Senin, 03 Mei 2021

PURA-PURA KESURUPAN, TRIK GEMILANG UNTUK AKALI TEKANAN DI TEMPAT KERJA -- Sebuah Esai



Dari seorang teman kini saya tahu, pura-pura kesurupan adalah kemampuan khusus yang penting dimiliki hari ini. Hari di mana kita hidup dalam kekangan kapitalisme, hari di mana kita dipaksa memuaskan fetish kapitalisme, yaitu kecepatan. Fetisisme ini mengharuskan kita menyelesaikan pekerjaan secepat-cepatnya untuk melayani konsumen. Ironis memang, karena ketika kita menjadi konsumen, kita juga menginginkan pelayanan secepat-cepatnya. Dan ini berlaku dalam banyak sekali bidang.

Masalahnya, tak jarang ada kondisi kita tak bisa bertindak cepat dalam bekerja. Ini berakibat fatal, kita mengalami kerugian dengan skala variatif karena tak mampu mengikuti standar kecepatan yang ditentukan. Misalnya kita dicaci-maki atasan karena tak mampu memasak, mengantarkan barang, atau menulis dengan cepat. Kemungkinan terburuknya kita dipecat dari pekerjaan. Padahal kan wajar manusia sesekali butuh kesempatan untuk bergerak lamban, baik untuk mengisi ulang energi yang terkuras sekadar buat mikir.

Lantas, adakah cara untuk mengakali tekanan di tempat kerja yang harus bergerak serbacepat ini, tanpa mengalami kerugian? Dari teman ini saya belajar bahwa cara seperti itu ada. Dan untuk melakukannya diperlukan kemampuan khusus seperti yang saya katakan di awal tulisan: pura-pura kesurupan.

Kesurupan adalah kondisi manusia kehilangan kesadaran, tetapi tidak pingsan. Dalam momen tersebut seseorang akan melakukan hal-hal di luar kontrol diri sendiri, seperti menjerit-jerit dan berkelojotan hebat di lantai seperti cacing tersundut bara rokok. Banyak orang percaya, pada korban kesurupan, jiwanya sedang diambil alih setan.

Lumrahnya, saat ada kita kesurupan, aktivitas di sekeliling bakal terhenti sejenak, baik karena orang-orang lain panik atau sekadar menonton tingkah kita. Di sanalah kuncinya: saat terjadi kesurupan, kecepatan bekerja yang diharapkan kapitalisme itu akan menurun. Dan apakah kita akan dicaci-maki atasan atau dipecat gara-gara kesurupan? Anda tahu sendiri jawabannya.

Kiat ini saya pelajari dari seorang teman saya, sebut saja Raflesia, untuk tidak menyebutnya Mawar. Ia bekerja sebagai pembantu umum di berbagai syuting iklan audiovisual. Sebagai pembantu umum, terutama ketika situasi syuting sudah memanas karena tenggat sudah terlampaui tapi pekerjaan belum selesai, ia selalu dituntut untuk bergerak cepat membuatkan dan mengantarkan teh dan kopi dan gorengan atau makanan apa pun kepada para kru, yang teriakan kesalnya lebih tinggi beberapa oktaf dari situasi normal.

Suatu waktu, Raflesia begitu kelelahan menghadapi para kru yang berteriak, dan ia mengambil keputusan bijak itu: berpura-pura kesurupan. Syuting terhenti beberapa jenak, produser dan produser pelaksana dan asisten sutradara tak lagi menyuruh siapa pun untuk bergerak cepat. Benar-benar siapa pun, tidak hanya si Raflesia sahabat kita itu. Bahkan klien memaklumi perjalanan syuting harus terlambat.

Anda tahu, syuting adalah kegiatan yang sangat mementingkan kecepatan, di samping ketepatan/presisi. Ini akibat dari prinsip terkutuk “waktu adalah uang” yang benar-benar diterapkan. Anda harus menyelesaikan syuting sebelum segala sesuatu yang disewa—studio dan kamera dan properti dan apa pun—berakhir jangka waktu sewanya. Dan apakah Raflesia dicaci-maki atau dipecat oleh atasan setelah memperlamban syuting? Mana berani. Bahkan, setelah usai berpura-pura kesurupan, ia diberi kesempatan untuk diam beberapa jenak, para kru mendadak mandiri dalam membuat/mengambil teh dan kopi dan gorengan; malah setelah usai waktunya untuk diam pun Raflesia diberi pemakluman oleh semua pihak untuk bekerja pelan-pelan. Dan tersebab akting kesurupan Raflesia tadi masih menyisakan kepanikan di kepala para kru lain, mereka turut memperlamban pekerjaan mereka tanpa dibonusi caci-maki.

“Itu adalah pertama kalinya aku sempat berkontemplasi di lokasi syuting,” aku Raflesia kepada saya. “Berpura-pura kesurupan memang melelahkan, tapi setidaknya setelah itu aku bisa beristirahat.”

Selain untuk menghadapi tekanan di tempat kerja yang menuntut apa-apa serbacepat, pura-pura kesurupan juga berfungsi menghibur diri dan kawan-kawan. Ini pernah saya praktikkan sendiri. Waktu itu kelas Matematika sedang berjalan secara menyebalkan, Pak Guru menuntut para murid untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di papan secara cepat sehingga saya memutuskan bertindak heroik. Saya pura-pura kesurupan, berujung dengan diakhirinya kelas sebelum waktunya. Berakhirnya kelas lebih cepat adalah sebenar-benarnya hiburan bagi saya dan kawan-kawan sekelas.

Lantas, bagaimanakah caranya pura-pura kesurupan? Pura-pura kesurupan adalah kemampuan yang harus dipelajari, ia tak bisa kita dapatkan seinstan kemampuan mengisap puting ibu atau berak di celana. Berpura-pura kesurupan adalah kemampuan yang mesti dipelajari, sebagaimana aktor berakting marah dan sedih dan terangsang. Dibutuhkan konsentrasi yang kuat dan latihan yang berulang. Saya sendiri mendapatkan kemampuan ini dari ekstrakurikuler teater semasa SMA. Sedangkan Raflesia mendapatkannya dari menyaksikan sutradara memberikan sejumlah nasihat kepada para aktor. Teman-teman saya yang lain mempelajarinya dari buku karya Stanislavski dan video di YouTube tentang tata cara berakting.

Singkatnya, kita perlu memiliki dan melatih kemampuan berpura-pura kesurupan, sebab kita, sebagai manusia normal, perlu sekali-kali memperlamban tempo pekerjaan yang dituntut cepat selesai. Kapitalisme dan fetish-nya memang menyebalkan, dan kemampuan berpura-pura kesurupan sedikit menyelamatkan kita dari tekanan di tempat kerja. Ya, saya bilang sedikit. Kita tidak mungkin sepenuhnya selamat, kapitalisme sudah telanjur terlalu hebat, tapi sedikit penyelamat jelas jauh lebih ketimbang tidak sama sekali. Dan ternyata obat sementaranya bukan dari buku-buku Kiri, tapi jagat mistis Indonesia.




*) Esai ini dimuat di Mojok.co pada 13 Maret 2021.

Jumat, 05 Maret 2021

PENGANTAR POLITIK, REZIM, DAN REVOLVER -- Sebuah Cerpen

*Sumber gambar: Lensasastra.id



Beberapa minggu setelah menemukan dua eksemplar Pengantar Politik—yang penulisnya anonim—aku mendapatkan rumah mewah berpenjagaan ketat ini. Aku tak tahu apakah Pengantar Politik memberikanku keberuntungan atau justru kutukan; dalam segala hal berbau politik, batas antara keberuntungan dan kutukan kupikir memang rada kabur.

Waktu itu—ketika Joni Sabung dan Marko Kobar sedang sibuk-sibuknya berkampanye untuk pemilihan presiden—aku hanyalah mahasiswa perantau yang mengambil jurusan ilmu politik, yang mampir ke sebuah perpustakaan buat mencari referensi untuk kebutuhan skripsi. Dari luar perpustakaan itu serupa kastil tua yang pucat; ruang di dalamnya seperti labirin dengan dinding rak-rak buku, dan aku dapat merasakan debu di lidahku saban menarik napas lewat mulut. Di ruang dalam perpustakaan hanya ada aku dan si Pustakawan yang tampak berjuang keras melawan kantuk. Buku pertama yang segera menarik perhatianku adalah Pengantar Politik, sebab ketebalannya yang tak main-main; di samping itu, kupikir buku pengantar lumayan tepat untuk orang yang tak pernah membaca buku sedari awal kuliah. Terdapat dua eksemplar Pengantar Politik di rak, letaknya bersampingan; aku mengambil salah satu dan membawanya ke meja baca.

Reaksi pertamaku setelah membuka halaman satu Pengantar Politik adalah memaki dalam hati: halaman itu dipenuhi coretan bolpoin, sampai tak ada satu kata pun terbaca. Dengan cepat kubuka halaman dua, tiga, empat, dan seterusnya sampai akhir, dan kudapati hal serupa.

Aku langsung mengambil Pengantar Politik yang lagi satu. Dan aku bukan lagi memaki dalam hati ketika membukanya, melainkan refleks menyuarakan makian tersebut saking kagetnya: bagian dalam Pengantar Politik itu telah dilubangi sedemikian rupa, sehingga menjadi peti penyimpan sepucuk revolver.

Melihat si Pustakawan menatap tajam padaku yang memaki, aku buru-buru menutup buku, membuka Pengantar Politik yang penuh coretan, dan pura-pura fokus membaca selama beberapa jenak. Dengan pura-pura fokus membaca, aku mendapati hal yang tadi luput kuperhatikan: di halaman tiga, ada satu kata yang tak terkena coretan sama sekali, yaitu kata kami. Aku lalu membalik halaman tiga dan mendapati kata butuh tak dicoret di halaman lima. Aku pun membuka halaman-halaman berikutnya dengan cepat sampai halaman terakhir, dan ternyata lumayan banyak kutemukan kata-kata yang tak dicoret. Aku segera menyimpulkan: seseorang hendak menyampaikan pesan rahasia.

Aku melirik si Pustakawan, ia sudah kembali berjuang keras melawan kantuk. Diam-diam aku memasukkan peti revolver ke tasku, sebelum mengajukan Pengantar Politik penuh coretan untuk kupinjam.

Di kamar indekos, aku mencatat kata demi kata yang tak dicoret dalam Pengantar Politik, dan aku menemukan pesan rahasia yang sedikit panjang. Pesan itu ditulis oleh salah seorang—dari sepuluh—korban penculikan presiden yang kini menjabat, Joni Sabung; beberapa di antara mereka adalah politisi, aktivis, jurnalis, dan sastrawan yang lumayan terkenal, sedangkan si Penulis Pesan hanyalah aktivis yang kurang terkenal, tapi memiliki pengaruh lumayan besar di perkumpulannya. (Orang-orang terkenal yang disebutkan di sana, seingatku, pernah diberitakan meninggal dunia beberapa tahun lalu.) Katanya, mereka sedang dikurung di suatu bangunan di pulau terpencil, dengan titik koordinat … ah, aku tak paham. Dilanjutkan dengan cerita tentang bagaimana masing-masing korban diculik, lalu disambung dengan penjelasan tentang bagaimana si Penulis Pesan, dibantu seorang interogator yang mengkhianati Joni Sabung, mendapatkan dua eksemplar Pengantar Politik, sepucuk revolver, dan enam butir peluru, hingga akhirnya semua itu sampai di perpustakaan. Pesan diakhiri dengan harapan mereka agar Joni Sabung jangan sampai menjadi presiden lagi, dan agar pesan rahasia ini jangan sampai bocor ke pihak mana pun, atau akibatnya akan fatal—entah fatal yang seperti apa tepatnya.

Tak ada pesan perihal apa yang mesti kulakukan dengan revolver itu. Namun aku berasumsi bahwa si Penulis Pesan ingin aku menggunakannya untuk membunuh Joni Sabung ....

Seusai membaca pesan itu, aku merebahkan diri di kasur dan memejamkan mata karena kepalaku mendadak terasa nyeri. Aku tak ingin memikirkan apa pun, tetapi sejumlah pertanyaan merongrong kepalaku: Kenapa pesan rahasia dan revolver mesti susah payah disembunyikan dalam dua Pengantar Politik? Kenapa mereka berani menyerahkan pesan rahasia dan revolver kepada orang yang tak pasti? Kenapa pula kedua Pengantar Politik mesti diletakkan di perpustakaan yang sepi, dan bukan diantarkan langsung kepada orang kepercayaan mereka? Apakah jadinya jika buku-buku itu, seumur hidup, tak pernah dijamah oleh siapa-siapa di perpustakaan? Apakah sebaiknya aku benar-benar tak membocorkan pesan itu? Bahkan sampai sekarang, sampai aku tinggal di rumah mewah ini, kesemua pertanyaan itu belum terjawab … dan aku tak berani mengharapkan jawaban apa pun.

Saking bingungnya, aku sempat memutuskan untuk tak berbuat apa-apa terhadap revolver dan pesan rahasia itu, meski aku jadi gelisah setengah mampus. Namun itu tak semudah yang kubayangkan, karena hal-hal menyebalkan segera terjadi. Empat hari kemudian, saat aku kembali ke perpustakaan untuk mengembalikan Pengantar Politik penuh coretan, aku mendapati perpustakaan itu sedang kebakaran hebat. Mulai keesokannya, aku rutin diteror mimpi-mimpi buruk yang memiliki kemiripan satu sama lain—dan siksaan mimpi-mimpi buruk baru berakhir setelah aku tiba di rumah mewah ini. Mimpi-mimpi tersebut berupa kejadian-kejadian acak yang diakhiri dengan adegan wajahku ditembak menggunakan revolver, baik oleh seorang manusia tak dikenal, seekor alien, seekor siluman, ibuku, ayahku, mantan kekasihku, atau diriku sendiri.

Setelah sekitar seminggu rutin dihajar mimpi-mimpi buruk, aku mendapat kabar bahwa lusa Joni Sabung akan melakukan kampanye di wilayah di mana rumah indekosku berada. Kabar itu kudapatkan di tengah keisengan membuka sejumlah situs berita, ketika aku sedang duduk di warung internet untuk keperluan riset. Tanpa diriku sendiri duga, aku lantas membuka YouTube dan menonton video tentang cara menggunakan revolver.

Di hari kampanye, aku berdiri di balkon rumah indekos bersama para penghuni lainnya. Tentu mereka tak tahu bahwa sepucuk revolver tersembunyi di pinggangku, dan pikiran-pikiran ganjil—yang sulit kudeskripsikan—tersembunyi dalam kepalaku. Di bawah sana, para pendukung Joni Sabung berkumpul di pinggir jalan, bersiap-siap menyambutnya. Dan, terlihatlah pria itu, masih agak jauh: ia berdiri di bak truk yang melaju perlahan, melambai-lambaikan tangannya ke segala arah. Orang-orang berteriak kegirangan seperti kesetanan, terasa mengiris-iris gendang telingaku. Ketika akhirnya truk itu melintas di bawahku, aku segera mengeluarkan revolver, dan menembakkan keenam butir peluru secara bertubi-tubi ke arah Joni Sabung. Satu peluru berhasil melubangi kepalanya, sedang sisanya mengenai badan truk.

Sejak menyembunyikan revolver di pinggang sampai mengeluarkan benda jahat itu, aku tak memikirkan apa pun selain aku harus membunuhnya. Termasuk aku tak memikirkan cara menyelamatkan diri dari kejaran para polisi. Maka, dengan mudah, para polisi menangkapku di balkon rumah indekos.

Sesuai tebakanku, hakim menjatuhkan hukuman mati, dan hari-hari berlalu secara cepat di sel khusus, dan tahu-tahu saja aku telah berdiri di hadapan regu tembak dengan tubuh terikat dan kepala terbungkus. Lucunya, aku tak merasa gentar sedari ditangkap hingga berdiri di hadapan regu tembak itu. Tidak juga aku merasa tenang, tegar, atau semacamnya—aku hanya merasa kosong.

Instruksi untuk menembak pun terdengar. Dalam hati aku mengucapkan selamat tinggal pada mimpi-mimpi buruk sialan itu. Kemudian suara tembakan-tembakan serempak terdengar, menyakiti pendengaranku.

Hanya menyakiti pendengaranku ....

Tidak dada maupun bagian-bagian tubuh lainnya ....

Awalnya kupikir seperti itulah rasanya mati seketika, mati yang tanpa rasa sakit. Tetapi aku segera sadar bahwa aku belum mati ketika seluruh ikatan di tubuhku dilepas. Lantas aku digiring ke suatu tempat dengan tangan terborgol, dan dimasukkan ke mobil yang langsung saja melaju kencang—semua itu dilakukan dalam keadaan kepalaku masih terbungkus.

Borgol dan bungkus kepalaku baru dilepas setelah aku diturunkan dari mobil. Ternyata, aku sudah berada di halaman rumah mewah ini, halaman yang dikepung dinding benteng yang tinggi, bahkan lebih tinggi sekitar lima kaki dari rumah bertingkat tiga ini. Saking tingginya dinding benteng itu, pada siang hari halaman rumah tampak remang.

“Rumah ini adalah rumahmu,” kata salah seorang pria yang mengantarku. Ia tampak sungguh perlente. Ia lanjut mengatakan bahwa segala kebutuhanku sudah tersedia di sini; dan seandainya habis, akan ada seseorang yang mengantarkan stok tambahan kemari. Namaku, tanggal lahirku, tempat kelahiranku, orang tuaku, saudara-saudaraku, dan lain-lainnya bukan lagi seperti yang semula. Semua itu kini resmi berubah—aku yang lama sudah dinyatakan mati. Dan satu hal yang mesti kuingat: jangan coba-coba keluar dari rumah ini sampai ada pemberitahuan lebih lanjut—entah kapan—atau para penjaga di luar dinding benteng akan menyakitiku.

Ragu-ragu, aku mengangguk seusai ia menjelaskan, lalu ia dan kawanannya segera memasuki mobil dan meninggalkanku sendiri; mobil keluar lewat pintu benteng yang terbuka, samar-samar di luar aku melihat sekelompok orang seperti ninja yang membawa senjata api.

Seperti kata pria itu, di dalam rumah terdapat segala hal yang kubutuhkan untuk bertahan hidup secara nyaman, tanpa bekerja. Namun tak ada cara untuk bersentuhan dengan kehidupan di luar sana—sehingga aku bahkan tak tahu, Marko Kobar atau orang lainkah yang kini menjabat sebagai presiden. Komputer yang ada hanya bisa kupakai untuk memainkan berbagai game seru dan mendengarkan musik-musik instrumental.

Bagaimanapun, di luar dugaan, kenyamanan di sini tak habis-habisnya kurasakan. Padahal kupikir kenyamanan ini akan menjadi hambar dalam satu atau dua minggu pertama. Hingga kini aku tak merasa tak sabar untuk menantikan hari di mana aku boleh keluar. Aku tak tahu apakah ini keberuntungan atau justru kutukan; dalam segala hal berbau politik, batas antara keberuntungan dan kutukan kupikir memang rada kabur. Sialan memang ....



*) Cerpen ini dimuat di Lensasastra.id pada 19 Februari 2021.

Kamis, 28 Januari 2021

PAK GURU BELAJAR MEMBUNUH -- Sebuah Cerpen

*Gambar oleh: Gemini AI




Setelah sepuluh tahun mengajar fisika di sebuah SMA, Pak Jose sadar bahwa murid-murid bodoh bukan mesti diberi ilmu pengetahuan; mereka hanya butuh dijadikan lahan tempat menanam biji-biji peluru. Ia sadar akan hal itu setelah pada suatu sore, ketika awan-awan serupa kumpulan ubi busuk mengambang, sepulangnya ia dari rapat guru yang membahas hal tak lebih penting dari celana dalam, ia mendapati seisi rumahnya persis pemakaman yang diobrak-abrik para hantu mengamuk. Sang putri dan sang istri, yang wajahnya dibuat seperti telur penuh tumpukan tahi ayam, memberi kesaksian bahwa pelakunya adalah sekelompok remaja, kira-kira berjumlah tiga puluh orang. Memang tak ada bukti pasti apakah remaja-remaja itu adalah tiga puluh orang yang kemarin diberinya nilai nol saat ulangan—karena ketahuan berbuat curang—tapi ia yakin: merekalah, murid-murid dengan otak berbahan nasi jamuran itu, para hantu mengamuk yang sesungguhnya.

Pak Jose pun teringat akan senapan mesin ringan ilegal dan sembilan puluh tujuh butir peluru yang ia simpan di gudang; benda-benda menyenangkan itu diwariskan kakeknya seusai perang, kakeknya yang kehilangan kedua bibir dalam pertempuran yang brutal, sehingga ia selalu tampak antara menyeringai kejam atau cabul, dan berdasar pengalaman kehilangan dua bibir sawo mentah itulah ia kerap berkata: “Setiap pemenang akan kalah dengan cara yang sama, setiap pecundang akan menang dengan caranya masing-masing.” Pak Jose tak pernah sepenuhnya memahami kalimat itu, tapi ia pikir itu terdengar segagah dada bidang berbulu yang mementalkan sembilan puluh tujuh peluru.

Ketika Pak Jose menyalakan lampu gudang yang membuat wajahnya tampak pasi, ketika Pak Jose memandangi peti penyimpan senapan dan peluru itu dengan tatapan Hawa saat melihat buah terlarang, sontak sebuah kalimat terngiang-ngiang kembali di kepalanya: “Orang-orang bodoh bukan sebab tak dididik, melainkan begitulah pilihan mereka.” Kalimat itu diucapkan oleh Hel, sahabatnya yang sebulan lalu tewas dengan meledakkan diri di sebuah kampus ternama, di mana ia bekerja sebagai dosen filsafat; Pak Jose sering membayangkan janggut gimbalnya terbakar dalam slow motion dalam ledakan itu.

Kalimat Kakek dan Hel terus berjoget dalam kepala Pak Jose, terus membuatnya tak bisa tidur, seolah para tetangga kompak mengadakan pesta dangdut sepanjang malam, hingga kantung mata Pak Jose seperti gumpalan lelehan plastik saat keesokan paginya mengajar, menghadapi empat puluh murid yang tiga puluh di antaranya, ia yakin, “bertamu” ke rumahnya kemarin.

Pak Jose mengajar seperti biasa, seolah tak terjadi apa-apa; ia memberi sebuah soal yang amat mudah di papan dan, seperti biasa, hanya sepuluh murid yang mampu menjawab. Mereka yang mampu menjawab adalah murid dengan ranking sepuluh besar, sepuluh murid yang tak memilih menjadi bodoh, sepuluh murid yang setahunya tak pernah berbuat curang, sepuluh murid yang tak akan membahayakan masa depan umat manusia, sepuluh murid yang tak akan ia jadikan hantu.

***

Jam istirahat tiba, ke ruang guru Pak Jose memanggil Ros si Ketua OSIS, dan guru itu membuka pembicaraan dengan gemetar, suaranya serendah jejak-jejak sepatu di lantai yang tak diperhatikan para guru lain di sana. Pak Jose mengatakan bahwa ia sangat mengapresiasi ketekunan Ros dan seluruh murid lain yang mendapat ranking sepuluh besar di sekolah itu, dan sebagai wujud apresiasi ia akan membayarkan mereka semua tiket pulang-pergi untuk liburan plus penginapan bintang tiga; mereka akan berangkat tujuh hari lagi ketika masa liburan dimulai, dan pulang tujuh hari kemudian saat masa liburan selesai. Ros tentu mengernyit, seakan yang ia dengar adalah sekolah mereka akan dipindahkan ke ruang angkasa, dan Pak Jose menambahkan, “Liburan kalian memang tak akan mewah, tapi saya menjanjikan kenyamanan.” Sebagai ketua OSIS, Ros pun diminta Pak Jose untuk mengkoordinasikan rencana liburan itu ke semua murid dengan ranking sepuluh besar di masing-masing kelas; rencana itu tak boleh sampai terdengar oleh satu pun guru lain atau murid di luar ranking sepuluh besar, sebab, “Orang-orang cemburu, Ros, adalah hantu-hantu paling jahat.”

Tiba-tiba guru agama itu, Pak Dong, melintas di samping Ros, dan tangannya yang seburuk daging dalam capit kepiting rebus pun mencolek dagu gadis tersebut, dan dengan suara sekasar angin laut musim hujan ia berkata, “Selamat siang, Ros cantik.”

“Selamat siang, Pak,” balas Ros, dengan wajah semerah cangkang kepiting rebus.

Pak Dong lantas pergi dari ruang guru, entah hendak ke mana, Pak Jose tak peduli, asalkan ia tak pergi ke neraka, sebab Pak Jose akan membutuhkannya.

Kepergian Pak Dong pun membuat Ros teringat sesuatu, dan sesuatu itu ia ingatkan pada Pak Jose: Masa liburan harusnya dimulai delapan hari lagi, dan tujuh hari lagi sekolah akan mengadakan perpisahan untuk guru agama itu.

“Kau benar, Ros,” balas Pak Jose. “Tapi tak masalah, guru agama itu akan memberkati ketidakhadiran kalian.”

***

Mampirnya Pak Jose ke rumah Pak Dong, pada malam hari lebih-lebih, adalah sesuatu yang pantas membuat guru agama itu terheran-heran, seolah yang bertamu adalah Tuhan atau kematian. Setelah melirik ke sekeliling dan memastikan tak ada siapa-siapa di ruang tamu selain mereka berdua, Pak Jose mulai membuka percakapan. “Apakah Bapak ingat waktu kita berbincang-bincang soal ‘kematian suci’? Saya ingin membahas itu lebih dalam. Saya tertarik dengan seratus bidadari perawan.”

***

Seraya merangkai sebuah bom di gudang, Pak Jose tersenyum-senyum sendiri: Ia membayangkan Pak Dong berdiri di podium lapangan sekolah dengan bom di balik seragam, ia membayangkan Pak Dong membawakan kisah para nabi dan mengucapkan salam perpisahan, ia membayangkan Pak Dong melompat ke kerumunan murid lalu hantu-hantu pun memenuhi lapangan. Ledakan itu tidak akan seberapa, tapi cukup untuk menghancurkan seluruh murid yang berkerumun, dan tak akan sampai menjangkau posisi para guru di sisi lain lapangan—kalaupun perhitungan Pak Jose salah dan ledakan menjangkau para guru, setidaknya ia yakin mereka tak akan sampai terbunuh. Entah Pak Dong akan bertemu seratus bidadari perawan atau tidak, Pak Jose tak peduli, yang ia pedulikan adalah betapa membahagiakannya sekolah andai hanya ada murid-murid pintar di sana.

Sebelum bepikir tentang bom, Pak Jose sempat memerbaiki senapan mesin ringan ilegal yang sang kakek wariskan, dan hendak menyuruh Pak Dong menembaki murid-murid sebelum menembak diri sendiri. Namun, setelah ia pikir-pikir, bomlah yang paling efektif dan efisien, meski ia jadi harus merepotkan diri lagi. Setelah bom selesai dirangkai dalam dua hari—tak sulit baginya, sebab bom ini tak sedahsyat yang ia buat untuk Hel—Pak Jose mengantarkannya langsung ke rumah Pak Dong, dan guru agama itu menyambutnya sehangat menyambut berkah-berkah yang tepat waktu. Ketika Pak Jose tuntas mengajarkan Pak Dong cara menggunakan bom, dan guru agama itu tersenyum seperti mendapat tawaran untuk melanjutkan penulisan kitab suci agamanya, Pak Jose seakan mencium wangi seratus bidadari perawan.

***

Para murid bodoh dan para guru telah berkumpul di lapangan sekolah, sedang murid-murid pintar itu, berdasar SMS dari Ros, telah tiba di Hotel Suwarga. Para murid bodoh berkerumun di utara podium, persis berhadapan dengan podium tersebut, sedang para guru berbaris di sebelah timurnya. Di antara para guru, Pak Jose tersenyum-senyum sendiri; ia tak sabar menunggu Pak Dong naik ke podium, membawakan kisah para nabi, mengucapkan salam perpisahan, dan ....

“Apa ada yang melihat Pak Dong?” ucap kepala sekolah lirih, kepada para guru.

Guru-guru lainnya saling bertukar pandang. Sebagaimana mereka, Pak Jose pun tersadar bahwa ia tak melihat Pak Dong sedari tadi. Angin berlari kencang dan menggoyang-goyangkan mik yang hampir jatuh dari podium; mik itu sendirian dan tak ada sang juru selamat yang akan menggenggamnya.

Diam-diam, Pak Jose menyelinap keluar dari barisan para guru, dan ia melangkah ke arah toilet; saat itulah mik akhirnya jatuh dari podium, dan speaker menembakkan suara yang membakar telinga. Tiba di toilet, Pak Jose menelepon Pak Dong. Telepon segera diangkat dan ia disambut dengan, “Selamat pagi!” yang guru agama itu ucapkan dengan terengah-engah. “Saya tidak jadi ke sekolah hari ini.”

Pak Jose mendengar desahan seorang perempuan dari seberang telepon, jarak sang pendesah terdengar seperti hanya sejengkal—atau kurang—dari telepon tersebut.

“Saya mendapat kabar dari Ros bahwa hari ini ia berada di Hotel Suwarga.” Pak Dong mengambil jeda sejenak, mengatur napas. “Jadi, saya cepat-cepat menyusulnya, dan akhirnya kami melakukan apa yang sedari lama kami inginkan!”

Desahan Ros terdengar semakin menjadi-jadi.

“Bom itu! Bagaimana, Bodoh?!” Pak Jose tak tahan untuk tak membentak.

“Hei, santailah! Bantuanmu tak akan saya sia-siakan!” Pak Dong terbatuk-batuk. “Setelah kami mencapai klimaks, Ros akan mengumpulkan semua murid di halaman hotel, dan di sanalah saya akan ....”

Pak Jose melempar ponselnya ke bak air, berlari pulang, dan mengambil senapan mesin ringan dari gudangnya.



*) Cerpen ini dimuat di Nongkrong.co pada 6 Januari 2021.

x

Selasa, 27 Oktober 2020

CERITA-CERITA MENGHILANG DARI KEPALAKU -- Sebuah Cerpen

 

*Sumber Gambar: Magrib.id


Cerita-cerita menghilang dari kepalaku. Komputerku sampai bosan menunggu jari-jemariku menyentuh tutsnya, sehingga benda itu memadamkan layarnya sendiri. Mungkin ini semua karena otakku sudah lama sekali tak kugunakan untuk menghasilkan cerita pun mencerna tulisan; dalam waktu amat lama, otakku hanya memikirkan cara terbaik untuk menerima kesakitan dan kesepian di dalam sel.

 

***

 

Seminggu setelah novel terakhirku terbit, para polisi menangkapku pada pagi buta di rumahku, atas tuduhan pencemaran nama baik presiden. Entah di bagian manakah novelku mencemarkan nama baik presiden, para polisi menolak untuk menjelaskan. Mereka menutup kepalaku dengan karung, membawaku menempuh perjalanan panjang dengan mobil, dan baru melepaskan karung itu setibanya aku di sebuah ruangan kecil, yang tak lebih bagus ketimbang kamar mandi umum jika lupa dibersihkan selama setahun.


Aku tinggal di sana hingga menua secara menyedihkan. Aku tak pernah dijenguk istri pun anak-anakku, tak pernah sekali pun menjejakkan kaki di luar sel, dan jarang diberi makanan—kalaupun diberikan, jangan tanya bagaimana rasa makanan itu. Yang paling membuatku merasa hidup terkutuk adalah aku disiksa hampir tiap hari oleh salah seorang polisi, karena tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh yang dilontarkannya. Hingga pada suatu hari, pintu selku didobrak, dan terlihatlah beberapa orang—aku tak pernah melihat mereka sebelumnya—berdiri dengan mulut menganga, seolah aku adalah seekor naga dalam dongeng-dongeng yang tanpa diduga nyata adanya.      


“Tiga puluh tahun menghilang, dan ternyata penulis itu masih hidup …” gumam salah seorang di antara mereka.


Mereka membawaku keluar dari ruangan ini, dari bangunan ini, yang ternyata adalah sebuah rumah tua di tengah hutan. Di sana tak ada sel-sel lain selain sel yang mengurungku, maupun tahanan-tahanan lain selain aku.


Mereka memasukkanku ke jok belakang sebuah mobil dan membawaku ke rumah sakit. Di tengah perjalanan, untuk pertama kalinya aku berbicara pada mereka, “Apakah sebentar lagi aku sudah boleh membaca dan menulis? Apakah sebentar lagi aku sudah boleh bertemu dengan istri dan anak-anakku?”


“Tentu saja Anda sudah boleh membaca dan menulis lagi,” sahut orang yang duduk di sampingku. “Kami bahkan akan membelikan Anda banyak buku bagus serta komputer untuk menulis.”


“Komputer?!” Aku terkejut. “Ya ampun! Aku akan menulis menggunakan komputer! Itu mimpiku sejak lama!”


“Benar sekali. Lagi pula, sekarang sudah tidak ada yang menggunakan mesin tik.”


“Oh ya, apa kabar istri dan anak-anakku?”


Tidak ada jawaban. Para penyelamatku seperti tak mendengar pertanyaanku. Belakangan, aku mengerti bahwa mereka tak mau membuatku syok dengan kabar buruk itu: rumah dan keluarga kecilku dibakar beberapa hari setelah aku dipenjara, beberapa hari sebelum novel terbaruku ditarik peredarannya dari toko-toko buku dan dibakar juga.


Setelah kira-kira sebulan menjalani perawatan mental dan fisik di rumah sakit, serta sesekali menerima kehadiran para wartawan yang bertanya banyak hal tentang menghilangnya aku selama ini, aku dipindahkan ke apartemen sederhana oleh para penyelamatku, apartemen yang terletak di lantai dua puluh. Di sana terdapat komputer dan rak berisi penuh buku bagus, selain properti-properti lain yang umum ditemukan dalam sebuah apartemen. Kata salah satu dari mereka, “Ini semua hadiah dari pemerintah.”


“Dari pemerintah? Cih! Jadi, ini cara mereka meminta maaf karena telah menghancurkanku, heh?!”


“Hmm … sebenarnya, Tuan, pemerintah yang memenjarakan Anda sudah lengser sekitar dua puluh enam tahun lalu. Yang memberikan Anda semua ini adalah pemerintah yang baru memerintah selama empat tahun.”


Heninglah sejenak. Setelah berpikir agak keras, aku bertanya, “Jika pemerintah yang memenjarakanku sudah lengser sekitar dua puluh enam tahun lalu, kenapa aku tidak diselamatkan sekitar dua puluh enam tahun lalu pula?”


Mereka tak menjawab dan saling bertukar pandang ....


Para penyelamatku pergi setelah menyerahkan amplop tebal berisi uang bekal untukku. Aku lantas mencoba mengoperasikan komputer, kemudian mencoba menulis lagi, dan mendapati cerita-cerita menghilang dari kepalaku. Setelah berjam-jam duduk menghadap komputer tanpa menghasilkan satu kalimat pun, aku memutuskan untuk membaca sebuah buku yang kupilih secara acak dari rak, tetapi aku tak bisa berkonsentrasi membaca. Maka aku berbaring di sofa, memejamkan mata, dan memaksa cerita-cerita bertumbuhan dalam kepalaku.


Dan karena cerita-cerita tak kunjung muncul, aku mulai merasa marah. Amat marah. Marah kepada orang-orang yang menculikku, kepada sel tempatku dikurung, dan kepada pemerintah yang sudah lengser sekitar dua puluh enam tahun lalu. Memang mereka sudah tak menahan tubuhku, tetapi ternyata mereka masih menahan cerita-ceritaku entah di mana!


Tanpa cerita-cerita di kepalaku, bagaimana bisa aku bertahan hidup?!


Tentu saja kau bisa bertahan hidup, jawab suara asing di dalam pikiranku. Bukankah selama di penjara kau bisa hidup tanpa cerita-cerita di kepalamu? Kenapa sekarang, di luar penjara, kau malah tidak bisa?


Apakah memang sebaiknya aku dipenjara lagi?


Malamnya, saat aku pergi ke restoran untuk sedikit bersantai, aku melihat seorang pria yang tak asing duduk beberapa jarak dari mejaku. Ia adalah polisi yang biasanya menyiksaku di sel; ia duduk semeja bersama seorang gadis kecil yang kuduga adalah anaknya. Berdasar gestur, ekspresi, dan tutur kata yang ditujukannya kepada sang anak, sama sekali tak tergambar bahwa ia adalah orang yang pernah berkali-kali hampir membunuh seorang penulis. Dan keberadaan orang itu membuatku mendadak merasa marah. Amat marah.


Bunuhlah ia, agar kau tak marah. Lalu cerita-cerita pasti akan kembali ke kepalamu.


Omong kosong! Aku tak percaya suara di kepalaku sendiri. Jika aku membunuhnya, jelas aku akan dipenjara lagi, dan kehilangan kesempatan untuk membaca-menulis, yang berujung pada semakin sulitnya memunculkan cerita-cerita di kepalaku.


Kalau begitu, kau boleh menyiramkan kopi ke kepalanya.


Itu juga tidak. Aku tak mau terlibat keributan; aku hanya ingin mengisi sisa hidupku dengan menulis cerita-cerita.


Bagaimana kalau kau menghampirinya dan bertanya soal bagian novelmu yang manakah yang mencemarkan nama baik presiden?


Aku benar-benar ingin bertanya demikian. Namun mendadak adegan-adegan penyiksaan yang dilakukannya terhadapku melintas amat jelas, membuatku seketika ketakutan. Aku pun berlari kembali ke apartemenku, merebahkan diri di kasur, menenangkan diri, dan tertidur.


Aku bermimpi berada di dalam selku. Aku duduk menghadap komputer di sebuah meja dan berusaha menulis cerita, tetapi tak kunjung ada cerita yang muncul di kepalaku. Tiba-tiba pria yang biasa menyiksaku itu memasuki sel. Ia bergerak cepat ke sampingku, menatap layar komputer yang belum menampakkan sedikit pun kalimat, dan langsung meninju wajahku hingga aku terjungkal dari kursi.


Kalau sampai satu jam kedepan kau belum juga menghasilkan cerita, aku akan membunuh kau! ucapnya, suaranya sama persis dengan suara asing di kepalaku!


Aku langsung terbangun, meraih komputer, dan melayangkannya ke arah jendela yang segera saja kacanya pecah! Semua kulakukan dengan begitu cepat, dengan ketakutan mengoyak seisi kepala, tanpa sempat mencerna pukul berapakah waktu itu, bagaimanakah cuacanya saat itu, dan lain sebagainya, termasuk soal ke manakah komputer itu akan mendarat.


Terdengar jeritan dari luar sana, dari jalanan yang gelap ....

 

***

 

Aku ditahan di sebuah sel, yang untungnya lumayan bersih, karena membunuh seorang gadis kecil dengan melempar sebuah komputer dari ketinggian dua puluh lantai. Sang gadis kecil adalah anak dari pria yang biasa menyiksaku di sel pertamaku. Karena itulah, kupikir aku akan disiksa lagi oleh pria yang sama. Ternyata, tidak. Di sel ini aku tidak disiksa oleh siapa pun; malah aku mendapatkan teman-teman satu sel yang lumayan menyenangkan, dan diizinkan membaca buku di waktu luang. (Bagaimanapun, aku tak bisa menulis, karena di sini selalu berisik, kecuali tengah malam ketika aku begitu mengantuk.) Kombinasi antara teman-teman baru, izin membaca buku di waktu luang, dan sejumlah pekerjaan rutin di penjara membuatku dapat meredakan perasaan sakit akibat kebobrokan hidupku.


Belakangan, beberapa hari sebelum aku sekarat dan dipindahkan ke rumah sakit ini, dari beberapa sumber aku mendapatkan sebuah informasi: gadis kecil yang tak sengaja kubunuh itu, bersama ayahnya, hendak bertamu ke apartemenku sebelum tragedi tersebut terjadi. Katanya, sang ayah memiliki urusan pribadi denganku, entah urusan apa tepatnya. Itu adalah sebuah kebetulan yang agak ajaib, menurutku, dan membuatku ingin menulis sebuah cerita pendek tentang kebetulan tersebut—bahkan kalimat-kalimat penyusunnya telah tersedia di kepalaku. Namun aku yang sekarat hampir tak bisa lagi menggerakkan tangan, dan di rumah sakit ini tak ada komputer pun mesin tik yang bisa kupinjam.



*) Cerpen ini dimuat di Magrib.id pada 24 September 2020.

Minggu, 13 September 2020

LIBURAN YANG GANJIL, dan Puisi-Puisi Lainnya

 

*Sumber Gambar: Pinterest



Fragmen tentang Api

 

api di dadamu

membakar bunga dan kata

di lidahku

 

malamnya aku bermimpi

tentang sinta yang dibakar

dan rama menjilat abunya

 

semasih panas

 

(Jakarta, Mei 2019)



Fragmen tentang Air

 

aku tenggelam

dalam ludahmu:

 

namaku tisu

menyerap air.

 

tapi tak apa:

aku semakin mudah

 

membayangkan kau

menjilat tubuhku.

 

(Jakarta, Mei 2019)



Sepasang Kekasih, Putus

 

kita tak tahu: bumi-kah lepas dari orbitnya

atau orbit yang terhapus

 

kita tak tahu: kenapa pohon yang menyerap

darahmu kini terbakar dan hangus

 

kita tak tahu: pikirankah yang membeku

atau waktu mendadak kaku

 

kita tak tahu: kenapa tuhan, ketika menyamar

sebagai ilmuwan penemu, mengatakan bahwa

dunia tak pernah baru

 

(Jakarta, Mei 2019)



Menyiapkan Kematian

 

sabit maut menancap di kepalamu

nyawa masih merah ceri

terkurung lingkaran api

tapi kau tahu hujan

akan tiba tak lama lagi

 

maka kau mempercepat langkah

menuju rumah demi rumah

para teman pun saudara

mencari pisau-pisau kautancap

pada pucat tetubuh itu

 

sebab kini kaupaham:

pisau-pisau mestinya kausimpan

hingga mati, sebab jalan menuju akhir

dipenuhi tali-tali ajaib melintang

menghalang jalan

 

tali-tali menghanguskan setiap

bilah menyentuhnya

 

*

kau hanya belum paham:

pisau-pisaumu adalah benda ajaib

yang mudah larut di dalam daging

 

(Jakarta, Mei 2019)



Liburan yang Ganjil

 

saat kau tidur telungkup, pesawat landing

di punggungmu, aku turun dengan koper

yang roda-rodanya menggelitik kulitmu sampai

di puncak pantat, aku mendirikan tenda biru,

menancapkan empat pasak, membuat api unggun,

dan menghangatkan diri sambil menenggak ciu.

 

hingga berjam-jam kemudian, aku tak bisa

tidur; dengkurmu tak kunjung libur. kemudian

aku menoleh ke mulut gua itu; setengah mabuk,

dengan sebatang kayu terbakar, aku pun masuk

ke situ. liburanku berakhir dengan berembusnya

udara busuk, membuat api yang kubawa membesar

ke mana-mana, melahapku sekujur tubuh.

 

(Jakarta, Juni 2019)




*) Puisi-puisi ini dimuat di Becik.id pada 25 Juli 2020.