Rabu, 18 Maret 2026

HARI INI PEKERJAANMU BELUM SELESAI -- Sebuah Cerpen

*Ilustrasi oleh: Kurt D. Peterson



Hari ini kau selesai bekerja pukul 19.36
―sedikit lebih cepat, eh?―lalu berdiri berdesak-desakkan di bus bersama mereka yang (semoga saja) sama pecundangnya denganmu, dan tiba di depan pintu kamar indekos pukul 21.01. Akhirnya hari ini berakhir, kau membatin, siap betul untuk membuat keturunan dengan istrimu malam ini juga, sekaligus merayakan ulang tahun pernikahan kalian. Tapi, begitu membuka pintu kamarmu, kau melihat ruang kerjamu di kantor.

Benar, matamu tak salah lihat, Pecundang.

Di balik pintu kamarmu, kau menemukan ruang kerjamu dengan meja rapat di tengahnya, plus Fatur dan Ryan dan Diana yang masih sibuk dengan laptop masing-masing di sana―dan tadi kau telah mengucapkan, “Selamat tinggal, Pecundang,” pada mereka. Entah ke mana lenyapnya kasur tanpa ranjangmu, lemari pakaian kainmu, maupun istrimu; entah ke mana lenyapnya kamar indekosmu.

Dan, terdengar langkah-langkah berat itu dari ruang kerjamu, dari kanan pintu; semakin lama semakin dekat, semakin memualkan seperti biasa. Akhirnya, masuklah babi itu ke area pandanganmu. “Kau tidur di toilet, eh?” ucapnya, membetulkan letak kaca mata di atas hidung yang penuh komedo. “Revisi.”

Oke, Bung, silakan tarik napas. Wajar jika kau tak siap menghadapi pemandangan ini. Toh, kau jarang siap menghadapi apa pun.

Omong-omong, babi itu bilang toilet? Kau menoleh dari kiri ke kanan: di ujung koridor terdapat tangga menurun, lalu kamar nomor 1, kamar nomor 2, kamarmu, dan kamar nomor 4, diakhiri dengan kamar mandi bersama―seekor kecoak keluar dari celah bawah pintunya, kemudian merayap ke celah bawah pintu kamar nomor 4, dari mana tangis bayi meledak tiba-tiba. Kau jelas berada di koridor rumah indekosmu, bukan toilet kantor―dan, yap, yang ada di depanmu memang ruang kerjamu; udara dingin dari sana merambat keluar dan membelai wajahmu.

“Hei,” kata si Babi. “Deadline!”

Dengan tungkai selemas kertas HVS basah, kau melewati birai pintu kamarmu, memasuki ruang kerja, aroma deodoran si Babi menghantam hidungmu. Diana bangkit dari kursi, memutari setengah meja rapat dengan langkah cepat―cukup cepat untuk ukuran ibu hamil hingga kau khawatir perutnya jatuh menggelinding―dan memasuki ruang di belakangmu: toilet. Pelipismu berkedut-kedut, wajar saja, semua pecundang mengalami ini―dan kau duduk di kursimu, mengeluarkan laptop dari tas, lalu menyalakannya. Sempurna.

“Adegan pembukamu kurang mengena,” kata si Babi, terlalu dekat sampai perut buncitnya mencumbu sikumu; kemeja kotak-kotaknya lembap karena keringat. “Dan soal desainmu, warnanya kurang menarik.”

Kecoak busuk. Apa yang harus kau lakukan lebih dulu? Merevisi skrip? Merevisi desain? Jangankan menentukan urutan pekerjaan, otakmu yang mengerut dan dihuni nimfa kecoak sudah tak sanggup lagi merumuskan apa sebenarnya profesimu. Tanpa sadar, tangan kananmu telah memijat ubun-ubun, tangan kirimu telah memijat bagian bawah punggung yang sejak dua bulan lalu nyeri dan pasti akan selamanya begitu.

Diana keluar dari toilet dan kembali ke hadapan laptopnya, persis di seberangmu; si Babi segera memasuki toilet dan terdengarlah ledakan kentut, disusul kucuran tinja encer.

“Bukankah tadi aku sudah pulang?” tanyamu, tapi ketiga temanmu tak menjawab: Diana mengetik cepat dan telinganya tersumpal earphone; di kiri wanita itu Fatur sedang memejam dan memijat-mijat pelipis; di kananmu Ryan bengong memandangi lampu-lampu gedung di luar jendela.

Masa bodoh. Kau keluar dari kantor, memesan ojek daring meski ongkosnya akan membuat istrimu menyetrika wajahmu, dan di sepanjang perjalanan ponsel di saku celanamu bergetar, lalu kau tiba di depan gerbang rumah indekos pukul 21.43: pasti istrimu sudah pura-pura tidur dalam rangka ngambek, karena di jam segini kau tak lagi berstamina untuk memberinya injeksi bibit. Masa bodoh, yang penting kau pulang.

Kau berlari menaiki tangga dan tiba di koridor dengan tangis bayi memekakkan dari kamar nomor 4. Hmm―bau apa ini? Bau ini mengingatkanmu pada hari di mana kau buru-buru memasuki toilet kantor, ketika beberapa detik lalu si Babi baru saja keluar dari sana, dan kau muntah tanpa sempat mengarahkan muntahan ke kloset. Kau cepat-cepat menghampiri pintu kamarmu dan membukanya. Sial. Di balik pintu itu: ruang kerjamu lagi.

“Kau hobi berlama-lama di toilet, eh?” kata si Babi, duduk di hadapan laptopmu, yang lupa kau bawa pulang, yang masih menyala. “Ayolah, deadline!”

Apa kau di toilet kantor sekarang, itu sebabnya tercium tinja si Babi? Tapi terdengar juga pekik bayi dari kamar nomor 4, yang tak mungkin terdengar di toilet kantormu. Kau ingin menjerit seperti tokoh di film-film ketika hidup mereka terpuruk, tapi tak ada yang keluar dari kerongkonganmu.

Kau berlari menuruni tangga dan, bukannya tiba di lantai satu rumah indekos, kau tiba di ruang kerjamu. Kau baru saja turun dari tangga di sudut ruangan. Dari belakangmu, masih terdengar tangis bayi dari kamar nomor 4. Si Babi mengambil jaket dari kursinya di ujung meja dan mengenakannya seraya berkata, “Selamat tinggal―ingat: deadline,” sebelum akhirnya pergi.

“Persetan dengan deadline.” Diana menutup laptop dan mengeluarkan kantung tidur dari tas. Dari balik rok selututnya air ketuban mengucur membasahi lantai, tapi ia tak peduli, begitupun Fatur dan Ryan, seolah mereka yakin sang bayi bersedia menetap di rahim hingga tahun depan. Kemudian Diana merangkak ke kolong meja rapat, menggelar kantung tidur di sana, dan mengucapkan selamat malam.

Fatur dan Ryan turut menutup laptop. Fatur tidur dengan duduk bersandar di kursinya; Ryan tidur telentang di atas meja rapat hingga kaki-kaki meja berkeriut. Kau ingin bertanya pada Fatur tentang istri yang ia tinggalkan di rumah sakit setelah operasi caesar, bertanya pada Ryan tentang pernikahannya besok, dan kau yakin mereka tidak akan menjawab―jadi sebaiknya kau tidur saja.

Kau ingin tidur bersama istrimu, tapi entah jalan mana yang tepat untuk menuju kamarmu: pintu keluar atau tangga naik. Apa tangga naik akan membawamu kembali ke koridor rumah indekos? Hah! Kalaupun iya, pasti kamarmu tetap terhubung ke ruang kerja ini.

Kau pun duduk di depan laptopmu dan mengeluarkan ponsel dari saku celana. Meski terlalu bodoh dalam memilih kantor, kau tak cukup bodoh untuk tak mengabari istrimu. Halo, Sayang, hari ini aku tak bisa pulang―cukup begitu, barangkali. Kau tak perlu repot menjelaskan keajaiban-keajaiban yang mencegahmu pulang; semua akan terdengar nonsens dan membuatmu dituduh selingkuh.

“Hei, bisa kita lanjutkan besok saja?” Panggilan dijawab. Tapi itu bukan suara istrimu.

Kau menjauhkan ponsel dari kuping, memastikan bahwa kau mengklik kontak yang benar: di layar tertulis Ayang. Tapi kenapa yang kau dengar bukan suara istrimu?

“Halo …?” sambung si Babi.

“Kecoak busuk. Kau meniduri istriku?”

“Apa?”

Wajahmu memanas. “Kenapa kau menjawab panggilanku?”

“Tentu karena kau meneleponku ....”

“Kau bersama istriku?”

“Aku di taksi, Bodoh.”

Si Babi menutup panggilan. Benar, kau barusan menelepon Ayang. Kau membuka kontak itu dan, benar, itu nomor telepon istrimu. Tangis bayi dari kamar nomor 4 meningkat beberapa oktaf; Ryan mulai mendengkur. Jika kontak Ayang menghubungkanmu ke Babi, mungkinkah Babi akan menghubungkanmu ke Ayang? Kau mengklik Babi.

“Apa lagi?!” jawab si Babi―kau refleks menutup panggilan.

Jika kau menelepon sembarang kontak, apa yang menjawabnya si Babi juga? Kau mengklik Ibu.

“Kau mau bermain-main?!” jawab si Babi―kau menutup panggilan.

Kau bernapas lega. Tidak mungkin si Babi sedang meniduri ibumu karena ia dikremasi dua tahun lalu; berarti si Babi juga tidak (atau belum tentu) meniduri istrimu. Yah, dunia hanya sedang aneh―yang penting tak ada pria lain yang meniduri istrimu, terutama si Babi.

Tidak, kau tidak berhak bernapas lega. Kau tidak bisa menghubungi istrimu. Pasti kini ia yakin bahwa kau selingkuh, bahwa ia layak mencari suami pengganti, bahwa kau pantas dilempar keluar dari jendela.

Dari posisi telentang, Ryan menelungkupkan diri dan kaki-kaki meja berkeriut lebih keras. Kau ingin tidur juga. Tapi sebaiknya kerjakan revisimu, Pecundang. Kau tak ingin menginap lagi di kantor besok, bukan? Kau ingin segera pulang dan meluruskan kesalahpahaman dengan istrimu―yang terlalu berbakat untuk salah paham―dan melanjutkan keturunan.

Kau membuka fail skrip obat serangga. Pintar, minimal kau sudah memutuskan akan memulai revisi dari mana. Kau membaca adegan pembuka yang menurut si Babi kurang mengena: Seorang ibu rumah tangga menemukan kecoak di dinding kamarnya dan menjerit. Bagaimana cara membuatnya lebih mengena? Apa si Ibu Rumah Tangga menemukan kecoak raksasa? Kau berdiri dan meregangkan tubuh dan pinggangmu berkeretak. Pasti menyenangkan hidup sebagai kecoak karena tak perlu bekerja.

Mendadak meja rapat roboh, laptop-laptop terlempar ke lantai, kaki-kaki meja terpental ke empat arah berbeda―Ryan dan Fatur sontak terbangun; Diana memekik kesakitan dan Ryan buru-buru menarik wanita itu keluar dari himpitan meja. Jika bukan karena Diana, pasti meja akan meremukkan jari-jari kakimu.

“Persetan dengan tidur.” Diana bangkit perlahan, mengibas-ngibaskan debu dari pakaian.

Kau memungut laptop dari lantai dan menekan-nekan tetombolnya di pangkuan: mati total.

Tahu-tahu pintu toilet dibuka dari dalam―oleh si Babi. “Kukira ini pintu apartemenku,” gumamnya, keluar dari toilet, dan menutup pintu. “Sebelum proyek ini selesai, pasti akan begini terus, bukan?”

“Oh, oh, sial!” Dengan gerak cepat Diana melepas celana dalam―dan bayinya meluncur ke lantai bersama sisa air ketuban. Bayi itu menangis nyaring, beradu dengan tangis bayi dari kamar nomor 4.

“Diana, silakan cuti. Sampai jumpa bulan depan,” ucap si Babi. “Yang lain: deadline!”

Diana memungut sang bayi dan keluar dari ruangan, tali pusar yang masih terhubung menggelantung dan terayun-ayun. Sementara itu Fatur dan Ryan memungut laptop masing-masing, kembali bekerja sambil bersila di lantai; Si Babi memasuki toilet, segera terdengar ledakan kentut serta kucuran tinja encer.

Bagaimana cara agar kau tak perlu bekerja―dan tetap dibayar―sampai bulan depan?

Seketika pemandangan di luar jendela benderang. Matamu menyipit, sinar matahari tepat mencolok matamu. Pukul berapa sekarang? Matahari pasti melupakan jam kerjanya yang benar. Sesuatu terbang di luar sana, lalu hinggap di sisi luar kaca jendela. Seekor kecoak. Bayangan raksasanya menimpa meja rapat yang roboh; bayangan antenanya bergoyang-goyang di atas tanganmu … seperti mengajakmu bersalaman.

Dan kau berdiri, laptop terjatuh dari pangkuanmu. Apa ia kecoak dari rumah indekos yang datang untuk menjemputmu? Kau menggeser kaca jendela. Kecoak itu berdesing melewati telingamu dan terbang memutari ruangan dan kedua temanmu menjerit seraya mengayun-ayunkan laptop di udara. Si Babi membuka pintu toilet, bertanya kenapa Fatur dan Ryan menjerit―ia refleks menutup pintu dan ikut menjerit begitu kecoak melesat di depan matanya. Kecoak itu pun terbang keluar lewat jendela dan meluncur ke selokan di bawah sana dan kau ingin melompat untuk mengikutinya. Bukankah dengan begitu kau akan berlibur sampai bulan depan? Plus, dengan melompat dari jendela, bukankah istrimu tak akan sampai hati untuk mengomel lagi pada kau yang terus pulang terlambat? Bayangkan betapa damai dunia tanpa omelan istrimu, tanpa omelan si Babi.

Jadi, apa kau sudah siap untuk berlibur, Pecundang?

Kau mulai menyadari suatu suara asing. Suara yang berbicara langsung padamu, dari dalam kepalamu; suara yang menarasikan hidupmu, bahkan mengontrolmu. Dan, suara itu bertanya apa kau sudah siap untuk berlibur. Kau menatap nyalang ke selokan. Fatur dan Ryan dan si Babi masih menjerit, belum sadar bahwa kecoak itu telah pergi; jeritan mereka tak dapat menutupi suara dalam kepalamu yang terus bertanya, terus bertanya, terus bertanya―dan kau melompat.

 

***

 

Oke, Bung, silakan tarik napas. Kau belum mati. Langit-langit ruangan yang bersih jelas bukan langit-langit kamar indekosmu. Pasti kau di rumah sakit sekarang. Dan suara itu belum meninggalkanmu. Yap, aku masih di sini. Selamat pagi. Bukankah kau merasa seperti baru terbangun dari mimpi buruk? Baik, silakan berusaha untuk tak peduli padaku. Silakan meredamku dengan membayangkan hal-hal positif semisal membuat keturunan dengan istrimu.

Kau ingin tidur menyamping, tapi tak bisa. Ada yang aneh dengan punggungmu. Rasanya punggungmu tidak lagi datar, tetapi setengah bola, dan usaha tidur menyamping tidaklah mudah. Kau menggerakkan tangan dan kakimu untuk tidur menyamping, tapi entah kenapa kau tak bisa membedakan mana kakimu, mana tanganmu―syaraf-syaraf kaki dan tanganmu seolah menyatu, kaki dan tanganmu seolah tak ada bedanya―dan … jumlahnya enam?

Sejenak kemudian, kau menyadari dirimu telah berubah menjadi seekor kecoak raksasa.




*) Cerpen ini dimuat di Kalam Sastra pada 7 Desember 2025.

Tidak ada komentar :