Selasa, 13 Agustus 2024

SETELAH BERKALI-KALI HARI JADI; dan Puisi-Puisi Lainnya


*Sumber Gambar: istockphoto.com




Setelah Berkali-kali Hari Jadi

 

1/

 

rasa bibirmu terlalu familiar:

99 ekor kupu-kupu

belajar berenang

di asam lambungku

 

2/

 

keajaiban kecil: aku bisa tersenyum

seraya menyesap teh

menyaksikan sayapmu rontok

seperti sakura

 

3/

 

meski kau duduk di pangkuanku

meski bunga-bunga listrik mekar di tubuhku

ular itu tetap terlelap dalam mimpi indahnya

dan pangkuan tetaplah pangkuan

 

4/

 

meski setua maple-maple kering

rusukku tak kunjung rontok

setelah ribuan malam

menyangga kepalamu

 

(Jakarta, Juni 2023)




Menjelang Garis Lurus

 

ketika kau terbaring dan lubang

bercahaya merah mulai terbuka di lantai

sekawanan merpati menjemput

remah-remah kata yang berdenyut lemah

di sela bibirmu

mengantarnya ke telapak kaki

ibumu

menangis di samping ranjang

 

(Jakarta, Juni 2023)

 



Menitipkan Kata

 

di lehermu, aku

melekatkan kata-kata berlendir

yang bibirku sembunyikan

di bawah lidahku

 

kata-kataku, kelak,

ketika tubuhku tinggal dua kata

yang sedikit dikenang,

akan bangkit dari lehermu

dan membisikkan satu atau lebih

sajak kesukaanmu

 

dan di puncak tebing-tebing putih

dalam kepalamu

kau melihat beberapa aku

membuat api unggun

dan mendirikan tenda

yang lebih hangat

ketimbang pelukan

lelaki barumu

 

(Jakarta, Juli 2023)




Revisi Tengah Malam

 

00.32: laptop menyala sendiri

dan kalimat-kalimat terbang

dari layarnya

 

kalimat pertama menendang kelopak mataku

kalimat kedua menyusup ke balik punggung

dan mendudukkanku

kalimat ketiga membuatkanku secangkir kopi

 

00.34: aku duduk

di depan laptop

sedang kalimat keempat dan ratusan lainnya

menempelkan moncong senapan

ke kepalaku yang panas

 

(Jakarta, Juli 2023)




Semacam Iblis

 

perkenalkan, akulah yang bersembunyi

di balik wajah para pahlawan

di lembar-lembar uang

dan berkali-kali berbisik:

bangunlah

bekerjalah

bunuhlah

akulah yang membuat kantung matamu menebal

akulah yang membuat anak-anakmu tersenyum

akulah yang membuat anak-anakmu

tak ingin lagi melihatmu tersenyum

bahkan terbangun

 

perkenalkan, akulah nama yang berkali-kali

kau selipkan di dalam doa

akulah nama yang berkali-kali

tak ingin kau kenali

tapi namaku telanjur terentang

dari dinding-dinding kota

hingga ke bawah perutmu

hingga ke cita-cita

yang tak kunjung kau pahami

 

(Jakarta, Juli 2023)




Mimpi                Asimetris

 

picasso   melukis  wajahku

dengan                   simetris

saat aku membaca resolusi

the castle          franz kafka

dengan earphone di kuping

dan    kepala   mengangguk

mengikuti 4’33”  john cage

 

(Jakarta, Juli 2023)




*) Puisi-puisi ini dimuat di Kurungbuka.com pada 6 Juli 2024.

Rabu, 17 Juli 2024

INTUISI CALON KORBAN -- Sebuah Cerpen


*Sumber Gambar: Basabasi.co



Wanita baik mendengarkan para lelaki; wanita jahat mendengarkan intuisi sendiri.

Kantung sampah di pundakku mendadak jebol, pakaian-pakaian kotorku terhambur ke aspal dengan genangan air, ketika dari depan gang terdengar seorang pria berkata, “Bisa saya bantu?” Aku langsung tahu: ia tak hendak membantu. Tak ada pria yang hendak membantu seorang wanita asing pada pukul dua pagi, di sebuah gang sempit. Intuisiku otomatis menggarisbawahi salah satu tanda dari pria yang tak akan membantu wanita.

Pertanda pertama: Ia menawarkan bantuan di waktu yang seolah terlalu tepat.

Mungkin ia telah memantauku sejak taksi menurunkanku di depan gang sempit ini. Mungkin ia telah menganalisa kelayakanku sebagai mangsa. Pada dasarnya, seorang wanita yang sendirian menyeret koper dan menyampirkan kantung sampah berisi penuh di pundak adalah mangsa empuk untuk ditawarkan bantuan—terlebih rok kremku hanya selutut.

Dan ia mendekat, setenang pria ramah pada umumnya. Lampu jalan bercahaya pucat, yang dikepung kawanan laron, membuat wajah pria itu tenggelam dalam bayangan lidah topi hitamnya. Sweternya hitam, celana panjangnya hitam, dan sandal jepitnya berkecipak tiap menginjak bagian aspal yang tergenang air. Aku ingin berteriak, tapi kerongkonganku masih panas dan perih setelah dua hari tanpa henti meneriakkan kata-kata kotor pada mantan pacarku. Suara serak akan membuatku tampak semakin lemah, semakin ideal untuk ditawarkan bantuan.

Di kiri-kananku tak lain dinding bagian belakang rumah-rumah dan warung-warung tutup yang tak bisa kupanjat. Rumah kontrakanku tepat di belokan sana, lampu berandanya terlihat jelas, pun kawanan laron yang mengerumuninya. Aku hanya perlu berjalan setengah menit lagi memasuki gang ini lebih dalam untuk mencapai rumah—tapi pria itu sudah keburu memungut pakaian-pakaian kotorku hingga memenuhi pelukannya; bra merahku menggelantung di siku kanannya.

Pertanda kedua: Ia memberikan bantuan tanpa persetujuan—dan kelak meminta imbalan.

“Aku bisa bawa semua sendiri,” kataku, cepat-cepat memungut tiga kaus basah yang tersisa di aspal dan menyambar braku yang menggelantung di siku kanannya.

“Jangan sungkan,” balasnya. “Walau lenganmu besar seperti pria, saya yakin kau butuh bantuan.”

“Rumahku sudah dekat. Kau bisa melihat lampunya.”

“Tolong jangan sungkan.”

Pertanda ketiga: Ia tidak menerima penolakan.

Jika aku menolaknya secara lebih kasar, ia bisa menjambak dan membentur-benturkan kepalaku ke dinding. Jika aku berlari ke rumah, ia bisa menangkap dan menjambakku dan membentur-benturkan kepalaku ke dinding. Aku hanya setinggi dadanya, di balik sweter tampak jelas lengan-lengannya kekar dan mengancam—ideal untuk membentur-benturkan kepala siapa pun ke dinding.

“Omong-omong,” lanjutnya, “kebetulan saya hendak melewati rumahmu. Saya harus ke rumah Paman. Ia sedang pulang kampung dan saya harus memberi makan ikannya—tapi saya tak sengaja ketiduran tadi. Yah, pekerjaan saya melelahkan. Ditambah lagi bos saya suka memberi banyak tugas.”

Pertanda keempat: Ia menjabarkan terlalu banyak detail.

Untuk apa ia menjelaskan soal pekerjaan dan bosnya? Pembohong akan selalu merasa perkataannya sulit dipercaya, sehingga ia menambahkan detail-detail tertentu—yang biasanya tak penting—untuk menciptakan kesan lebih realistis.

“Kenapa kau diam?” tanyanya.

“Suaraku serak.”

“Sangat serak. Hampir seperti suara pria. Cepat—sepertinya akan hujan, nanti kita sakit.”

Pertanda kelima: Ia memosisikan diri seolah ia dan mangsanya berada dalam satu tim dengan menggunakan kata kita.

Pertanda keenam: Ia menunjukkan lima pertanda dalam kurang dari lima menit.

Tidak diragukan lagi, ia pria berbahaya. Ia pria yang menunduk bukan untuk menangis karena menyesal, apalagi untuk berdoa; ia pria yang menunduk hanya untuk menyembunyikan wajah, atau menjilat kemaluan korbannya.

Tetapi aku sudah masuk perangkap. Ia sudah membawa pakaian-pakaian kotorku. Hal yang bisa kulakukan hanya berjalan ke rumah, membiarkannya mengikutiku, dan berharap akan ada tetangga yang kebetulan berpapasan denganku. Sialnya, gerimis turun, angin seperti butir-butir es di kulit, dan dalam situasi begini tak akan ada yang keluar dari rumah untuk berpapasan denganku.

Kami tiba di depan gerbang. Tak terdengar suara apa pun dari rumah para tetangga yang berbaris di sebelah kanan rumahku. Angin mengibarkan rokku, membuatku refleks merapatkan kedua paha. Aku membuka gembok, dan gerimis seketika menjadi hujan deras.

“Boleh saya duduk di beranda sampai hujan mereda?” ucapnya. “Hanya di beranda. Janji.”

Pertanda ketujuh: Ia meminta imbalan sekaligus memberikan janji tanpa diminta.

Karena telah membawakan pakaian-pakaian kotorku, ia pikir aku akan ragu untuk menolak permintaannya: inilah imbalan yang ia harapkan—sebelum menuntut imbalan yang lebih besar—dan untuk meyakinkanku bahwa imbalannya tak seberapa, ia menyertakan janji di akhir kalimat. Aku tak ragu untuk menolak. Aku tak takut menjadi wanita jahat. Tapi, aku takut ia mencekik leherku dan tak ada seorang lain pun yang lewat. Ia menggiringku memasuki jebakan lebih dalam.

Untungnya aku sudah memikirkan cara lain untuk selamat. Setelah tiga tahun berhubungan dengan mantan pacar, aku tahu kapan saatnya memakai cara lain untuk selamat—itu kenapa aku berhasil pergi dari rumahnya hari ini.

Pria itu mengikutiku melintasi halaman berlapis kerikil, menuju beranda berlapis sayap-sayap laron yang rontok. Saat kubuka kunci pintu depan, ia meletakkan seluruh pakaian kotorku di kursi kayu beranda—tentu untuk lebih mudah menyerang. Dari pantulan kaca jendela di samping pintu, kudapati ia menatap lekat wajahku; ternyata ia lumayan muda, mungkin dua puluhan awal; samar-samar kutangkap aroma alkohol. Aku pun membuka pintu ruang depan. Nanti, ia pasti mencari-cari alasan untuk memasuki ruang dalam.

“Saya akan duduk di sini,” kata pria itu. “Kalau kau curiga pada saya, silakan kunci pintu. Saya akan pergi sendiri dan menutup gerbang jika hujan mereda.”

Tunggu. Ini di luar prediksiku. Kenapa ia tak berusaha masuk?

“Baik,” jawabku.

Aku meletakkan koper di samping meja ruang depan, lalu memindahkan tumpukan baju dari kursi beranda ke sofa, dan mengunci pintu sambil bernapas lega. Dari celah gorden, tampak pria itu duduk di kursi beranda dan menyulut rokok. Semua sepertinya aman. Aku menyalakan lampu demi lampu.

Di depan wastafel dapur, aku melepas wig, membasuh wajah dan ubun-ubun, dan menyekanya dengan bagian perut bajuku. Meski tak terdengar tanda-tanda bahwa pria itu berusaha masuk, aku tak boleh lengah: kuselipkan pisau dapur ke belakang pinggang rokku.

Agar lebih aman, aku menelepon polisi—meski benci berurusan dengan polisi. Kulaporkan bahwa ada pria asing yang membuntutiku, dan kini berdiam di beranda, dan kuucapkan alamatku.

“Maaf,” balas polisi di seberang telepon, “Anda seorang wanita?”

“Tentu .… Apa maksud dari pertanyaan itu?”

Sang polisi pun mengatakan bahwa akan ada yang segera menuju rumahku, sebelum mengakhiri panggilan.

Dan terdengar hujan mereda, kembali ke gerimis. Aku memakai kembali wig dan mengintip ke beranda lewat jendela di samping pintu: pria itu tak tampak di mana pun. Gerbang tertutup. Apa pria itu sudah pergi? Apa intuisiku sejauh ini salah? Mungkin pria itu memang mengerikan, tapi tidak berbahaya. Apa pria itu kabur karena intuisinya mengatakan bahwa aku akan menelepon polisi?

Bagaimanapun, aku tak akan membatalkan perjalanan polisi kemari. Aku akan menunggu polisi di beranda sambil merokok, dan akan kujabarkan ciri-ciri pria itu untuk mengantisipasi kemungkinan tindakannya di lain hari.

Aku membuka pintu dan—bajingan!—ia di balik pintu! Tentu saja ia di balik pintu; tak ada terdengar suara gerbang dibuka dan ditutup kembali, tapi alam sadarku tak memprosesnya sebagai pertanda bahaya—dan tangan kanan pria itu telanjur menahan pintu ke dinding.

“Pas sekali. Saya baru akan mengetuk, tapi ragu-ragu.” Ia melempar topi hitamnya ke sofa ruang depan dengan tangan kiri, mendarat tepat di tumpukan pakaian kotorku. “Boleh pinjam toilet? Setelahnya saya akan langsung pergi. Janji.”

Aku menarik pisau dari pinggang dan menodongkannya ke wajah pria itu. “Kau hendak memerkosaku. Mungkin membunuhku juga!”

“Whoah! Tenang!” Ia mundur selangkah, dua langkah.

“Aku akan berteriak!” Mataku menghangat. Kerongkonganku terbakar dan aku tak mungkin berteriak. “Para tetangga akan dengar!”

“Saya hanya ingin kencing. Kalau tidak diizinkan meminjam toilet, saya bisa kencing di got. Tidak perlu menodongkan pisau.”

“Tidak ada yang bisa menipu intuisi wanita!”

“Wanita?” Ia tertawa mencemooh. “Kau bukan wanita.”

Aku terdiam. Tanganku gemetar. Mata pisauku berkilau. Bayangan kawanan laron di sekeliling lampu beranda berputar-putar di wajah pria itu.

“Maaf,” sambungnya. “Orang buta pun akan tahu itu, karena suaramu bukan suara wanita.”

“Aku wanita. Dari lahir aku wanita ....”

“Ha ha! Tadi, intuisi saya mengatakan bahwa kau bukan wanita—tapi saya ragu. Saya baru benar-benar percaya begitu tiba di sini, di tempat terang ini. Tapi ya sudahlah, anggap saja ini pengalaman baru.”

Ia terbahak-bahak, menyelipkan tangan kanan ke saku sweter—ke saku!—aku langsung menyayat lehernya!

Angin membawa sayap-sayap laron yang rontok masuk ke ruang dalam. Gerimis yang jatuh ke kerikil pelapis halaman menyebar suara statis ke seisi kepalaku.  Pelan-pelan, pria itu meraba leher, terbelalak menatap darah di jari-jarinya yang gemetar—aliran darah meresap ke kerah sweter—ia pun menjerit.

Ia berlari ke gerbang, aku mengejar dan menebas belakang lehernya—ia terjatuh menghantam kerikil basah—aku menjambak dan membuatnya mendongak—bagian depan lehernya kusayat lebih lebar—darah memancur ke kerikil seperti gerimis.

Dan, dari suatu jarak, terdengar sebuah mobil mendekat. Aku melepas pria itu, yang seketika telungkup dan mengejang lemah. Udara dingin menyusup ke balik pakaian dan menggerayangiku; pandanganku mengabur oleh air mata dan sentuhan gerimis. Intuisiku berkata: Ada bahaya lain. Selalu ada bahaya lain bagi wanita jahat. Wanita yang mendengarkan intuisi sendiri. Wanita sepertiku.




*) Cerpen ini dimuat di Basabasi.co pada 7 Juni 2024.

Senin, 20 Mei 2024

TAS YANG AKAN MEMBAWANYA KE SURGA -- Sebuah Cerpen

*Ilustrasi oleh: Anto Doso




Maryam tiba di gerbang khusus pejalan kaki Holyone Club setelah empat puluh menit berjalan dari masjid. Rambut di balik jilbabnya basah, pun wajah di balik cadarnya; otot pundaknya perih berkat tas punggung hijau yang terisi penuh hingga risletingnya hampir jebol.

Langit sore cerah perlahan menggelap. Beberapa jarak di sebelah kanan Maryam, mobil-mobil melewati portal menuju area parkir klub yang hampir penuh, menyejajarkan diri mengikuti garis marka kuning di bawah lampu-lampu bercahaya pucat. Di balik barisan mobil, terlihat si Sekuriti memeriksa para pengunjung yang mengantre memasuki klub dengan detektor logam. Bangunan klub berbentuk kubus hitam seperti Ka’bah raksasa, papan namanya bercahaya emas di atas pintu masuk, dan deretan jendelanya menampakkan kilatan hijau dan ungu dan merah.

Maryam mendadak tersadar: hampir semua pejalan kaki yang memasuki klub memerhatikannya dengan heranhanya ia yang berjilbab dan bercadar. Maryam segera berbalik, menyeberang ke sebuah minimarket, dan meminjam kamar mandi.

Dinding kamar mandi dipenuhi coretan. Dari gambar kelamin pria, kalimat ajakan berbuat tak senonoh, hingga kalimat bijak seperti: Apa yang kau berikan, akan kembali padamu. Dengan tatapan nanar, Maryam menghadap cermin, melepas jilbab serta cadar, dan mengantunginya di saku samping tas. Ia menggerai rambut lepeknya, menarik napas panjang hingga pesing menyentak tenggorokan, dan keluar dari minimarket; angin berdebu mencakar ubun-ubun dan wajahnya.

Ia baru akan menyeberang kembali ke Holyone Club, ketika ada yang menarik-narik pinggang gamisnya dari samping: seorang gadis gelandangan berusia sembilan tahun, berambut kusut sepunggung, dan mata kirinya yang buta dikelilingi bekas luka bakar hingga alisnya botak. Jantung Maryam berdentam.

“Lapar ....” kata si Gadis Gelandangan.

Dengan tangan gemetar, Maryam mengeluarkan lima puluh ribu Rupiah lecak dari dompet batik cokelat, dan meletakkannya ke genggaman si Gadis Gelandangan.

“Pergilah dari sini,” kata Maryam parau, tertutup raung kendaraan-kendaraan, “sejauh-jauhnya ....”

Si Gadis Gelandangan berkata, “Hah?” tapi Maryam keburu menyeberang—motor-mobil mengerem dan memekikkan klakson—dan memasuki area parkir Holyone Club. Maryam menyebar pandangan: di sudut, dekat tempat sampah dengan plastik-plastik sampah bertumpuk, sepasang bule pria dan wanita keluar dari sedan abu, berjalan ke pintu masuk sambil berangkulan. Di sana sedang tak ada antrean; si Sekuriti memeriksa dan mempersilakan mereka masuk, lantas Maryam melangkah cepat ke sedan mereka.

Dari titik ini, dalam apitan sedan abu dan mobil lain, si Sekuriti tak akan melihat Maryam. Orang-orang yang melintasi gerbang juga tak akan melihatnya sebab terhalang barisan mobil lain. Ia melirik jam tangan, menurunkan tas hijau dari punggung hingga berdebum di aspal—pundaknya sontak lega—dan menyelipkan tangan ke dalam tas. Ujung telunjuknya menemukan sebuah tombol dingin. Ia menekannya. Bunyi klik! menceloskan jantung—ia cepat-cepat mendorong tas itu ke kolong sedan.

Tak muat. Entah tas terlalu penuh dan gemuk, atau kolong sedan terlalu rendah. Tas hijau tak muat dimasukkan ke kolong sedan, sekuat apa pun Maryam mendorong. Ia mencoba mendorongnya ke kolong mobil lain di sebelah: tak juga muat.

Napas Maryam sesak. Pelipisnya berdenyut-denyut. Ia berusaha tenang, melangkah menyusuri barisan mobil seraya mendekap tas hijau di dada, dan tatapannya terpaku pada sebuah mobil putih berkolong lumayan tinggi. Sejenak Maryam menoleh ke sekeliling: tak ada yang melintasi gerbang; si Sekuriti merokok seraya memandangi langit. Ia pun berjongkok di belakang mobil putih dan, saat hendak mendorong tas ke kolong, dari mobil tersebut keluarlah dua orang pria bule. Kerongkongan Maryam tercekat: kaca mobil gelap, sebelumnya tak terlihat siapa pun di dalam sana.

Kedua pria bule itu setinggi sekitar seratus delapan puluh sentimeter, berbaju tanpa lengan sehingga otot kekar mereka tampak, dan bermata kemerahan-berair. Pria yang keluar dari balik kemudi berkulit gelap dan botak; pria yang keluar dari jok sebelahnya berkulit pucat dan berambut keriting pirang. Bayangan mereka memanjang, menimpa Maryam yang masih berjongkok dan mendongak menatap wajah mereka.

Assala—Halo,” Maryam refleks berkata, terbata dan parau dan gemetar. Ia memaksakan senyum tetapi gagal; ia berdiri dan mendekap tasnya erat.

Kedua bule membalas salamnya. Lalu si Kulit Pucat mengucapkan sesuatu dalam bahasa Inggris yang tak Maryam pahami, menunjuk Maryam dengan telapak tangan kanan terbuka, rautnya bertanya-tanya bercampur curiga—begitupun raut si Kulit Gelap.

Maryam menelan ludah dan asal menjawab, “No, no ....

Kedua bule semakin bingung dan curiga. Si Kulit Gelap berbisik ke si Kulit Pucat, sesekali mencuri pandang ke Maryam. Mereka tak berdiri stabil; sesekali mereka kehilangan keseimbangan, dan salah satu kaki segera menguatkan pijakan. Sesaat hanya terdengar kendaraan-kendaraan melintas di depan gerbang dan sekawanan burung gereja melintas di langit. Tiba-tiba, kedua bule terbahak-bahak.

Maryam melangkah cepat meninggalkan mereka—si Kulit Pucat langsung berlari menghadangnya. Perempuan itu mendengar napas si Kulit Gelap di belakang; keringat dingin melengketkan gamis ke kulit punggungnya. Ia menoleh ke belakang, ke arah si Sekuriti, tapi terhalang buntalan otot lengan si Kulit Gelap.

Si Kulit Pucat mengucapkan sesuatu ke Maryam dengan senyum agak bersahabat. Dari intonasinya, kalimat itu adalah pertanyaan.

Maryam berhasil tersenyum tipis dan asal menjawab, “Yes. Yes.

Si Kulit Gelap mendadak menyodorkan sejumlah uang dan mengucapkan sesuatu. Maryam tak menjawab, kebingungan—kalimat si Kulit Gelap terdengar seperti penawaran yang ramah. Uang yang disodorkannya adalah lima lembar seratus ribu Rupiah. Si Kulit Pucat menimpali si Kulit Gelap, menunjuk uang dengan tangan terbuka, lalu menunjuk Maryam, lalu menunjuk uang lagi, dan begitu terus beberapa kali. Si Kulit Gelap menambahkan beberapa lembar seratus ribu Rupiah lagi, dan berkata sesuatu seraya menatap lekat mata Maryam. Entah bagaimana, tatapan itu terkesan kebapakan.

Maryam mempertahankan senyum tipisnya dan membalas, “Yes …?”

Kedua bule pun tersenyum lebar. Si Kulit Pucat menyambar tas hijau dari dekapan Maryam dan memasukkannya ke jok belakang mobil; si Kulit Gelap meletakkan uang ke genggaman Maryam dan merangkul pinggangnya. Perempuan itu mengernyit; bau alkohol dari mulut sang bule menggores hidung. Mendadak si Kulit Gelap menariknya secara bertenaga ke mobil hingga langkahnya terseret-seret—Maryam refleks menepis tangan si Kulit Gelap untuk melepaskan diri, mundur beberapa langkah, memekik, “Mau apa kalian?!”

Kedua bule melempar tatapan heran bercampur protes. Dingin menyebar di sekujur tubuh Maryam. Si Kulit Gelap mengatakan sesuatu dengan nada protes yang dibuat ramah, seraya menunjuk uangnya yang masih di tangan Maryam, lalu si Kulit Pucat menyambung dengan kalimat gertakan dan tinju teracung.

Maryam menoleh ke pintu masuk klub. Si Sekuriti menatapnya curiga, mengucapkan sesuatu lewat HT, sebelum melangkah cepat ke arah mereka.

Kedua bule menyadari kehadiran sang sekuriti dan panik. Mereka langsung memasuki mobil dan mesin menggeram; Maryam berlari ke gerbang; mobil putih melesat dan spionnya menghajar lengan perempuan itu; ia terjatuh dengan wajah menghantam aspal; uangnya tercecer.

“Kau baik-baik saja …?” kata seseorang yang berdiri di sampingnya.

Maryam berusaha menopang tubuh dengan siku. Angin bertiup. Tatapannya yang terpecah perlahan membaik: si Sekuriti bergerak cepat memunguti uang yang tercecer; detektor logam terayun di pinggangnya. Maryam pun berhasil berpijak dengan lutut, lengannya yang terhajar spion berdenyut-denyut.

“Kau baik-baik saja?” tanya si Sekuriti lagi, mendekati Maryam, merapikan tumpukan uang di tangan.

Maryam berdiri dengan kaki gemetar, mengangguk, dan menyeka debu di pakaian.

Si Sekuriti mengembalikan uang Maryam. Perempuan itu memasukkannya ke dompet batik cokelat, lalu melirik jam tangan—muntahan menyodok pangkal lidahnya. Si Sekuriti bertanya apa ia butuh bantuan, tapi Maryam tak menjawab dan segera berlari ke gerbang.

Maryam menyeberang ke minimarket. Di emperan, si Gadis Gelandangan duduk dan memakan roti dengan lahap, botol air mineral mengembun di pangkuannya. Gadis itu menyapa, tapi Maryam tak menjawab dan buru-buru membuka pintu minimarket, membeli handuk dan masker, dan meminjam kamar mandi. Dengan tatapan nanar, Maryam menghadap cermin, menjadikan handuknya jilbab, dan maskernya cadar.

Air matanya mendadak tumpah. Ia terduduk di lantai basah, terisak-isak, tersandar ke dinding; tepat di atasnya terentang tulisan: Apa yang kau berikan, akan kembali padamu.

Lima belas menit kemudian, saat melintas di depan masjid, sebuah mobil putih meledak.




*) Catatan: Cerpen ini dimuat di Kalam Sastra pada 24 Maret 2024.

Sabtu, 06 April 2024

MENJUAL MAMA -- Sebuah Cerpen

*Sumber Ilustrasi: Pixabay



Mamaku berusia 40 tahun, jerawat pada dahi dan pipinya mirip bakso busuk berlumur darah, dan harusnya membuat pria mana pun berpaling—bagaimanapun aku akan menjualnya seharga empat juta Rupiah per malam.

“Deal!” Anton menjabat erat tanganku, dan kubayangkan seerat inilah kelak tangan beruratnya meremas bongkahan daging. Bibirnya gelap dan pecah-pecah dan basah, senyumnya menunjukkan betapa tak sabar ia menunggu malam besok tiba. “Pakailah satu juta untuk bersenang-senang. Satu juta lagi untuk deposito. Dan dua juta sisanya untuk membeli saham. Harga saham Bank Central sedang turun, kau tahu?”

Anton adalah teman sebangkuku di sekolah, kulit cokelatnya selalu lembap karena keringat, dan jejak keringat dari lengan bawahnya selalu tertinggal di meja. Aku benci ia karena badan gempalnya berbau celana dalam basah yang sedang dijemur—meski agak tertutupi aroma parfum khas pria-pria berjas—tapi di lain sisi aku menyukainya: ayahnya investor kaya, dan bakat bercinta dengan uang tampak jelas menurun padanya, dan, “Akan kuturunkan bakat itu padamu—kalau kau berminat.” Penawaran itu ia ajukan padaku saat jam istirahat di kantin, setelah paginya kuberi ia contekan ulangan agama. Ia menunjukkan iPad dengan layar penuh grafik harga saham, dan aku yakin di sanalah tergambar rahasia kekayaan para investor.

Aku menyetujui penawarannya: aku ingin menjadi kaya dan pergi jauh dari mamaku.

Sejak hari itu, sepulang sekolah kami kerap bertemu di warung makan dekat rumahku. Dinding warung penuh jamur dan pemiliknya tampak ingin bunuh diri di balik meja kasir saking sepi warungnya; dalam suasana ruangan depresif itulah Anton menguliahiku tentang investasi berbekal berbagai grafik dan tabel di layar iPad. Dan seminggu kemudian, berkat warung yang dikelilingi garis polisi sebab si Pemilik Warung menggorok leher sendiri, kuliah investasi dilaksanakan di ruang tamu rumahku dan di sanalah, untuk pertama kalinya, Anton melihat Mama.

Perkuliahan dari Anton selesai pada pukul setengah enam sore, bertepatan ketika Mama pulang dari kantor dengan kemeja putihnya, yang menguning di bagian ketiak dan menampakkan lipatan-lipatan lemak di perut. Mama hanya mengangguk singkat pada Anton seraya melewati sofa tempat kami duduk berdua, lalu menghilanglah ia di balik pintu kamarnya. Dan, setan alas, tatapan Anton tak kunjung lepas dari pintu kamar itu. Aku berkelakar, menyebut tatapannya mengesankan ia ingin memangsa Mama. Anton membalas, “Kata ayahku, orang kaya adalah orang yang tahu cara membuat sesuatu menjadi aset. Aku bisa mengajarkan jurus itu padamu—kalau kau berminat.”

Demikianlah prolog dari penawaran Anton untuk membeli Mama.

Tidak, aku bukan menjual Mama—menurut Anton begitu—melainkan menjadikannya aset, yang akan membantuku dalam berinvestasi secara rutin. Anton menjelaskan hal ini dengan ancang-ancang bergerak mundur, plus persiapan melindungi wajah dengan lengan, semisal aku tiba-tiba melayangkan telapak kaki tepat ke wajahnya. 

Tapi, aku malah tersenyum.


***


Mama lebih dulu menjadikanku aset. Waktu itu aku masih bocah TK, dan beberapa bulan sebelumnya menyaksikan secara langsung Ayah tergilas truk pengangkut uang, saat ia menyeberang ke taman tempatku bermain ayunan. Selama masa berkabung, Om Burhan—teman sekantor Mama—sering berkunjung ke rumah pada sore hari, dan di beranda mereka membicarakan entah apa; terkadang kudengar Mama menahan isak tangisnya. Sesekali Mama menyuruhku membawakan teh untuk Om Burhan, dan pria itu selalu mengelus kepalaku setiap kuletakkan secangkir teh di meja beranda untuknya. Dan selama ia mengelus kepalaku, aku berusaha keras tak melihat perut buncitnya yang berkeringat, yang mengintip dari balik bukaan di antara kancing kemeja.

Setelah lewat masa berkabung, Om Burhan jadi semakin sering bertamu. Mama dan pria itu mulai berbicara di ruang dalam. Lalu, hari demi hari, Mama mulai sering menyuruhku duduk di samping Om Burhan selama mereka berbincang berhadap-hadapan. Aku yang tak mengerti pembicaraan mereka hanya diam seraya membaca komik, dan pria itu mengelus-elus kepala lalu pundak lalu punggungku. Aku masa bodoh dengan hal itu. Sampai suatu hari, dari punggung, tangan kiri Om Burhan bergerak ke pahaku, dan tangan kanannya menyodorkan sejumlah uang ke Mama. Kedua orang dewasa itu kemudian mengajakku ke kamar. Sejak hari itulah aku menjadi aset Mama. Ia cukup duduk di depan cermin, melempariku tatapan membujuk, sementara aku duduk dengan wajah tolol di kasur, selagi Om Burhan melakukan hal yang membuatku ingin memenggal tubuh sendiri dari pinggang ke bawah. 

Sekali waktu aku meringkuk dan menangis di sudut kamarku. Mama memelukku dan berkata akan membelikanku es krim, sedang separuh wajah Om Burhan mengintip dari balik pintu kamar. Aku berbisik, “Aku takut,” dan barangkali aku berkata begitu lebih dari lima kali, sebelum Mama berdiri dan mengajak Om Burhan keluar. Pintu kamarku masih terbuka sedikit. Dan terdengarlah suara tamparan. Dan terdengarlah suara tubuh menumbuk lantai. Dan terdengarlah jeritan Mama—yang terputus segera. Aku semakin takut berpindah dari sudut kamar. Tak lama Mama kembali ke kamarku dengan mata merah berair, ia menamparku dan menarikku ke kamarnya di mana Om Burhan menunggu.

Aku tidak akan bermain sekasar Mama. Toh, rasanya lukaku sudah lumayan terobati, sejak kudengar Om Burhan mati dengan leher koyak di suatu bilik ATM. Aku tidak ingin mendapatkan karma sebrutal Om Burhan karena bermain kasar ke Mama. Aku akan menjadikan Mama aset secara halus, bahkan mungkin tanpa dirinya sadari.


***


Jumat malam, Anton berkunjung ke rumahku dengan tiga porsi spageti bolognese dalam kotak gabus. “Malam yang indah untuk kuliah investasi,” katanya. Sebelum memulai sesi perkuliahan, aku, Anton, dan Mama duduk di meja makan; malam ini Mama tampak ceria karena ia tak perlu repot memasak maupun memesan makanan; malam ini Anton tampak ceria sebab aku, sebagai muridnya, akan mempraktikkan satu tahap penting dalam berinvestasi. Ia tampak tak sabar betul melihatku menjadi sekaya ayahnya; senyumnya lebar saat ia meletakkan seporsi spageti di hadapan mamaku.

“Selamat makan.” Anton menyeka garpu dengan tisu. “Pasar saham boleh mengecewakan, tapi rasa spageti di tempat langgananku ini selalu menyenangkan.”

Kami mulai makan. Dan makan malam tak pernah semenegangkan ini bagiku. Urat-urat kepalaku menjadi batu yang panas; tulang leher dan punggungku menjadi sebongkah es. Bumbu bolognese menempel di sudut bibir Mama, dan ia menjilatnya dengan ujung lidah, dan Anton mencuri pandang padanya seraya memuntir-muntir spageti. Yang kucemaskan hanya satu: mungkin saja aku atau Anton yang dalam lima menit kedepan akan mendadak mengantuk—bukannya Mama. Sebelumnya Anton mengatakan ia sudah memberi tanda khusus di kotak gabus spageti untuk Mama, tapi tetap saja kecemasan menancap di ubun-ubunku, tetap saja peluru bisa melesat ke jantung yang salah.

Seusai makan, Mama kembali ke kamar, dan Anton menunjukkan sejumlah berita politik terbaru lewat iPad, menjabarkan analisanya mengenai pengaruh berita itu terhadap pergerakan harga saham. Jam di sudut kanan layar iPad menunjukkan tepat setengah delapan. Terdengar gerbang rumahku diguncang-guncang angin, dan ventilasi mendesis-desis. Aku tak memerhatikan pembicaraan Anton; pikiranku kembali ke taman itu: aku berdiri menghadap jalan, di mana mayat Ayah tertutup lembar-lembar koran yang cepat memerah. Mayat Ayah dipunggungi dua orang polisi lalu lintas. Mereka tak sekeren empat polisi bersenapan yang berjaga beberapa jarak di samping mereka, mengelilingi truk pengangkut uang yang tumbang menyamping, dengan pintu bak terbuka, dan lembar-lembar uang tercecer.

“Sekarang …?” tanya Anton.

Aku memberinya isyarat untuk menunggu.

Aku melangkah ke kamar Mama. Jantungku jantung seorang yang bersemangat, tapi kakiku kaki seorang yang melangkah ke tiang gantungan. Aku membuka pintu kamar Mama perlahan. Udara dari pendingin ruangan membekap wajahku. Mama berbaring menyamping, membelakangi pintu. Lampu ruangan masih menyala, dan wajah Mama terpantul di cermin. Tidurnya nyenyak. Aku menarik-narik kakinya. Ia sama sekali tak terganggu. Aku pun kembali ke meja makan, tersenyum pada Anton, dan lelaki itu bertanya, “Berapa nomor rekeningmu?”

Sebelum Anton menutup pintu kamar Mama, ia berkata, “Harga saham Bank Central sedang turun, kau ingat?”

Aku mengangguk. Dan pintu ditutup. Hujan pun turun, menutup suara apa pun yang akan terdengar dari kamar mamaku. Itu sungguh melegakan.

Besok pagi, aku akan membeli lot saham pertamaku.




*) Cerpen ini dimuat di Nongkrong.co pada 2 Maret 2024.