Kamis, 13 Juli 2017

KISAH-KISAH DARI NEGERI MURAM -- Sebuah Cerpen


*Ilustrasi: IB Pandit Parastu


/1/ Oh, Jaden
Seorang pria bernama Jaden terjun dari atap sebuah gedung tujuh lantai. Selama di udara, wajahnya menghadap ke bawah, ke arah orang-orang yang menyaksikan dirinya melompat dari atap gedung itu.
“Jangan bunuh diri, Tuan!” teriak seseorang di bawah sana.
“Masih ada banyak wanita lain di dunia ini!” teriak yang lain—ia menyangka bahwa Jaden berbuat senekat itu karena patah hati.
Orang yang menduga bahwa Jaden berlaku demikian karena masalah utang pun berteriak, “Aku akan memberikan kau uang, berapa pun, untuk melunasi seluruh utangmu!”
Ketiga teriakan itu tentu saja percuma karena baru muncul ketika Jaden sudah terjun, alih-alih sebelumnya.
Sementara seorang wanita sintal sedang merekam peristiwa itu dengan kamera telepon genggamnya, seorang pria tambun memosisikan dirinya tepat di bawah Jaden—berpatok pada letak bayangan—hendak menangkapnya, atau setidaknya lemak di badan tambunnya itu bisa menjadi semitrampolin.
Orang-orang yang lain hanya menjerit-jerit di tempat. Jangankan bergerak, berkalimat pun mereka tak mampu karena saking terkejutnya melihat Jaden terjun dari atap gedung itu.
Menurut perhitungan Jaden, satu setengah detik lagi tubuhnya bakal menghantam bumi. Ah, bukan! Yang benar adalah menghantam pria bertubuh tambun itu! Tapi, menghantam apa pun tubuhnya, bukanlah masalah buat Jaden sebab apa yang dilakukannya itu—melompat dari atap gedung tujuh lantai—hanyalah khayalan. Namun, reaksi orang-orang di bawah sana adalah sesuatu yang nyata ….
/2/ Sebutir Bom
Wanita itu berpikir bahwa saya telah menanam “bibit” di rahimnya. Padahal, saya menanam sebutir bom. Meski daya ledaknya tidaklah seberapa, setidaknya ledakan itu pasti dapat membunuh si Pemilik Rahim.
Mungkin Anda bertanya-tanya bagaimana bisa saya menanam sebutir bom di rahimnya. Jikalau benar demikian, maka akan saya jawab secara singkat: Segalanya bermodalkan sebuah puisi cinta, suasana kamar hotel yang mendukung, dan kasih sayang—palsu saja—yang terpancar dari kedua bola mata saya.
Sekitar satu menit lagi, bom itu akan meledak ….
***
Pria itu berpikir bahwa dirinya telah berhasil menanam sebutir bom di rahim saya. Tapi, ia salah besar. Saya tidak mempunyai rahim. Bahkan saya tidak mempunyai vagina. Tapi saya mempunyai otak dan jiwa untuk menikmati puisi cinta yang dibacakannya, suasana kamar hotel yang dipesannya untuk kami, dan kasih sayang—entah asli atau palsu—yang terpancar dari kedua bola matanya.
Sebutir bom itu sesungguhnya hanya ada di dalam pikirannya. Dan, sekitar satu menit lagi, bom tersebut akan meledak ….
/3/ Wanita yang Menari di Bulan
Malam itu, orang-orang di Negeri Muram—mungkin juga di seluruh belahan Bumi—dikejutkan oleh keberadaan seorang wanita yang menari di bulan. Terlihat jelas wanita itu mengenakan gaun merah yang mewah, bertelanjang kaki, berambut panjang, berkulit putih, dan … begitu cantik.
“Astaga! Kalau ia turun kemari, aku akan langsung melamarnya!” seru seorang pria sembari memotret wanita itu dengan kamera DSLR-nya yang berlensa tele.
“Kalau aku, sih, tidak akan melamarnya,” sahut pria yang lain, “meskipun dia cantik sekali.”
“Ah, berarti kau bodoh sekali!”
“Bukan begitu, Kawan! Apa kau yakin bahwa kau mau menikah dengan wanita yang bertubuh sebesar itu?”
“Bertubuh sebesar itu?”
“Ya! Dari Bumi saja ia sudah terlihat sedemikian jelas. Bukankah itu berarti ukuran tubuhnya luar biasa besar?”
“Hmmm … benar juga.”
Bukan hanya kedua pria itu, seluruh pria di Negeri Muram—mungkin juga di seluruh belahan Bumi—pun dihinggapi oleh rasa kagum yang serupa karena kecantikan paras dan tarian wanita itu. Maka, para kekasih dan para istri pun cemburu, walaupun mereka juga terkagum-kagum pada wanita yang sama.
Karena saking cemburunya, ada seorang wanita jenius yang memutuskan untuk terbang ke bulan malam itu juga dengan Pesawat Super-nya. Kecepatan Pesawat Super amatlah luar biasa sehingga si Wanita Jenius sampai di bulan hanya dalam waktu beberapa menit. Ketika mendarat di bulan, si Wanita Jenius segera membacok wanita penari yang ukuran tubuhnya luar biasa besar itu hingga tewas.
Barangkali sebab mewujudnya karma, atau sekadar kesialan, wanita jenius itu tak bisa kembali ke Bumi. Bahan bakar Pesawat Super-nya ternyata sudah habis! Kemudian, si Wanita Jenius pun menari di bulan, berharap kecantikan paras dan tariannya bakal membuat orang-orang, terutama para pria, terkagum-kagum, sehingga, mudah-mudahan, ada wanita pencemburu lain yang segera pergi ke bulan untuk membunuhnya. Tapi tentu saja si Wanita Jenius akan membunuh wanita pencemburu yang lain itu terlebih dahulu—“Semoga saja bisa,” doanya—sehingga ia bisa mencuri pesawatnya, lantas kembali ke Bumi—itu pun kalau bahan bakar pesawat milik wanita pencemburu yang lain itu mencukupi. Sayangnya, ukuran tubuh si Wanita Jenius begitu “kecil” sehingga ia tak terlihat dari Bumi, tak menarik perhatian siapa pun apalagi membuat orang-orang kagum. Apa yang orang-orang di Negeri Muram—mungkin juga di seluruh belahan Bumi—lihat di bulan hanyalah mayat wanita penari—yang tergeletak bersimbah darah—itu.
/4/ Pembunuh Bayaran dan Puisi
Dari sekian pembunuh bayaran yang pernah saya bayar untuk membunuh para pesaing bisnis, pembunuh bayaran yang satu itulah yang paling unik: ia meminta puisi, bertemakan apa saja, sebagai bayaran atas jasanya. Satu nyawa, satu puisi. Puisi yang bagus, tentu saja, dan mesti buatan saya sendiri.
Awalnya saya tak tahu siapa nama pembunuh bayaran itu sebab ia enggan memberi tahu, dan saya pun sebetulnya tak pernah ingin tahu. Tapi saya benar-benar ingin tahu kenapa ia meminta puisi sebagai bayarannya alih-alih sekoper-uang sebagaimana yang diminta oleh pembunuh bayaran lainnya.
“Uang tak seberharga puisi,” jelasnya. “Toh, kalau nanti saya butuh uang, saya bisa mengirimkan puisi-puisi dari Anda ke redaksi media massa agar dimuat, lantas mendapatkan honor.”
Saya ingin berkata, “Bagaimana kalau puisi-puisi itu tidak dimuat?” namun saya urungkan karena saya yakin bahwa puisi-puisi buatan saya pasti dimuat—sebab memang bagus. Kemudian, saya ingin berkata, “Bukankah honor dari media massa tidaklah sebanyak sekoper-uang?” tetapi saya urungkan pula karena takutnya pembunuh bayaran itu “berpikir ulang”. Akhirnya, saya memutuskan untuk diam saja sebagai tanggapan atas penjelasannya.
Berhubung menulis puisi adalah hobi saya, saya pun memutuskan untuk menjadi pelanggan tetap pembunuh bayaran itu. (Penghematan yang saya lakukan sungguhlah luar biasa!)
***
Setahun kemudian, pembunuh bayaran itu menerbitkan sebuah antologi puisi berjudul Kisah-kisah dari Negeri Muram. Puisi-puisi di dalamnya adalah puisi-puisi buatan saya yang saya berikan kepadanya sebagai bayaran. Saya hadir di acara peluncuran antologi puisi itu karena ia mengundang saya. Di acara itu, saya pun membeli—bukan meminta!—antologi puisinya dan meminta tanda tangannya di halaman terdepan. (Oh ya, dari sampul antologi puisi itu, saya jadi tahu siapa namanya: Jaden Bonay. Entah itu nama asli atau nama pena.)
“Ini semua berkat Anda,” bisik Jaden Bonay pada saya sembari menandatangani antologi puisinya yang saya beli.
Saya lantas tertawa kecil dan berbisik juga, “Berkat kau, bisnis saya jadi semakin hebat. Oh ya, sekalipun antologi puisimu sudah terbit, kau tetap mau, kan, melakukan pekerjaan itu untuk saya?”
Jaden Bonay mengangguk.
Saya tersenyum.
***
Satu setengah tahun kemudian, bisnis saya hancur total! Kau tidak perlu tahu apa penyebabnya karena saya tidak ingin memberitahukannya kepada siapa-siapa. Jaden Bonay pun mendadak lenyap dari kehidupan saya. (Siapakah pelanggannya sekarang?)
Dua bulan setelah kehancuran bisnis saya, saya resmi kehilangan segala harta benda saya—kecuali pakaian yang saya kenakan—karena masalah-yang-menghancurkan-bisnis-saya itu rupanya sekali lagi “menyerang”. Dan, jadilah saya seorang pengemis yang tinggal di kolong jembatan.
Satu bulan setelah saya menjadi seorang pengemis yang tinggal di kolong jembatan, saya mendadak didera oleh penyesalan yang amat berat karena pernah membayar seorang pembunuh bayaran dengan puisi-puisi karya saya. Kau tahu kenapa? Karena—saya ketahui dari kabar yang tersiar di mana-mana—Jaden Bonay mendapatkan Penghargaan Utama di Bidang Sastra dari penguasa Negeri Muram berkat antologi puisinya yang berjudul Kisah-kisah dari Negeri Muram! Dan, dengan penghargaan itu, seluruh biaya hidupnya akan ditanggung oleh negeri ini sampai akhir napasnya!


*) Cerpen ini dimuat di Tatkala.co pada tanggal 9 Juli 2017.

Jumat, 16 Juni 2017

LELAKI ITU TAK BOLEH BELAJAR -- Sebuah Cerpen

Si Kutu tinggal di kepala si Lelaki yang berambut lebat. Rambut lebat itulah yang membuat tempat itu nyaman untuk ditinggali. Sayangnya, gara-gara si Lelaki jadi rajin belajar, rambutnya pun mulai rontok.
     Si Lelaki mulai rajin belajar sejak ia berpacaran dengan si Perempuan—alasannya sederhana saja, yakni agar kehidupan rumah tangganya dengan si Perempuan kelak dipenuhi kecerahan. Tetapi jelas saja si Kutu tak bahagia dengan rencana tersebut. Oleh sebab itu, si Kutu memikirkan bagaimana cara membuat si Lelaki jadi malas belajar supaya rambutnya tidak rontok lagi.

***

“Kenapa kau tidak pindah ke kepala orang lain saja?” tanya si Nyamuk suatu ketika.
     “Aku sempat melakukan hal itu beberapa kali,” sahut si Kutu. “Aku pernah melompat ke kepala ibunya, kepala ayahnya, dan kepala pacarnya, tetapi rambut di kepala-kepala itu, entah kenapa, tak mampu membuatku merasa senyaman di kepala ini. Rasa darah di balik kulit kepala ini pun adalah yang paling enak yang pernah kucicipi.”
     Plak! Tepukan tangan si Lelaki hampir saja mengenai si Nyamuk yang berdengung-dengung di dekat kepalanya. Kemudian si Nyamuk hinggap di rambut si Lelaki, tepatnya di samping si Kutu, dan tak lagi berdengung-dengung sehingga si Lelaki kembali fokus ke buku pelajarannya, karena ia pikir si Nyamuk telah pergi atau mati.
   “Omong-omong, bukankah rambut lelaki ini bukan di kepala saja, Kutu?”
     “Maksudmu, aku harus pindah ke bagian tubuhnya yang lain yang juga berambut? Semisal … kemaluan?”
     “Begitulah. Lagi pula, rambut kemaluan tak akan rontok serajin apa pun pemiliknya belajar.”
       “Ah! Tidak berkelas sama sekali!”
      Sekonyong-konyong enam helai rambut kepala si Lelaki rontok dan mendarat di pundaknya. Kecemasan semakin menusuk si Kutu. Itu baru rambut yang rontok dengan sendirinya. Jika si Lelaki belajar sembari menggaruk-garuk kepalanya—entah karena gatal yang muncul dengan sendirinya atau karena gatal yang ditimbulkan oleh aktivitas si Kutu—rambut yang rontok bakal lebih banyak lagi.

***

Rupanya ide itu muncul dengan sendirinya di benak si Kutu. Dan, ia yakin ide tersebut akan berhasil.
     Malam itu, si Lelaki, sepertinya biasanya, sedang duduk di hadapan meja belajar, fokus pada buku pelajarannya. Tanpa disadarinya, si Kutu bergerak memasuki kepalanya melalui lubang telinga kanan, dan tak lama kemudian sampailah makhluk kecil itu di otaknya.
     “Mau apa kau di sini, Makhluk Asing?!” sambut si Pikiran, tak ramah.
      “Aku di sini untuk menemuimu … dan mengubahmu.”
    “Pergilah! Aku sedang sibuk menerima data-data dari si Mata!”
      Tetapi si Kutu tak mau pergi dari sana …

***

Si Buku Pelajaran bingung bukan main sebab tiba-tiba saja si Lelaki mencampakkannya dan meraih si Ponsel untuk dijadikan titik fokus.
    Si Kutu keluar dari kepala si Lelaki—melalui lubang telinga kanannya pula—sembari tertawa puas. Si Kutu, yang telah sukses mengubah si Pikiran, yakin bahwa rambut si Lelaki tidak akan rontok lagi sebab kini ia memiliki hobi baru, yaitu bermain game.
   “Ini semua pasti ulahmu!” hardik si Buku Pelajaran. “Mau jadi apa lelaki ini kalau ia bermain game terus dan tidak belajar?!”
     “Taik kucing! Aku tidak peduli!”

***

Bagaimanapun, si Kutu tak dapat mengubah sifat serba-ingin-tahu si Lelaki yang besar, karena sifat serba-ingin-tahu itu bukan hanya ada di pikirannya, melainkan di hatinya juga.
     Semula, keberhasilan rencana si Kutu tampaknya akan abadi sebab si Lelaki tidak lagi rajin belajar karena sibuk bermain game di ponselnya. Rambutnya pun tak lagi rontok dan dengan cepatnya bertumbuh. Namun, karena sifat serba-ingin-tahunya yang besar terhadap game, si Lelaki akhirnya mulai belajar keras—di antara kesibukannya bermain game—lagi agar di masa depan ia bisa menjadi pembuat game yang handal, mendapatkan banyak uang, dan hidup bahagia bersama si Perempuan. Buku-buku pelajarannya, terutama buku-buku tentang teknologi, pun kembali senang. Alhasil, rambut si Lelaki rontok lagi.

***

Saban belajar di kelas, rambut si Lelaki rontok dua kali lebih banyak dari biasanya—apalagi kalau ia belajar di kelas sembari menggaruk-garuk kepala. Itulah alasan kenapa si Kutu membenci kelas, meskipun kini si Lelaki tak seratus persen belajar selama di kelas, melainkan beberapa kali mencuri kesempatan buat bermain game di ponselnya kala si Guru lengah.
     Jam istirahat tiba. Si Lelaki berjalan ke kantin, sementara si Kutu mengamat-amati aktivitas para murid di sekitarannya dan mereka-reka aktivitas manakah yang bakal membuat si Lelaki jadi pemalas murni. Tetapi, di sepanjang perjalanan menuju kantin itu, ia tak menemukan satu pun aktivitas yang tepat.
    Di kantin, si Kutu melihat banyak orang sedang makan dan berpikir untuk membuat si Lelaki jadi suka makan banyak agar kegemukan, mudah lelah, dan sering mengantuk, sehingga tak sempat belajar. Kemudian ia pun berpikir bahwa bisa saja nanti si Lelaki malah jadi rajin mempelajari buku-buku kuliner dan yang lainnya—yang berhubungan dengan makanan.
     “Kenapa belakangan ini kau jadi sering bermain game?” tanya kekasih si Lelaki, si Perempuan.
    “Ini adalah bagian dari pelajaranku,” jawab si Lelaki, sesaat mengalihkan fokus ke wajah si Perempuan, tetapi jari-jemarinya tetap menari-nari di permukaan layar ponsel. “Belakangan, aku bercita-cita menjadi pembuat game yang handal. Untuk menjadi pembuat game yang handal, salah satu yang harus kulakukan tentu saja bermain game.”
    Si Perempuan hanya tersenyum kecil.
  Di pojok sana, si Kutu melihat beberapa orang murid sedang memakai narkoba secara diam-diam. Si Kutu berpikir bahwa, di mana-mana, para pecandu narkoba pasti pada malas belajar. Tapi, bagaimana kalau si Lelaki malah jadi rajin mempelajari cara-cara membikin narkoba, juga cara-cara menyelundupkannya, sampai-sampai rambutnya rontok? Kalaupun tidak begitu, bisa saja kerontokan pada rambutnya itu disebabkan oleh penggunaan narkoba.
    Di pojok yang lain, sekelompok murid sedang mengerjai seorang murid yang tampaknya begitu lemah. Murid yang tampaknya begitu lemah itu sepertinya sebentar lagi akan menangis. Si Kutu berpikir bahwa mungkin saja si Lelaki akan melupakan kewajibannya untuk belajar jikalau dibuatnya jadi suka mengerjai orang yang lemah. Tapi secepat kilat pemikiran itu dibantahnya dengan pemikiran lain: Bisa saja orang yang dikerjai si Lelaki nanti terluka parah, kemudian melapor pada polisi, dan si Lelaki mendapatkan sebutan “penjahat”; karena mendapatkan sebutan itu, si Lelaki pun jadi rajin mempelajari cara-cara agar dirinya tak sampai ditangkap oleh polisi. Seandainya ia tidak mempelajari cara-cara tersebut, maka ia akan ditangkap, masuk penjara, mengalami depresi berat, kemudian rambutnya mengalami kerontokan.
    “Kau tahu, Sayang, taring adikku yang waktu itu dicabut sekarang sudah tumbuh,” kata si Perempuan, menyurutkan keheningan yang sempat menggenang di antara mereka berdua.
    “Benarkah?” Si Lelaki meletakkan ponselnya di meja, di antara piring makanan dan buku pelajarannya. Ia tampak begitu tertarik dengan apa yang diucapkan oleh si Perempuan. “Cepat sekali!”
    “Begitulah. Waktu tadi pagi aku bangun tidur, ia langsung menunjukkan taringnya yang baru tumbuh itu padaku.”
     Si Kutu terkejut mendengar kalimat itu.
    Waktu tadi pagi aku bangun tidur …
    … aku bangun tidur …
    … tidur …

***

Pak Guru terkejut begitu melihat si Lelaki tertidur di kelasnya, padahal biasanya ialah yang paling bersungguh-sungguh menyimak pelajaran.
  “Halo?” kata Pak Guru sembari mengguncang-guncang tubuh si Lelaki secara perlahan. Jikalau yang tertidur adalah murid yang lain, pastilah Pak Guru akan memukul atau menendangnya supaya terbangun. “Kau sakit, atau bagaimana?”
    Si Lelaki tak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
    Si Kutu tertawa puas.
    Sebab si Lelaki tetap tidur meski telah diguncang-guncang lebih keras dan beberapa kali diciprati air, Pak Guru pun memutuskan untuk membopong si Lelaki ke UKS.

***

Hingga pulang sekolah, bahkan hingga dibawa ke rumah sakit oleh kedua orangtuanya, si Lelaki tetap tak bisa dibangunkan. Para dokter akhirnya pasrah, kedua orangtuanya menangis, dan si Perempuan yang mendengar kabar buruk itu memutuskan untuk mencari kekasih baru.
   “Ia seperti tidak sakit … tapi juga tidak sehat,” kata seorang dokter. “Mungkin ia terjangkit suatu penyakit baru.”
  Si Lelaki pun dipulangkan dan ditidurkan di kamarnya. Selama tidur, ia hanya makan melalui infus serta buang air melalui selang-selang yang dipasang sedemikian rupa.
   Hari demi hari, rambut si Lelaki melebat tanpa rontok sama sekali, sebab ia tak ada belajar. Si Kutu merasa telah menang. Tentu saja ia bahagia. Namun kebahagiaan tak pernah abadi.
  Dua bulan kemudian, masih tetap tidur, rambut si Lelaki mulai rontok lagi. Rupanya, si Lelaki telah menemukan cara untuk belajar di alam mimpi. Ia belajar serajin di dunia nyata demi masa depannya bersama si Kekasih Baru yang dijumpainya di alam itu.



*) Cerpen ini pernah dimuat di Litera.co.id pada tanggal 13 Juni 2017.

Senin, 29 Mei 2017

ANAK BARU YANG DIBUAT DARI "BIBIT" BERSAMA



Entah seberapa penting hadirnya buku berjudul "Seutas Tali & Segelas Anggur" ini bagi sastra Indonesia. Entah seberapa penting hadirnya karya-karya saya di dalam buku ini. Yang terpenting, saya bisa berbahagia sedikit (bwahahahaha!).

Buku ini adalah kumpulan dari cerpen dan puisi. Tepatnya, cerpen-cerpen dan puisi-puisi terpilih yang dimuat di portal online Litera.co.id sepanjang tahun 2016. (Artinya, ada banyak penulis yang terlibat di dalam buku ini.)

Kebetulan, saya menyumbangkan dua buah puisi untuk buku ini. Puisi-puisi itu berjudul "Diam yang Melumatmu" dan "Ritual". (Bisa dibaca di sini.)

Sekian. Itu saja.

Ah, saya lupa menyebutkan nama-nama penulis lainnya yang turut meramaikan isi buku ini.

Dari bagian CERPEN:

Armin Bell, Dianing Widya, Kasim MD, Kristiawan Balasa, Kurnia Gusti Sawiji, Mahan Jamil Hudani, Ni Komang Ariani, Setiyo Bardono, Seto Permada, Yuditeha, Zaenal Radar T.

Dari bagian PUISI (selain saya):

Budhi Setyawan, Dedy Tri Riyadi, Eddy Pranata PNP, Eko Ragil Ar-Rahman, Fikar W. Eda, Iwan Setiawan, Moh. Gufron Cholid, Rai Sri Artini, Rukmi Wisnu Wardani, Wahyu Gandi G, Willy Ana.