Rabu, 18 Maret 2026

MALAM PERTAMA, KAMAR 404 -- Sebuah Cerpen


*Sumber Gambar: Kompas.id




Telentang di kasur, tangan kirinya menurunkan karet celana, tangan kanan meraba guratan-guratan di bawah pusar. Tatapan nanarnya terarah ke pintu balkon dan jendela di sampingnya. Jendela itu tertutup gorden marun tipis, menyala oleh cahaya bulan dan lampu-lampu jalan: satu-satunya sumber cahaya di kamar.

Ia mengambil ponsel dari samping bantal, mengangkatnya ke atas wajah, membuka chat di sebuah aplikasi. OTW. Pesan dikirim pukul 20.32. Di sudut kanan atas layar ponselnya: 21.04. Pendingin ruangan berdenging. Kulkas mini di kolong meja rias berdengung. Samar-samar terdengar rengek bayi dan motor-motor yang melintas.

Ting!

Sampai. Pukul 21.05.

Air matanya mengalir ke pelipis, meresap ke rambut hitam sebahu yang terurai di bantal. Jari-jarinya yang gemetar mengetik, Kamar 404, lantai 4. Ketuk saja. Kirim.

Segera ia menyalakan lampu kekuningan di kedua sisi ranjang dan lampu pucat di atasnya. Jejak air mata berbentuk lingkaran kasar tercetak di sarung bantal. Ia menghadap cermin, menarik tisu dari kotaknya di meja rias, menotol-notol basah pada wajah: celak dan bedaknya tak luntur. Ia memaksakan senyum, menyisir cepat rambut dengan jari-jari, mendorong naik cup bra dengan kedua tangan.

“Hai,” ucapnya ke cermin.

“Halo,” ucapnya lagi, lebih ramah.

“Ahh.”

“Aahhh!”

Ia membuang muka, menatap lantai, berdeham-deham. Tukang parkir di kejauhan berseru, “Terus, terus!” Ia menarik napas, menatap cermin lagi—wajahnya merah.

Oh, yes,” desahnya.

Oh, yes!

Pintu diketuk.

Pipinya sontak mengembung—dan ia menelan cairan di mulutnya.

Pintu diketuk lagi. Ia mengepalkan tisu, melemparnya ke tong sampah plastik di sudut. Tungkai gemetarnya mengayun ke pintu, mata kanan mendekat ke lubang intip: di depan pintunya berdiri seorang lelaki berkulit cokelat, berambut pendek keriting, berkacamata dengan bingkai plastik hitam. Perempuan itu mencekungkan telapak tangan di depan wajah, mengembuskan napas lewat mulut, mengendus-endus. Ia pun memasang senyum—membuka pintu.

“Hai!” ia dan lelaki itu berkata bersamaan.

Sang lelaki masuk. Perempuan itu menutup pintu, bunyi sendawa menembus mulutnya yang tertutup.

“Kau beda dengan yang di foto,” ucap si Lelaki, ujung kaki kiri menginjak tumit sepatu kanan, dan meloloskan kaki kanan dari sepatu. “Tapi tidak apa-apa.” Ia mengulang prosedur yang sama untuk melepas sepatu kiri. Senyumnya mengembang.

“Kamar mandi di sana.” Perempuan itu menunjuk pintu kamar mandi.

“Bareng?”

“Maaf. Sendiri-sendiri.”

“Oh, oke.” Si Lelaki menatap asbak di meja rias. “Boleh merokok?”

Perempuan itu tersenyum meminta permakluman, menggeleng.

“Baik.” Sang lelaki menatap pintu balkon. “Kalau di balkon …? Merokok sambil berkenalan.”

“Pintunya terkunci. A-Aku sudah mencobanya dari siang. Terkunci.”

“Baik … pinjam kamar mandi. Ada handuk di dalam?”

Ia mengangguk.

Lelaki itu melepas kedua kaus kaki, menyelipkannya ke dalam sepatu, dan memindahkan sepatu ke sudut di belakang pintu. Kemudian ia melepas sweter kuning, melipat dan meletakkannya di meja rias, sebelum masuk ke kamar mandi.

Air mata perempuan itu lolos lagi. Ia menarik tisu dari kotak, menotol-notol pipi, tersenyum ke cermin. Lehernya berkontraksi. Ia mendorong naik cup bra. Dari kamar mandi, terdengar pergesekan kulit dengan pakaian yang dilepas, dan benturan gesper dengan daun pintu.

Perempuan itu melepas kaus ketat dan legging hitamnya, menyisakan celana dalam dan bra putih. Cermin memantulkan paha atasnya yang penuh guratan seperti di bawah pusar. Di kamar mandi, air mengucur dari pancuran. Ia melengos dan memakai legging serta kausnya kembali, lantas mematikan lampu di atas dan kedua sisi ranjang. Terlalu gelap. Ia menyalakan lagi lampu kekuningan di kedua sisi ranjang, ruangan temaram.

Salak klakson motor bersahut-sahutan. Terdengar rengekan bayi—segera tertutup pekik klakson truk.

Ia membuka laci meja rias, mengambil kotak kondom merah, dan mengeluarkan sebungkus kondom. Ia mengeluarkan sebungkus lagi, mengembalikan kotak itu ke laci, lalu memindahkan kotak tisu ke samping bantal.

Bunyi kucuran air berhenti.

“Boleh bagi Listerine?” kata si Lelaki dari kamar mandi.

“Silakan.”

Terdengar segel plastik Listerine dirobek, tutupnya diputar—krak—ia jatuh terduduk ke tepi kasur. Derak roda troli petugas hotel melintas di depan pintu. Lampu di kedua sisi ranjang berdengung sesaat. Kakinya gemetar. Terdengar cairan dikumur-kumur, plus pergesekan handuk dengan kulit.

Ponselnya berbunyi singkat. Halo. Open? Daerah mana? Ia menutup aplikasi, mengaktifkan mode senyap; napasnya mengencang. Cairan dilepehkan—ponselnya terlepas dari tangan, menghantam lantai. Air keran mengucur, lubang wastafel menelan air: grok-grok-grok.

Ia memungut ponsel, meraba layarnya dengan telunjuk kanan—air keran berhenti mengucur. Napasnya tertahan. Knop berderik. Pintu kamar mandi pun dibuka, lelaki itu keluar. Ia tidak berbaju, tidak bercelana; handuk putih melingkari pinggang.

“Sudah bersih-bersih?” tanya si Lelaki.

“Belum. Permisi.”

Sang Lelaki menyingkir. Perempuan itu hendak melewatinya untuk memasuki kamar mandi—dan terdengar tangis bayi. Tangis nyaring. Tatapannya terlempar ke pintu balkon.

“Kamar sebelah?” tanya si Lelaki, menatap pintu balkon juga.

“Kamar sebelah.”

“Oh ya, maaf,” sambungnya. “Boleh uangnya duluan?”

“Tidak setelah selesai …?” Lelaki itu mengernyit. “Biasanya setelah selesai—kalau dengan orang lain.”

“Baik.”

Ia memasuki kamar mandi, mengunci pintu, muntah ke kloset—tangis bayi mengeras. Air matanya menetes-netes ke muntahan. Ia membilas kloset, berkumur-kumur dengan air keran wastafel, lalu membuka Listerine, berkumur-kumur lagi.

Ctak! Pintu balkon dibuka.

Ia terdiam. Tatapannya kosong. Semua suara menghilang, kecuali tangis bayi yang semakin jelas. Listerine keluar lewat sela bibirnya, mengalir ke dagu, menetes-netes ke tepi wastafel. Ada yang meluncur ke lubang wastafel, ada yang ke lantai.

“Siapa …?” kata si Lelaki.

“Maaf ….” sahut lelaki lain, gemetar dan rendah. “Saya akan ke lobi. Maaf.”

Ada yang melangkah cepat dari balkon ke pintu keluar. Pintu dibuka. “Tolong jangan cancel. Ini baru pertama kali.” Pintu pun ditutup.

Tangis bayi menghilang.

Mesin pemanas air berdengung.

 

—kepada G. A. Z.




*) Cerpen ini dimuat di Kompas.id pada 3 Desember 2025.

Tidak ada komentar :