Sabtu, 09 Juni 2018

O, IKAN -- Sebuah Cerpen


“A Morning Ride” Gouache on Paper #goldfish #horse #painting #surealism #dream #popart #gouache #strange #morning #thebillmayer
*Sumber: Pinterest



Malin ingin menjadi seekor ikan sejak ibunya tak kunjung keluar dari dasar kolam renang di halaman belakang rumah.

“Itu karena Ayah mengikatkan kakinya ke batu pemberat,” jelas sang ayah. “Begitulah hukuman yang tepat bagi pengkhianat, Malin.”
            
“Kelak,” lanjutnya, “jika kau sudah punya istri dan istrimu berkhianat, kau pun boleh melakukan apa-yang-Ayah-lakukan-pada-Ibu kepada istrimu itu.”
            
Malin ingin tidur bersama ibunya lagi. Tapi ia sangat takut menyelam. Maka, Malin ingin menjadi seekor ikan.
            
“Kapankah Ibu akan keluar dari dasar kolam renang, Ayah?” tanya Malin.
            
“Tidak akan, Malin. Tidak akan. Itu karena Ibu telah melukai Ayah terlampau parah dengan pengkhianatan yang ia lakukan.”
            
“Apa Ibu akan bahagia di dalam kolam renang?”
            
“Tidak, Malin. Tidak. Ibu tidak akan bahagia di dalam kolam renang karena ia telah berkhianat.”
            
Malin ingin menjadi seekor ikan, dan keinginan itu bagai laut mendidih yang menenggelamkannya ketika ia begitu merindukan Ibu. Namun Malin tak tahu bagaimana cara menjadi seekor ikan. Maka, Malin memutuskan untuk mengeluarkan Dodi—ikan peliharaannya—dari akuarium, menggunakan jaring, dan memasukkannya ke kolam renang. Sebelum memasukkan Dodi ke kolam renang, Malin berpesan pada ikan itu agar disampaikannya kerinduannya pada Ibu.
            
“Jika Dodi menyampaikan kerinduanku pada Ibu, apa Ibu akan bahagia di dalam kolam renang, Ayah?”
            
Ayah tidak menjawab.

***

Ibu Malin ingin menjadi seekor ikan ketika sang suami mengikatkan kakinya ke batu pemberat. Ibu Malin semakin ingin menjadi seekor ikan saat ia dilemparkan ke kolam renang di halaman belakang rumah oleh suaminya itu.
            
Tapi bisakah keinginan seorang pengkhianat terkabulkan? pikir Ibu Malin.
            
Entahlah, Nyonya Manis, jawab Batu Pemberat. Yang jelas, kau sangat bisa dikhianati oleh keinginanmu sendiri.
            
Ibu Malin ingin menjadi seekor ikan, dan keinginan itu bagai gempa bawah laut kala paru-parunya begitu merindukan udara. Namun Ibu Malin tak tahu bagaimana cara menjadi seekor ikan.
            
Apakah udara akan merindukan paru-paruku—paru-paru seorang pengkhianat? batin Ibu Malin. Apakah udara akan merindukan keseluruhanku—keseluruhan seorang pengkhianat?
            
Batu Pemberat tidak menjawab.

***

Ayah Malin ingin menjadi seekor ikan sesudah dirinya menenggelamkan sang istri ke kolam renang di halaman belakang rumah. Ayah Malin ingin menjadi seekor ikan agar dirinya dapat menyaksikan penderitaan-seorang-pengkhianat di bawah sana selama mungkin—tanpa mesti menggunakan peralatan menyelam yang memerlukan uang untuk membeli pun menyewanya.
            
“Bisakah kau mendeskripsikan penderitaan-seorang-pengkhianat yang tenggelam?” tanya Ayah Malin.
            
Tenggelamkanlah dirimu ke dalamku, maka kau akan bisa merasakannya sendiri, jawab Kolam Renang.
            
Ayah Malin ingin menjadi seekor ikan pemakan daging ketika diyakininya sang istri telah mati di dalam kolam renang. Ayah Malin ingin menjadi seekor ikan pemakan daging agar mayat sang istri tak mengotori kolam renang terlampau lama.
            
“Maukah kau melarutkan mayat seorang pengkhianat?” pinta Ayah Malin. “Itu agar kau tidak dikotori oleh mayat tersebut terlalu lama.”
            
Tidak bisa. Kalaupun bisa, aku tidak mau, sahut Kolam Renang. Sebab, aku bukanlah dosa-dosa seorang pengkhianat.
            
Ayah Malin ingin menjadi seekor ikan ketika Malin memasukkan Dodi ke dalam kolam renang—tiga hari setelah sang istri ditenggelamkannya. Ayah Malin ingin menjadi seekor ikan untuk memastikan bahwa Dodi tidak membuat arwah Ibu Malin bahagia di bawah sana. Namun Ayah Malin tak tahu bagaimana cara menjadi seekor ikan.
            
“Apakah arwah seorang pengkhianat masih bisa bahagia, Kolam Renang?”
            
Kolam Renang tidak menjawab.

***

Batu Pemberat ingin menjadi seekor ikan sejak Ayah Malin mengikatkan kaki sang istri pada tubuhnya. Batu Pemberat ingin menjadi seekor ikan agar ia tak perlu membuat Ibu Malin tenggelam.

Batu Pemberat ingin menjadi seekor ikan, dan keinginan itu bagai laut yang mengombang-ambingkan kapal-kapal megah ketika dilihatnya Ibu Malin mulai sekarat. Namun Batu Pemberat tak tahu bagaimana cara menjadi seekor ikan.
            
Tapi apakah kau tidak akan berkhianat lagi jika aku menjadi ikan dan tak membantumu menuju kematian? tanya Batu Pemberat.
            
Ibu Malin tidak menjawab.

***

Kolam Renang ingin menjadi seekor ikan agar tak ada yang tenggelam di dalam dirinya, termasuk seorang pengkhianat yang telah melukai suaminya terlampau parah. Namun Kolam Renang tak tahu bagaimana cara menjadi seekor ikan.
            
Aduh! Bodohnya aku! batin Kolam Renang. Kalau aku menjadi seekor ikan, kan, aku bakal mati. Tentu karena aku akan langsung berada di permukaan tanah! Hahaha!

***

Dodi. Ia tidak pernah ingin menjadi seekor ikan. Sebab, setahu dirinya, sebagai seekor ikan, ia tidak mempunyai kemampuan untuk menenggelamkan seorang pengkhianat di dalam kolam renang—meskipun ia bisa menyaksikan seorang pengkhianat yang tenggelam, yang perlahan-lahan menjadi mayat.
            
Dodi. Ia tidak pernah ingin menjadi seekor ikan. Namun ia tidak tahu bagaimana caranya agar tak dilahirkan sebagai seekor ikan.

***

Malin. Ia masih memikirkan betapa bahagia dirinya jika bisa menjadi seekor ikan.





*) Cerpen ini dimuat di Semay Media pada 5 Juni 2018.

ASTRONAUT DAN BUS -- Sebuah Cerpen


*Sumber: Pinterest



Tatkala Ayah bermimpi menjadi seorang astronaut yang sedang melayang di ruang angkasa—persis seperti apa yang diidam-idamkan dirinya semasa kecil dulu—yang ia lihat di sekelilingnya cuma bintang-bintang kecil di antara kegelapan; tak ada bulan, matahari, maupun planet. Tak ada pula pesawat ruang angkasa yang menjadi penambat bagi tubuhnya.

Mimpi itu muncul pada Senin pagi pukul setengah tujuh, saat Ibu sedang membikin sarapan di dapur, sedangkan Dody, sang anak yang sedang dalam masa libur-kenaikan-kelas—menuju kelas 2 SD—sibuk berlarian mengitari meja makan, dengan bus mainan di tangan kanannya yang terangkat tinggi, seakan ia sedang memainkan pesawat-pesawatan.
            
Ayah tak tahu apa yang mesti dilakukannya di ruang angkasa. Kemudian ia memutuskan untuk bergerak maju dengan gaya renang konvensional, karena gerakan itulah yang pertama terlintas di kepala, berhubung sensasi yang dirasakannya di ruang angkasa tak berbeda jauh dengan saat berada di permukaan kolam renang. Apakah yang Ayah tuju? Tentu tidak ada. Namun barangkali pergerakannya itu akan menarik perhatian penghuni ruang angkasa—yang sejauh ini belum ada dilihatnya—sehingga penghuni yang satu itu bakal datang menghampirinya, dan Ayah tak lagi kesepian.
            
Lelah berlari mengitari meja makan, Dody pun berbaring di lantai, tanpa melepaskan bus mainan itu dari tangannya, pula tanpa berhenti memainkannya; digerak-gerakkannya bus itu maju-mundur di lantai, lantas merayap ke anggota-anggota tubuhnya sendiri, hingga tiba di wajah dan berhenti. Pelan-pelan, Dody melepaskan pegangan pada bus mainan, dan membiarkan bus itu terparkir di wajahnya yang sebisa mungkin tidak digerakkannya—agar bus tersebut tidak sampai terjatuh dari sana. Tiba-tiba terdengar Ibu memanggil Dody dari dapur, meminta tolong pada bocah itu untuk membangunkan Ayah—agar tak sampai ketinggalan bus, agar tak sampai terlambat sampai di kantor.
            
Ayah mulai kebingungan—selain kesepian—di ruang angkasa. Setidaknya, ia membatin, di sini aku tak perlu berhadapan dengan urusan kantor lagi. Tak perlu pula berhadapan dengan si Bos yang terlampau banyak maunya. Ayah pun tetap berenang, berenang, dan berenang … tanpa tujuan. Tapi akhirnya ia merasa lelah dan memutuskan untuk diam di tempat, berusaha menikmati pemandangan di sekitarnya. Mendadak Ayah menyadari, sedari tadi tak ada satu bintang pun yang dilewatinya, seakan bintang-bintang itu terus menjaga jarak darinya.
            
Dody masuk ke kamar itu—dengan bus mainan di tangan—dan mendapati Ayah masih terlelap-telentang di tempat tidur. Ia naik ke tempat tidur, duduk di samping ayahnya, dan beberapa kali berkata, “Bangun, Ayah.” Namun Ayah tak juga bangun. Kemudian Dody memutuskan untuk mencoba membangunkan Ayah dengan cara yang berbeda: ia menempelkan bus mainannya ke kaki Ayah, lantas menjalankannya pelan-pelan ke arah perut. Dody berharap, pergesekan antara roda-roda bus mainan dengan kulit Ayah akan menimbulkan geli yang membangunkannya.
            
Di dalam mimpinya, entah kenapa, Ayah malah mendengar deru mesin bus yang selalu ditumpanginya saban berangkat ke kantor. Ayah reflek menebar pandangan ke sekeliling, tapi tak ada tampak bus satu pun—hanya bintang-bintang yang bersinar di antara kegelapan yang tertangkap oleh sepasang matanya. (Dan, Ayah tak merasakan geli yang ditimbulkan oleh pergesekan antara roda-roda bus mainan Dody dengan kulitnya.) Ayah pun menajamkan pendengaran, mencoba mencari arah asal bunyi itu … tapi yang didapatinya adalah bunyi tersebut berasal dari segala arah. Maka, Ayah lanjut bergerak ke salah satu arah yang dipilihnya secara acak, berharap semakin lama deru mesin bus itu bakal terdengar semakin dekat.
            
Bus mainan Dody telah sampai di perut Ayah. Lalu bus itu dijalankannya ke dada, kembali ke perut, ke dada lagi, dan ke perut lagi, begitu terus hingga entah berapa kali. Namun Ayah tak kunjung bangun. “Ayah, cepat bangun,” akhirnya Dody berkata lagi. “Ayah enggak takut ketinggalan bus? Ayah enggak takut terlambat sampai di kantor?”
            
Deru mesin bus itu tidak kunjung terdengar semakin dekat, tak pula semakin jauh, padahal Ayah sudah mencoba bergerak ke segala arah. Setidaknya, kemudian ia mendapati sesuatu selain bintang-bintang: kemeja, celana panjang, pantofel, dan dasi yang biasa ia kenakan saban bekerja di kantor tampak melayang-layang beberapa meter di hadapannya, muncul begitu saja. Disusul dengan laptopnya yang sekonyong-konyong melintas di depan wajahnya dengan cepat—seolah dilempar dengan sekuat tenaga—dan akhirnya lenyap entah di mana.
            
Dari dada, Dody menggerakkan bus mainannya ke paha Ayah. Dody lantas berkata, “Waktu itu, Ibu sempat marah-marah karena Ayah terlambat bangun pagi. Apa sekarang Ayah enggak takut kalau Ibu marah-marah lagi?”
            
Kemeja, celana panjang, pantofel, dan dasi itu menghilang begitu saja. Tiba-tiba, dari belakang Ayah, ada yang meminta-minta tolong dengan suara lemah. Ayah reflek berbalik dan mendapati selingkuhannya yang melayang dengan tubuh dipenuhi luka-luka dan perut yang besar, berisi janin berusia delapan bulan. “Kenapa kau mampir ke mimpiku?” Ayah bertanya, tapi selingkuhannya tak menjawab, entah karena malas menjawab atau sebab suara Ayah tak mampu menembus helm astronaut yang dikenakannya. Mendadak, tubuh sang selingkuhan pecah bagai gelembung, tak meninggalkan jejak apa pun di ruang angkasa yang dipenuhi deru mesin bus dari suatu jarak itu.
            
“Apa Ayah sudah bangun, Dody?” Ibu berkata lantang dari dapur.
            
Dody menyahut, “Belum, Bu! Ayah enggak bisa saya bangunkan!”

“Kalau begitu, kau sarapan saja dulu. Biar Ibu yang membangunkan Ayah.”
            
Dody pun menggerakkan bus mainannya dari paha ke wajah Ayah, sebagai usaha terakhirnya untuk membangunkan pria itu. Tapi karena Ayah tak juga bangun, Dody pun menyerah, turun dari tempat tidur, dan keluar dari kamar. Bus mainannya ia biarkan berada di wajah Ayah, sebagai pelampiasan kecil-kecilan atas kekesalannya terhadap kegagalan diri sendiri dalam membangunkan pria tersebut.
            
Langkah kaki Ibu lantas mulai terdengar, semakin lama semakin mendekati tubuh Ayah.
            
Akhirnya, deru mesin bus terdengar semakin dekat. Ayah lumayan kaget, sebab dirinya belum lagi bergerak ke mana pun setelah syok melihat selingkuhannya pecah bagai gelembung. Saat ia menoleh ke belakang, diketahuinyalah bahwa bus itu sudah bergerak mendekat … dengan cepat … hingga menabrak dirinya.



*) Cerpen ini dimuat di Semay Media pada 4 Juni 2018.

Kamis, 24 Mei 2018

ORANG-ORANG JAKARTA MENCARI DENPASAR DI AKU





sekumpulan "aku"
yang bukan aku
dari "kedekatan" yang jauh
berjalan demi memenuh
rasa-yang-pecah
akan kejauhan yang “dekat”
pada diri “mereka”
yang bukan mereka

: tidak ada.

(Jakarta, 2017)



*) Puisi ini dimuat di Bali Post Edisi 20 Mei 2018.

Minggu, 22 April 2018

EMPAT CERITA RELIGI YANG TIDAK RELIGIUS -- Sebuah Cerpen


Sumber gambar: Pinterest.com



/1/

“Bu, bagaimana caranya membunuh Tuhan?” tiba-tiba anakku, yang berusia 8 tahun, bertanya sepulangnya ia dari sekolah.
            
Aku spontan mengernyit. “Pertanyaan macam apa itu?”
            
Anakku mengernyit pula. “Maksud Ibu?”
            
Aku berdeham. “Nak, coba kau duduk di sini,” ucapku seraya menepuk-nepuk paha, sebelum kumatikan televisi, bersamaan dengan duduknya ia di pangkuanku.
            
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” ucapku lagi, sembari mengelus-elus kepalanya.
            
“Pertanyaan itu adalah PR dari guru agamaku, Bu.”
            
“PR dari guru agama?”
            
Anakku mengangguk. “Jawabannya mesti kutulis di selembar kertas, dan akan dinilai oleh guru agamaku besok.”
            
Aku menghela napas. “Kalau Ibu tidak tahu jawabannya, bagaimana?”
            
Aku akan menanyakannya pada Ayah.”
            
“Ah, maaf, bukan begitu maksud Ibu.”
            
“Lalu?” sahut anakku cepat.
            
“Maksud Ibu, bagaimana kalau kau tidak mengumpulkan tugas itu besok, melainkan ... dua hari lagi, seminggu lagi, atau kapan pun itu, sampai kau mendapatkan jawaban yang benar?”
            
“Kalau tugas ini tidak kukumpul besok, guru agamaku akan membakar rumah kita.”

***

Keesokan harinya, aku dan suamiku sepakat untuk tidak mengizinkan anak kami pergi ke sekolah—sebab, pertanyaan yang menjadi PR itu terlampau tidak wajar! Sebagai gantinya, aku akan pergi ke sekolah anakku untuk menemui guru agamanya.

***

Empat jam kemudian, akhirnya istriku tiba di rumah.
            
“Bagaimana hasilnya?” tanyaku setelah membukakan pintu untuknya.
            
“Bagaimana caranya membunuh Tuhan, Sayang?”


/2/

“Siapakah di sini yang diciptakan bukan oleh Tuhan?!” tanya si Pembajak Satu dengan galak.
            
Tak ada yang menjawab, tentu saja. Aku, dan siapa pun yang berada di pesawat ini—termasuk ketiga pembajak itu—pastilah diciptakan oleh Tuhan!
            
“Cepat jawab!” bentak si Pembajak Dua.
            
Beberapa detik kemudian—tak kunjung ada yang menjawab—tiba-tiba si Pembajak Tiga menembak kepala salah seorang penumpang. Penumpang-penumpang lain, termasuk aku, reflek menjerit ketakutan. Beberapa orang menyambung jeritannya dengan tangisan dan doa.
            
“Kami tanya sekali lagi,” kata si Pembajak Satu. “Siapakah di sini yang diciptakan bukan oleh Tuhan?!”
            
Sunyi .... Aku dan yang lainnya membungkuk di tempat duduk masing-masing sembari melindungi kepala dengan kedua tangan—dan itu jelas percuma.
            
“Cepat jawab!” bentak si Pembajak Dua.
            
Tak kunjung ada yang menjawab … dan tahu-tahu kali ini si Pembajak Tiga menembak-mati lima orang penumpang sekaligus!
            
“Siapakah di sini yang diciptakan bukan oleh Tuhan?!” lagi-lagi si Pembajak Satu bertanya dengan galak.
            
Aku mulai bisa membaca urutan kejadian berikutnya. Kalau tak kunjung ada yang menjawab, maka si Pembajak Dua bakal membentak-menyuruh kami untuk menjawab; kalau masih tak ada yang menjawab, maka si Pembajak Tiga bakal menembak-mati satu orang atau lebih dari kami.
            
“Cepat jawab!” bentak si Pembajak Dua.
            
Karena aku tak ingin ada yang mati lagi—lebih-lebih jika aku yang ditembak oleh si Pembajak Tiga nanti—aku pun memberanikan diri untuk mengacungkan tangan.
            
“Lihat! Ada yang mengangkat tangan!” seru si Pembajak Tiga dengan antusias.
            
“Kau,” panggil si Pembajak Satu dengan tatapan sinis, “berdirilah di depanku.”
            
Kuturutilah perintahnya itu. Dan, kakiku gemetaran hebat ketika kugunakan untuk melangkah dan berdiri di hadapannya.
            
“Kau bukan diciptakan oleh Tuhan?” tanya si Pembajak Satu.
            
“Bukan,” sahutku terbata-bata.
            
“Lantas, siapa yang menciptakanmu?”

***

Pesawat ini sudah terbang cukup tinggi. Tak ada lagi daratan yang tampak ketika aku menatap ke bawah melalui jendela. Sepucuk pistol ajaib di saku jaketku, yang dengan sendirinya bisa menipu metal detector, mulai terasa hangat.
            
Aku menatap kedua temanku secara bergantian—yang satu duduk di samping kiriku, satunya lagi di samping kanan. Masing-masing dari mereka mengangguk, sebuah isyarat bahwa ....
            
Kami bertiga bangkit dari tempat duduk dan mengeluarkan pistol masing-masing.
            
Orang-orang langsung terkejut-ketakutan.
            
“Siapakah di sini yang diciptakan oleh Tuhan?!” tanyaku dengan galak.
            
Mereka semua pun tampak ragu-ragu … tak kunjung ada yang menjawab pula ....


/3/

“Seandainya membunuh orang lain itu dilegalkan oleh hukum Tuhan maupun hukum negara, siapakah orang pertama yang akan kau bunuh?”
            
Aku pun terkejut bukan main. Bukankah pertanyaan itu tidak wajar jika dilontarkan oleh orang yang baru saja mengajak kita berkenalan? Terlebih, ia melontarkan pertanyaan itu setelah kusebutkan namaku—alih-alih balas menyebutkan namanya!
            
“Tidak ada waktu buat bengong barang sedetik pun, Bung!” ucapnya seraya menepuk-keras pundakku. “Ayo, jawab pertanyaanku!”
            
Aku menggaruk-garuk tengkukku. “Hmmm … sebentar … biarkan aku berpikir.”
            
Ia mendengus dan mengepalkan kedua tangannya. “Jangan pura-pura berpikir panjang untuk mengulur waktu!”

“Tapi, berpikir pendek pun aku belum sempat, Bung!” Suaraku sedikit bergetar.
            
“Kalau begitu, cepat berpikir!” balas orang aneh itu dengan volume suara yang amat tinggi, sehingga orang-orang lain di ruang tunggu ini pada menoleh ke arah kami. Mungkin pula orang yang berada di dalam ruang wawancara sana—si Terwawancara maupun si Pewawancara—juga mendengar suaranya.
            
Tiba-tiba aku teringat akan Jontor, salah seorang temanku yang kubunuh gara-gara ia berhasil mendapatkan pekerjaan di kantor ini. (Karena ia telah kubunuh, maka kantor ini kehilangan pekerja barunya, dan terpaksalah membuka lowongan lagi.) Tapi, kau tak bisa menyalahkan pembunuhan yang telah kulakukan itu. Pasalnya, Tuhan tidak melarangnya—setidaknya, Tuhan di agamaku. Di agamaku, ada sebuah ayat yang menyebutkan bahwa kita diperbolehkan untuk membunuh binatang jikalau, selain untuk korban dalam upacara suci, binatang itu merugikan kita. Dan, di dalam biologi, manusia adalah binatang. Sebab Jontor telah merugikanku—dengan memenangkan lowongan pekerjaan di kantor ini—bukankah berarti aku boleh membunuhnya?
            
Orang aneh itu sekonyong-konyong memukul ubun-ubunku. “Hei! Cepat jawab!”
            
“Kalau kau mau jawabanku, kau harus menjawab pertanyaanku dulu!” aku memberanikan diri untuk membentaknya—semakin banyak orang lain yang memerhatikan kami. “Untuk apa kau melontarkan pertanyaan tengik itu kepadaku, heh?!”
            
Seketika ekspresinya melunak. “Bung, aku hanya ingin mengetahui pola pikir calon rekan kerjaku. Kebetulan saja kau adalah orang pertama yang ingin kutanyai. Tapi, nanti, yang lainnya pasti akan kutanyai pertanyaan serupa pula.”
            
“Tadi kau bilang ‘calon rekan kerja’?” aku mengernyit. “Mana mungkin aku menjadi rekan kerjamu? Kantor ini hanya membuka lowongan kerja untuk satu orang. Satu orang, Bung! Kau tahu, kan, apa artinya?”
            
“Dan lagi,” lanjutku cepat, “bagaimana bisa kau mengetahui pola pikir orang lain dengan pertanyaan macam itu?!”
            
Tahu-tahu terdengar suara ledakan dahsyat yang berasal dari dalam ruang wawancara. Tahu-tahu pula penglihatanku berkunang-kunang, lantas orang aneh itu terlihat tersenyum begitu lebar. Senyum lebar yang mengingatkanku akan senyuman khas Jontor … serta hari kematiannya yang pahit.


/4/

“Maaf, apa kau tahu alamat ini, Tuan?” tanya pria itu, setelah menepuk pundakku dari belakang dan menyodorkan selembar kertas.
            
Aku pun mengambil selembar kertas itu dan membaca alamat yang tertulis di sana.
            
“Kenapa kau tampak terkejut, Tuan?” ia bertanya lagi.
            
Aku menghela napas sejenak. “Apa kau tahu siapa yang tinggal di alamat rumah ini?”
            
“Tentu saja aku tahu bahwa ini adalah alamat rumahnya Tuhan.”
            
“Lantas, buat apa kau mencari alamatnya?”
            
Ia mengernyit. “Ada yang salah dengan itu?”
            
“Tidak. Hanya saja, biasanya orang-orang datang ke pulau kecil ini buat berlibur, bukan buat mengunjungi rumah Tuhan.”
            
“Ah, Tuan, tak ada liburan bagiku di tengah penderitaan yang terus berdatangan!”
            
“Ah, tolong jangan tersinggung dengan kata-kataku.”
            
“Aku tidak tersinggung, kok.”
            
“Eh, tapi Tuan tahu, kan, di mana rumah Tuhan?” lanjut pria itu dengan cepat.
            
“Tentu saja aku tahu. Hampir semua penduduk asli sini mengetahui letak rumah Tuhan.”
            
Pria itu mengembuskan napas lega. “Baguslah kalau begitu. Jadi, bisa Tuan beri tahu aku sekarang?”
            
Aku pun memberitahukannya secara detail. Kemudian, aku bertanya, “Kalau aku boleh tahu, kenapa kau ingin pergi ke rumah Tuhan?”
            
“Aku ingin melamar Tuhan.”
            
“Maaf, apa aku tidak salah dengar?”
            
“Aku ingin melamar Tuhan, Tuan. Aku ingin mempunyai keturunan dari Tuhan. Aku ingin keturunanku kelak jauh lebih baik ketimbang aku.”

***

Beberapa minggu kemudian, tak ada satu doa pun yang dikabulkan oleh Tuhan. Orang-orang berpikir bahwa Tuhan sedang marah pada dunia. Padahal, tak ada yang tahu, Tuhan hanya sedang cuti hamil.




*) Cerita ini dimuat di Nyonthong.com pada 17 April 2018.