Kamis, 13 Agustus 2026

OPERASI GORONG-GORONG -- Sebuah Cerpen

*Ilustrasi oleh: Chenny Aviana




 

1/

 

Dari lantai lima, dari jendela kamar sebuah hotel, seorang pria meneropong ke luar.


Mereka sudah mengelilingi manhole di tengah jalan:


a) 10 orang anggota Satpol PP, dengan tongkat dan borgol di pinggang;

b) 2 orang anggota Polres, bersenjata Glock 17;

c) 15 orang wartawan, dari 8 media berbeda;

d) 2 orang anggota tim Dinas Pekerjaan Umum;

e) Ajudan Gubernur;

f) target utama: Gubernur.


Sesuai checklist.


Sisanya hanya para warga yang tak penting, yang ingin masuk TV atau sekadar menonton sebuah gimik.


Kedua anggota tim Dinas Pekerjaan Umum mengangkat tutup manhole. Ajudan dan Gubernur melakukan peregangan ringan; mereka memakai helm dan rompi proyek, bot karet sepaha dan masker medis. Salah seorang wartawan berpakaian serupa pun mendekati Gubernur, mengambil medium shot-nya dengan handycam. Gubernur memberi isyarat jari hati ala Korea.


Hanya satu wartawan yang akan ikut turun ke gorong-gorong. Bagus.


Pria di hotel itu mendekatkan walkie talkie ke mulut. “Ajudan bersiap turun.”

 

2/

 

Cahaya matahari masuk dari shaft, menerangi sebagian gorong-gorong yang dinding perseginya berlumut. Lalu cahaya meredup, terhalangi Ajudan yang memasuki mulut manhole, menuruni pijakan-pijakan besi berkarat di shaft, dengan dentang-dentang menggema.


Tiga orang aktivis bersembunyi di balik belokan di gorong-gorong. Senter kepala mereka padam. Earphone menyumpal kuping. Air berbau busuk pekat menenggelamkan mereka sampai ke lutut, air dengan ketinggian khas awal musim hujan.


Salah satu dari mereka bertiga, yang memiliki bekas luka sayat di pipi, mengintip ke arah shaft. Ia melihat Ajudan turun dari pijakan besi terakhir, kakinya masuk ke air, dan hampir terpeleset saat menjejak permukaan gorong-gorong. Ia segera berhenti mengintip, memberi isyarat pada kedua rekannya.


Dengan senter helm menyala, Ajudan menoleh ke sekeliling. Tampaknya aman, pikir Ajudan, dan ia memberi laporan lewat walkie talkie.

 

3/

 

“Gubernur turun,” kata pria di hotel ke walkie talkie. “Molotov: stand by.”


Wartawan dengan handycam mendekat ke mulut manhole. Kamera menyorot ke dalam shaft, menyorot Gubernur yang menuruni pijakan-pijakan besi.


Pria di hotel itu menoleh sebentar ke televisi: siaran langsung. Seorang wartawan berdiri membelakangi para anggota satpol PP yang mengelilingi manhole; ia berbicara tentang penanggulangan banjir dan potensi kemenangan Gubernur di pemilihan yang akan datang. Para warga berebut menampakkan wajah di belakangnya.


Dari jendela hotel, pria itu meneropong ke arah lain: seorang pemotor dengan helm full face, dengan Honda tanpa plat, mendekat cepat ke arah manhole. Tangan kanannya di setang. Tangan kirinya memegang sesuatu.

 

4/

 

Salah satu anggota Satpol PP melihat pemotor itu mendekat. Pemotor dengan molotov di tangan kiri. Pemotor pertama. Suara mesinnya terdengar samar di antara suara jalanan dan campur-aduk kalimat para wartawan yang melakukan siaran. Ia menarik napas panjang, telapak tangan berkeringat. Ini tugas pertamanya sebagai angota Satpol PP. Dan ia harus “gagal”.


Ia menoleh ke wartawan yang membawa handycam. Wartawan itu berjongkok di tepi manhole, bersiap menyusul Gubernur turun.


Jangan. Sebaiknya jangan sampai ia turun.


Si Pemotor tepat waktu: ia melempar molotov ke plang “MASUK” di gerbang hotel. Api melalap plang—melalap tanaman-tanaman hias di sekeliling gerbang—para wartawan dan warga kocar-kacir sambil menjerit—tidak ada korban jiwa—dua anggota polres mengarahkan pistol ke si Pemotor yang terus menjauh. Tidak ada tembakan.


Wartawan yang membawa handycam terbelalak dan terpaku.


Sekarang.


“Tutup lubangnya!” teriak anggota Satpol PP itu, memegang satu sisi tutup manhole. Dua anggota Satpol PP lain refleks membantu mengangkatnya—wartawan dengan handycam segera menyingkir, tak jadi turun ke gorong-gorong. Dan, mulut manhole tertutup sempurna.


Ajudan dan Gubernur terjebak secara sempurna.


Kini sinyal walkie talkie pun ponsel tak bisa masuk ke sana.

 

5/

 

Ajudan mendongak, mengarahkan senter helm ke Gubernur yang masih berpijak di shaft. “Ada apa?! Ada apa?!” teriak Gubernur.


“Tenang!” Ajudan mundur dua langkah, memberi Gubernur ruang untuk mendarat. “Turun dulu, peluk!”


Sekujur tubuh Gubernur gemetar. Ketiak dan selangkangannya berkeringat. Kakinya menuruni satu pijakan besi, lalu satu lagi, ketika tiba-tiba, dari belakang, lengan seseorang membelit leher Ajudan. Ajudan menendang-nendang acak. Air terciprat-ciprat liar. Jeritan Ajudan tertahan di kerongkongan, dan cahaya senternya menyabet-nyabet sembarangan.


“Sayang?!” teriak Gubernur.

 

6/

 

Pemotor kedua sudah tampak di kejauhan. Seratus dua puluh kilometer per jam. Anggota Satpol PP itu menelan ludah.


Sang pemotor melesat di depan gerbang hotel dan melempar molotov ke bangku halte yang kosong—api tumpah ke aspal dan trotoar—orang-orang kembali menjerit—DOR! Salah satu anggota Polres menembak udara. Sang pemotor terus melesat.


Anggota Satpol PP itu menginjak tutup manhole. Para anggota Satpol PP lain mengelilinginya. Strategi untuk melindungi Gubernur, menurut mereka.


Gimik penyerangan tadi mestinya memberi para aktivis di bawah sana cukup waktu.

 

7/

 

Gubernur menjerit-jerit di shaft. Kaki dan tangannya masih di pijakan besi.


Seketika gorong-gorong benderang. Ajudan tidak sadarkan diri, telungkup dan wajahnya tenggelam dalam air. Di sekelilingnya: tiga aktivis dengan senter helm menyala. Dua di antara mereka langsung menarik kaki Gubernur—pria itu menjerit-jerit semakin keras—BYUR!

 

8/

 

Teko elektrik berhenti mendesis. Pria di hotel itu menyeduh kopi di depan jendela. Terlihat para anggota Satpol PP masih mengelilingi tutup manhole. Para warga beramai-ramai menyiram api molotov dengan air dari ember. Langit cukup cerah untuk ukuran musim hujan.


Sang pria meletakkan teko elektrik di meja dan mengambil walkie talkie dari pinggang. “Blokade.”

 

9/

 

Salah seorang aktivis, yang tadi membelit leher Ajudan, kini membelitkan lengannya ke leher Gubernur dari belakang. Satu lagi aktivis menyorotkan senter helm ke tutup manhole, memastikan tidak ada gangguan yang akan turun. Aktivis terakhir, ia memosisikan Ajudan agar duduk bersandar ke dinding gorong-gorong dan bisa bernapas.


Gubernur pingsan.


Dua orang aktivis menyeret tubuh Gubernur ke arah salah satu muara. Satu orang lagi, yang mendudukkan Ajudan, bergegas ke arah muara lain—ialah yang akan memecah perhatian siapa pun yang turun ke sini.


Tutup manhole digeser dari atas. Cahaya menyorot masuk tepat ke Ajudan. Menyusullah seruan-seruan tentang Ajudan yang pingsan, lalu dentang-dentang pijakan besi, lalu seruan-seruan tentang Gubernur yang tak tampak di mana pun.


Si Pengalih Perhatian terbatuk-batuk.

 

10/


Dari jendela hotel, terlihat kendaraan-kendaraan polisi melesat:


a) 1 unit Toyota Avanza Pamapta;

b) 3 unit Yamaha Vixion.


Sesuai checklist.


“Dari Polsek sudah meluncur,” kata pria itu ke walkie talkie, lalu menyeruput kopinya hingga tersisa ampas. Waktunya cangkir kopi kedua.


“Jemputan tiba,” terdengar suara dari seberang walkie talkie.


Pria itu memeriksa arloji. Kendaraan-kendaraan dari Polres dan Polda pasti segera meluncur. Terakhir, dari unit khusus.

 

11/

 

Kendaraan-kendaraan para polisi mengerem, terjebak kemacetan bersama para warga. Sebuah truk besar sepanjang tujuh meter, dengan bak tanpa muatan, terparkir secara horizontal di tengah jalan. Entah ke mana pengemudinya.


Mobil-mobil memekikkan klakson.


Motor-motor berebut jalan di trotoar dengan para pejalan kaki dan pedagang. Beberapa beralih ke gang-gang terdekat.


Mobil-mobil polisi lumpuh. Tidak bisa maju maupun mundur. Kendaraan-kendaraan lain sudah berkumpul di belakang.


Hanya motor-motor polisi yang bisa lanjut melaju melewati trotoar maupun gang. Pekik klakson mereka tidak mampu menyingkirkan motor-motor warga yang tidak bisa menyingkir ke mana pun.

 

12/

 

Kedua aktivis menyeret Gubernur yang masih pingsan keluar dari mulut kanal di dinding sungai. Air di sekitar sana tertutup oleh sampah-sampah yang mengambang. Tiga orang pria berjaket pelampung melompat ke sungai itu, membantu kedua aktivis untuk mengangkut Gubernur ke bantaran.


Di jalan dekat bantaran, terparkir tiga buah mobil dengan jenis yang sama, warna yang sama, nomor plat palsu yang sama. Pengemudi mobil kedua mengabarkan lewat walkie talkie, “Ikannya tiba.”


Para aktivis memasukkan Gubernur ke mobil kedua.


Ketiga mobil melaju bersamaan, dan berpencar di sebuah perempatan.

 

13/

 

Pria itu sudah menghabiskan cangkir kopi kedua. Tiga puluh menit lagi, Gubernur akan tiba di pabrik terlantar itu. Ia akan menginterogasinya. Ia akan memaksanya membeberkan sejumlah aib. Aib pribadi maupun aib pejabat-pejabat lainnya. Live.


Itu rencana yang teman-teman aktivisnya ketahui. Itu yang ia katakan pada mereka.


Ponsel berdering. Panggilan yang sudah ia duga.


Ia menjawabnya.


Ia hanya perlu berpura-pura menemukan pabrik terlantar itu. Bergimik sebagai pahlawan. Besok, atau dalam waktu dekat, gajinya akan naik.




*) Cerpen ini dimuat di Kompas pada 8 Agustus 2026.

Tidak ada komentar :