Minggu, 02 Oktober 2022

PEMBUNUH DAN CINTA YANG BERBAHAYA -- Sebuah Cerpen

*Sumber Gambar: Pixabay



Ia guru baru di SMA-ku, dan ia membuatku tergila-gila padanya, dan ia seorang pembunuh. Murid-murid memanggilnya Bu Cinta, dan aku memanggilnya Cinta, dan ialah yang mengajariku membunuh. Aku tak menyesal telah membunuh: itu caraku menunjukkan cintaku padanya; ia ingin aku menunjukkannya dengan cara begitu. Lagipula, murid yang kubunuh memang layak dibunuh: ia tak pernah belajar di sekolah, ia selalu memaksaku memberi contekan saban ulangan, dan orang tuanya kini tak perlu membayar SPP untuk hal sia-sia.

Umurnya 26 tahun ketika ia mulai mengajar di SMA-ku, di kelas agama. Waktu itu sudah pertengahan semester di kelas sebelas, dan Cinta menggantikan Bu Marni yang pensiun. Kelas pertamanya hanya berisi perkenalan, dan Cinta meminta beberapa murid menjelaskan apa-apa saja yang telah Bu Marni jelaskan di kelas. Selama dua jam pelajaran itu aku hanya bengong: kurang ajar, ia cantik sekali. Hari itu aku masa bodoh pada ayat-ayat kitab suci dan para malaikat apalagi Tuhan, aku hanya peduli pada bibir Cinta yang berkilau terpapar cahaya dari jendela, aku ingin melumatnya, melumatnya, dan melumatnya—aku tak peduli pada pintu neraka yang menganga di bawahku sebab berani berpikir begitu. Bibir Cinta terus tergambar dalam kepalaku, bahkan sampai malamnya, dan malam esoknya, dan malam esoknya lagi; aku tak sabar menunggu tibanya minggu depan, tibanya kelas agama yang selanjutnya; aku tak tahan pada sensasi hangat di bawah perutku tiap tengah malam, yang memaksaku berlari ke kamar mandi dan bla-bla-bla, dan sebagai penutup adegan-tengah-malam itu aku mendesah, “Oh, Tuhan ....”

Kelas agama selanjutnya pun tiba. Di hari itu pula Cinta melakukan pembunuhan pertamanya. Maksudku, yang pertama kulihat.

Cinta memakai baju batik serupa minggu lalu, dan hari itu aku baru sadar: mestinya aku tak hanya memperhatikan bibirnya; aku mesti memperhatikan seluruh tubuhnya, indah seperti kematian di mata orang-orang yang ingin bunuh diri—sekujur ototku sontak melemas. Para murid begitu hening selama ia menjelaskan materi pelajarannya, tidak sebagaimana di kelas Bu Marni maupun guru-guru lainnya. Ada yang berbeda dengan cara mengajarnya, yang membuat para murid menaruh minat pada kalimat-kalimatnya—atau mungkin semua hanya perasaanku, yang menghapus suara para murid dan mendengungkan suara Cinta dalam kepalaku. Dan yang berikutnya mendengung bukan hanya kalimat-kalimatnya: decit spidol saat ia menulis di papan; ketukan-ketukan hak sepatu di setiap langkahnya; gesekan punggung tangan pada dahinya yang sedikit berkeringat—semuanya berdengung begitu keras, kepalaku akan pecah!

“Bu Cinta!” tiba-tiba Arno berkata. Cinta berhenti menjelaskan materi. Semua menoleh padanya, ke bangku pojok-belakang, tempat dua badut di kelas kami duduk. Murid yang duduk sebangku dengannya, Robin, melipat bibir untuk menahan tawa. “Sebenarnya …” lanjut Arno, “dadamu bagus sekali!”

Seisi kelas terbahak-bahak. Arno dan Robin bahkan sampai memukul-mukul meja. Seisi kelas terbahak-bahak, kecuali aku dan Cinta. Mata Cinta: mata yang sedih dan marah. Dan ia hanya berdiri dan diam di depan kelas. Tawa para murid perlahan memelan, seperti volume radio yang diputar pelan-pelan sampai ke titik nol. Lalu hening. Cinta masih di posisinya semula. Dan ia berdeham.

“Saya perlu ke toilet. Sebentar saja.” Cinta keluar dari kelas.

Kelas harusnya berlangsung hingga satu setengah jam lagi. Namun Cinta tak kunjung kembali dari toilet hingga bel tanda jam istirahat berbunyi. Beberapa murid menyalahkan Arno karena membuat Cinta tak kembali ke kelas, tetapi lelaki itu hanya tertawa-tawa menanggapi mereka.

Aku ingin membunuh Arno.

***

Kadang aku merokok di toilet belakang sekolah setelah mata pelajaran terakhir. Itu adalah area paling sepi, toilet yang hampir tak pernah digunakan siapa pun, konon itu area terangker di sekolah, tapi kami—para murid perokok—tak peduli pada hantu apa pun. Hari itu—hari di mana Arno membuat Cinta enggan mengajar—aku menuju toilet belakang setelah memastikan area parkir guru mulai sepi. Lorong menuju area tersebut terletak di samping kantin, dan di lorong itu aku berpapasan dengan Cinta. Jantungku hampir meletus. Apalagi ia mengangguk singkat seraya tersenyum padaku. Aku tak membalas dengan cara apa pun, seketika aku lupa cara membalas anggukan singkat seseorang, dan Cinta keburu menghilang dari pandanganku. Aroma parfumnya masih tertinggal di lorong, kuhirup udara sebanyak-banyaknya, seakan dengan begitu kukurung Cinta dalam tubuhku.

Entah kenapa ada guru yang memakai toilet belakang; di sekolah ini ada toilet khusus guru; barangkali suasana hatinya yang buruk membuat ia tak ingin berjumpa siapa pun, dan toilet belakang adalah pilihan yang tepat.

Toilet belakang memiliki empat bilik, dan alih-alih berbau pesing, aroma asap rokok mengendap di sekujur ruangan. Satu pintu bilik tertutup: berarti satu murid sedang merokok. Tapi terkadang satu bilik berisi dua orang, sekadar agar ada teman bercakap.

Aku memasuki bilik di sebelahnya. Saat kukeluarkan rokok dari sakuku, aku baru sadar korekku telah lenyap. Jadi aku mengetuk dinding pemisah bilik dan kepada siapa pun yang ada di bilik sebelah aku meminjam korek. Namun, tak ada jawaban dari sebelah. Aku mengulang ketukan sekali lagi, lalu sekali lagi: tetap saja tak ada jawaban.

Aku keluar dari bilikku dan kutatap pintu bilik sebelah: pintu itu tak benar-benar tertutup, hanya tiga per empat tertutup rupanya: mungkin sebetulnya tak ada orang di sana; atau mungkin memang sempat ada orang dan ia sudah keluar ketika aku baru memasuki bilikku. Mungkin juga sampai sekarang masih ada orang di sana, tapi ia luar biasa pelit dan enggan meminjamkan koreknya. Aku mendorong pintu bilik pelan dengan ujung kakiku, sekadar memastikan ada atau tidak adanya orang di sana, dan aku menemukan mayat Arno.

***

Dalam mimpiku, Cinta mengoyak-ngoyak leher Arno dengan pisau lipat. Pintu bilik terbuka, maka aku bisa menyaksikan kematiannya dari luar bilik, meski sebagian besar pemandangan kematiannya terhalang punggung Cinta dan pinggulnya yang membuatku berdebar-debar. Tak lama kemudian sempurnalah kematian Arno. Cinta keluar dari bilik dan menutup pintunya, ia menghampiriku dan mendorongku hingga menabrak wastafel, ia melumat bibirku—dan alarm berbunyi: pukul lima pagi. Celana dalamku basah.

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan begitu tiba di sekolah. Apa aku harus memberi tahu orang-orang bahwa Arno tewas di toilet belakang? Kemarin, setelah melihat mayatnya, aku tak menjerit maupun muntah maupun mencari orang lain. Aku bengong selama beberapa saat. Waktu aku hendak menutup kembali pintu bilik, aku refleks terdiam. Aku tak boleh menyentuh apa pun: aku tak perlu meninggalkan sidik jariku. Untung saja kugunakan ujung kaki untuk membuka pintu itu sebelumnya. Maka aku langsung pulang, tak ada siapa pun tersisa di sekolah, motor kupacu sekencang-kencangnya dan—“Percepat mandimu, hei!” teriak Ibu dari luar, dan aku baru sadar sedari tadi aku bengong di sini, aku segera mengguyur tubuhku dan mengambil handuk.

***

Beberapa polisi berbaris di depan gerbang sekolah, menghalangi dan membubarkan para murid yang hendak masuk. Beberapa wartawan merekam polisi-polisi tersebut; beberapa wartawan merekam para murid; tetapi kebanyakan mereka menyorot Pak Kepala Sekolah, yang dikelilingi para orang tua murid serta masing-masing anak mereka dan, kuyakin—meski aku tak bisa mendengar suaranya—sedang menjelaskan apa yang terjadi di dalam sekolah. Kuparkir motorku di pinggir jalan, aku menjijit di trotoar, aku mencari-cari keberadaan Cinta dari balik punggung para wartawan, di antara para murid dan/atau orang tua mereka yang datang dan pergi dan orang-orang acak yang ikut terjebak dalam kemacetan: ia tak tampak di mana pun.

Hari itu dan besok sekolahku diliburkan. Berita tentang kasus pembunuhan itu telah tersebar, begitupun tentang ritual keagamaan yang segera diselenggarakan di sekolah. Setiap wartawan hanya mampu menangkap gambar di depan sekolah—tidak ada yang berhasil masuk—dan nama Cinta tak sekali pun disebutkan.

***

Malamnya aku memimpikan Cinta lagi. Kami bercinta di atas tumpukan mayat, kami bercinta dengan beragam posisi, aku hanya melihat langit merah di sekeliling kami, dan aroma melati meruap dari mayat-mayat tersebut. Ini pertama kalinya ada bau dalam mimpiku. Celanaku basah ketika aku terbangun. Dan setelah selesai urusanku di kamar mandi, aku tak bisa tidur.

Tibalah pukul dua pagi, dan mataku masih terbuka; tangan Cinta seolah mencegah kelopak mataku menutup—toh, besok sekolahku masih libur, tak ada yang salah dengan begadang, aku hanya ingin Cinta pergi dari kepalaku! Saat itulah muncul sebuah ide untuk mencari Cinta di Facebook.

Aku membuka laptop. Aku hanya tahu nama panggilannya, ia belum pernah memperkenalkan nama lengkapnya, jadi aku hanya mengetik Cinta di kolom pencarian Facebook, dan nama klise demikian memunculkan terlalu banyak hasil pencarian. Aku terus memutar roda gulir pada tetikus, bunyi srrrrt-srrrt-srrrt bertubi membuat kupingku muak, kuperhatikan foto setiap pengguna nama Cinta yang lewat di layar, sepuluh menit sudah berlalu, akun-akun tanpa foto kulewatkan begitu saja semuanya, dan aku baru terpikir: Untuk apa seorang pembunuh membuat akun Facebook?

Untuk iseng, tentu saja—atau untuk bertingkah seolah ia manusia biasa, seperti kita semua yang mempunyai akun Facebook.

Aku lanjut memutar roda gulir. Jika dalam sepuluh menit lagi aku tak menemukan akunnya, aku akan menyerah. Tak perlu aku melakukan hal tolol ini lebih dari sepuluh menit lagi.

Dan tepat setelah kuucapkan tekad itu dalam hati, akun Cinta lewat di depan mataku. Cinta 123. Dan, ya, itu Cinta: foto profilnya memang Cinta—dan jelas itu ia! Ia berjongkok di samping batu nisan entah siapa, tersenyum, bunga-bunga segar mengelilingi nisan tersebut. Jumlah temannya mencapai seribu orang; aktivitas terakhirnya yang terpantau adalah tiga tahun lalu—yaitu mengganti foto profilnya—dan aku tak berani mengklik “Tambahkan Teman”. Dan, ia sedang online.

Tak ada yang salah dengan berselancar di internet pada pagi buta begini. Barangkali ia sedang tak bisa tidur, iseng memantau halaman Facebook mantan pacarnya, atau entah apalah—tak ada bukti bahwa ia berselancar di internet sambil bersenang-senang dengan mayat seseorang. Mungkin aku hanya perlu mengiriminya pesan.

Mungkin tidak usah.

Mungkin harus kucoba.

Aku mengetik Hai dan mengirim pesan padanya.

Kini jantungku hanya menggelantung pada seutas benang tipis, terayun-ayun kencang sebab berdetak terlalu keras—benang akan segera terputus, jantungku akan segera terjatuh, aku tak akan bisa menemukannya di mana punangin kencang membuat kaca jendela kamarku gemetar, lubang udara menghantar siulan yang ganjil—Cinta pasti membaca pesanku sekarang, dan mengamati foto profilku. Ia akan mengenaliku. Ia akan memperhatikanku di kelas selama jam pelajarannya. Ia akan mencatat namaku di daftar absensinya. Ia akan mengenaliku lebih dekat. Terlalu dekat. Mungkin ia akan langsung mengenaliku sebagai siswa yang berpapasan dengannya di lorong. Ia tak akan pernah melupakan wajahku sejak detik itu. Ia akan menyeretku ke bilik toilet belakang sekolah. Aku akan tamat.

Dan tiba-tiba masuk panggilan video darinya.

Sesaat seluruh isi-isian tubuhku larut dalam kekosongan, dimulai dari jantungku. Tubuhku kosong dan akan jatuh seperti baju di jemuran. Namun perlahan-lahan, nada panggilan yang terus bertahan itu menjadi tangan yang memungutku, mengembalikanku ke jemuran; tangan itu adalah sesuatu yang tak mampu kutolak.

***

Kau tidak perlu tahu apa yang kubicarakan pada pagi buta itu dengan Cinta. Yang perlu kau tahu hanya aku mencintainya, aku menyampaikan hal itu padanya, dan ia mengaku hampir mencintaiku—aku bisa menjadi orang yang benar-benar dicintainya, asalkan aku mampu memenuhi apa yang ia butuhkan. Maka esoknya Robin mati.

Aku tidak menyesali kematiannya. Ia hanyalah badut sebagaimana Arno, dan seperti yang kubilang di awal tadi: ia tak pernah belajar di sekolah, ia selalu memaksaku memberi contekan saban ulangan, dan orang tuanya kini tak perlu membayar SPP untuk hal sia-sia. Apa yang kusesali hanya usahaku yang kurang elegan untuk membantainya: aku menunggunya di pintu kelas, dan begitu bel tanda mata pelajaran pertama dimulai berbunyi, dan begitu Robin hendak memasuki kelas, kucegat ia dan kutusuk pipinya dengan pisau lipat dan kugorok lehernya.

Jika Cinta yang membunuh Robin, pasti kematian lelaki itu akan lebih misterius, akan lebih elegan. Aku terlalu tak sabar untuk membunuhnya, tepatnya aku terlalu tak sabar untuk jadi dicintai Cinta—padahal mungkin Cinta akan lebih mencintaiku jika kubunuh Robin dengan lebih elegan.

Tapi Cinta tak akan kecewa pada usaha pertamaku. Aku sudah sangat berani untuk mencoba. Seandainya kau tak menangkapku, aku akan pulang dan membuka laptop dan melakukan panggilan video dengannya, ia akan tersenyum manis mendengarkan ceritaku, aku akan meminta maaf karena melakukannya tidak dengan elegan, dan Cinta pasti berkata, “Tidak apa-apa, aku sudah mencintaimu.”




*) Catatan: Cerpen ini telah dimuat di Nongkrong.co pada 17 September 2022.

Sabtu, 30 April 2022

FILM PEMBALASAN DENDAM; dan Puisi-Puisi Lainnya

*Ilustrasi oleh: Budiono/Jawa Pos 



Film Pembalasan Dendam

 

setelah memasuki gudang kamera

di punggung kutub yang paling dingin,

bocah-bocah panas berebut keluar

dari mulut dari hidungku,

 

lalu kamera-kamera meleleh

dan membungkus sekujur tubuhku

—maka bersiap-siaplah:

aku bisa menjadi mata kail

 

menyusupi bola matamu,

aku berputar sebagai film horor

di balik tengkorakmu,

kau tak bisa kabur dari bioskop itu

 

ketika monster-monster merayap keluar

dari layar yang enggan membawa kapalmu melaju,

di lidah-lidah berduri mereka kau semanis

pop corn tenggelam dalam lumpur karamel panas,

 

dan tak ada jeritan kau terdengar

di telinga mana pun: aku menghapus track suara

sebelum meluncur menuju tungku panas

di ruang proyektor,

 

aku tinggal menghitung mundur

sampai seluruh nama di kredit berpulang

ke balik selimut beludru yang tebal

sebelum melihat tubuhmu

 

sebagai gulungan film yang terburai,

koyak di bawah langkah-langkah

para calon penonton memutari lobi bioskop:

tak ada poster wajahmu terpampang

 

di sisi dinding mana pun.

 

(Jakarta, Agustus 2021)




Bertemu Aljabar untuk Pertama Kali


aku tak tahu kalau angka boleh

berdiri di samping huruf—tahu-

tahu aku teringat temanku

mustafa


: mama melarangku main dengannya—

tuhan dan malaikat di pundak

kalian berbeda, nanti mereka bertengkar dan

tak ada siapa pun pada pundakmu—


mama yang bilang begitu

papa mati karena pundaknya

kosong, dan mama ingin aku

bersandar lebih lama


pada pundaknya—angka dan huruf:

berbedakah tuhan dan malaikat mereka?

kuharap mereka berbeda

kuharap mereka bertengkar


lagi pula tak ada yang suka melihat

angka dan huruf bersama

mereka tak semestinya seperti itu

kuyakin mama pasti setuju


dan bu guru bersalah:

pintu neraka akan terbuka di papan

tulis, kami sekelas akan mencatat:

tangan-tangan iblis menarik bu guru


ke tungku berlahar,

matematika kembali berjalan lurus

tiada yang tak bisa kami hitung

dengan sepuluh jemari 


(Jakarta, Agustus 2021)




Doa Terakhir, Mungkin


semalam adalah doa

terakhir

dengan lidah tersalib

dan mahkota duri mengikat lambung

dan bebatu mendarat di dasar paru-paruku


semalam adalah doa

di mana aku meminta

kau jangan bangunkan aku

dengan alibi apa pun


semalam paku-paku berkarat

terlepas dari langitmu

seperti malam-malam yang lalu


sepulang kerja di cermin aku

menatap tubuhku:

sebongkah bangkai yang lelah

dan bola arwah bodoh

bingung mencari jalan keluar

dari badan yang jelas penuh

lubangnya


maka semalam aku berdoa

dan semoga esok malam

aku tak usah lagi berdoa padamu


tapi pagi ini aku masih terbangun

sekali lagi

dengan lendir menetes

dari setiap ronggaku

dan seragam itu tak bosan-bosannya

mendekap bangkaiku


(Jakarta, Agustus 2021)





*) Puisi-puisi ini dimuat di Jawa Pos pada 24 April 2022.

LIDAH MAMA DAN BINTANG-BINTANG; dan Puisi-Puisi Lainnya



Ilustrasi: Foto Kaka Ited (diolah dari sini)



Masinis


papa rajin merokok—sebab itu

aku membayangkan diriku masinis:

aku bakal duduk di gerbong terdepan,

keretaku mesti yang merah muda,

aku bakal mengeluarkan asap dari

cerobong, tak jauh berbeda

dari mulut papaku yang melulu

mengerucut menyembur asap—mulutku

pun bakal seperti itu sepanjang laju zigzag

kereta, tapi cuma bunyi tut tut tut yang keluar

dari mulutku, plus udara bersih berbau

susu stroberi.

 

(Batam, Januari 2022)



Darah Papa


papa meneteskan darahnya ke lidahku

tiga kali sehari

darah dari telapak tangan

yang ia sayat dengan pisau cukurnya


sebab aku anak lelaki


“dan lelaki yang kuat,

lelaki yang mencecap

pahit masa dewasa

dari sekarang,”

kata papaku


*

ketika dewasa

saat kusayat telapak tanganku

dengan pisau dapur

kuteteskan darah sendiri ke lidah:


lidahku melepuh


(Batam, Januari 2022)




Bisikan dari Maut

dan sesungguhnya mautlah berbisik padamu
jika pada kuping hangatmu 
sesuatu mendesis: “kau di jalan yang benar”

dan sesungguhnya tak ada satu pun setapak
penuh kelopak mawar bagimu,
di depanmu hanya terentang seutas rambut
menuju gubuk di mana ibumu menunggu,
di depan pintu, melambai-lambai padamu,
berkata padamu:

“kembalilah dalam pelukku”

dan sesungguhnya tak ada lagi rumahmu,
termasuk dalam pelukan ibumu;
semua yang menahanmu di situ telah mati
saat 21 tahun umurmu, semua mati
dan tinggal hantu-hantu pembujuk yang keji

maka berbaliklah,
tinggalkan seutas rambut itu,
tubuhmu terlalu berat dan berharga
untuk jatuh pada entah-apa-di-sana,
di bawah jalan pulangmu

dan sesungguhnya mautlah berbisik padamu
jika pada kuping hangatmu 
sesuatu mendesis: “berbaliklah pada jalan yang benar”

(Batam, Januari 2022)



Lidah Mama dan Bintang-Bintang

bintang-bintang hidup di lidah mama.
katanya dulu bintang-bintang hidup di langit,
tapi kini mereka memilih sembunyi di lidah mama,
sejak orang-orang dewasa sibuk terbang dan menyala di langit.

bintang-bintang menyala di lidah mamaku,
setiap malam setiap mama mendongeng padaku.
bintang-bintang melompat padaku dan masuki telinga,
di cermin kulihat mataku memancar cahaya.

“kenapa bintang-bintang tak pernah mampir ke lidahku?”
tanyaku kepada mama. “bukankah bintang-bintang
tetap dalam kepalaku
saat aku tertidur?”

“saat kau tidur,” jawab mamaku, “bintang-bintang
menemukan pintu rahasia di pulau mimpimu,
mereka keluar darimu
dan kembali hidup di lidahku.”

ketika mama meninggal,
aku takut tak lagi melihat
bintang-bintang hidup di lidahnya. di halaman
rumah duka kutengok langit malam: orang-orang dewasa
sibuk terbang serta menyala di sana: orang-orang dewasa
—selain mama—hanya ingin menjadi bintang tanpa
memelihara bintang
di lidah mereka.

dan ketika aku pulang,
dan ketika kumasuki kamar,
ruangan menyala membuat tubuhku menghangat:
bintang-bintang hidup di langit-langit kamarku.

(Batam, Januari 2022)



Wajah-Wajah di Punggung Ayah

selain pada kepala, ayah memiliki wajah-wajah lain
pada punggungnya, wajah-wajah itu sama
seperti pada kepala, namun dengan raut berbeda.

sejak aku mampu mengingat, ibu
selalu mengambil satu wajah di punggung ayah
untuk ia kenakan ke pasar, wajah lain dari punggung yang sama
untuk ke rumah tetangga, wajah lain lagi
ke mana pun dirinya pergi—ibu selalu memakai wajah-wajah
ayah seperti topeng di mana pun dirinya berada;
wajah asli hanya terlihat selama ia di rumah,
selama tak ada seorang tamu pun yang datang. 

aku lebih suka wajah asli ibu ketimbang wajah-wajah
di punggung ayah. begitupun wajahku
—aku lebih suka wajah asliku.

namun, ketika aku berusia enam tahun,
dan ayah bilang angka enam adalah angka yang gagah
bagi anak lelaki, ia selalu menyuruhku
memakai wajah-wajah pada punggungnya: untuk ke sekolah
atau ke taman bermain atau
ke pasar bersama ibu; aku hanya memakai wajah asli
selama di rumah, selama tak ada seorang tamu pun
yang datang.

sejak berusia enam tahun pula aku sering menatap cermin
sebelum tidur: apa yang salah dari wajah asliku?

apa yang salah dari wajah asli ibuku? 

apa wajah di kepala ayah adalah wajah aslinya?
apa wajah di kepala ayah hanyalah salah satu wajah
dari punggungnya?

aku lebih suka wajah asliku; aku tak suka melihat cermin
ketika wajah ayah menutup wajah asliku.

setelah ibu meninggal, waktu itu usiaku sepuluh tahun,
ayah mulai menyuruhku untuk tidur
menggunakan salah satu wajahnya, wajah dengan raut
paling aneh untuk digunakan seseorang yang tidur:
dahinya mengernyit, matanya memejam, seperti seorang
pemikir yang enggan bangun dari segala pikiran serius.

setelah setahun berturut aku tidur memakai wajah yang sama,
suatu pagi aku terbangun dan tak mampu melepas wajah tersebut.
kutatap cermin: aku rindu wajah asliku segera.
dan, ada yang aneh pada punggungku—benjolan-benjolan muncul,
amat-sangat perih, aku menangis, tak berani menatap
punggungku melalui cermin, dan ayah segera memasuki kamarku.

ayah pun tersenyum.

“akhirnya tumbuhlah, wajah-wajah itu.”

(Batam, Januari 2022)


*)  Puisi-puisi ini dimuat di Bacapetra pada 10 April 2022.

Minggu, 13 Maret 2022

SEPULUH TAHUN SETELAH SI KERUDUNG MERAH MEMBUNUH SEEKOR SERIGALA -- Sebuah Cerpen

*Ilustrasi oleh: Satia Guna


Aku tak akan menghampiri rumah si Kerudung Merah jika bukan karena hantu ayahku; ia mati sepuluh tahun lalu dengan perut penuh bebatu.

Ayahku serigala yang baik—setidaknya semasa ia hidup. Waktu itu di hutan sedang sepi hewan buruan, para manusia pemburu lebih cepat membabat rusa dan kijang dan apa pun yang bisa kami makan, dan Ayah memberikan kesemua jatah makanannya untuk aku yang terus menangis karena kelaparan di gua. Dan setelah aku terlelap saking kenyangnya, Ayah berkeliling hutan mencari makanan untuk dirinya, dan ia menemukan seorang gadis berkerudung merah, gadis yang membawa berbagai kue dan beberapa botol anggur dalam keranjang untuk nenek yang sakit, dan Ayah tak tahu bahwa gadis selugu itu dapat membawa maut padanya. Seusai menceritakan tentang kematiannya untuk kali pertama padaku, beberapa jam setelah maut datang padanya, hantu Ayah berkata, “Saat besar nanti, kau akan memasukkan batu-batu ke perut gadis itu.” Setelah itu hantu Ayah pergi, kupikir untuk selama-lamanya.

Kini hantu Ayah kembali padaku, setelah sepuluh tahun tak pernah muncul; ia mengatakan Ibu si Kerudung Merah sedang sekarat, “Dan perutnya menunggu batu-batuan.” Kupikir harusnya aku memasukkan batu-batu ke perut si Kerudung Merah, bukan ke perut ibunya. Namun hantu Ayah ingin pembalasan dendamnya lebih dahsyat: aku tetap harus memasukkan batu-batu ke perut si Kerudung Merah setelah perut ibunya, entah di hari yang sama atau hari yang lain.

Aku bukan serigala pendendam, jadi kuusir saja hantu Ayah dari guaku; aku ingin menghabiskan waktu bersama istri dan anak-anakku, aku ingin fokus membentuk koloni baru, aku ingin fokus menyelamatkan koloniku dari para manusia pemburu. Tetapi tak ada hantu pendendam yang suka melihat anaknya menjadi bukan pendendam: saban tidur aku selalu bermimpi buruk, dan kuyakin hantu Ayah-lah yang memasukkan mimpi itu menuju kepalaku.

Aku melihat Ayah tidur nyenyak di kasur di sebuah rumah kayu, itu pasti rumah Nenek si Kerudung Merah; perut Ayah buncit dan ia mengenakan pakaian wanita tua tersebut, tiba-tiba seorang pemburu memasuki kamar itu dengan terkejut. Pemburu itu buru-buru menenangkan diri, ia mengeluarkan gunting dan membelah perut ayahku, serigala itu tak terbangun mungkin sebab ia terlalu kenyang, dan dari perutnya keluarlah si Kerudung Merah serta neneknya, tubuh mereka basah oleh cairan asam. Lalu si Kerudung Merah berlari keluar rumah sejenak, sebelum kembali dengan batu-batuan dalam dekapannya yang penuh, dan ia memasukkan bebatu ke perut ayahku, sebelum menjahit perut serigala malang itu dengan rapi dan rapat. Kemudian tibalah bagian mengerikan itu: si Kerudung Merah membangunkan Ayah, serigala itu terkejut dan langsung berlari keluar sembari menahan sakit, dan aku dapat merasakan betul kesakitan dalam perutnya yang berat, seakan akulah yang berlari di sana dengan perut penuh bebatu. Akhirnya Ayah tumbang di setapak hutan dan napasku terasa memberat, terasa tercekik—perutku terasa akan dirobek dari dalam![1]

Mimpi itu tak datang sekali; ia datang setiap aku tidur; rasa sakit tetap bertahan pada perutku bahkan berjam-jam setelah aku terjaga, dan aku tersadar: hantu Ayah benar-benar mendendam pada si Kerudung Merah—jangan sampai mendendam juga ia padaku, karena penolakanku untuk membalaskan dendamnya.

 

***

 

Rumah keluarga si Kerudung Merah berdiri di tepi hutan dan malam itu aku menyusup ke semak-semak di halaman belakang, lalu melalui celah gorden aku melihat wanita tua itu mengerang di ranjang, si Kerudung Merah menyuapinya sesuatu, dan dari tatapannya kutahu ia berharap tak perlu lagi menyuapinya apa pun. Mereka hanya tinggal berdua di situ—entah ke manakah ayah si Kerudung Merah. Ketika sang ibu terlelap dan lampu dipadamkan dan si Kerudung Merah keluar dari kamar itu, diam-diam aku membuka jendela dan menyusup dengan batu-batu memenuhi dekapanku.

Dari wanita itu menyeruak aroma tahi. Selimutnya pada bagian kaki tersibak sedikit dan dari sanalah aroma itu menyeruak. Aku menatap sekeliling dan cahaya bulan yang masuk dari lubang udara jatuh ke cermin; aku melihat wajahku di sana, mataku tak pernah semerah itu: mesti itu sepasang mata serigala yang sedang di bawah pengaruh hantu pendendam. Di samping cermin terdapat sebuntal benang jahit di atas meja, jarum-jarum menancap pada buntalan itu, pentul-pentul merahnya berkilau tertimpa cahaya bulan.

Aku menyibak selimut sang wanita perlahan; ia mengenakan daster biru dan roknya terangkat hampir sampai ke pinggul, popoknya kembung dan aroma tahi merobek lubang hidungku. Mungkin ini kutukan hewan berpenciuman tajam: kami agak lemah di hadapan wanita sekarat yang berak di popok. Tapi tak ada waktu untuk kalah dari tahi di popok; aku menaikkan dasternya sampai sedada, kulit perutnya begitu tipis, aku hampir dapat melihat jeroannya di balik sana, yang berdenyut-denyut memompa tahi. Kuku telunjukku mencuat, dan dengan hati-hati aku menyayat perut wanita itu secara vertikal, wanita itu tak terbangun mungkin sebab terlalu kenyang, dan aroma jeroannya bahkan lebih terkutuk ketimbang tahinya. Lalu aku memasukkan batu-batu ke dalam perutnya, satu per satu dan penuh kehati-hatian, aku—dan ayahku—tak mau ia terbangun tidak pada waktunya. Dan setelah kesemua batu kumasukkan, aku mengambil sebuntal benang di meja dan menjahit perutnya serapi-serapat mungkin, dan ia tampak persis wanita hamil yang mengandung mautnya sendiri.

Sesaat aku ragu untuk membangunkannya; toh, ia akan mati tanpa kubangunkan—aku bisa mendengar napasnya yang semakin lama semakin berat. Tetapi ketika aku melirik ke cermin lagi, bukan saja sepasang mataku semakin merah, aku melihat hantu Ayah berdiri di belakangku, ia mendekatkan moncongnya ke kupingku, ia berbisik, “Jangan lewatkan bagian yang paling seru.”

Aku menjilat darah di kuku telunjuk, dan aku menyalakan lampu, dan aku mengguncang-guncang kasur, tetapi wanita itu tak terbangun. Aku menampar-nampar pipinya, dan ia hanya berkedip lemah sebelum kembali tertidur. Akhirnya aku menyiram wajahnya dengan air dari teko di nakas, dan ia pun terbelalak di hadapan taring-taringku. Ia segera menjerit dan berguling dari kasur. Ia tak sanggup berdiri, tentu saja; aku melangkah ke sampingnya dan ia tetap memekik dan ia tetap terbaring di lantai dan ia akan mati seperti itu.

Pintu dibuka: si Kerudung Merah menodongkan senapan padaku. Moncong senapannya terus menatapku lekat, tetapi perempuan itu berganti-gantian menatapku dan sang ibu yang perutnya penuh bebatu. Aku berpaling ke cermin: mataku tak lagi merah, dan hantu Ayah tak ada di mana pun. Ia hanya ingin melihat Ibu si Kerudung Merah mati; ia tak berani melihatku mati. Setidaknya mati di ujung senapan jauh lebih baik ketimbang mati dengan perut penuh bebatu.

Dan tiba-tiba senapan meletus.

Tubuhku masih utuh. Tapi perut wanita itu terkoyak peluru—batu-batu di dalam sana terlihat, dan dari batu-batu itu pandangan si Kerudung Merah teralih padaku. Aku tak tahu arti tatapannya. Kemudian ia meletakkan senapan di lantai, ia mendekati mayat ibunya—aku menyingkir agar tak menghalanginya—dan ia mencoba membopongnya ke kasur. Baru terangkat sedikit, ia langsung menjatuhkan tubuh wanita itu. Ia mencoba hal serupa dua kali lagi dan gagal, lantas ia memasukkan tangan ke lubang peluru di perut ibunya, ia mengambil segenggam batu dan dengan gerakan cepat melemparnya ke kepalaku.

Dahiku hangat. Aku menyentuhnya dan darah tercetak pada rambut di telapak tanganku. Kupikir sebentar kemudian darah akan mengguyur mata dan moncongku, tetapi tidak—kepalaku tak berdarah dan yang ada di tanganku hanyalah darah yang menempel di batu itu.

“Bisa bantu aku …?” ucap si Kerudung Merah.

Kami pun bersama-sama mengangkat mayat ke kasur, dan gadis itu menutupi sekujur tubuh sang ibu dengan selimut biru yang dengan cepat memerah. Gadis itu menunduk dan menggumamkan sesuatu, barangkali ia berdoa. Ketika keseluruhan selimut memerah dan basah, bentuk mayat itu tercetak jelas pada selimut.

Si Kerudung Merah memungut senapannya. Ia tak menembakku; ia menyampirkannya di pundak. Dan, sepasang matanya memerah; sepasang matanya menatapku lekat. Tetapi aku masih tak tahu apa arti tatapannya; aku hanya tahu itu tatapan manusia yang terluka—tak beda jauh dengan tatapan hewan yang terluka—dan ia mengangguk padaku, sebelum ia keluar dari kamar ibunya. “Sampai jumpa lagi,” kata si Kerudung Merah dari balik pintu, suaranya parau.

Aku mematikan lampu, dan aku keluar lewat jendela, dan aku kembali ke guaku. Aku tak berminat memasukkan batu-batu ke perut si Kerudung Merah. Lebih baik aku memasukkan batu-batu ke perut hantu ayahku ketimbang ke perut perempuan itu. Tetapi perut hantu tak bisa dibelah, dan hantu pendendam tak berhenti mengirim mimpi buruk padaku. Aku mulai terbiasa dengan sakit yang melekat bahkan berjam-jam setelah aku terjaga. Sakit itu tak seberapa ketimbang rasa bersalahku sebab memasukkan bebatu ke perut wanita itu.

Semoga si Kerudung Merah tak bermimpi buruk. Semoga ia tak memimpikan kesakitan terakhir sang ibu.



[1] Bagian tragis yang menimpa Ayah si Serigala ini adalah akhir dari Little Red Riding Hood versi Grimm bersaudara; beberapa pengarang lain mempunyai versi akhir cerita yang lain.



*) Cerpen ini dimuat di Tatkala.co pada 26 Februari 2022.