama-tama mendarat di pundak Sita, kemudian jatuh ke lantai karena pundak itu berguncang hebat. Sudah tentu darah mengucur deras dari lukanya.
            
“Maaf! Maaf!” Lena memekik panik. “Saya tidak sengaja!”
            
Dalam hati, Lena langsung memaki-maki dan mengutuki dirinya sendiri karena telah kehilangan “fokus” gara-gara citra yang mengerikan itu.
            
Lena-lah yang kemudian mengantarkan Sita ke rumah sakit, juga membayar seluruh ongkos pengobatannya. Bagaimanapun besarnya usaha Lena untuk membantu Sita, hari itu juga ia dipecat tanpa hormat, tanpa pesangon, dari salon tempatnya bekerja—dan ia tak memberitahukan soal pemecatan itu pada orangtuanya.

***

Lena berdiri di hadapan etalase itu lagi, menatap lekat-lekat pisau bergagang emas yang kemarin telah memunculkan citra mengerikan itu di benaknya. Lena menduga bahwa citra tersebut adalah pertanda bahwa pisau bergagang emas itu akan berperan dalam sebuah pembunuhan.
            
Aku harus mengamankannya agar tak ada pembunuhan yang terjadi, batin Lena.
            
Sayangnya, Lena tak punya cukup uang buat membelinya.

***

Pada tengah malam, Lena mengendap-endap keluar dari rumahnya demi pergi ke Toko Dapur Rupa yang telah tutup. Seutas kawat yang ujungnya ditekuk digunakannya untuk “mencurangi” lubang kunci pada pintu—dan rupanya berhasil. Di dalam toko, tampaklah dua butir bohlam yang menyala. Lena pun masuk dan menutup pintu dari dalam. Berdebar-debar hebat jantung gadis itu sebab baru sekali ini ia hendak mencuri.
            
Entah siapa yang dengan bodohnya membiarkan etalase yang satu itu tak terkunci, sehingga beberapa detik kemudian pisau bergagang emas itu telah berada di genggaman Lena.
            
Sekarang, harus kuapakan pisau ini?
            
Tiba-tiba ada yang menyentuh pundak Lena dari belakang. Lena sontak memekik dan berbalik seraya mengayunkan tangannya yang menggenggam pisau.
            
Si Satpam pun megap-megap dan terbelalak. Darah mengucur deras dari luka tebas di lehernya. Sesaat sebelum tumbang, ia muntah darah.
            
Lena hanya bisa memekik lagi. Senyaring-nyaringnya.



*) Cerpen ini dimuat di Bali Post pada tanggal 31 Juli 2016.