Rabu, 18 Maret 2026

POHON KEPALA -- Sebuah Cerpen


*Ilustrasi oleh: Marc Chagall



Pohon itu tumbuh di halaman belakang rumahku, tampak serupa pohon mangga, tapi pohon mangga tidak berbuah kepala. Awalnya hanya ada satu kepala di sana, tak lama menjadi dua, lalu tiga, lalu terus membanyak seakan sekarang musim kepala.

Sebelum pohon kepala ada, dinding bata abu-abu di halaman belakang hanya setinggi leherku, dan sambil bermain kelereng aku bisa melihat segerombolan mahasiswa berjalan melewati belakang rumahku, membawa spanduk-spanduk dan meneriakkan nyanyian marah. Suatu Sabtu Ayah membawa para tukang untuk meninggikan dinding halaman belakang, katanya: “Mungkin ada maling di antara para mahasiswa itu, bukan?” Para tukang pun membangun dinding setinggi atap rumahku, dan halaman belakang terkubur bayangan dinding, dan pot-pot tanaman hias dipindahkan ke halaman depan agar tak kekurangan sinar matahari.

Beberapa hari setelah dinding ditinggikan, sepulang sekolah, aku mendapati Ayah berjongkok di halaman belakang, mengubur sesuatu dengan sekop tanah kecil. “Ini biji pohon kekayaan,” jelas Ayah. “Kau akan berkuliah di luar negeri. Kau tidak perlu berdemo.” Ayah menarik pisau dapur yang terselip di pinggang, dan menyayat telapak tangannya tanpa meringis, dan meneteskan darah ke biji yang ia tanam. “Berapa nilai ulanganmu tadi?”

“Tujuh puluh lima.”

“Tolong jangan buat Ayah sia-sia mencari uang.”

Esok paginya, telah tumbuh sebatang pohon di halaman belakang, langsung setinggi pohon mangga berbuah lebat. Hanya daun-daun teratasnya yang lolos dari bayangan dinding dan terpapar cahaya matahari langsung.

 

***

 

Ayah berganti pekerjaan setelah pohon itu tumbuh. Semula ia berangkat ke kantor setelah memboncengku sekolah; kini ia berangkat pada pukul sembilan malam dan selalu memakai kemeja serta celana panjang hitam.

Aku bertanya apa pekerjaan baru Ayah, seraya membukakan gerbang untuk motornya lewat. Tak ada satu pun tetangga di luar rumah; kawanan laron terbang di sekeliling lampu-lampu jalan.

“Banyak yang terluka gara-gara demo.” Ayah menyalakan mesin motor. “Ayah harus memastikan jumlah orang yang terluka semakin sedikit.”

“Ayah polisi?”

“Agak mirip.” Ayah meraba saku celana, mungkin memastikan kunci cadangan rumah tidak tertinggal. “Tidurlah.”

Ayah berangkat, lalu aku mengunci gerbang dan pintu depan dan berbaring di kamar. Aku ingin menjadi polisi. Jika gagal, menjadi agak mirip polisi pun tak masalah. Tapi apa setiap orang yang agak-mirip-polisi selalu bekerja malam?

 

***

 

Ayah membangunkanku untuk sekolah. Aku melangkah ke kamar mandi, melewati jendela yang menghadap halaman belakang, dan tampaklah, di ranting nomor tiga dari bawah, kepala pertama tumbuh di pohon itu. Aku mendekat untuk melihat lebih jelas: kepala seorang perempuan. Mata dan mulutnya terbuka lebar. Di pipi kirinya ada dua tahi lalat. Luka di lehernya mengucurkan darah, seakan ia habis dipenggal kemudian digantung di rantingtapi ia bukan dipenggal: rambutnya bukan dililitkan ke ranting, melainkan tumbuh dari sana seperti tangkai buah.

“Buah itu bukan untuk dimakan.”

Aku menoleh ke belakang: Ayah telah berdiri di pembatas pintu.

“Kepala siapa itu, Yah?”

“Misalkan ada buah mangga tumbuh di pohon kita, mangga siapakah itu? Mangga kita, bukan?”

Ayah memboncengku ke sekolah dan kami melewati belakang rumahku dan berpapasan dengan segerombolan mahasiswa yang marah.

Sepulang sekolah, setelah berganti pakaian, aku mengadu ke Ayah bahwa guru dan teman-teman sekelasku tak percaya pada keberadaan pohon kepala. Ayah mengecilkan suara televisi dengan remot hingga teriakan para demonstran di berita tak terdengar, lalu membalas, “Maka berhentilah bercerita. Banyak hal yang tak perlu diceritakan, setuju?”

Aku tidak mengerti maksud Ayah.

Di televisi, seorang pria kribo memegang pengeras suara di tengah kerumunan dan meneriakkan sesuatu. Banyak demonstran yang kribo. Aku tidak akan berdemo; aku menyukai rambut cepakku; aku tidak menyukai rambut si Kribo.

“Ada ulangan tadi?” tanya Ayah.

“Besok.”

“Bersihkan rumah, lalu belajar di kamar.”

Aku melihat si Kribo lagi keesokannya sebelum mandi untuk berangkat sekolah. Awan di atas rumahku mendung, tapi cahaya matahari tampak menyilaukan di timur. Si Kribo di halaman belakang rumahku―pada ranting yang paling rendah. Mata dan mulutnya terbuka lebar, luka di lehernya mengucurkan darah seperti kepala si Perempuan Bertahi Lalat―bedanya, kini, darah dari leher perempuan itu sudah jauh lebih sedikit, seperti tetes air dari baju yang hampir kering, dan kulit wajahnya seputih terigu, sedang area lehernya keunguan pudar.

Terdengar seseorang memasuki halaman belakang: Ibu. Tumben.

“Wow. Ayahmu makin mengerikan.” Ibu merangkulku, memandangi pohon kepala. “Tertarik untuk tinggal dengan Ibu sekarang?”

“Ibumu tidak bekerja.” Ayah menyusul kemari. “Tidak ada uang jajan darinya.”

“Kau suka tinggal bersama kepala-kepala itu, Nak?” tanya Ibu.

Entah. Aku tak terlalu menyukai keberadaan kepala asing. Tapi, toh, mereka diam. Mereka tidak akan mengganggu saat aku bermain kelereng atau apa pun.

“Waktunya pulang,” sambung Ibu, sebelum aku selesai berpikir. Ibu menarik tanganku untuk pergi, dan Ayah menghalangi kami di pembatas pintu.

“Kau memaksanya bolos?” kata Ayah, tersenyum.

Ibu berlutut hingga wajahnya sejajar denganku. “Kau boleh libur hari ini. Kau akan pindah sekolah, jauh dari sini.”

“Bolos bukan hal baik―benar, kan, Nak?” Ayah mengelus kepalaku. Lalu ia menatap Ibu. “Silakan jemput ia nanti. Ia boleh menginap paling lama tiga hari. Oke? Tiga hari di sini, tiga hari di rumahmu. Jangan bolos―jangan pindah sekolah: tidak ada sekolah yang lebih baik.”

“Oke,” balasku saat Ibu baru membuka mulut. Telingaku akan berdenging kalau mereka ribut terus.

Ibu melempar tatapan mengancam pada Ayah dan menggandengku ke halaman depan dan memboncengku dengan sepeda. Di depan gerbang sekolah, Ibu berkata, “Sepulang sekolah nanti, temui Ibu di kantin. Hanya Ibu. Paham?”

Aku mengangguk.

Tapi sepulang sekolah, Ibu tidak ada di kantin. Di salah satu bangku duduklah Ayah. Ibu berubah pikiran, katanya, aku baru akan menginap di rumah Ibu besok. Ayah pun memboncengku pulang dengan motor, melewati sebuah jalan yang kosong, di mana rambu-rambu bertumbangan dan sebuah ban meleleh di tengah jalan dan baunya mengerikan. Aku ingin mengabarkan bahwa nilai ulanganku tadi sembilan puluhtapi, dari pantulan wajahnya di spion, sepertinya Ayah sedang tak ingin diajak bicara. Aku dan Ibu sudah dari lama belajar untuk tak mengajak Ayah bicara jika ia tampak tak ingin bicara.

 

***

 

Ayah memburu-buruku untuk membantunya sebelum berangkat bekerja: ia harus berangkat dua jam lebih cepat. Aku mengiris bawang merah dan putih sementara ia memotong-motong dada ayam; aku menyiapkan alat-alat makan di meja makan sementara ia mulai memasak; aku mencuci alat-alat masak dan makan sementara ia pergi ke halaman belakang.

Terdengar seorang pria menjerit―aku refleks menjatuhkan sendok yang kucuci ke wastafel. Suaranya dari halaman belakang. “Pembunuh!!!” teriak pria itu―dan mendadak suaranya tertahan. Seperti mulutnya disumpal. Siapa yang berada di halaman belakang selain Ayah?

“Ayah!” panggilku.

Terdengar jeritan wanita―dan mendadak suaranya tertahan juga.

Aku menutup keran, melangkah ke halaman belakang. Lututku gemetar. Dari jendela, membelakangiku, tampak Ayah tengah berjongkok di bawah pohon kepala, mengikat ujung sebuah kresek hitam besar berisi sesuatu. Kepala si Kribo dan si Perempuan Bertahi Lalat tak ada di pohon.

“Sekadar hadiah untuk teman-teman kantor,” jelasnya tanpa menoleh.

Ketika Ayah berangkat bekerja, rumah para tetangga sudah tertutup dan tak ada yang beraktivitas di luar rumah, padahal matahari baru terbenam. Dan, Ayah memakai jas hujan merah muda, meski tak ada pertanda hujan. Aku enggan bertanya kenapa; Ayah bergerak terlalu cepat karena buru-buru berangkat. Ditambah lagi, perhatianku terpaku pada kresek hitam di cantolan motornya, yang mengeluarkan suara, Mmmppph! Mmmppph!

Esok paginya ada lebih banyak kepala di pohon kepala. Mencapai belasan. Mata mereka membelalak, mulut mereka menganga, leher mereka mengucurkan darah; rumput di bawah pohon jadi jauh lebih gelap. Tak satu pun kepala yang kukenal.

Terdengar angin berembus kencang, tapi aku tak merasakannya karena terhalang dinding. Daun-daun di puncak pohon kepala bergoyang. Salah satu kepala, di ranting yang paling tinggi, dibungkus kresek hitam dan terayun-ayun oleh angin. Bagian bawah kresek itu robek sehingga darah bisa bercucuran ke tanah; ayunan kepala tersebut membuat ada tetes darahnya yang terlontar ke piamaku. Kepala siapa itu?

“Kau melihat ada burung gagak?” kata Ayah, tahu-tahu sudah di pembatas pintu.

Aku menggeleng.

“Bagus. Cepatlah mandi.”

Aku berlalu ke kamar mandi, dan teringat berita yang kutonton beberapa bulan lalu: Seorang wanita ditemukan tewas di halaman belakang rumahnya, dan mayatnya sudah membusuk, dan sekawanan burung gagak mengerubunginya. Kenapa tidak ada seekor gagak pun yang menghampiri pohon kepala? Selain gagak, mayat sang wanita juga dikerubungi sepasukan lalat―tapi tak ada lalat di halaman belakang rumahku.

 

***

 

Ayah berangkat bekerja. Aku mengunci pintu, memakai jas hujan hijau, membawa senter ke halaman belakang. Dinding halaman menimpa separuh bulan. Aku memberdirikan senter dengan menyandarkannya ke batang pohon kepala, sinarnya menyorot ke atas, menyusup ke antara dahan-dahan dan daun-daun. Dengan cepat jas hujanku terkena tetesan darah dari kepala-kepala. Lalu aku memanjat. Di dalam kepungan daun-daun tercium amis rumah jagal.

Sampailah aku di dahan tertinggi. Angin mengibarkan ujung jas hujanku, beberapa tetes darah dari kerudungnya menghujani wajahku. Bulan tampak utuh dari sini. Aku telungkup, merayap maju untuk menggapai kresek hitam itu. Dahan bergoyang, tubuhku gemetar, beberapa lembar daun rontok. Dan ikatan kresek hitam itu berhasil kulepas. Aku refleks menahan jeritan. Kresek hitam yang basah oleh darah terjun dan tersangkut di kepala lain.

“Ibu …?” ucapku terbata. Tidak ada jawaban. Kepala Ibu terayun-ayun pelan.

Aku sudah berfirasat akan menemukan kepala Ibu di sini. Tepatnya sejak jam pulang sekolah kemarin, sejak aku menemukan Ayah di kantin dan bukan Ibu.

Angin kencang bertiup, serangga-serangga es merayap ke balik pakaianku. Kepala Ibu terayun lebih liar, ujung jas hujanku berkibar lebih liar, dan daun-daun sungguh berisik. Aku mengeluarkan gunting dari saku. Aku memotong rambut Ibu, dan kepala itu terjun menghantam ranting di bawahnya, lalu terpental dan berdebum ke tanah.

“Anakku …?” kata Ibu lirih, hampir tertutup desir angin dan gemerisik daun-daun.

Aku cepat-cepat turun dari pohon dan mengarahkan senter untuk mencari kepala Ibu. Kepalanya berguling-guling sendiri dan menabrak ujung kakiku, wajahnya menghadap daguku.

“Anak bodoh!” pekik Ibu, wajahnya berlumur tanah-campur-darah. “Ayahmu akan tahu kau memetik kepala Ibu!”

Tetes darah dari atas mengetuk-ngetuk kerudung jas hujanku, lalu menetes ke pipi dan dahi dan dagu pucat Ibu. Kepalaku kesemutan, rahangku mati rasa.

“Kau tidak bisa menyembunyikan kepala Ibu!” sambung Ibu. “Bunuh ayahmu, atau ia akan membunuhmu!”

Penglihatanku mengabur dan pipiku memanas. Aku memungut kepala Ibu dengan mencengkeram rambutnya. Ibu meneriakkan sesuatu lagi dan telingaku berdenging. Aku membawanya ke kamarku. Di mana lagi aku harus menyembunyikannya?

 

***

 

Ada yang menepuk-nepuk pipiku: Ayah. Aku terkesiap.

“Sempat ke halaman belakang semalam?” Ayah tersenyum. Cahaya matahari belum tampak dari celah gorden. Aku menggeleng. “Baik. Ayo sarapan.”

“Nilai ulanganku kemarin sembilan puluh, Yah.”

Ayah tidak mendengarkan. Ia menggandengku, cengkeramannya menyakiti pergelangan tanganku. Ayah menggandengku bukan ke ruang makan, tapi ke halaman belakang. Ayah mengeluarkan senter dari saku dan menyorot pohon kepala. Semakin banyak kepala, pasti mencapai puluhan; semakin banyak darah berhujanan.

“Tunjuk satu kepala,” kata Ayah.

Aku ingin bertanya kenapa aku mesti menunjuk, tapi Ayah pasti sedang tak menyukai pertanyaan. Aku menunjuk kepala seorang pria gimbal di ranting kelima dari bawah.

Tiba-tiba, tangan kanan Ayah berubah menjadi hijau dan kasar. Persis batang pohon. Ia mengarahkan telapak tangan ke kepala si Gimbal, seakan hendak mencekiknya dari jarak jauh. Lalu, jari-jemarinya yang hijau dan kasar memanjang ke udara serupa sulur, membelit sekujur kepala si Gimbal, dan, dalam satu sentakan, memetik kepala itu―daun-daun berguguran.

“Iblis!!!” si Gimbal sontak memekik.

Jari-jemari serupa sulur itu memendek, mengantarkan kepala si Gimbal ke telapak tangan Ayah, dan tangan Ayah kembali normal.

“Iblis! Turunkan aku!”

Dalam satu gigitan lebar, Ayah mengoyak area pelipis dan mata kiri si Gimbal semudah menghajar daging semangka. Si Gimbal menjerit; Ayah mengunyah cepat dan darah bertumpahan dari sela bibirnya.

Aku muntah. Mataku berair.

“Jika ada kepala yang jatuh,” jelas Ayah setelah menelan, “Ayah―atau siapa pun yang Ayah pilih―harus langsung memakannya. Kepala-kepala itu berisik jika terlepas dari pohon.”

Aku merapatkan bibir dan gigi, gelombang muntahan selanjutnya memenuhi mulutku. Pahit. Amis. Aku bisa merasakan daging kepala di mulut. Darah dan daging amis. Aku berlari ke kamar mandi, muntah ke lantai, lalu muntah sekali lagi, lagi, lagi. Dan, terdengar pintu kamarku dibuka.

Ayah mencari kepala Ibu ....

Tanpa membilas muntahan, aku melangkah gontai ke hadapan pintu kamarku yang tertutup. Entah pintu itu dikunci atau tidak. Dari dalam terdengar Ayah membuka pintu lemari dengan kasar. Lalu ia membuka laci demi laci dan menjatuhkannya ke lantai.

Bunuh ayahmu, atau ia akan membunuhmu!

Aku berlari ke ruang depan―aku harus kabur―pintu dikunci―di mana kuncinya? Dari jendela, tampak gerbang digembok, dan belum ada tetangga yang ke luar rumah.

“Bocah! Cepat kemari!” teriak Ayah dari kamar.

Aku berlari ke meja makan, bersembunyi di kolong.

Pintu kamarku dibuka. Langkah beratnya terdengar mendekat.

Bunuh ayahmu, atau ia akan membunuhmu!

Langkah berat Ayah semakin dekat. Aku bisa melihat kakinya. Ia akan membunuhku. Aku tak bisa kabur ....

Ayah berhenti di hadapan meja ini. Dan berjongkok. Matanya nyalang. Urat-urat di punggung tangannya bertonjolan. Persis seperti detik-detik sebelum ia menamparku karena nilai ulangan yang buruk. Tapi kali ini ia akan lebih dari menampar. Aku tak bisa kabur ....

Bunuh ayahmu, atau ia akan membunuhmu! teriak Ibu lagi, dari dalam perutku. Gunakan kekuatan pohon kepala!

Aku menyembunyikan kedua tangan di punggung. Ayah merangkak mendekat―aku tak bisa bernapas. Kedua tanganku pun menjadi kasar. Hijau dan kasar. Persis batang pohon. Aku tak akan kabur ....

 

***

 

Di pohon kepala, di titik bekas tumbuhnya kepala Ibu, tumbuh kepala Ayah. Kepala itu terayun-ayun pelan. Langit cerah dan awan-awan hampir tak terlihat. Dari balik dinding halaman terdengar derap langkah dan nyanyian marah para mahasiswa. Aku harus membakar pohon itu. Membakar setiap kepala. Tidak ada yang boleh memakan dan menggunakan kekuatannya.




*) Cerpen ini dimuat di Bacapetra.co pada 7 Desember 2025.

Tidak ada komentar :