Minggu, 13 Maret 2022

SEPULUH TAHUN SETELAH SI KERUDUNG MERAH MEMBUNUH SEEKOR SERIGALA -- Sebuah Cerpen

*Ilustrasi oleh: Satia Guna


Aku tak akan menghampiri rumah si Kerudung Merah jika bukan karena hantu ayahku; ia mati sepuluh tahun lalu dengan perut penuh bebatu.

Ayahku serigala yang baik—setidaknya semasa ia hidup. Waktu itu di hutan sedang sepi hewan buruan, para manusia pemburu lebih cepat membabat rusa dan kijang dan apa pun yang bisa kami makan, dan Ayah memberikan kesemua jatah makanannya untuk aku yang terus menangis karena kelaparan di gua. Dan setelah aku terlelap saking kenyangnya, Ayah berkeliling hutan mencari makanan untuk dirinya, dan ia menemukan seorang gadis berkerudung merah, gadis yang membawa berbagai kue dan beberapa botol anggur dalam keranjang untuk nenek yang sakit, dan Ayah tak tahu bahwa gadis selugu itu dapat membawa maut padanya. Seusai menceritakan tentang kematiannya untuk kali pertama padaku, beberapa jam setelah maut datang padanya, hantu Ayah berkata, “Saat besar nanti, kau akan memasukkan batu-batu ke perut gadis itu.” Setelah itu hantu Ayah pergi, kupikir untuk selama-lamanya.

Kini hantu Ayah kembali padaku, setelah sepuluh tahun tak pernah muncul; ia mengatakan Ibu si Kerudung Merah sedang sekarat, “Dan perutnya menunggu batu-batuan.” Kupikir harusnya aku memasukkan batu-batu ke perut si Kerudung Merah, bukan ke perut ibunya. Namun hantu Ayah ingin pembalasan dendamnya lebih dahsyat: aku tetap harus memasukkan batu-batu ke perut si Kerudung Merah setelah perut ibunya, entah di hari yang sama atau hari yang lain.

Aku bukan serigala pendendam, jadi kuusir saja hantu Ayah dari guaku; aku ingin menghabiskan waktu bersama istri dan anak-anakku, aku ingin fokus membentuk koloni baru, aku ingin fokus menyelamatkan koloniku dari para manusia pemburu. Tetapi tak ada hantu pendendam yang suka melihat anaknya menjadi bukan pendendam: saban tidur aku selalu bermimpi buruk, dan kuyakin hantu Ayah-lah yang memasukkan mimpi itu menuju kepalaku.

Aku melihat Ayah tidur nyenyak di kasur di sebuah rumah kayu, itu pasti rumah Nenek si Kerudung Merah; perut Ayah buncit dan ia mengenakan pakaian wanita tua tersebut, tiba-tiba seorang pemburu memasuki kamar itu dengan terkejut. Pemburu itu buru-buru menenangkan diri, ia mengeluarkan gunting dan membelah perut ayahku, serigala itu tak terbangun mungkin sebab ia terlalu kenyang, dan dari perutnya keluarlah si Kerudung Merah serta neneknya, tubuh mereka basah oleh cairan asam. Lalu si Kerudung Merah berlari keluar rumah sejenak, sebelum kembali dengan batu-batuan dalam dekapannya yang penuh, dan ia memasukkan bebatu ke perut ayahku, sebelum menjahit perut serigala malang itu dengan rapi dan rapat. Kemudian tibalah bagian mengerikan itu: si Kerudung Merah membangunkan Ayah, serigala itu terkejut dan langsung berlari keluar sembari menahan sakit, dan aku dapat merasakan betul kesakitan dalam perutnya yang berat, seakan akulah yang berlari di sana dengan perut penuh bebatu. Akhirnya Ayah tumbang di setapak hutan dan napasku terasa memberat, terasa tercekik—perutku terasa akan dirobek dari dalam![1]

Mimpi itu tak datang sekali; ia datang setiap aku tidur; rasa sakit tetap bertahan pada perutku bahkan berjam-jam setelah aku terjaga, dan aku tersadar: hantu Ayah benar-benar mendendam pada si Kerudung Merah—jangan sampai mendendam juga ia padaku, karena penolakanku untuk membalaskan dendamnya.

 

***

 

Rumah keluarga si Kerudung Merah berdiri di tepi hutan dan malam itu aku menyusup ke semak-semak di halaman belakang, lalu melalui celah gorden aku melihat wanita tua itu mengerang di ranjang, si Kerudung Merah menyuapinya sesuatu, dan dari tatapannya kutahu ia berharap tak perlu lagi menyuapinya apa pun. Mereka hanya tinggal berdua di situ—entah ke manakah ayah si Kerudung Merah. Ketika sang ibu terlelap dan lampu dipadamkan dan si Kerudung Merah keluar dari kamar itu, diam-diam aku membuka jendela dan menyusup dengan batu-batu memenuhi dekapanku.

Dari wanita itu menyeruak aroma tahi. Selimutnya pada bagian kaki tersibak sedikit dan dari sanalah aroma itu menyeruak. Aku menatap sekeliling dan cahaya bulan yang masuk dari lubang udara jatuh ke cermin; aku melihat wajahku di sana, mataku tak pernah semerah itu: mesti itu sepasang mata serigala yang sedang di bawah pengaruh hantu pendendam. Di samping cermin terdapat sebuntal benang jahit di atas meja, jarum-jarum menancap pada buntalan itu, pentul-pentul merahnya berkilau tertimpa cahaya bulan.

Aku menyibak selimut sang wanita perlahan; ia mengenakan daster biru dan roknya terangkat hampir sampai ke pinggul, popoknya kembung dan aroma tahi merobek lubang hidungku. Mungkin ini kutukan hewan berpenciuman tajam: kami agak lemah di hadapan wanita sekarat yang berak di popok. Tapi tak ada waktu untuk kalah dari tahi di popok; aku menaikkan dasternya sampai sedada, kulit perutnya begitu tipis, aku hampir dapat melihat jeroannya di balik sana, yang berdenyut-denyut memompa tahi. Kuku telunjukku mencuat, dan dengan hati-hati aku menyayat perut wanita itu secara vertikal, wanita itu tak terbangun mungkin sebab terlalu kenyang, dan aroma jeroannya bahkan lebih terkutuk ketimbang tahinya. Lalu aku memasukkan batu-batu ke dalam perutnya, satu per satu dan penuh kehati-hatian, aku—dan ayahku—tak mau ia terbangun tidak pada waktunya. Dan setelah kesemua batu kumasukkan, aku mengambil sebuntal benang di meja dan menjahit perutnya serapi-serapat mungkin, dan ia tampak persis wanita hamil yang mengandung mautnya sendiri.

Sesaat aku ragu untuk membangunkannya; toh, ia akan mati tanpa kubangunkan—aku bisa mendengar napasnya yang semakin lama semakin berat. Tetapi ketika aku melirik ke cermin lagi, bukan saja sepasang mataku semakin merah, aku melihat hantu Ayah berdiri di belakangku, ia mendekatkan moncongnya ke kupingku, ia berbisik, “Jangan lewatkan bagian yang paling seru.”

Aku menjilat darah di kuku telunjuk, dan aku menyalakan lampu, dan aku mengguncang-guncang kasur, tetapi wanita itu tak terbangun. Aku menampar-nampar pipinya, dan ia hanya berkedip lemah sebelum kembali tertidur. Akhirnya aku menyiram wajahnya dengan air dari teko di nakas, dan ia pun terbelalak di hadapan taring-taringku. Ia segera menjerit dan berguling dari kasur. Ia tak sanggup berdiri, tentu saja; aku melangkah ke sampingnya dan ia tetap memekik dan ia tetap terbaring di lantai dan ia akan mati seperti itu.

Pintu dibuka: si Kerudung Merah menodongkan senapan padaku. Moncong senapannya terus menatapku lekat, tetapi perempuan itu berganti-gantian menatapku dan sang ibu yang perutnya penuh bebatu. Aku berpaling ke cermin: mataku tak lagi merah, dan hantu Ayah tak ada di mana pun. Ia hanya ingin melihat Ibu si Kerudung Merah mati; ia tak berani melihatku mati. Setidaknya mati di ujung senapan jauh lebih baik ketimbang mati dengan perut penuh bebatu.

Dan tiba-tiba senapan meletus.

Tubuhku masih utuh. Tapi perut wanita itu terkoyak peluru—batu-batu di dalam sana terlihat, dan dari batu-batu itu pandangan si Kerudung Merah teralih padaku. Aku tak tahu arti tatapannya. Kemudian ia meletakkan senapan di lantai, ia mendekati mayat ibunya—aku menyingkir agar tak menghalanginya—dan ia mencoba membopongnya ke kasur. Baru terangkat sedikit, ia langsung menjatuhkan tubuh wanita itu. Ia mencoba hal serupa dua kali lagi dan gagal, lantas ia memasukkan tangan ke lubang peluru di perut ibunya, ia mengambil segenggam batu dan dengan gerakan cepat melemparnya ke kepalaku.

Dahiku hangat. Aku menyentuhnya dan darah tercetak pada rambut di telapak tanganku. Kupikir sebentar kemudian darah akan mengguyur mata dan moncongku, tetapi tidak—kepalaku tak berdarah dan yang ada di tanganku hanyalah darah yang menempel di batu itu.

“Bisa bantu aku …?” ucap si Kerudung Merah.

Kami pun bersama-sama mengangkat mayat ke kasur, dan gadis itu menutupi sekujur tubuh sang ibu dengan selimut biru yang dengan cepat memerah. Gadis itu menunduk dan menggumamkan sesuatu, barangkali ia berdoa. Ketika keseluruhan selimut memerah dan basah, bentuk mayat itu tercetak jelas pada selimut.

Si Kerudung Merah memungut senapannya. Ia tak menembakku; ia menyampirkannya di pundak. Dan, sepasang matanya memerah; sepasang matanya menatapku lekat. Tetapi aku masih tak tahu apa arti tatapannya; aku hanya tahu itu tatapan manusia yang terluka—tak beda jauh dengan tatapan hewan yang terluka—dan ia mengangguk padaku, sebelum ia keluar dari kamar ibunya. “Sampai jumpa lagi,” kata si Kerudung Merah dari balik pintu, suaranya parau.

Aku mematikan lampu, dan aku keluar lewat jendela, dan aku kembali ke guaku. Aku tak berminat memasukkan batu-batu ke perut si Kerudung Merah. Lebih baik aku memasukkan batu-batu ke perut hantu ayahku ketimbang ke perut perempuan itu. Tetapi perut hantu tak bisa dibelah, dan hantu pendendam tak berhenti mengirim mimpi buruk padaku. Aku mulai terbiasa dengan sakit yang melekat bahkan berjam-jam setelah aku terjaga. Sakit itu tak seberapa ketimbang rasa bersalahku sebab memasukkan bebatu ke perut wanita itu.

Semoga si Kerudung Merah tak bermimpi buruk. Semoga ia tak memimpikan kesakitan terakhir sang ibu.



[1] Bagian tragis yang menimpa Ayah si Serigala ini adalah akhir dari Little Red Riding Hood versi Grimm bersaudara; beberapa pengarang lain mempunyai versi akhir cerita yang lain.



*) Cerpen ini dimuat di Tatkala.co pada 26 Februari 2022.

NAPAS DAN KEAJAIBAN-KEAJAIBAN PALING MENYAKITKAN -- Sebuah Cerpen

*Sumber Gambar: Pinterest


Aku pernah mencuri napas seorang seniman tato, dan pencurian yang kumaksud bermakna harfiah, dan itulah permulaan bagi keajaiban-keajaiban selanjutnya di hari tersebut.

Menjelang akhir Agustus aku membuat tato pertama di pergelangan tangan kananku;  seniman tato itu datang dua hari setelah aku menghubunginya via Instagram. Ia gadis awal dua puluhan; aku menghampirinya ketika ia tiba di halaman indekos, terik meruapkan aroma seratus bangkai dari sungai terdekat. Ia menyampirkan jaketnya ke gantungan di balik pintu kamarku, dan berkat kaus putih tak berlengan tampaklah tato tentakel-tentakel hitam membelit lengan kirinya. “Kanvas pertamaku,” katanya. Aku iseng bertanya di mana kepala gurita itu, dan ia menjawab, “Di dada kiriku.”

Kami duduk di lantai, gadis itu menunduk di atas tanganku yang sedikit gemetar di meja lipat, dan tangan kirinya merentangkan kulit pergelanganku sehingga mengencang, lantas ia menusuk-nusuk pergelanganku dengan jarum sepanjang sejengkal, mengikuti gambar stensil korek gas dan bola api di atasnya. Ia mesti habis keramas: aroma sampo mengulum hidungku. Dan selagi ia menato, tentakel-tentakel di lengan kirinya seperti merangkak pelan-pelan ke meja, melompat ke siku kananku, kulitku jadi dingin berlendir, dan dari sana merambat terus melewati lengan bajuku, menyapu dada kananku, dan ujung-ujung tentakel menggelitik dada kiriku.

Apa yang tak kalah menggelitik adalah napasnya: setiap enam atau tujuh detik sekali mulutnya menumpahkan udara hangat ke tangan kananku yang separuh mengepal, dan aku pun membuka lebar-lebar telapak kananku, napasnya semakin membuatku kegelian, seakan ia meraba-rabanya dengan lidahnya.

Ia terus menunduk dan bernapas di telapak tanganku dan menggelitik dada kiriku dengan tentakel-tentakel selama kira-kira satu setengah jam. Kulit pergelangan kananku sudah sedikit perih, dan kakiku yang bersila kesemutan sebagaimana tangan kananku, yang jadi tak bisa lagi merasakan tumpahan napasnya. Mendadak ia berhenti menusuk-nusuk dan tentakel-tentakel tertarik kembali ke lengan kirinya; ia meregangkan tubuh dan mengerang, dadanya mencondong ke arahku dan tulang punggungnya berbunyi krak! Lalu ia mengeluarkan kaca pembesar dari tas, dan ia menunduk lagi di atas tanganku, dengan lensa kaca pembesar di depan mata kanannya. Dan ia menunduk lebih dalam, sangat dalam, dan ujung dagunya mengecup ujung-ujung jemari kananku.

Tiba-tiba, fuhhh! Gadis itu bernapas lega: ia melontarkan napasnya kencang ke telapak kananku yang refleks mengepal, dan kuku-kukuku tak sengaja menggores ujung dagunya sehingga ia mengaduh.

“Selesai,” katanya kemudian, mengusap-usap dagunya.

Ia pun membersihkan tatoku dengan busa, mengusapnya dengan tisu yang bersih, dan membungkus pergelanganku yang memerah-mengembung dengan plastik film. Selama proses itu aku terus mengepal, seakan tak membiarkan napasnya pergi.

Ia pun pergi. Aku mengunci pintu kamarku. Dan aku akhirnya membuka kepalan tangan kananku: terdapat bercak-bercak hitam semacam tinta yang menetes ke lantai: itu pasti napasnya, tercetak sekitar dua sampai tiga sentimeter di atas bola api dari korek gas.

Aku duduk di kasur dan menghirup bercak-bercak hitam tersebut. Aku menghirup sedalam-dalamnya, dan bercak-bercak itu menghilang—napasnya berada dalam tubuhku, entah menyatu dengan napasku atau melayang terpisah. Lalu ke telapakku aku mengembuskan napas sekuat-kuatnya dari mulut, seakan aku hendak melontarkan peluru, dan bercak-bercak itu pun kembali ke sana. Aku menghirupnya dalam-dalam lagi, mengembuskannya kuat-kuat lagi, entah berapa lama aku mengulang hal tersebut, gadis itu berlari seraya menerbangkan layang-layang dalam tubuhku, dan tiba-tiba pintu kamarku diketuk. Aku menghirup napas gadis itu lagi, menyembunyikannya dalam tubuhku, sebelum aku membuka pintu.

“Sepertinya napasku terjatuh di kamarmu,” ucap sang seniman tato, wajahnya pucat, poninya yang berkeringat hampir menutup matanya. Saat keluar dari kamarku, lanjutnya, ia merasa ada yang mengganjal, dan ketika motornya sampai di lampu merah barulah ia sadar kalau dirinya tak bernapas. Ia menyusuri jejaknya lagi sampai di halaman rumah indekosku, dan napasnya tak kunjung ia temukan—sebab itulah ia yakin napasnya terjatuh di kamarku.

Aku mengaku tak melihat napasnya. Tapi ia setengah memaksa memasuki kamarku, dan aku tak punya alasan untuk menolak, dan ia menggantung jaket jinnya di balik pintu kamarku, lalu ia merangkak sembari mengintip ke kolong meja dan ranjang dan lemari.

Di sepanjang lengan kirinya tak ada tentakel-tentakel yang membelit. Ketika menyadari hal ini mendadak dada kiriku sakit, seolah jantung merobek dadaku dari dalam, dan aku mengaduh sampai jatuh berlutut, gadis itu segera memerhatikanku dengan dahi mengernyit. Tahu-tahu dadaku dingin berlendir. Sensasi dingin berlendir itu menjalar ke bahu kiriku, ke lengan atasku, sebelum dari ujung lengan bajuku mencuat tentakel-tentakel hitam.

“Aku tak bermaksud mencurinya, sungguh,” kataku terbata.

Gadis itu merogoh tasnya cepat dan mengeluarkan jarum tato. Cara ia memegangnya seperti menggenggam pisau. Pendingin ruangan mulai berderak. Dengan tungkai gemetar aku berdiri. Dan dalam satu gerakan cepat ia menghunjamkan mata jarum menuju dada kiriku. Tapi aku mengelak ke samping. Lalu ia menyabetkan mata jarum menuju leherku dan aku melompat mundur. Tatapannya nyalang, dan bola matanya meleleh, dan lelehan bola matanya mengalir ke pipi seperti air mata tinta.

Ia menghunjam lagi dan aku menghindar; ia menyabet lagi dan aku menghindar; ia mengayunkan kaki ke lututku yang langsung bengkok ke arah yang salah, aku terjatuh dan segera gadis itu menekan dadaku dengan satu lututnya. Rusukku akan patah kurang dari semenit. Ia bersiap menghunjam leherku. Aku berkata akan mengembalikan napasnya sekarang juga, aku tahu bagaimana caranya, tapi ia tak melepaskan diri dari ancang-ancang untuk menghunjam—setidaknya tekanan pada lututnya sedikit berkurang.

Ketika kudekatkan telapak kanan ke wajahku, tentakel-tentakel itu terangkat dari kulitku, dan meluncur cepat membelit leher sang gadis. Gadis itu, sebagaimana aku, selama sesaat syok dan tak bergerak; bola matanya habis mencair; tentakel-tentakel meneteskan tinta ke bajuku dan lantai. Kemudian ia berusaha menyabet tentakel-tentakel yang terentang ke lehernya, dan tentakel-tentakel tersebut tak tertebas karena tubuhnya begitu lentur. Sebagai gantinya, gadis itu malah mengoyak-ngoyak kulit lenganku. Aku refleks mencengkeram wajahnya dengan tangan kananku, aku hanya ingin mendorongnya dariku, dan seketika tanganku berasap, dan rambut gadis itu terbakar. Ia menjerit dan menjatuhkan dirinya, ia berkelejotan di lantai sembari menepuk-nepuk rambutnya, sedang tentakel-tentakel tetap menjerat lehernya, dan terdengar bunyi tulang yang remuk. Di pergelangan kananku, bola api di atas tato korek gas itu berkobar sungguhan.

Aku keluar dari kamarku, ke kamar mandi bersama, dan gadis itu terseret oleh tentakel-tentakel. Orang-orang yang mengantri di depan kamar mandi segera menjaga jarak dari kami, seseorang yang mandi terdengar sedang menyanyi. Api mulai menjalar ke wajah gadis itu, dan aku mendobrak-dobrak pintu kamar mandi sampai tulang lenganku remuk, sampai seseorang di dalam sana menjerit, tapi pintu tak kunjung tumbang. Dan api telah menjalar ke baju sang gadis. Aku pun berlari keluar dari rumah indekos, menuju sungai terdekat, dan tubuh gadis itu tercabik-cabik aspal, aku menggendongnya tanpa memedulikan api yang mengunyah baju dan dadaku—aku melompat ke sungai dan menembus sampah-sampah yang mengambang.

Hari itu untuk pertama kali aku bertemu dengannya, jatuh cinta padanya—mungkin?—dan hari itu juga aku langsung kehilangannya. Ketika aku naik ke bantaran sungai, tentakel-tentakelku sudah hilang. Begitu pun gadis itu. Begitu pun bola api di atas tato korek gasku. Gadis itu mesti berada di bawah lapisan sampah-sampah itu, bertarung melawan gurita atau napasnya sendiri, dan begitu aku akan melompat kembali ke sungai, dua orang menahanku dari belakang. Seseorang di antara mereka meneriakiku agar jangan bunuh diri. Dan teriakan serupa terdengar dari sekelilingku: orang-orang sudah ramai berbaris di atas sana, di belakang pembatas jalan.

 

***

 

Setahun kemudian, aku menghampiri sungai itu tengah malam, hujan membuatnya kurang dari dua jam lagi akan menenggelamkan segala hal di sekelilingnya: air sungai sudah hampir setinggi jalan.

Aku diam selama tiga puluh menit, bersandar pada pembatas jalan, dan air sungai sudah merambat ke jalan, setinggi mata kakiku: mungkin aku harus pulang sekarang; mungkin aku harus tetap di sini sekarang.

Cahaya lampu-lampu jalan serupa bintang-bintang yang meleleh di kanvas, lelehannya merayap ke segala arah, dan hujan meraung tepat di telingaku. Pergelangan kananku menghangat—api mencoba berkobar di sana, tetapi hujan segera menggagalkannya. Mungkin hujan tahu, aku ingin membakar wajahku dan aku tak akan melompat ke mana pun.

Lalu sesuatu membelai ujung jemari kakiku. Mungkin itu sampah-sampah. Mungkin itu bukan sampah-sampah. Mungkin itu ujung tentakel-tentakel. Mungkin itu hanyalah sampah-sampah.

Entahlah ....

Mungkin aku harus tetap di sini sekarang.



*) Cerpen ini dimuat di Beritabaru.co pada 20 Februari 2022.

Senin, 21 Februari 2022

MAMA MENELEPON DARI NERAKA -- Sebuah Cerpen


*Ilustrasi oleh: Butet Kertaredjasa 


Peti jenazah Mama ditutup. Lalu aku keluar ke halaman rumah duka untuk menyulut rokok, meninggalkan para bibi dan paman yang tersedu-sedan di dalam; aku merenung soal dosa-dosa yang harus ditebus manusia di akhirat, dan tahu-tahu ponselku berdering: panggilan dari mamaku.

“Sayang …” ucapnya terbata, “Mama masuk neraka.”

Sudah kuduga. 


***


Mama layak masuk neraka. Mama pernah sengaja meninggalkanku di pasar, dan seorang pedagang lele berhasil membawaku kembali ke rumah pada esoknya, dan ketika Mama membuka pintu tatapannya berkata: Setan alas. Aku yakin lebih dari 80% ibu yang masuk neraka adalah tukang buang anak. Namun, bukan dosa itu yang ingin Mama tebus ketika ia meneleponku dari neraka.

“Kata iblis itu, Mama harus menebus tiga dosa terberat agar tak mendapat siksaan abadi—ia benar-benar berkata begitu,” jelasnya di telepon, ia tak pernah terdengar setakut itu. Entah suara berisik yang melatarbelakangi percakapan kami berasal dari mana: kendaraan-kendaraan yang melintas di depan gerbang rumah duka, atau instrumen-instrumen penyiksa di neraka. “Tentu tidak ada anak yang ingin mamanya mendapat siksaan abadi—bukan begitu, Sayang?”

“Luar biasa. Cuaca di neraka pasti membuat siapa pun ingat akan anaknya.”

Aku tak berminat menebus dosa Mama; aku pulang ke kota ini khusus untuk merayakan kematiannya. Aku mengulur-ulur percakapan dengannya, dengan mengingatkan dosa-dosa yang pernah ia perbuat padaku—tentu ia mengucapkan maaf bertubi-tubi—dan aku berharap dapat mendengar tubuhnya keburu dirobek instrumen penyiksa. Namun, aku tak bisa diam ketika ia berkata:

“Dosa pertama—dengarkan baik-baik. Mama dan papamu tak pernah bercerai. Ia berada di kebun belakang rumah kita—dari lima tahun lalu.”

 

***

 

Papa juga layak masuk neraka—tapi tak selayak Mama. Papa tak berbuat apa pun setiap Mama berbuat jahat padaku, baik ketika Mama menghajar ubun-ubunku dengan penggaris atau membuangku di pasar. Papa hanya peduli pada SPP sekolahku, dan itu tak menghentikan ketersiksaanku di rumah. Setidaknya, berkat SPP darinya, aku bisa mengejar cita-citaku: aku rajin belajar untuk mendapatkan beasiswa kuliah di luar kota, dan bekerja di luar kota setelah lulus, dan mempunyai alasan untuk tak pulang selama-lamanya—kecuali untuk merayakan kematian Mama. Mungkin Papa layak masuk neraka, tapi ia tak layak untuk kutemukan terkubur di kebun belakang—yang tersisa darinya hanyalah tulang-belulang.

Papa dikubur di bawah pohon mangga. Dengan dinding beton pembatas halaman, yang lebih tinggi sekitar 30cm dari kepalaku, tindakan Mama sangat mungkin dilakukan tanpa ketahuan. Dan dengan dibuangnya Papa oleh keluarganya sejak kawin-lari dengan mamaku, plus dengan jarangnya ia bergaul bersama para tetangga, sangat mungkin mayatnya tak diendus siapa pun selama bertahun-tahun.

Sekitar enam bulan setelah aku keluar kota, Mama mengirimiku SMS tentang perceraiannya. Aku tak peduli apa sebabnya; Mama layak ditinggalkan oleh semuanya. Harusnya aku lebih peduli pada perceraian Mama dan Papa: tak semua perceraian berujung pada lelaki dan perempuan yang tinggal di rumah berbeda; terkadang berujung pada mereka yang tinggal di alam berbeda.

Aku memakai sarung tangan, dan kumasukkan tulang-belulang Papa ke dalam tas gunung. Pada malam pukul sepuluh, seorang tetangga bertanya aku hendak pergi ke mana, ketika aku melintas di depan rumahnya, dan aku mengaku hendak mendaki untuk sekadar menghibur diri. Dan aku pun tiba di tempat pemakaman umum barang sejam kemudian, pemakaman di mana kedua orang tua Papa dikubur. Dan seperti fiksi kebanyakan, misi pertama berjalan mudah: aku menyogok si Penjaga Pemakaman sehingga ia bersedia menggali makam entah siapa, makam di samping kedua orang tua Papa, dan menumpuk tas gunungku di atas peti seseorang tersebut. Mama hanya meminta Papa dimakamkan di samping kedua orang tuanya—ia tak menyebutkan bagaimana seharusnya Papa dimakamkan.

“Sial. Aku akan masuk neraka ....” gumam si Penjaga Pemakaman setelah menutup kembali makam yang dibongkarnya. “Anak-anakku mungkin akan menanggung dosaku pula ....”

“Rileks. Malaikat mencatatmu sebagai penolong seekor tikus dari siksa abadi neraka.”

 

***

 

Aku menyulut rokok kedua. Aku sudah bertekad untuk tak merokok secara berantai; aku sempat batuk darah seminggu lalu; tapi mendengar dosa kedua Mama membuatku ingin merokok secara berantai.

Mama tak langsung menjawab ketika kutanya apa dosa berikutnya. Terdengar ia bernapas berat; kutahu dosa ini mestilah lebih berat. Bahkan saking beratnya, suara napas itu tak kalah dari pekik klakson truk besar yang lewat di depan rumah duka. Asap hitam dari knalpotnya memasuki gerbang dan seperti hantu terbang mendekatiku; aku terjebak dalam instrumen siksaan neraka, instrumen yang menyelipkan karet ban terbakar ke dalam paru-paruku. Aku hanya mengipaskan tangan di depan hidung, seolah berpindah tempat dapat membuat suara Mama menghilang selama-lamanya.

“Sebelum Papa tak ada …” akhirnya Mama menjawab, “ia berselingkuh dengan gadis SMP. Gadis itu sudah tamat SMP ketika Mama membalas dendam.”

 

***

 

Aku langsung menutup panggilan setelah Mama menjelaskan misi kedua. Menjalankan misi ini sama saja dengan melayakkan diriku untuk jatuh ke neraka. Tapi aku tak bisa menahan diri untuk tak datang ke rumah bocah selingkuhan papaku—aku hanya ingin melihat kondisinya sekarang.

Ia bocah yang baik, aku yakin begitu. Setiap bocah baik adalah bocah bernasib malang. Aku mengintipnya dari jendela di halaman belakang rumahnya pada pukul sebelas malam. Ia telentang di kasur, cahaya lampu tidur kekuningan membuatnya seperti berada di dalam perapian, dan ia tinggal menunggu maut. Selang medis menjulur dari mulutnya, tersambung ke kubus putih seperti mesin cuci dengan monitor komputer berdiri di atasnya, dan infus tersambung ke pergelangan tangannya. Aku berfirasat dulu ia gadis yang ceria, yang bermain ayunan di halaman belakang sembari merenungkan soal aljabar, dan papa-mamaku membuatnya serenta lidi di atas bara.

Papa berselingkuh dengan si Gadis SMP dan Mama memergoki mereka di hotel. Sekitar empat tahun kemudian Mama memberanikan diri mendatangi rumah ini, ketika hanya ada sang gadis yang sedang menonton TV sembari mengerjakan PR-nya, dan membenturkan kepala gadis mungil itu bertubi-tubi ke TV.

Mama memintaku membunuhnya. Bukan sebab Mama membencinya—meski benar ia masih membencinya—melainkan Mama harus menyelamatkannya dari maut yang menjilati tubuhnya tanpa membunuh.

“Lebih baik maut mendudukimu hingga remuk dan tewas, ketimbang sekadar menjilatimu sepanjang waktu,” ucap Mama. Aku tak tahu Mama bisa sedikit bijak.

Bagaimanapun aku tak berminat membunuhnya. Aku hanya akan memandanginya dari halaman belakang, dari bawah bayangan ayunan yang tergantung di dahan pohon mangga dan diayun-ayunkan udara. Cahaya pucat dari lampu di tepi kolam ikan membuat pantulan wajahku di jendela seperti hantu pengintip yang mesum.

Aku tak ingin membunuhnya. Meski aku percaya ia harus mati secepat-cepatnya. Aku tak ingin membunuhnya, sampai seorang wanita memasuki kamarnya—mungkin ia ibunya—dan duduk di tepi kasur sembari menangis—sang anak sudah seperti ini selama setahun terakhir, ibu mana yang tak sedih kecuali mamaku?—dan tiba-tiba wanita itu menampar anaknya. “Bangun!” Ia menampar lagi. “Bangun!” Ia menampar lagi. “Bangun!” Dan itu terus berulang hingga kali kelima, dan sang anak tak kunjung terbangun.


Setelah tamparan kelima, sang ibu tersedu-sedan dan mengusap-usapkan tangan ke pangkuan. Kakiku gemetar dan serenta es setipis lidi; udara menyelipkan salju ke balik sepatu serta jaketku; keringat berlesatan dari dahi dan ketiak dan punggungku—sang ibu menampar gadis itu untuk keeenam dan ketujuh dan kedelapan kalinya.

Aku tak bisa diam. Ia harus mati secepat-cepatnya. Penamparan selanjutnya masih berlangsung. Aku memungut dua batu sekepalan tanganku dari tepi kolam, kulempar batu pertama hingga kaca jendela pecah dan sang ibu menoleh—segera kulempar batu kedua hingga menghantam dahinya dan ia pun tumbang. Lalu aku membakar tali ayunan, kuangkut dudukan ayunan kayu itu ke depan jendela, dengannya kubersihkan birai jendela hingga terbebas dari pecahan kaca, dan aku memasuki kamar tersebut, sang ibu pingsan, kuhantam bertubi-tubi kepala sang gadis dengan dudukan ayunan.

Ia anak yang baik. Beberapa anak yang baik lebih baik mati secepat-cepatnya.

 

***

 

Tak ada siapa pun di rumah ini selain mereka berdua, jadi aku membuka pancuran air di kamar mandi—aku tak mungkin kabur dengan baju dan tubuh berlumur darah. Air hangat mengucur; aku duduk menekuk lutut di lantai; tubuhku melepuh dan ruangan dipenuhi uap—aku duduk pasrah di bawah cuaca panas neraka.

Tiba-tiba ponselku berdering, kukeluarkan dari pakaianku yang menumpuk di sudut wastafel—sial: sejak kapan pakaianku jadi bersih dari cipratan darah? Aku segera merentangkannya di depan cermin dan membolak-baliknya—pakaianku benar-benar bersih dari cipratan darah ....

Ah, ponselku masih berdering. Aku menjawab panggilan. Mama menelepon lagi dari neraka—ia menjelaskan dosa terakhirnya yang mesti kutebus: inilah dosa paling berat ketimbang dua dosa sebelumnya ....

Malam itu aku tak pulang. Aku tak menunggu esok malam untuk menebus dosa ketiga; aku tak menunggu esok malam seperti saat menebus dosa pertama dan dosa kedua.

Aku berdiri di depan makam Mama. Bunga-bunga segar mengepung makamnya. Wanita jahat tak layak dikepung bunga-bunga yang segar. Aku menendang semuanya. Aku membuka celana dan berjongkok di makamnya. Aku tak menunggu esok malam untuk menebus dosa ketiga—aku tak berminat menebus dosa ketiga—Mama layak masuk neraka—Mama layak mendapat siksaan abadi. Aku berak di atas makamnya.



*) Cerpen ini dimuat di Kompas pada Minggu, 20 Februari 2022.

Jumat, 20 Agustus 2021

KITA TAK BISA KE MANA-MANA LAGI: PENILAIAN ATAS KORELASI ANTARA THE FALL ARC PROTAGONIS DAN KONSEP STAGING


Artikel Ditulis oleh
Surya Gemilang
suryagem69@gmail.com


DATA FILM

 

Judul Film                   : Kita Tak Bisa ke Mana-Mana Lagi

Jenis Film                    : Film pendek

Durasi                         : 21 menit 18 detik

Rumah Produksi         : Rentjana

Tahun Produksi           : 2021

Produser                      : Andi Budrah Sadam Ramadhan & Hannan Cinthya

Penulis & Sutradara    : Fazrie Permana

Tautan Film                : https://www.youtube.com/watch?v=Nv5CxfRo2IM

 

PENDAHULUAN

 

Dalam medium film, cerita tidak berhenti pada bentuk tulisan naratif. Sutradara dan para kru lain harus mengonkretkannya dengan cara yang tepat, dalam bentuk audio dan visual, yang dapat mendukung penyampaian naratif. Dengan demikian, menurut Bordwell dan Thompson dalam buku Film Art: An Introduction, konsep naratif (bentuk) serta konsep visual dan audio (gaya) harus memiliki korelasi yang kuat. Prinsip ini berlaku untuk semua film naratif, termasuk film pendek yang berjudul Kita Tak Bisa ke Mana-Mana Lagi (selanjutnya hanya ditulis KTBKMML).

 

RINGKASAN CERITA

 

Nino (Rolando Octavio) dan Gigi (Sheila Dara Aisha) adalah sepasang mantan kekasih, masing-masing kini sudah memiliki tunangan. Pada suatu hari, mereka melakukan perjalanan dalam sebuah mobil, menuju rumah teman Gigi untuk suatu urusan. Selama perjalanan, mereka bercakap-cakap tentang masa lalu semasa mereka berpacaran, dan tentang rencana pernikahan masing-masing. Diam-diam, Nino sengaja mengulur waktu perjalanan mereka, dengan mengemudikan mobil melewati jalur yang lebih jauh. Menyadari terulurnya waktu, Gigi marah sehingga mereka bertengkar, sembari mengungkit-ungkit kesalahan di masa lalu, kesalahan yang tidak mereka perbaiki hingga sekarang. Beberapa saat kemudian, setelah urusan Gigi di rumah temannya selesai, Nino mengakui motif di balik tindakannya mengulur waktu perjalanan. Nino ingin menikmati momennya hari ini bersama Gigi lebih lama, sebab setelah ini mungkin mereka tidak bisa bertemu lagi. Lalu Nino mengantar Gigi ke sebuah hotel untuk perempuan itu bermalam. Di parkiran hotel, tiba-tiba Gigi mengajak Nino “mampir” ke kamar hotelnya.

 

PERANGKAT PEMBEDAHAN FILM

 

Tulisan ini bertujuan untuk menilai salah satu usaha Fazrie Permana, selaku penulis sekaligus sutradara film KTBKMML, dalam menciptakan naratif dan mengonkretkannya dalam bentuk visual. Penulis memilih fokus pada korelasi antara character arc protagonis dan staging. Sebab, character arc adalah bagian dari konsep naratif, bidangnya penulis skenario, dan staging adalah bagian konsep gaya yang merupakan bidangnya sutradara. (Khusus staging kamera, yang nanti akan penulis jabarkan lebih jauh, jugalah tanggung jawab penata kamera di samping sutradara.)

 

Character arc adalah alur perjalanan karakter yang menunjukkan bagaimana karakter berkembang seiring berjalannya plot. Berkembang bukanlah bagaimana fisik karakter bertumbuh dari kanak-kanak menjadi dewasa. Melainkan bagaimana prinsip hidup karakter itu berubah ke arah yang lebih baik, atau ke arah yang lebih buruk. Misalkan, di awal cerita, si Protagonis kerap berbohong demi mengejar kesuksesan, dan di akhir ia memutuskan untuk bersikap jujur demi mencapai kesuksesan tersebut.

 

Staging secara umum adalah penempatan dan pergerakan pemain serta kamera, dalam kaitannya dengan latar ruang di mana adegan berlangsung. Staging sangat memengaruhi dari arah mana penonton melihat pemain, seberapa dekat dengan pemain, dan impresi apa yang ditimbulkan oleh pemain.

 

Pertama-tama, penulis akan mengupas character arc protagonis di film KTBKMML. Setelahnya, barulah penulis beralih ke konsep staging, yang dipengaruhi oleh character arc.

 

THE FALL ARC: CHARACTER ARC PROTAGONIS DALAM KTBKMML

 

Umumnya, tidak hanya protagonis yang memiliki character arc. Antagonis dan karakter pendukung lain pun memilikinya. Tetapi, yang paling menentukan perkembangan plot utama adalah character arc protagonis. Hal ini pun berlaku dalam film KTBKMML.

 

Menurut Melanie Anne Phillips dan Chris Huntley dalam buku Dramatica: A New Theory of Story, protagonis adalah karakter yang memiliki tujuan (goal). Perjalanannya dalam mengejar tujuan secara aktif menjadikannya agen penggerak utama plot. Protagonis dalam KTBKMML adalah Nino. Tujuan karakter ini adalah berada bersama Gigi lebih lama, dan usaha aktifnya mencapai tujuan tersebut (dengan mengulur waktu perjalanan) membuat plot bergerak. Character arc yang terjadi pada Nino adalah: Di awal cerita, ia menyembunyikan keinginannya untuk lebih lama bersama Gigi; menjelang akhir, ia memutuskan mengucapkannya secara terang-terangan, meski mereka berdua sudah bertunangan. Jenis character arc Nino disebut the fall arc.

 

Menurut K. M. Weiland dalam buku Creating Character Arcs, the fall arc adalah alur perjalanan karakter di mana, pada mulanya, karakter memercayai kebohongan (lie), dan akhirnya karakter berkembang ke arah negatif, dengan memercayai kebohongan yang lebih kuat atau buruk. Agar lebih mudah dipahami secara lengkap, penulis mengutip skema the fall arc dari buku yang dimaksud:

 

KARAKTER MEMERCAYAI KEBOHONGAN ร  TERUS BERGANTUNG PADA KEBOHONGAN ร  MENOLAK KEBENARAN BARU ร  MEMERCAYAI KEBOHONGAN YANG LEBIH KUAT ATAU BURUK

 

Dalam konteks buku karya Weiland ini, “kebohongan” berarti prinsip hidup yang salah, dan “kebenaran” berarti prinsip hidup yang benar. Apa yang salah dan benar diukur dengan norma-norma yang berlaku secara umum di masyarakat.

 

Empat tahap penting the fall arc digambarkan dalam naratif KTBKMML sebagai berikut:


    1) Karakter Memercayai Kebohongan:

 

Kebohongan pada Nino adalah ia merasa diam-diam harus mengulur waktu perjalanan, agar bisa lebih lama bersama Gigi, sementara masing-masing mereka sudah bertunangan. Hal ini pertama kali ditunjukkan melalui Gigi yang menawarkan Nino menggunakan Google Maps, tetapi Nino berkata, “Udah, matiin aja map-nya, udah!”

 

(Gambar 1. Gigi menawarkan Nino menggunakan Google Maps.)

 

Kebohongan ini diperkuat lagi dengan jawaban Nino saat Gigi memastikan bahwa lelaki itu sudah yakin dengan tunangannya sekarang. Nino menjawab, “Ya … diyakin-yakinin ajalah.” Kemudian ponsel Nino berdering, Gigi menegur ia untuk menjawabnya, tetapi lelaki itu menolak. Belakangan kita tahu, itu adalah panggilan dari tunangan Nino.

 

    2) Karakter Terus Bergantung pada Kebohongan:

 

Nino terus bergantung pada kebohongan, dengan menepis Gigi yang memprotes bahwa waktu perjalanan mereka terasa sangat terulur, bahwa dari tadi mereka terasa berputar-putar terus di jalan. Nino mengaku tak ada yang salah dengan jalur ini. Akhirnya mereka bertengkar, mengungkit-ungkit kesalahan di masa lalu yang tak diperbaiki sampai sekarang.

 

(Gambar 2. Nino dan Gigi bertengkar masalah perjalanan yang lama.)

 

    3) Karakter Menolak Kebenaran Baru:

 

Kebenaran baru yang harus Nino tempuh adalah melanjutkan hubungan bersama tunangannya. Tetapi, setelah mengetahui tunangannya berkali-kali mencoba menghubunginya, dan membaca pesan bahwa sang tunangan sedang sibuk menyiapkan undangan serta suvenir pernikahan, Nino malah tetap mengabaikan wanita itu. Nino tak ingin momen kebersamaannya dengan Gigi diganggu pihak lain. Selanjutnya bahkan secara langsung ia mengucapkan apa yang ia inginkan kepada Gigi.

 

(Gambar 3. Nino membaca pesan dari tunangannya, sebelum memutuskan mengabaikannya.)

 

    4) Karakter Memercayai Kebohongan yang Lebih Kuat atau Buruk:

 

Terakhir, kebohongan yang lebih kuat itu adalah saat Nino menawarkan untuk mengantarkan Gigi ke hotel—kita bisa membaca subteks dari tawaran tersebut.

 

Sebagaimana lazimnya the fall arc, terlepas dari berhasil atau gagalnya protagonis mencapai tujuan, nasibnya akan berakhir buruk—secara tersurat maupun tersirat. KTBKMML menyiratkan nasib buruk Nino ke depannya. Tujuannya untuk bersama Gigi lebih lama memang tercapai. Tetapi, setelah ini, kita bisa memperkirakan hubungan Nino dengan sang tunangan—barangkali juga Gigi dan tunangannya—tidak akan baik-baik saja. Tersiratnya nasib buruk itu, pada adegan terakhir di parkiran hotel, digambarkan sebagai berikut:

 

    • Munculnya blackscreen ketika Gigi berkata pada Nino “… mau mampir dulu?” Blackscreen mengindikasikan akan adanya hal tabu, dan menjelaskan subteks dari ajakan Gigi; 
    • Melihat pola character arc, backstory, dan karakterisasi Nino, kita tahu bahwa lelaki itu tak akan menolak ajakan Gigi, malah setelah ini ia pun akan semakin sulit mengikhlaskan mantannya itu;
    • Pencahayaan low-key, mengindikasikan situasi buruk;
    • Aksi bisu di adegan terakhir menekankan kegelisahan Nino, yang telah menerima kebohongan yang lebih kuat.

 

(Gambar 4. Adegan terakhir di parkiran hotel, Gigi mengajak Nino “mampir” ke hotel.)

 

Pemilihan jenis character arc tentu tidak dilakukan secara suka-suka; pemilihan itu harus memiliki suatu kontribusi penting. The fall arc Nino memiliki kontribusi untuk menyampaikan argumen cerita: Kisah cinta lama yang dipaksakan berlanjut akan membuat kita tak bisa ke mana-mana lagi.

 

Jika kita menggunakan jenis character arc lain, adegan akhir dan argumen cerita jelas akan berbeda, dan tidak relevan dengan judul film. Misalkan, jika Nino mengalami the positive change arc, maka di akhir cerita—berdasar aturan dari struktur character arc ini—ia akan meninggalkan Gigi dengan ikhlas, dan hidup bahagia bersama tunangannya. Argumen cerita akan berubah: Kita harus mengikhlaskan kisah cinta di masa lalu. Judul film pun turut berubah: Kita Bisa Move On Sekarang—atau semacam itu.

 

Sekianlah pembahasan penulis tentang the fall arc protagonis dalam KTBKMML. Selanjutnya penulis akan membahas konsep staging.

 

STAGING PEMAIN DAN STAGING KAMERA

 

Terdapat dua jenis staging, yaitu staging pemain dan staging kamera. Dalam film naratif, keduanya tak dapat dipisahkan: kita tidak mungkin mendapat cerita tanpa adanya pemain di depan kamera sepanjang film; kita tidak mungkin mendapat cerita tanpa adanya kamera yang merekam adegan setiap pemain.

 

Sebagaimana konsep gaya lainnya, konsep staging berfungsi untuk mendukung naratif. Penulis akan membedah staging pemain dan kamera secara bergantian, serta menjabarkan hubungan keduanya dengan the fall arc Nino.

 

POLA-POLA STAGING PEMAIN

 

Berdasarkan pemosisian Nino dan Gigi di dalam latar ruang, terdapat dua pola staging pemain dalam KTBKMML:

 

    1) Pola I di Latar Ruang yang Sama;

 

(Gambar 5. Pola I di latar ruang yang sama.)

 

    2) Pola I di Latar Ruang yang Berbeda.

 

(Gambar 6. Pola I di latar ruang yang berbeda.)

 

Kedua pola ini adalah pola I, atau posisi antara pemain membentuk huruf “I”. Sepanjang film pola ini sangat dominan, berfungsi untuk menegaskan bahwa plot utama terfokus pada hubungan Nino dan Gigi, hubungan yang berkembang berdasarkan the fall arc Nino. Selain Nino dan Gigi, dua karakter lain adalah Teman Gigi dan Tunangan Nino. Teman Gigi tidak diperlihatkan secara jelas di frame, dan Tunangan Nino hanya terlihat melalui pesan WhatsApp; hal ini berfungsi untuk menekankan dominasi hubungan Nino dan Gigi dalam plot utama.

 

Dari kedua pola staging pemain yang ditulis di atas, pola nomor 1 adalah yang paling dominan. Nino dan Gigi dominan tampak di dalam mobil, atau ruang tertutup, dan duduk bersebelahan, hampir selalu diperlihatkan sejajar secara horizontal di frame. Pola ini berfungsi untuk menggambarkan betapa masih kuatnya hubungan mereka; penggunaan latar ruang tertutup menggambarkan kesan keterjebakan pada mereka berdua—keterjebakan dalam hubungan di masa lalu dan tak bisa ke mana-mana lagi, sebab, berdasar prinsip the fall arc, Nino terus memegang kebohongan dan menolak kebenaran.

 

Pola nomor 2 hanya terlihat sekali di sepanjang film, yaitu saat Nino membaca pesan dari tunangannya, dan Gigi berada di luar mobil. Karena hanya muncul sekali, maka staging ini sangat menarik perhatian, dan secara otomatis menggarisbawahi adegan yang terjadi. Dalam korelasinya dengan the fall arc, pola staging pemain ini berfungsi memberi penekanan bagi momen menjelang “karakter menolak kebenaran baru”, yaitu Nino menjelang memutuskan mengabaikan sang tunangan yang berusaha menghubunginya. Pola ini berakhir ketika Gigi kembali ke dalam mobil, dan pola staging permain bergeser ke pola nomor 1 lagi—menandakan bahwa Nino kembali memilih kebohongannya.

 

POLA-POLA STAGING KAMERA

 

Berdasarkan pemosisian kamera terhadap Nino di dalam latar ruang, terdapat tiga pola staging kamera dalam KTBKMML:

 

    1) Kamera diletakkan di belakang Nino, seolah penonton duduk di jok belakang mobil;

 

(Gambar 7. Kamera diletakkan di belakang Nino.)

 

    2) Kamera diletakkan sejajar di samping Nino;

 

(Gambar 8. Kamera diletakkan sejajar di samping Nino.)

 

    3) Kamera diletakkan di depan Nino.

 

(Gambar 9. Kamera diletakkan di depan Nino.)

 

Ketiga pola staging kamera ini berubah mengikuti the fall arc Nino.

 

Pola nomor 1, yang menghasilkan backshot, berfungsi mengisyaratkan adanya beban emosional yang berusaha karakter sembunyikan. Beban emosional itu adalah prinsip kebohongan yang Nino pegang dan masih ia sembunyikan: ia ingin bersama Gigi lebih lama.

 

Pola nomor 2 berfungsi sebagai transisi menuju pola nomor 3. Pada pola nomor 2, Nino sedang berhadapan dengan kebenaran baru (pesan dari sang tunangan), dan ia mempertimbangkan apa yang selanjutnya harus ia perbuat. Pola staging kamera ini menunjukkan Nino sedang berada di perasaan ambang, antara harus memilih kebohongan atau kebenaran.

 

Lalu berpindahlah staging kamera ke pola nomor 3, ketika Gigi kembali memasuki mobil dan Nino memutuskan mengabaikan sang tunangan; Nino memasuki fase “karakter menolak kebenaran baru” dalam the fall arc. Kali ini kamera berada di depan Nino. Jika sebelumnya backshot menunjukkan adanya beban emosional yang disembunyikan, maka di pola nomor 3 beban emosional itu sudah tidak disembunyikan—meskipun masih ada. Secara terang Nino menjelaskan pada Gigi apa motifnya sejauh ini; Nino memasuki fase “karakter memercayai kebohongan yang lebih kuat atau buruk”. Pola nomor 3 ini pun terulang kembali di adegan terakhir, ketika Gigi mengajak Nino “mampir” ke hotelnya. Meskipun tidak diperlihatkan jawaban Nino atas pertanyaan Gigi, pola staging ini mengisyaratkan apa jawaban lelaki itu.

 

KESIMPULAN

 

Fazrie Permana, sebagai penulis dan sutradara di film KTBKMML, berhasil memadukan konsep character arc (bidang penulis skenario) dan konsep staging (bidang sutradara). Ia telah memvisualisasikan the fall arc protagonis melalui konsep staging pemain dan kamera. Dengan demikian, penulis berpendapat bahwa Fazrie Permana mengambil salah satu langkah tepat dalam menentukan konsep gaya untuk mengonkretkan naratif di film KTBKMML.

 

PENUTUP

 

Sekali lagi penulis menegaskan, tulisan ini bertujuan untuk menilai salah satu usaha Fazrie Permana, selaku penulis sekaligus sutradara di film KTBKMML, dalam menciptakan naratif dan mengonkretkannya dalam bentuk visual. Tulisan ini tidak cukup untuk menentukan apakah keseluruhan film terbilang bagus atau buruk secara objektif. Untuk menentukan apakah film ini bagus atau buruk, kita perlu membedah hal-hal berikut lebih jauh:


  1. Elemen-elemen naratif selain character arc. Misalkan plot, karakter dan karakterisasi, latar ruang dan waktu, konflik, dan dialog;
  2. Elemen-elemen gaya selain staging pemain dan kamera. Misalkan konsep tata kamera secara lebih luas, tata cahaya, penyuntingan gambar, tata suara, dan tata artistik;
  3. Korelasi antara seluruh elemen naratif dan seluruh elemen gaya di film KTBKMML.

 

Penulis berharap tulisan ini dapat menjadi satu contoh kecil tentang cara membaca film KTBKMML. (Syukur jika menjadi contoh kecil juga untuk membaca film-film lain.) Barangkali, jika Anda berminat menilai film ini lebih jauh, Anda bisa berangkat dari segala apa yang telah penulis jabarkan dalam tulisan ini.

 

SUMBER-SUMBER BACAAN PENULIS

 

Bordwell, David & Thompson, Kristin. Film Art: An Introduction, 10th Edition. McGraw-Hill: New York, 2013.

 

DeKoven, Lenore. Changing Direction: A Practical Approach to Directing Actors in Film and Theatre. Focal Press: Oxford, 2006.

 

Katz, Steven D. Film Directing Shot by Shot: Visualizing from Concept to Screen. Michael Wiese Productions: Ventura Blvd, 1991.

 

Phillips, Melanie Anne & Huntley, Chris. Dramatica: A New Theory of Story, 4th Edition. Screenplay Systems Incorporated: 2001.

 

Proferes, Nicholas T. Film Directing Fundamentals: See Your Film Before Shooting, 3rd Edition. Focal Press: Oxford, 2008.

 

Rabiger, Michael. Directing Film Techniques and Aesthetics, 4th Edition. Focal Press: Oxford, 2008.

 

Weiland, K. M. Creating Character Arcs: The Masterful Author’s Guide to Uniting Story Structure, Plot, and Character Development. PenForASword Publishing: 2016.