Kamis, 08 Juli 2021

VANNY MENJADI RATU LEBAH -- Sebuah Dongeng

*) Sumber Gambar: Freepik


Aku bisa menjadi ratu lebah, tepatnya sejak liburan musim panas, dan mungkin kau akan menyebutku penipu ketika aku menceritakan kisah ini padamu.

Sebelum meninggal, Mama menebar benih-benih bunga matahari di kebun. Bunga-bunga itu mulai mencuat dari tanah pada hari ketika Mama dimasukkan ke tanah; bunga-bunga itu berderet dalam sepuluh barisan di kebun, dan kesemuanya telah berdiri tegak dan mekar sempurna pada liburan musim panas. Aku jadi malas pergi berlibur ke mana pun: aku lebih suka merawat kebun, atau sekadar duduk di lantai beranda sambil memandangi kebun, atau duduk sambil membacakan dongeng Putri Bunga Matahari pada bunga-bunga tersebut, meski di beranda tubuhku jadi cepat berkeringat dan terasa lengket.

Aku juga suka melihat lebah-lebah beterbangan di kebun.

Aku suka melihat apa pun yang ada di kebun, kecuali saat tiba-tiba Doddy muncul di depan gerbang rumahku.

Doddy adalah seorang lelaki remaja, dan setiap lelaki yang tumbuh remaja biasanya menjadi nakal, dan sialnya ia tinggal dekat rumahku. Doddy bertubuh segemuk sekarung penuh pasir, dan dahinya selebar satu jengkal tanganku, dan ada segaris bekas luka di sana karena ia adalah remaja yang nakal. Ia sering bersenang-senang dengan memanggilku wajah-bersarang-lebah, sebab di pipiku ada bintik-bintik cokelat yang kupikir-pikir memang mirip sarang lebah, sesekali juga ia menungging ke arahku dan menepuk-nepuk bokong gemuknya.

Aku pernah mengadukan tingkah Doddy pada Papa. Tetapi Papa tak memarahi remaja itu; ia hanya bilang padaku, “Ia hanya ingin bermain denganmu.” Sial, tidak ada yang ingin bermain dengan remaja lelaki nakal. Gara-gara Papa tak memarahinya, aku sempat berpikir untuk tak usah duduk lagi di beranda, tetapi aku begitu ingin memandangi bunga-bunga matahari itu, jadi aku tetap saja sering duduk di sana dan menahan diri menghadapi nakalnya Doddy.

Dan di hari terakhir liburan musim panas, tiba-tiba saja kesemua bunga matahari di kebun menunduk, persis orang-orang yang bersedih di hari pemakaman Mama. Selain itu, kelopak mereka dipenuhi bercak-bercak cokelat—persis pipiku—dan lebah-lebah bergeletakan di tanah. Aku coba mencium bunga-bunga itu satu per satu, dan aromanya membuat muntahanku tertahan di kerongkongan. Lalu sesuatu memanggil-manggilku, “Vanny! Vanny!” dan kupikir itu adalah salah satu bunga matahariku, dan aku mendekat ke sumber suara. Rupanya, yang memanggil-manggilku adalah salah seekor lebah. Di antara lebah-lebah lainnya, hanya ia yang masih berdiri, suaranya terdengar parau, dan lebah itulah yang tampak paling cantik: ia mengenakan mahkota super kecil di kepalanya: pasti ia ratu lebah.

“Para iblis menyerang bunga-bungamu. Mereka juga menyerang kami!”

Aku melihat ke sekeliling; aku tak melihat iblis.

“Kau harus menjadi kami untuk dapat melihat mereka. Jika kau bersedia menolong kami, jika kau ingin bunga-bungamu tegak kembali, ambil mahkotaku dan letakkan di kepalamu.”

Aku pun mengambil mahkota itu dengan ujung jempol dan telunjuk, aku menyentuhnya hati-hati sekali, aku takut mahkota itu hancur di tanganku, dan aku meletakkannya di kepalaku. Tiba-tiba, tubuhku menyusut sampai sekecil lebah! Dan di punggungku ada sepasang sayap lebah, dan aku bisa menggunakannya untuk terbang, dan di bokongku tumbuh sebatang sengatan, panjangnya setara kakiku dan cokelat warnanya dan berkilau terkena sinar mentari. Karena tubuhku menyusut, maka mahkota ratu lebah pas sekali di kepalaku.

Semua di sekelilingku tentu tampak membesar, dan semua tampak lebih mengaggumkan karena tampak membesar, terutama bunga-bunga matahari itu: aku bisa duduk di mahkotanya sambil membacakan dongeng Putri Bunga Matahari.

Satu-satunya yang tampak tak mengaggumkan dengan tubuh sekecil ini adalah aku jadi bisa melihat iblis-iblis itu: mereka bundar dan hijau dan berukuran sebesar perutku, mereka bersayap mirip kelelawar, dan di antara kedua mata merah mereka yang lebar mencuat sebatang jarum. Mereka ada di mana-mana: hinggap di kelopak bunga-bunga matahari, hinggap di tanah di samping lebah-lebah yang mati, juga beterbangan di atas bunga-bungaku—kepak sayap mereka berisik sekali, seperti mulut Doddy.

Di tanah, ratu lebah mulai memejamkan mata dan tergeletak dan tak lagi bergerak. Iblis-iblis mulai mendekatinya dan menyentuh-nyentuh tubuhnya dengan jarum mereka, dan aku tak suka ratu lebah itu kenapa-kenapa. “Jangan ganggu dia!” pekikku, dan semua iblis sontak menoleh ke arahku, dan aku menukik tajam ke bawah dengan sengatan terhunus, dan sengatanku menembus punggung salah seekor iblis yang mendekati sang ratu lebah. Tubuh iblis itu langsung pecah menjadi asap hijau yang baunya persis muntahan di tong sampah!

Sesaat iblis-iblis di sekeliling refleks mundur menjauhiku. Tetapi sesaat berikutnya banyak sekali iblis mulai mengepungku. Mereka masih diam di tempat, namun kepak sayap mereka menjadi ribut sekali dan jarum mereka terarah padaku seorang. Mereka memang kecil dan mudah kutusuk, tapi karena mereka banyak sekali mungkin ini akan serepot menghadapi Doddy.

Dan satu per satu mereka langsung meluncur ke arahku!

Aku segera terbang dan mengelak ke sana kemari di udara, aku mampu bergerak lincah dan aku tak tahu diriku bisa selincah itu, meski beberapa kali aku hampir tertusuk jarum mereka. Desing tubuh mereka menyakiti kupingku, dan tiap meluncur mereka meninggalkan aroma muntahan di udara. Baju bagian perutku sempat sekali tersayat jarum mereka dan sobek lumayan lebar, untung kulit perutku tidak kenapa-kenapa. Iblis yang meluncur menyayat bajuku tampaknya terlambat mengerem di udara: ia malah menusuk tubuh temannya sendiri yang pecah jadi asap hijau dan aku tertawa-tawa.

Tapi mestinya aku tidak tertawa-tawa dan tetap waspada. Karena tertawa, aku kurang waspada terhadap serangan iblis lainnya, aku agak terlambat menghindar dan tubuhku tersenggol keras olehnya dan aku terpental. Saat mendarat di tanah, mahkotaku terlepas dan seketika aku kembali ke ukuran biasa.

“Hei! Wajah-bersarang-lebah!” Doddy mengejekku dari balik gerbang, entah sejak kapan ia berdiri di sana; ia menungging mengarahkan bokong jeleknya padaku dan menepuk-nepuknya dengan bangganya.

Aku sedang tak ingin mengurusi remaja nakal mana pun. Aku berjongkok dan merendahkan wajah ke tanah untuk mencari mahkota itu, yang ternyata ada di dekat ujung jempol kakiku dan untung saja tak terinjak. Aku segera mengambilnya dan mengenakannya kembali. Aku kembali menjadi ratu lebah; padaku iblis-iblis menatap marah.

“Vanny! Ke mana kau?!” pekik Doddy

Aku tahu apa yang harus kulakukan—untung ada Doddy yang nakal di sana. Aku menungging di udara dan sengatanku pasti tampak mengacung dengan cantiknya. Saat iblis-iblis menyerbuku, aku berputar-putar di udara seperti balerina kelas dunia! Atau seperti gasing? Entahlah. Yang jelas, iblis-iblis yang menyerbu segera tersayat sengatanku, dan asap hijau dengan cepat memenuhi sekelilingku. Kemudian iblis-iblis mulai menjauhiku dan aku berhenti berputar sejenak.

Pusing juga … dan bau!

Dan aku tak akan memberikan mereka ampun: aku berputar lagi seperti balerina kelas dunia atau gasing dan aku meluncur mengejar iblis-iblis itu. Semua mati dengan cepat! Dan kupikir tak lama lagi mereka akan pergi dari bunga-bunga matahariku. Tetapi tahu-tahu saja sesuatu yang lebih cepat dariku meluncur menyenggolku; aku terlempar dan buru-buru mengendalikan diri dan kembali terbang stabil sebelum menumbuk tanah. Lalu aku melihat ke sekelilingku, mengikuti arah terbangnya sesuatu yang sangat cepat itu.

Ia berhenti di hadapanku, sesuatu yang cepat itu. Keadaan mulai terasa tak lucu. Ia seekor iblis juga, tetapi sebesar tubuhku, jarumnya dua kali lebih panjang ketimbang iblis-iblis lainnya. Dan, ia mengenakan mahkota—ini akan menjadi pertarungan ratu lebah melawan raja iblis! Dan jelas ini akan menjadi pertarungan yang luar biasa; iblis-iblis lainnya bahkan sampai mengumpet ke balik kelopak-kelopak bunga, sesekali mereka mengintip kami dengan ketakutan.

Aku tidak takut: aku meluncur ke arah raja iblis dengan sengatan terhunus, dan ia cepat sekali menghindar, dan sengatanku menancap di satu mahkota bunga. Kupikir iblis-iblis yang bersembunyi di balik kelopak bunga itu akan langsung mengeroyokku, berhubung aku sedang tersangkut. Tetapi mereka malah langsung kabur, dan aku menoleh ke belakang, ke sesuatu yang membuat mereka kabur: raja iblis sedang meluncur kencang ke arahku. Aku cepat-cepat melepaskan sengatanku dari mahkota bunga untuk menghindar, dan sang raja pun menabrak mahkota bunga yang sama. Namun, bukannya jarum sang raja menancap di sana, tubuhnya menembus bunga itu, bunga yang segera pecah berkeping-keping di udara!

Sang raja iblis berbalik, dan ia sekali lagi meluncur ke arahku, dan aku berhasil mengelak. Kemudian hal serupa terulang lagi berkali-kali hingga napasku tersengal-sengal dan aku mulai lelah. Sial, aku tak ingin pecah seperti bunga. Dan ia sekali lagi meluncur ke arahku, dan bahuku berhasil dirobeknya! Bahuku jadi terasa panas sekali, dan pandanganku seketika berkunang-kunang, dan punggungku mulai terasa kaku—terbangku mulai merendah. Iblis-iblis yang menonton dari balik kelopak-kelopak bunga pun bersiul-siul senang untuk raja mereka.

“Vanny! Di mana kau?!” teriak Doddy sekali lagi, setelah itu ia berjalan menjauh dari gerbang rumahku.

Doddy! Aku terbang mendekatinya dan raja iblis mengejarku. Aku memutari kepala lelaki itu dan ia mulai panik pasti sebab takut kusengat. Ia pun berlari kencang menuju rumahnya seraya mengibas-ngibaskan tangan di udara dan memekik. Aku tetap mengejarnya dan memutar-mutarinya dan bersusah payah menghindari kibasan tangannya, begitupun yang dilakukan oleh sang raja iblis yang tetap mengejarku.

Doddy sampai di halaman rumahnya, dan ia memungut ranting pohon berdaun lebat di tanah, dan ia mengibas-ngibaskannya ke udara. Aku semakin kesulitan mendekatinya, tetapi setidaknya sang raja iblis jadi kesulitan mendekati aku yang mendekati Doddy. Begitu lengan Doddy mulai lelah, begitu kibasannya melambat, aku langsung meluncur ke arahnya dan menancapkan sengatanku ke ujung hidungnya. Ia menjerit, tentu saja. Dan selagi sengatanku tertancap, raja iblis meluncur ke arahku. Tepat saat ujung jarum raja iblis hampir menyentuh tubuhku, aku berhasil melepas sengatan dan mengelak ke samping, sehingga giliran jarum sang iblis yang menancap pada hidung Doddy. Saat itulah, sesuai dugaanku, telapak tangan Doddy terayun menuju wajahnya, dan pufff!!!

Aku melihat asap hijau menyeruak dari hidung lelaki itu—asap yang dengan cepat tersapu angin!

Doddy terjatuh-terduduk dan menjerit sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Aku segera terbang ke ruang dalam rumahnya. Aku tidak melihat siapa-siapa di dalam sana, aku hanya mendengar Waltz of the Flowers karya Tchaikovsky diputar kencang dari lantai atas, dan aku melihat kotak obat di meja dekat televisi. Aku melepas mahkota dan kembali ke ukuran normal, lantas aku mengantungi mahkota itu dan aku membawa kotak obat ke halaman untuk menolong Doddy—lelaki itu bingung bagaimana bisa aku berada di rumahnya.

 

***

 

Liburan usai keesokan harinya. Aku keluar ke beranda dengan seragam sekolah, dan aku kaget melihat bunga-bunga matahari kembali berdiri tegak, aku bisa mencium wanginya dari sini, dan lebah-lebah kembali beterbangan di atasnya. Yang lebih mengejutkan lagi adalah Doddy telah berdiri di balik gerbang, plester luka menempel pada hidungnya, dan ia tersenyum seraya menyodorkan kotak makanan padaku.

“Makan siang untukmu,” katanya.

Kami pun berjalan kaki menuju sekolah, dan kami berpisah di pertigaan—karena kami berbeda sekolah—dan kupikir aku akan menceritakan kisah hebat ini kepada siapa pun, kecuali kepada Doddy!



*) Dongeng ini dimuat di Magrib.id pada Juni 2021.

Minggu, 23 Mei 2021

DARI LUBANG YANG PANAS, dan Puisi-Puisi Lainnya


 *Sumber Gambar: Jawa Pos, 23 Mei 2021



Dari Lubang yang Panas

 

dari lubang yang panas di tahun 1998,

8.991 ton lumpur meteor terciprat dari

puncak piramid: sebuah kota perlahan

tenggelam, ketika seorang ibu berendam

dalam sakit yang lumer dalam udara:

dari lubang yang hangat meluncur

seorang bocah: seketika ia melihat merah

pekat yang dulu menghukum atmanya.

 

(Jakarta, April 2021)




Nursery Rhyme, 1

 

seorang bocah penyendiri, cuma bocah itu sendiri

malam itu ingin bunuh diri

ia ambil pisau di laci

lantai ternoda darahnya suci

 

seorang bocah penyendiri, cuma bocah itu sendiri

malaikat hitam tiba kemari

ke kamarnya dengan pintu terkunci

di tangannya ada sabit yang suci

 

seorang bocah penyendiri, cuma bocah itu sendiri

ia terbang ke langit sendiri

sendiri, sendiri, sendiri

di akhirat ia tetap sendiri

 

(Jakarta, Mei 2021)

 

 

 

Nursery Rhyme, 2

 

papi berteman dengan banyak polisi

setiap saat ia dicari para polisi

 

papi bermain dengan banyak polisi

di loteng rumah ia suka sembunyi

 

papi sangat jago sembunyi

di petak umpet ia tak pernah kalah dari polisi

 

papi berteman dengan banyak polisi

setiap saat ia dicari para polisi

 

papi bermain dengan banyak polisi

dan kemarin mereka bermain hal lain

 

papi digandeng ke lapangan oleh polisi

padaku papi bilang, “jaga ibu, oh Sisi”

 

papi baik dan baik juga padanya para polisi

papi dikubur dan para polisi meninggalkannya sendiri

 

“tahun depan kami kembali kemari,”

kata satu polisi dengan senyuman manis

 

“kuburnya akan kami gali

dan giliran ia mengubur kami sendiri”

 

papi berteman dengan banyak polisi

dan mami tak suka para polisi

 

aku tak suka mami terus menangis

sebab terus marah pada para polisi

 

(Jakarta, Mei 2021)




*) Puisi-puisi ini dimuat di Jawa Pos pada Minggu, 23 Mei 2021.

Senin, 03 Mei 2021

TENTANG KEMATIAN HEMINGWAY, dan Puisi-Puisi Lainnya

*) Sumber gambar: The Dallas Morning News
 


Tentang Kematian Hemingway

 

1/

 

udara juli yang merah

menyeret hemingway

ke ruang bawah tanah

berjumpa sahabat lama

 

selamat pagi, hemingway

lama tak menembak,

senapan berlaras ganda berkata padanya

di tengah gelap membusuk dada tuanya

 

selamat pagi, sahabat,

balas hemingway

hari ini aku menembak

terakhir kalinya

 

2/

 

hemingway merangkul sahabat lama

ke pintu masuk serambi

 

anjing-anjing pemakan bangkai

menunggu di sana

berenang dalam udara juli

semakin merah

 

3/

 

mesiu tertumpah ke laut darah

dan melihat santiago pula manolin

berlayar ke arah lubang peluru

diikuti seekor marlin raksasa

 

semuanya hendak keluar

dari kepala hemingway

 

(Denpasar, Mei 2020)



Kisah Ramayana Versi Alternatif

 

sinta berbohong ketika berkata

hanya mencinta rama.

ia jatuh cinta kepada hanuman

kala sang wanara menyusup ke alengka

membawa cincin emas.

 

“pakailah cincin ini, untuk membuktikan

kesucian lagi kesetiaan kau kepada rama,”

ucap hanuman.

 

“kupakai cincin ini sebagai simbol

bahwa aku menerima lamaran kau,”

balas sinta, tanpa sang wanara duga.

rupanya sinta dapat membaca cinta

pada keluguan tatap mata seekor kera,

cinta yang sama-sama mereka rasa

seperti hutan tumbuh seketika.

 

maka membaralah cinta mereka

seperti api rama membakar sinta,

cinta yang lebih tertutup

ketimbang letak istana rahwana,

hingga agni sekalipun meyakini

kesetiaan sinta kepada rama.

 

sinta tak pernah terlunta seorang diri

sehabis diusir rama dari ayodya,

sebagaimana hanuman tak pernah

sibuk bertapa di kendalisada.

 

sesungguhnya mereka terbang

menuju berbagai rahasia,

bercinta hebat di udara,

di berbagai macam buana,

dan menghapus cita-cita

mencapai moksa.

 

akhir cerita,

cinta dan tubuh mereka

tak akan bosan berpetualang,

tak akan lesap sekalipun ramayana

dilupakan seluruh dalang.

 

(Denpasar, Mei 2020)



Laporan tentang Akutagawa

 

akutagawa belumlah mati.

ia tak pernah menenggak barbital.

mayat yang ditemukan hanya

mayat yang mirip dengannya

 

mayat yang dipilih untuk manipulasi.

akutagawa sesungguhnya menyepi

di dunia kappa. fakta itu kudapati

tatkala aku berlibur ke jepang,

 

berjalan santai di sebuah hutan,

terperosok ke dalam lubang,

dan tibalah aku di dunia kappa,

lalu bla bla bla, hingga berjumpa

 

akutagawa di sebuah gua.

“apakah para kappa lebih baik ketimbang

para manusia secara umum, dan orang-orang

jepang secara khusus?” aku bertanya.

 

akutagawa hanya menggeleng.

“lantas, kenapa kau pergi kemari?”

akutagawa menjawab, “kelak kau

akan memahamiku setelah memahami

 

tulisan yang kalimat lagi gagasannya

selicin kulit para kappa.”

kemudian aku kembali ke dunia normal

diantar beberapa kappa,

 

kembali ke penginapan,

ketiduran di pemandian air panas,

dan bermimpi berdiri di sebuah gerbong

kereta bawah tanah, terjepit orang-orang

 

berseragam kantor,

serasa diremukkan

batu-batu sekeras

cangkang para kappa.

 

(Denpasar, Mei 2020)



Setelah Kebahagiaan

 

setelah ratusan kupu-kupu

berkembang biak pesat di lambungmu

kau memuntahkan semuanya

ketika lampu di ubun-ubunmu

mendadak pecah dan gelap melebar

beratus kilometer di sekelilingmu

 

kau harus menelan kembali

kesemua kupu-kupu, tentu saja

kau harus mengejar kesemuanya

di antara rimbun geligi iblis

yang tak terlihat

yang menyayat kulitmu di sana-sini

hingga kau tenggelam

dalam kolam darah sendiri

 

sementara itu, ratusan kupu-kupu

meninggalkanmu menuju langit

di mana ia yang menembak lampumu

menganga lebar

mengundang kesemua kupu-kupumu

menuju lambung masamnya

 

(Denpasar, Mei 2020)



Fermentasi

 

setelah menaburi diri dengan gula

kau hanyutkan diri dalam darahku

setakterduga terjamah bibir kau oleh

bakteri-bakteri

di tubuhku segera mencintai kau

memeluk tubuh kau

berminggu-minggu

berbulan-bulan

bertahun-tahun

menjadikan kau sesuatu yang awet

lagi memabukkan:

 

entah alkohol entah puisi

 

(Denpasar, Mei 2020)



Tubuhmu, Gedung Apartemen

 

aku pindah ke tubuhmu, menyewa apartemen

di lantai 7, tepat di dada kanan, bertetangga

dengan hantu mantan pacarmu di dada kirimu.

itu hantu paling berisik yang pernah kutemui,

melebihi berisiknya para penghuni lain

di lantai 3 sampai 5: sekitar kelaminmu.

 

sepanjang hari hantu itu berteriak,

menggetarkan apartemenku sampai

retak-retak sekujur dindingnya.

ia ingin menyewa apartemen di lantai 10

—oh, berani-beraninya ia meminta tinggal

di atas apartemen keluarga kecilmu

di lantai 9—bagian yang sengaja

kaukosongkan

mungkin sampai selama-lamanya.

 

“jika bosan dengan apartemen di lantai 7,”

katamu, “kau boleh pindah ke lantai

1, 2, 6, atau 8. di sana kosong

dan bukan karena sengaja dikosongkan.”

 

hantu itu merasa dilecehkan oleh kau

sehingga ia mengamuk dan membuat

dada kananmu berdarah-darah.

 

melihat dada kananmu berdarah-darah,

aku membikin sepucuk senapan

dilengkapi peluru-peluru khusus

untuk membantai hantu tetangga.

dan ketika senapan itu jadi, jadilah

ketololanku mematikanmu:

 

karena hantu itu tak kunjung membuka

pintu apartemennya, padahal sudah

ribuan kali aku mengetuk, aku pun

menembaki pintunya bertubi-tubi,

dan tentu saja peluru itu tak berhenti

di daun pintu, melainkan menembusnya,

menghujani sang hantu yang mengumpet

sampai mampus semampus-mampusnya.

 

tapi aku baru sadar bahwa ada jantungmu

di dalam situ ....

 

(Denpasar, Mei 2020)



Pandemi

 

pintu terbuka

orang-orang tersebut

tetap terkurung

 

(Denpasar, Mei 2020)




*) Puisi-puisi ini dimuat di Lensa Sastra pada 23 April 2021.