Kamis, 09 Maret 2017

SEEKOR BURUNG YANG INGIN MENJADI TUHAN -- Sebuah Cerpen





Tentu kau tak pernah tahu bahwa burung peliharaanmu yang bernama Petto itu ingin menjadi Tuhan. Keinginan tersebut muncul setelah sebelumnya ia ingin menjadi manusia.
            
“Menjadi manusia itu sangat menjijikkan!” kata seekor burung liar yang adalah teman baik burung peliharaanmu. “Lebih baik kau menjadi burung liar saja seperti aku! Toh, aku bisa membukakan pintu sangkarmu dari luar sini, seperti sebelum-sebelumnya ketika kauminta, kemudian kau akan bebas dan berhak menjadi liar!”
            
“Ini bukan perihal ‘bebas dan liar’,” sahut Petto. “Ini perihal ‘menjadi manusia seutuhnya’.”
            
“Berarti kau ingin menjadi makhluk yang menjijikkan seutuhnya!”
            
“Tidak masalah. Walaupun manusia menjijikkan, tapi manusialah penguasa dunia ini. Dan, aku juga ingin berkuasa, sehingga aku harus menjadi manusia.”
            
“Memangnya kau tahu bagaimana cara menjadi manusia?”
            
“Tentu saja dengan memakan manusia. Tapi, manusia yang akan kumakan bukanlah majikanku. Dia terlalu baik. Aku akan memakan manusia yang lain saja. Sayangnya, di sekitaran sini aku tak pernah melihat ada manusia yang lain.”
            
Hening sejenak. Bahkan angin malam pun turut bungkam.
            
“Tunggu … tunggu …” ujar si Burung Liar, mengoyak keheningan. 

“Kalau aku tak salah dengar, tadi kaubilang bahwa kau ingin menjadi manusia karena ingin berkuasa, bukan?”
            
Petto mengangguk mantap.
            
“Kenapa kau tidak sekalian saja menjadi Tuhan?”

***

Keesokan malamnya, sebagaimana malam-malam selanjutnya, si Burung Liar membukakan pintu sangkar Petto dari luar, dengan maksud membantu sang teman dekat—dan berharap Petto gagal menjadi Tuhan, lalu sudilah ia menjadi burung liar saja. Setelah keluar dari sangkarnya yang tergantung di langit-langit beranda, bertenggerlah Petto pada bibir lubang udara kamarmu. Di dalam kamar, dengan pencahayaan remang-remang dari lampu tidur, ia dapat melihat kau bersila di kasur sembari mencakupkan tangan di dada.
            
Muncullah, Tuhan! Muncullah! Petto berkata dalam hati sembari memandangi kau yang sibuk berdoa. Ia yakin Tuhan akan muncul sebab begitulah yang tak sengaja dilihatnya beberapa bulan lalu—sebelum ia ingin menjadi manusia—dari bibir lubang udara itu juga, dalam rangka sekadar iseng. Pada malam beberapa bulan yang lalu itu, dilihatnya Tuhan masuk melalui pintu kamarmu tanpa perlu membuka apalagi mengetuknya, sebab Tuhan bisa menembus apa saja. Dan, sebelum kau lepas dari doa, Tuhan meletakkan segepok uang—yang kauminta dalam doa—di sampingmu.
            
Berdoalah yang ikhlas, oh majikanku, supaya Tuhan sudi datang!
            
Tak lama kemudian ada yang menembus pintu kamarmu sebagaimana malam beberapa bulan yang lalu itu. Tentu saja itu Tuhan, dan kau tak akan melihatnya sebab kau masih terlarut dalam doa. Saat itulah Petto beraksi; ia menukik tajam ke arah Tuhan, membuka paruhnya lebar-lebar, tetapi sebelum Tuhan berhasil disentuh apalagi ditelannya, sekonyong-konyong tubuh Tuhan memancarkan kalor yang membuat Petto kepanasan hebat. Petto pun cepat-cepat menjauhi Tuhan dan keluar dari kamarmu melalui lubang udara.
            
Anehnya, tubuhmu yang didekap doa itu taklah merasakan panasnya Tuhan sedikit pun.

***

“Sudah kubilang, mending kau menjadi burung liar saja seperti aku!” si Burung Liar berkata, kemudian tertawa terbahak-bahak.
            
“Awas saja kalau aku sampai berhasil memakan Tuhan,” balas Petto dengan penuh kekesalan.

***

Hingga enam malam berikutnya, usaha Petto untuk memakan Tuhan masihlah gagal. Gagal dengan cara yang sama. Si Burung Liar pun semakin sering mengejek Petto dan terus-menerus membujuknya agar mau menjadi burung liar saja.
            
“Tetapi burung liar tidak akan seberkuasa manusia apalagi Tuhan, Kawan!” kata Petto.
            
“Tak masalah apakah kau penguasa atau kau yang dikuasai,” sahut si Burung Liar, “yang penting kau berbahagia dan tak perlu menelan kekecewaan karena selalu gagal memakan Tuhan!”
            
Pada malam selanjutnya, Petto tak lagi mengamati kau—yang berdoa—dan Tuhan—yang datang—dari bibir lubang udara kamarmu, sebab di sangkarnya ia sedang sibuk memikirkan “rencana baru”.

***

“Apa? Burung betina? Sebanyak-banyaknya?” si Burung Liar terbelalak. “Buat kaukawini?”
            
Dari dalam sangkarnya, burung peliharaanmu menjawab, “Ya.”
            
“Setelah berusaha untuk memakan Tuhan berkali-kali dan gagal, apa yang membuatmu berpikir untuk kawin berkali-kali, Petto?”
            
“Kau akan tahu nanti. Tak perlulah bertanya sekarang. Yang perlu kaulakukan hanyalah membantuku mencari burung betina sebanyak-banyaknya.”
            
Tanpa perlu berpikir panjang, si Burung Liar menjawab, “Tidak perlu kucarikan pun kau pasti dapat. Hutan di mana rumah majikanmu ini berdiri menyimpan banyak burung betina liar yang liar!”

***

Tentu kau tak pernah tahu bahwa burung peliharaanmu itu dapat mengawini setidaknya sepuluh ekor burung betina liar tiap malam, saban kau terlelap.
            
Petto memang sudah tidak pernah lagi memerhatikan kau yang berdoa sebelum tidur dan Tuhan yang mendatangimu, tapi bukan berarti keinginannya untuk memakan-menjadi Tuhan telah lenyap. Justru ia sengaja mengawini burung betina liar sebanyak-banyaknya karena itu adalah langkah awal dari “rencana baru”-nya.
            
Selain burung betina liar yang masih sendiri, burung betina liar yang sudah punya pejantan pun dikawininya. Jika ada pejantan yang marah, maka Petto akan membunuh pejantan itu dengan caranya sendiri.

***

Berbulan-bulan kemudian, Petto sudah memiliki ribuan ekor anak dari betina-betina yang dikawininya. Setiap ada kesempatan, Petto selalu mendidik anak-anaknya untuk menyukseskan “rencana baru” itu.
            
“Atas tujuan apa kau mendidik anak-anak kita seperti itu?” suatu ketika salah seekor betinanya bertanya.
            
Petto menjawab, “Supaya anak-anak kita pintar seperti burung peliharaan manusia. Tepatnya, pintar seperti aku.”
            
Berminggu-minggu berikutnya, ketika Petto merasa bahwa semua anaknya sudah cukup pintar, ia pun melaksanakan “rencana baru”-nya.

***

Dari bibir lubang udara itu, Petto berkicau nyaring sehingga kau terenggut dari tidurmu. Kau pun terkejut mendapati Petto yang telah lepas dari sangkarnya. Burung peliharaanmu itu lantas terbang menuju bagian hutan yang paling mencekam dan pepohonannya begitu rapat. Kau segera berlari mengejarnya—tidak mungkin mengendarai mobil pun motor karena kerapatan pepohonan itu—sebab tak ingin kehilangan Petto.
            
Sekitar sepuluh menit kemudian, kau benar-benar kehilangan Petto. Kau pun menyadari bahwa dirimu sudah tersesat.
            
Petto tahu betul kalau kau adalah tipe orang yang “selalu mencari aman”; berarti ia sudah tahu kalau kau akan lebih memilih untuk diam di tempat hingga pagi tiba ketimbang mencoba mencari jalan pulang di tengah rimba ketidaktahuan. Kau lalu mendudukkan diri di tanah dan mencakupkan tangan di dada. Berdoa. Memohon keselamatan pada Tuhan.
            
Momen inilah yang Petto tunggu-tunggu: Tuhan hadir ke hadapan kau yang terlarut dalam doa, hendak memberikanmu keselamatan. Tiba-tiba, dari balik lebatnya dedaunan, ribuan anak Petto menukik ke arah Tuhan, sementara Petto masih mengumpet di tempat yang aman. Rupanya, anak-anak Petto itu (awalnya) hanya bertengger-ramah di tubuh Tuhan, sehingga Tuhan tak mempermasalahkan kehadiran mereka.
            
Petto tersenyum licik di tempat persembunyiannya—dan kau tak perlu tahu di mana ia bersembunyi.
            
Sesudah Tuhan meletakkan keselamatan di sampingmu, serempak ribuan anak Petto mematuk-matuki tubuh Tuhan. Tuhan pun kesakitan luar biasa, menjerit teramat nyaring—tetapi kau tak mendengar jeritan itu sebab kupingmu tertutupi doa—dan tubuhnya langsung memancarkan kalor. Sesuai didikan Petto, ribuan burung kecil itu tetap mematuk-matuki tubuh Tuhan meskipun puluhan demi puluhan dari mereka terus berjatuhan-tewas akibat kepanasan.
            
Bagaimanapun, kesakitan itu akhirnya membuat Tuhan melemah. Otomatis, suhu kalor yang memancar dari tubuhnya menurun drastis. Saat itulah Petto menukik tajam dari tempat persembunyiannya ke arah Tuhan dengan paruh terbuka lebar.

***


Begitu selesai berdoa, kau terkejut sebab mendapati diri sudah berada di dalam kamar tidurmu. Lantas kau cepat-cepat melangkah ke beranda rumahmu untuk memastikan apakah Petto telah kembali ke sangkarnya atau belum. Dan, betapa terkejutnya kau sebab “Aku”-lah yang kautemukan terkurung di dalam sangkar itu!



*) Cerpen ini dimuat di Bali Post pada tanggal 5 Maret 2017.

Senin, 20 Februari 2017

HUJAN YANG PALING SEDERHANA






Hujan yang Paling Sederhana

kota-kota berjatuhan
dari tangismu.

kata-kata berjatuhan
dari puisimu.

*

di benakku ada hujan yang
paling sederhana:

doa dan kau yang terbakar
oleh kelamin waktu.

(Denpasar, 2016)



Sebuah Sajak yang Mati
di Dalam Sebuah Museum

waktu yang purba isyarat racun usia:

kalimat-kalimat yang diawetkan
enggan menjadi sajak; enggan
melangkah
setelah
habis pertanda.

(Denpasar, 2016)



Tentang Nama

di perutku ada nama-nama yang
berjumpa untuk saling membunuh;
membunuhmu, atau membunuh
anak-anak yang tak pernah lupa
cara menangisi kematian yesus.
aku bukan orang yang ahli
menyelidiki kasus pembunuhan.
tapi aku tahu ada nama-nama
yang tak tertambat pada malam
di sirkuit kita yang muram.
jika kau mencium bau darah
di lelapmu, maka bisa dipastikan
bahwa ada sejumlah nama yang
lepas dari kartu identitas. nama-
nama itu mungkin menyelinap ke
hutan rambutmu, atau ke balik
celana dalammu, bisa juga ke
dunia mimpimu. siapa yang tahu?

(Denpasar, 2016)



*) Puisi-puisi ini dimuat di Nusantaranews.co pada tanggal 19 Februari 2017.

Sabtu, 18 Februari 2017

KARTU DAN MAYAT-MAYAT


*Ilustrasi oleh: Surya Gemilang




Kartu dan Mayat-mayat

mayat-mayat bermain kartu:
selembar uang,
pipet-pipet ringkih,
asam udara yang purba.

langit sudah malam sejak beberapa jam
yang lalu
—sajakku tidak

keinginanku belum.

*

saku kemih oh, betapa penuh
melangkahlah ke toilet:
seonggok daging yang basi, yang bisu,
mengambang di air kloset,
kausangka kapal.

lidah lampu terjulur
menjilat kelamin kegelapan
mengecap pangkal rembulan di mata kakiku.
tembok satu-tembok dua begitu retak
seumpama ubun-ubun:
apa yang kaupikirkan adalah
apa yang tak mungkin kaulakukan

apa yang kaurasakan adalah
apa yang tak mungkin kautuliskan!


(Denpasar, 2016)



Story Board

kau sebelum menjadi “kau”. warna gelap sebelum
sebuah cerita, secara diam-diam, menerobos belantara
sebuah kamera. kau sebelum menjadi “kau” yang tak
lama kemudian akan di-“aku”-kan. kau sebelum menjadi
“kau” yang akan dirindukan oleh layar bioskop dan kapal
yang oleng berkat rasa mualmu.

(Jakarta, 2016)



Kepompong Kata

makna di dalam kepompong. kata yang membusuk
menghujani pinggiran jalan
seperti cahaya lampu kendaraan.
kulit definisi mengering. menipis. tumbuh retak di mana-mana
sedangkan makna seperti mencurangi waktu.

disetubuhi lidah dan liur, kata sanggup berganti pakaian.
berganti tubuh.
yang satu tetap aman di kapal kamus. sisanya
liar memangkas kultur.

(Jakarta, 2016)



Kabar dari Buku

berita hari ini:
tak ada buku yang berjalan di tangan.
tak ada buku di pangkuan, bangku taman,
atau di ruang-ruang senyap.
tak ada buku pascamakan. tak ada buku
prapemesanan.

tak ada buku yang meminjam mata
—untuk berjalan—
setelah truk pengangkut “masa kini”
menabrak logika yang menyeberang jalan
sembarangan.

(Jakarta, 2016)



*) Puisi-puisi ini dimuat di Kompas pada tanggal 18 Februari 2017.

MALAIKAT YANG MENGETUK PINTU -- Sebuah Cerpen

*Ilustrasi oleh: Surya Gemilang


Sebab pintu diketuk, bocah berusia 7 tahun itu pun membuka pintu rumahnya, lalu menganga begitu melihat diri sang pengetuk: seorang pria berkulit pucat yang memiliki sepasang sayap, sepanjang dua kali tangan orang dewasa, di punggungnya. Tentu keberadaan sepasang sayap itu membuatnya tak bisa mengenakan baju.
“Ibumu mendengar doamu,” ucap malaikat itu, “dan mengutusku kemari untuk melindungi Mossa, ayahmu.”
***
Perlawanan Mossa—dan kawan-kawannya—terhadap kelicikan Orde Baru membuat jarak antara maut dengan dirinya taklah lebih dari setengah jengkal, dipisahkan oleh selembar selaput yang mudah sobek. Oleh karena itulah ia menancapkan sebuah batu nisan bertuliskan nama lengkap beserta tanggal lahir-tanggal wafat-fiktif dirinya barang semeter di samping makam sang istri yang telah meninggal karena kanker otak—dua tahun lalu—sebagai tipuan.
“Jika ada orang tak dikenal yang mencari Ayah, katakan bahwa Ayah sudah mati gantung diri dan dimakamkan di TPU sebelah,” ucap Mossa kepada Amor, anak laki-laki semata wayangnya yang baru berusia 7 tahun.
Tiga minggu yang lalu, Mossa dan puluhan orang kawannya pergi ke Jakarta untuk berdemonstrasi dengan menumpang di bak truk terbuka—saat itu Amor dititipkannya ke tetangga sebelah. Mereka pergi selama empat hari tiga malam. Ketika pulang—juga dengan menumpang di bak truk terbuka yang sama—wajah Mossa serta beberapa orang kawannya telah berhiaskan memar-memar.
Empat hari setelah pulangnya para demonstran itu, tujuh orang dari mereka pun sukses dibasmi; dua orang ditemukan tewas secara mengenaskan di pematang sawah kala sinar matahari baru muncul sedikit, sedangkan lima orang sisanya menghilang tanpa jejak.
Dan, di hari-hari berikutnya, demonstran-demonstran yang lain pada menyusul—kalau tidak tewas, pasti menghilang.
Pada akhirnya, tinggal Mossa seoranglah yang masih selamat berkat “tipuan batu nisan” itu.
***
Suara pintu yang diketuk tak lagi berbeda dengan pertanda bahaya bagi Mossa. Tiap pintu diketuk, ia akan segera bersembunyi, sementara Amor membukakan pintu. Jika yang berada di balik pintu adalah orang yang dikenal, maka bocah itu akan batuk-batuk nyaring, kode untuk Mossa bahwa situasi aman—sehingga ia bisa keluar dari tempat persembunyian. Tentu jika yang berada di balik pintu adalah orang yang tak dikenal, Amor akan mengatakan bahwa ayahnya telah mati gantung diri dan dimakamkan di TPU sebelah. Tak jarang ada tamu-tamu tak dikenal yang malah langsung masuk tiada permisi dan menggeledah sekujur rumah itu—untungnya Mossa selalu mampu bergerak cepat menuju tempat persembunyiannya sehingga para tamu penggeledah tak mendapati siapa-siapa, selain Amor.
Tetapi, ayah-anak itu tidak tahu bahwa pernah ada yang secara diam-diam, pada suatu malam, menggali makam-palsu Mossa dan menemukan kekosongan, lantas menutupnya kembali sebelum pagi tiba. Jelas saja para Pencari—sebut saja begitu—jadi begitu yakin bahwa Mossa masih hidup. Oleh sebab itulah selalu saja ada di antara mereka yang didatangkan ke kediaman Mossa, meski berkali-kali sudah Amor mengatakan kalau sang ayah telah mati gantung diri dan dimakamkan di TPU sebelah.
Ayah-anak itu tidak tahu pula bahwa para Pencari berinisiatif melakukan penggalian terhadap makam-palsu Mossa sebab beberapa bulan yang lalu, di beberapa daerah lain, diketahui ada beberapa buronan Orde Baru yang menggunakan “tipuan batu nisan” juga—dan akhirnya pada tertangkap.
***
Tibalah malam di mana Amor mendapati seorang malaikat di balik pintu rumahnya. Semula, bocah itu tak tahu apakah harus batuk-batuk nyaring atau mengatakan bahwa ayahnya telah mati gantung diri dan dimakamkan di TPU sebelah, sampai sang malaikat berkata, “Ibumu mendengar doamu dan mengutusku kemari untuk melindungi Mossa, ayahmu.”
***
Senja itu, Mossa menyerahkan diri kepada tiga pria tak dikenal yang mengetuk pintu rumahnya. Mossa pun dimasukkan ke sebuah jip, lantas bersama jip dan ketiga pria itu lenyap ditelan jarak.
Perlu kau tahu, Mossa yang menyerahkan diri itu bukanlah Mossa yang asli. Itu adalah malaikat utusan ibu Amor yang mengubah wujudnya menjadi serupa Mossa demi menumbalkan diri.
Mossa yang asli jadi bisa bernapas lebih lega, meski bukan berarti dirinya jadi bisa sesuka hati menunjukkan diri di hadapan umum.
***
Senja di hari berikutnya, malaikat itu datang lagi ke rumah Mossa-Amor dengan menenteng sebuah koper hitam di tangan kirinya.
“Ada apa, Malaikat?” tanya Amor yang membukakan pintu untuknya.
Dengan sayap terlipat, sang malaikat melewati Amor begitu saja—tanpa menjawab pertanyaannya—dan melangkah ke ruang tengah, menghadap Mossa yang sedang duduk di tikar sembari merokok.
“Ada apa?” tanya Mossa seraya mengerutkan dahi dan memasang senyum kecil.
Malaikat itu pun menyentuh dahi Mossa dengan telunjuknya, lalu sekonyong-konyong pria yang disentuh dahinya itu meledak jadi debu!
Menyaksikan kejadian itu, Amor hanya bisa memekik singkat dan nyaring sebelum jatuh pingsan.
Kemudian sang malaikat pergi dari sana, begitu tenang, masih dengan koper hitam—yang ditentengnya di tangan kiri—itu. Amor, apalagi Mossa, tidak pernah tahu bahwa isi dari koper tersebut adalah uang sejumlah lima juta Rupiah yang diberikan oleh para Pencari (yang merangkap interogator), sesudah sang malaikat menunjukkan wujud aslinya di ruang interogasi, atas alasan yang kau pasti tahu.


*) Cerpen ini dimuat di Nusantaranews.co pada tanggal 16 Oktober 2016.

Senin, 23 Januari 2017

TAROM -- Sebuah Cerpen




Tarom akhirnya menerima Surat Peringatan Penggusuran dari pemimpin Penjaga Tanah Negara. Sehari kemudian, Tarom mengumpulkan para kepala keluarga di dalam rumahnya yang tak luas itu. “Mulai besok,” kata Tarom di hadapan para kepala keluarga yang duduk berdesak-desakkan menghadap dirinya, “setiap keluarga wajib menyumbangkan seperdelapan dari uang penghasilan hariannya kepadaku. Uang itu akan kugunakan buat mengusir pasukan Penjaga Tanah Negara yang, berdasarkan isi Surat Peringatan Penggusuran, akan datang kemari sebulan lagi untuk menggusur permukiman kita!”
            
Beberapa jenak, semua hening, ketakutan menatap hari depan.
            
“Bagaimana bisa kau menggunakan uang kami untuk mengusir mereka?” kau bertanya tiba-tiba, memecah hening.
            
“Aku akan membuat sebuah senjata,” jawab Tarom, dingin. “Sebuah senjata yang tak akan pernah dibayangkan oleh siapa pun.”

***

Sebagaimana aku, sebagian besar orang yang telah mendengar rencana Tarom—secara langsung maupun tak langsung—pun ragu dengan rencananya. Memangnya, ia mempunyai ilmu untuk membikin senjata macam itu? Bukankah dulu ia tak tamat SD?
            
Namun, kami tetap menyumbangkan seperdelapan dari uang penghasilan harian keluarga kami kepada Tarom, sebab kami berusaha untuk percaya padanya, terlebih karena pria berusia 43 tahun itu adalah pemimpin di permukiman—yang terletak di bantaran Sungai Cisatoke—ini; orang yang berkali-kali sudah, sebelum dan sesudah kami angkat jadi pemimpin, menuntaskan berbagai permasalahan-yang-berkaitan-dengan-permukiman-liar-ini dengan pihak-pihak luar.
            
Seminggu setelah sistem pungutan harian itu berjalan, Tarom terlihat pulang membawa sebuah kotak kardus. Isinya pasti berat sekali, karena Tarom yang menggendongnya sampai tampak begitu tersiksa.
            
“Aku tak perlu bantuan,” sahutnya ketika kutawari bantuan untuk mengangkat kotak kardus tersebut.
            
Pada hari-hari selanjutnya, Tarom terlihat lagi pulang membawa kotak-kotak kardus berisi sesuatu yang berat. Rupanya, bukan cuma bantuanku saja yang ia tolak; ketika yang lainnya pada menawari bantuan buat mengangkat kotak-kotak kardus itu, bantuan dari mereka pun ditolak. Penolakan-penolakan itu kemudian menimbulkan kesan rahasia—membuat kami penasaran betul dengan isi dari kotak-kotak kardus tersebut, dan senjata macam apa yang akan Tarom buat dengannya.
            
“Sekarang ini, kalian tidak perlu tahu soal senjata apa yang kubuat,” jawab Tarom—kutanya ia saat aku menemuinya di depan rumahnya untuk menyerahkan seperdelapan dari uang penghasilan keluargaku. “Nanti kau dan yang lainnya pasti akan tahu.”
            
“Kalau begitu,” sambung salah seorang kawanku—yang juga datang untuk menyerahkan uang sumbangan, “bolehkah kami masuk ke dalam rumahmu dan melihat proses pembuatan senjata itu?”
            
“Tidak boleh! Pokoknya, proyek-pembuatan-senjata itu rahasia untuk sementara ini!”
            
Dan, kabar soal kerahasiaan proyek-pembuatan-senjata itu pun menyebar dengan cepat di sekujur permukiman kami, lantas membuat semuanya—kecuali Tarom, tentu saja—pada penasaran.
            
“Seandainya Tarom tinggal bersama istri, atau anak, atau siapa saja di dalam rumahnya,” ucap istriku pada suatu malam, “kita pasti akan dengan mudah mengetahui apa yang sebenarnya sedang Tarom kerjakan di dalam sana. Kita, kan, jadi bisa bertanya pada anggota keluarganya yang lain.”
            
Ketika hari penggusuran tinggal seminggu lagi, terjadilah sesuatu yang mengerikan. Sesuatu yang mengerikan itu menimpa Joni Kecil, anak laki-lakiku satu-satunya. Sesuatu yang mengerikan tersebut berhubungan dengan proyek-pembuatan-senjata Tarom.

***

Kau pernah berkata bahwa kau ingin hidup hingga usia 90 tahun—sebenarnya, hanya karena kau menyukai angka itu. Tapi kau mati ketika kau berusia 9 tahun oleh sebab keingintahuanmu yang berlebihan.
            
Sore itu kau tak lagi bersama kawananmu. Kau pergi, seorang diri, secara diam-diam, ke arah rumah Tarom. Setiap rumah di permukiman itu tak mungkin dindingnya tak terbuat dari triplek-berlubang, termasuk rumah Tarom. Melalui lubang-lubang yang ada, kau mengintip ke dalam rumah Tarom, ke setiap ruang yang mampu matamu jangkau. Tidak pernahkah ada orang lain yang mengintip ke dalam rumah Tarom seperti aku? pikirmu sesaat. Kau tidak tahu bahwa sudah banyak orang yang berbuat seperti itu. Hanya saja kau berbeda; kau beruntung. Kau mengintip ke dalam rumah Tarom, tepatnya ke dalam kamarnya, di saat yang benar-benar tepat: senjata yang sedang dalam proses pembuatan itu sedang tak ditutupi dengan selembar kain karena Tarom sedang sibuk mengerjakannya.
            
Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Tatapanmu, yang terarah ke senjata itu, mendadak kosong. Tiba-tiba ada yang menepuk pundak kau; itu adalah ibumu. Kau sama sekali tak dikejutkan oleh tepukan itu; kau sama sekali tak menoleh ke arah ibumu.
            
Baru saja ibumu hendak berkata, Tarom sudah terlebih dahulu, dari dalam kamarnya, berteriak, “Hei! Jangan mengintip!” Dan dengan sendirinya tahulah ibumu akan apa yang sedang kaulakukan sedari tadi.
            
Tahu-tahu kau berteriak, “Gigi Tuhan tinggal dua!!!” lantas berlari, berlari, berlari, menuju tepi Sungai Cisatoke—tak jauh, tentu saja, karena di bantarannyalah permukiman kau dan yang lainnya berada. Berkat keterkejutannya, ibumu tak langsung mengejarmu. Saat kau sudah berada di tepi Sungai Cisatoke dan mengambil sebongkah batu seukuran bola basket yang lumayan berat, barulah ibumu berlari ke arahmu. Ketika akhirnya kau menghantamkan batu itu ke kepalamu—hingga terluka parah—dan kau terhuyung-huyung lalu tercebur ke Sungai Cisatoke yang arusnya sedang tak ramah, ibumu pun, dan siapa pun yang melihat kejadian itu, reflek memekik nyaring.
            
Tarom terlihat muncul dari balik pintu rumahnya tepat ketika kau tercebur ke Sungai Cisatoke. “Tuhan memang sudah tua!” teriaknya dari tempat ia berdiri, tanpa merasa bersalah sedikit pun atas kematianmu.

***

Berkat ibunya, tersebarlah kabar kematian Joni Kecil dan apa yang sebelumnya ia lakukan—sebelum nekat mencari ajal—ke seluruh keluarga yang tinggal di bantaran Sungai Cisatoke. Segera sajalah mereka berpikir bahwa senjata yang sedang Tarom kerjakan itu mengandung suatu ilmu hitam; sebuah pemikiran yang sama sekali tidak ilmiah, tidak intelek, dan sebaiknya tidak usah kaupusingkan.
            
Tapi, pemikiran itu kemudian—tiga hari sebelum hari penggusuran—semakin diamini berkat bunuh dirinya seorang pria—yang juga tinggal di bantaran sungai itu—yang, sebelum bunuh diri, kedapatan sedang mengintip ke dalam kamar Tarom melalui salah satu lubang pada dinding rumahnya. Pria tersebut bunuh diri dengan cara yang tak berbeda jauh dengan yang Joni Kecil lakukan. Dan, sebelum lari dari rumah Tarom, ia berteriak, “Tuhan sudah osteoporosis!”
            
Orang-orang lain yang sebelumnya sempat mengintip ke dalam rumah Tarom, tetapi pada saat yang tidak tepat, pun benar-benar bersyukur.

***

Hari penggusuran tiba. Pasukan Penjaga Tanah Negara tiba pula ke permukiman yang terletak di bantaran Sungai Cisatoke itu pada pukul 10 pagi. Alat-alat penghancur pun sudah terlihat di tangan mereka. Dan, para penduduk di sana hanya bisa berdiri di luar rumah, menatap mereka dengan tatapan iba yang sia-sia.
            
“Kalian semua sepertinya ingin bersenang-senang dengan kehancuran,” kata pemimpin Penjaga Tanah Negara dengan volume suara tinggi, membikin para penduduk di permukiman itu semakin ketakutan.
            
Kemudian aku tersadar, ada satu orang yang belum terlihat: Tarom. Di manakah ia?
            
Sekonyong-konyong pintu rumah Tarom dibuka dari dalam. Tarom keluar dengan gagah-berani, tak lama kemudian berdiri di hadapan pasukan Penjaga Tanah Negara.
            
“Kalian semua sepertinya ingin bersenang-senang dengan kehancuran,” kata Tarom dengan dingin, kemudian melangkah kembali ke rumahnya.
            
Beberapa detik kemudian, Tarom keluar lagi dari rumahnya, kali ini dengan senjata itu di tangannya …

***

Tumben-tumbennya suamiku pulang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ah, mungkin ia lupa saking lelahnya—sebab, tadi ia baru saja mendapat tugas untuk turut serta dalam penggusuran permukiman di bantaran Sungai Cisatoke.
            
“Makan siang sudah siap, Sayang,” ucapku.
            
Suamiku tak menjawab. Ia hanya melangkah ke meja itu—bukan meja makan—menarik lacinya, dan mengambil sekotak paku payung dari sana. “Rupanya rambut Tuhan sudah rontok,” ucapnya dengan datar sebelum membuka kotak paku payung itu … dan menelan semua isinya.

***

Parjo, pria yang tergabung dalam Penjaga Tanah Negara itu, terlihat melangkah tertatih-tatih di jalan, menuju rumahnya. Aku yang sedang duduk di beranda sambil menikmati udara siang sengaja memerhatikannya karena tumben-tumbennya Parjo seperti itu; biasanya ia melangkah dengan tegap dan gagah.
            
Sampai di depan pintu rumahnya, alih-alih memasukkan kunci ke lubangnya, ia malah berteriak, “Tuhan hampir lumpuh!!!” dan membentur-benturkan kepalanya ke gagang pintu, dengan teramat keras, hingga …

***

Badri, pemimpin Penjaga Tanah Negara, ditemukan tewas di kamarnya dengan kondisi mengenaskan: sebatang garpu menusuk mata hingga otaknya. Pihak kepolisian hanya menemukan sidik jari Badri seorang di garpu itu.

***

Tuan Gubernur mendapat laporan bahwa Penjaga Tanah Negara kehilangan seluruh anggotanya yang ditugaskan di bantaran Sungai Cisatoke.

***

Air Sungai Cisatoke tampak begitu merah. Begitu merah.



*) Cerpen ini dimuat di Bali Post pada tanggal 22 Januari 2017.