Selasa, 04 Juni 2019

MELANKOLIA YASUR


*Sumber Gambar: Pinterest



Melankolia Yasur


gedung itu abu dan semakin kelabu.
retak di tubuhnya adalah kesengajaan
yang tak disadari(?) sejak dalam blueprint
yang hendak dibakarnya.

gedung itu lebih abu ketimbang mendung
yang berujung pada basah di pipi yasur;
kantor di dalamnya penuh berisi para pekerja
yang gagal memproduksi bahagia.

gedung itu lebih abu
ketimbang beda antara baik-dan-jahat,
sehat-dan-sakit, sedih-dan-bahagia,
lucu-dan-tragis, atau abu-dan-kepasrahan.

gedung itu tak kunjung mengabu
meski orang-orang di dalamnya
sibuk membakar diri
dengan kebencian masing-masing
terhadap diri.

(Jakarta, Mei 2018)




Tenggelam Dalam Litha

di kamar ini, aku mengurai tubuhmu
dengan pisau tajam
yang kaumuntah lewat matamu.

aku mengurai kulit dari dagingmu,
otot dari tulangmu,
emosi dari akal sehatmu,
hingga nyawa dari tubuhmu:
aku memperoleh kata demi kata
yang menenggelamkanku
pada kedalaman tematik
tiap sisi ke-“ada”-an kau.

*
kata demi kata itu terserak di kasurku
seperti sampah yang ingin dibuang,
atau remah-remah yang ingin disusun kembali
menjadi makanan.

aku tak tahu perumpamaan mana yang tepat.
tapi kata demi kata yang kudapat itu
selalu saja menyayat mata lalu pikiranku
saban kubaca dengan harap yang kaku.

maka tak heran, saat sajak itu berhasil kutuntaskan,
tuntas pula masa hidupku
berkat darah yang mengucur seperti ombak.

(Jakarta, Mei 2018)




Kelupaan Yasur

aku lupa cara mengenalmu
aku lupa cara mengenal bahaya dari dirimu

aku lupa cara mengenal bom di matamu
pedang di lidahmu
racun di jarimu
paku di langkahmu
bahkan maut di keberadaanmu

aku lupa cara mengenalmu
aku lupa cara mengenal bahaya dari dirimu
ataukah aku lupa cara mengenal diriku
lupa cara membahagiakan diri sendiri?

(Jakarta, Mei 2018)




Sebelum Menyentuh Tubuhmu

sebelum menyentuh tubuhmu
kau bertanya soal cairan yang kugunakan
untuk membasuh tanganku:
darah, air mata, atau air sungai yang mengalir ke dadaku,
air sungai yang digunakan orang-orang
melarung kepercayaan masing-masing

sebelum menyentuh tubuhmu
kau bertanya soal bahan dasar yang kugunakan
untuk membentuk tangan kotorku:
madu palsu, atau susu yang mengalir dari puting induk dusta
ketika menyusu anak-anaknya

sebelum menyentuh tubuhmu
—yang semestinya tak disentuh oleh seorang pun—
aku bertanya pada diri sendiri
soal siapa saja yang mesti kubantai sebelum ini

(Jakarta, Mei 2018)




*) Puisi-puisi ini dimuat di Litera.co.id pada 1 Juni 2019.

Jumat, 03 Mei 2019

MATINYA SUN IE KAI -- Sebuah Cerpen


Visual Grรคfenberg
*Sumber Gambar: Pinterest



Sekitar 30 menit lagi aku akan sampai di kediaman Sun Ie Kai. Itu berarti Sun Ie Kai akan mati sekitar 30 menit lagi, dengan darah menodai bilah pedangku ini. Tak ketinggalan menodai tanah. Mungkin pula akan menodai pakaian, wajah, serta rambut putihku yang panjang. Setidaknya, setelah mati, Sun Ie Kai tidak akan menodai dunia ini lagi.
            
Cuaca di gurun pasir yang kulewati ini sungguh panas. Tapi tentu panas yang badanku rasakan taklah sepanas api yang membunuh-hanguskan adik perempuanku, Ming Yu Tai. Tepatnya, tidak sepanas api yang dikobarkan oleh Sun Ie Kai ke tubuh perempuan manis yang sedang bekerja di sebuah kedai itu, yang berkali-kali menolak ajakannya untuk bercinta. Namun, apakah yang lebih panas ketimbang api neraka yang kelak membakar Sun Ie Kai setelah pedangku mencabut nyawanya?
            
Sun Ie Kai tinggal bersama anak-anak buahnya yang berjumlah sembilan orang. Dan, kesemua anak buahnya pandai beradu pedang, meski tentu tak sepandai Sun Ie Kai sendiri. Katanya, anak-anak buahnya itu akan mengeroyok orang-yang-menantang-Sun Ie Kai habis-habisan, bahkan sebelum penantang tersebut sempat mencabut pedang dari sarungnya atau mengeluarkan senjata apa pun dari wadahnya. Tapi aku tidak takut. Aku hanya takut jika Ming Yu Tai tidak tenang di alam sana, sebab orang yang membunuhnya masih berkeliaran dengan santainya di dunia ini.
            
Tak terasa, gubuk kayu tempat Sun Ie Kai tinggal—bersama anak-anak buahnya—sudah terlihat di depan sana. Gubuk tersebut terletak di tepian gurun pasir ini. Dari jarak ini, aku tak mendapati keberadaan siapa pun di sekitaran gubuk itu. Bagaimanapun, aku langsung mencabut pedangku dari sarungnya, sebelum melanjutkan langkah-langkahku yang entah kenapa semakin terasa berat—demi apa pun, jangan kauartikan itu sebagai ketakutan yang menghinggapiku.
            
Cahaya matahari terasa semakin panas. Angin berpasir pun bertiup kencang, membuat rambut putihku yang panjang berkibar seperti bendera.
            
Akhirnya, gubuk kayu itu tinggal beberapa langkah lagi di depanku. Dari sini pun aku tak mendapati keberadaan siapa-siapa di sekitaran. Bahkan, ketika kubuka lebar pintu gubuk itu, tampak ketidakberadaan siapa-siapa di dalam sana.

Apakah Sun Ie Kai dan anak-anak buahnya telah kabur, karena telah menduga bahwa aku akan datang? Apakah mereka takut padaku? Mungkin saja. Namun mungkin pula ini adalah jebakan dari mereka.
            
Sebelum aku masuk, aku memotong engsel-engsel pintu gubuk agar tak ada yang tiba-tiba mengunciku dari luar, dengan maksud menjebakku.

***

Sehabis merampok persediaan makanan di desa terdekat, kami bersembilan kembali berkuda untuk balik ke gubuk. Tiap kuda kami kebagian jatah mengangkut persediaan makanan dengan beban yang sama. Saat sedang kencang-kencangnya kuda kami melaju, tiba-tiba kuda yang kutunggangi terjatuh. Aku dan kudaku pun berguling-guling di pasir, sementara kedelapan kawanku reflek menghentikan laju kuda masing-masing.
            
“Satu-satunya perempuan di kelompok ini, satu-satunya pula yang terjatuh,” cemooh Wong Xie, dan aku segera mendelik padanya sebelum ia melanjutkan cemoohannya itu dengan tawa.
            
Lantas, salah satu dari mereka berdelapan, Yao Sin namanya—ia adalah saudara laki-lakiku—turun dari kuda dan membantuku berdiri. Ketujuh kawanku yang lain lalu turun dari kuda pula untuk membantu kudaku berdiri, tapi kuda itu segera terjatuh-menyamping begitu diberdirikan.
            
“Kudaku sudah menunjukkan tanda-tanda sakit sejak tadi pagi,” akuku.

“Kupikir sebaiknya kalian bertujuh kembali duluan ke gubuk,” sambung Yao Sin. “Barangkali Sun Ie Kai sudah sampai di sana dan menunggu kita dengan kelaparan. Aku akan pergi ke tempat lain untuk mencari dokter hewan buat kuda Mae Yun, sementara Mae Yun tetap di sini untuk menjaga kudanya.”

“Baiklah,” sahut Wong Xie. “Apa perlu kami membawakan persediaan makanan di kuda kalian, heh?”

“Tidak usah,” kata Yao Sin. “Kupikir, bisa saja kami membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mengurusi masalah ini, sehingga kami perlu memakan persediaan makanan yang kami bawa.”

Tak lama kemudian, mereka bertujuh telah menghilang di balik cakrawala. Tinggallah aku dan Yao Sin di sini, serta kuda kami masing-masing. Tiba-tiba saja, Yao Sin memelukku erat-erat dan mencium bibirku. Ah, saudaraku ini memang benar-benar tahu bagaimana caranya membuatku bergairah ....

***

Sore ini aku kedatangan seseorang. Katanya, ia membutuhkan pertolonganku karena ada seekor kuda yang “tidak beres” di tengah gurun pasir. Dan, ia memintaku untuk datang menghampiri kuda tersebut, sebelum menanyakan berapa harga yang mesti dibayarnya.
            
“Masalah biaya, nanti saja kita bicarakan,” sahutku. “Omong-omong, siapa namamu, Tuan?”
            
“Aku Yao Sin.”
            
“Baiklah, Tuan Yao Sin, berikan aku waktu untuk menyiapkan obat-obatan yang akan kubawa. Tidak akan lama, karena aku akan dibantu oleh asistenku.” Kemudian aku menoleh ke samping, tepatnya ke arah asistenku yang berdiri membelakangi lemari obat-obatan, dan berkata, “Kau tahu kan apa saja yang kita perlukan untuk menolong kuda malang itu?”
            
Asistenku—yang sudah kudidik sedemikian rupa—pun dengan cepat memilih obat-obatan yang tepat dari dalam lemari, lalu menyerahkannya padaku.

***

Aku tidak menemukan apa pun yang berarti di dalam gubuk kayu ini. Aku hampir merasa tak menemukan alasan untuk tetap di sini, sampai ketika kudengar derap-cepat beberapa ekor kuda dari kejauhan, yang semakin lama semakin dekat. Saat aku mengintip keluar melalui jendela, kulihat anak-anak buah Sun Ie Kai sedang menuju kemari. Tapi entah di mana Sun Ie Kai.
            
Aku menggenggam erat gagang pedangku ....

***

“Masalah biaya, nanti saja kita bicarakan,” sahut si Dokter Hewan. “Omong-omong, siapa namamu, Tuan?”
            
Aku menjawab, “Aku Yao Sin.”
            
“Baiklah, Tuan Yao Sin, berikan aku waktu untuk menyiapkan obat-obatan yang akan kubawa. Tidak akan lama, karena aku akan dibantu oleh asistenku.” Kemudian si Dokter Hewan menoleh ke samping, tepatnya ke arah sebuah lemari yang entah apa isinya, dan berkata, “Kau tahu kan apa saja yang kita perlukan untuk menolong kuda malang itu?” entah kepada siapa. Kepada kekosongankah?
            
Lantas dokter itu melangkah ke lemari tersebut, membukanya, dan dengan cepat memilih obat-obatan yang terdapat di dalam sana. Si Dokter Hewan pun berkata lagi kepada kekosongan, “Terima kasih, asistenku yang cerdas.”

***

Kudaku akhirnya bisa berdiri dengan baik. Si Dokter Hewan pun pergi. Tinggallah aku dan Yao Sin di sini, serta kuda kami masing-masing. Tiba-tiba saja, Yao Sin memelukku erat-erat dan mencium bibirku. Beberapa jenak kemudian, Yao Sin mengajakku bersenggama di titik ini juga, dan aku dengan tegas menolaknya—meski aku yakin bahwa aku akan menikmati persenggamaan itu.

Rupanya Yao Sin tak langsung menyerah; beberapa kali lagi ia memintaku, beberapa kali lagi pula aku menolak ajakannya dengan tegas. Dan ....

***

Tujuh anak buah Sun Ie Kai berhasil kubunuh. Tujuh buah kepala terpisah dari leher masing-masing. Darah mereka menodai pedangku, menodai lantai gubuk yang hanya berupa tanah, dan tak ketinggalan menodai pakaian, wajah, serta rambut putihku yang panjang. Tapi, ya, hanya tujuh anak buah Sun Ie Kai yang kubunuh, karena hanya tujuh anak buahnya yang datang ke gubuk kayu ini. Entah ke manakah perginya dua orang anak buah yang tersisa itu.
            
Tahu-tahu, entah sejak kapan, Sun Ie Kai telah berdiri di ambang pintu gubuk dengan pedang siaga di tangan kanannya. Aku pun tersenyum dingin kepadanya, dan ia membalas dengan tatapan penuh amarah. Segeralah Sun Ie Kai menerjang ke arahku, dan kami bertarung hebat ....

***

Ketika gubuk kayu sudah tampak di hadapan aku dan Yao Sin, kami lihat ketujuh kuda kawan-kawan kami berada di luar gubuk tanpa ditambatkan—tidak seperti biasanya. Tiba-tiba terlihat Sun Ie Kai terlempar keluar dari dalam gubuk, dengan tubuh berlumuran darah. Bahkan, saking banyaknya darah, keseluruhan rambut putihnya yang panjang itu menjadi merah.

Kami reflek mempercepat laju kuda kami untuk menolong Sun Ie Kai. Sementara itu, Sun Ie Kai langsung bangkit, meraih pedangnya yang mendarat tak jauh darinya, dan .... menyabet-nyabetkan pedangnya ke udara kosong.
            
“Tuan, apa yang kau lakukan?!” seru Yao Sin.
            
Sun Ie Kai menoleh ke arah kami, lalu menusukkan pedangnya ke dada kirinya sendiri!

***

Sun Ie Kai tumbang. Yao Sin dan Mae Yun segera memeriksa tubuhnya, mendapatkan kepastian bahwa pemimpin mereka telah mati, sebelum memeriksa bagian dalam gubuk, untuk mencari tahu siapakah yang tadi membuat Sun Ie Kai terlempar dari dalam sana. Namun, tak mereka dapati keberadaan siapa-siapa di dalam gubuk kayu yang adalah markas mereka itu, kecuali mayat ketujuh kawan mereka ....



*) Cerpen ini dimuat di Semay Media pada April 2019.

Sabtu, 30 Maret 2019

SAYAP


*Sumber Gambar: Pinterest



Sayap

nol besar di puncak menara itu
memperlihatkan siluet burung-burung pemakan
bangkai beterbangan, menitipkan bebulu rontok
di dasar menara, seorang ayah seorang anak

duduk terpuruk, dikepung kematian
di luar sana. lilin-lilin sedang menyala
menghangatkan mereka, ketika
sebuah ide tumbuh bagaikan jamur

di balik batok kepala sang ayah:
ia pun memungut bebulu berserakan,
saling merekatkan dengan cairan lilin,
membentuk sepasang sayap yang pas

berada di tubuh sang anak.
“terbanglah, anakku,
seperti burung-burung pemakan bangkai itu.
bermigrasilah ke pulau seberang, di mana

kematian masih serupa hewan liar berhibernasi.
tapi jangan terlalu dekat dengan matahari!”
sang anak mengepak sayap, perlahan terbang
melewati nol besar, lalu bangkai-bangkai manusia

di bawah sana, orang-orang berpedang
membunuh orang-orang tak berpedang.
tiba-tiba sepasang sayap merah tumbuh
di hatinya, tumbuh keajaiban yang hanya

mungkin ada di ketinggian seperti ini:
sang anak pun berteriak kegirangan,
terbang semakin tinggi, semakin jauh
dari kematian di bawah sana, tak menyadari

sepasang sayapnya berkeringat:
lilin dilelehkah panas mentari.

*
para pelaut berpedang menemukan
sang anak menjerit meminta tolong.
di atas laut itu, burung-burung pemakan
bangkai mulai mengepung.

(Denpasar, Februari 2019)



Sekumpulan Anak

kami telur, hanya menggigil
dalam lemari salju, ingatan
tentang bokong ayam yang hangat
perlahan membeku.

kami telur, tak akan menetas
di tanganmu, kami menanti
diri pecah di atas
panas permukaan bajan.

kami telur, mengharap sedikit
keajaiban: usai beberapa menit
kaugoreng, kami menjumpa
potongan ibu di perut itu.

tapi kami hanya telur membusuk,
dilontarkan tanganmu, menuju
sebuah wajah, sebagai kejutan
ulang tahun kawanmu.

(Denpasar, Februari 2019)



Kesaksian Sebuah Mobil

bukan kecepatan ini sungguh
membuatku takut, tak lain gumpalan
awan badai bermunculan dari
rambutnya seputih mata

mayat tersimpan pada bagasi,
dengan tubuh terkoyak gigi-geligi
piranha menyeruak dari nanar matanya.
tangannya, dipenuhi noda darah,

kini gemetar hebat mencengkeram
setir sewaktu-waktu bisa dibantingnya
ke sembarang arah, matanya mencari-cari
bayang-bayang pohon manakah

hendak menampung sebuah makam
tersembunyi. mendadak, melalui amuk api
yang terlihat dari lubang di dadanya,
kubaca kehendak untuk berbelok

ke arah laut, membangun makam-tak-rahasia
kami bertiga, makam yang cukup besar
buat mengamankan hati kecilnya dari
dosa-dosa ditumpahkan oleh angkasa.

(Jakarta, Februari 2019)



*) Puisi-puisi ini dimuat di Kompas pada Sabtu, 30 Maret 2019.

NOVEL DAN KEKASIH YANG MARAH -- Sebuah Cerpen


surreal book carvings by Guy Laramรƒ©e - mikeshouts

*Sumber Gambar: Pinterest



Saya langsung mengincar sofa panjang berwarna hijau itu begitu istri saya mengajak memasuki butik ini. Di sofa hijau yang sama, beberapa sentimeter di sebelah kiri saya, duduklah seorang lelaki remaja yang sedang sibuk dengan novel bacaannya. Sampul novel itu berwarna merah, dan tertulis Kerajaan Putih yang Terbakar sebagai judul, serta nama pena saya sebagai penulisnya—jika lelaki remaja itu menoleh ke arah saya, saya tak tahu apakah ia akan mengenali saya, sebab di halaman Tentang Penulis tak terdapat foto saya, lebih-lebih saya bukanlah penulis terkenal. Saya lihat lebih detail, rupanya ia telah mencapai bagian tengah novel itu, di mana sang ratu sedang sayang-sayangnya pada sang raja, karena suatu hal yang lebih baik kaubaca sendiri untuk mengetahuinya.
            
“Sayang, apa gaun ini cocok untukku?” tiba-tiba seorang remaja perempuan, di samping salah satu rak gantung, berkata sembari menempelkan gaun pilihan di tubuhnya, pastilah kepada lelaki remaja yang sedang membaca novel saya, karena perempuan itu sedang menoleh ke arahnya. Namun karena kekasihnya (begitulah saya tebak, karena mereka tampak terlalu muda untuk ukuran pasangan-menikah) tak menyahut dan tetap sibuk dengan novel di tangannya, perempuan itu pun berteriak dengan marah, “Lihat aku!”
            
Tak ada yang tak terkejut saya rasa, termasuk diri saya dan istri saya sendiri. Remaja lelaki itu sampai-sampai terlompat dari sofa dan menjatuhkan novel di tangannya—sungguh seperti adegan di banyak film komedi. Ia langsung menoleh ke arah kekasihnya dan berkata, “Sangat cocok, Khesya!” jelas tanpa menimbang-nimbang gaun pilihan itu terlebih dahulu.
            
Oh, raja dan ratu yang berbahagia ....

***

Saya dan istri saya berpisah seusai urusan di butik; ia pergi ke tempat lain karena sudah membuat janji dengan beberapa rekan bisnisnya, sedangkan saya, yang kebetulan sedang bebas, memutuskan untuk tetap berada di mall ini, dan iseng memasuki toko buku. Di toko buku, saya langsung mencari novel saya, sekadar mencari tahu berapakah sisa stok novel saya di sini.
            
Beberapa langkah dari rak yang menampung novel saya, langkah saya pun terhenti. Pasalnya, saya melihat seorang perempuan yang tak asing, yang tadi memarahi kekasihnya di butik, yang berdiri persis di depan barisan novel saya. Kalau saya tidak salah dengar, nama perempuan itu Khesya. (Eh, di manakah kekasihnya?) Jelas sekali tatapan Khesya terarah ke barisan novel saya; tatapannya menyiratkan kebencian. Apa ia membenci novel saya karena novel itulah yang sempat membuat sang kekasih tak menaruh perhatian padanya—di butik tadi?
            
Satu menit. Tiga menit. Lima menit. Khesya masih tetap menatap benci novel saya. Selama lima menit itu pula saya berhenti di titik ini, tak berani mendekatinya—entah kenapa—dan mencoba menghitung jumlah novel saya yang tersisa di sana—yah, tidak banyak dan tidak sedikit.
            
Akhirnya saya bergerak menuju rak lain, melihat-lihat sembarang buku, dan tertariklah perhatian saya pada sebuah buku nonfiksi berjudul Cara Memperlakukan Wanita dengan Luar Biasa. Saya pribadi merasa yakin bahwa saya sudah cukup luar biasa (romantis dan sebagainya) terhadap istri saya, tapi saya tetap penasaran dengan isi buku itu, sehingga kemudian saya mengambil dan membawanya ke kasir. Saat berjalan ke kasir, saya mencuri pandang ke rak di mana stok novel saya dipajang; Khesya rupanya masih berdiri di sana, masih dengan tatapan bencinya yang sama kepada novel saya.

***

Sehabis dari toko buku, saya pergi ke food court. Saya memilih sembarang meja, yang ternyata terletak bersebelahan dengan meja di mana Khesya dan kekasihnya duduk. (Wah, saya tak menyadari pergerakan Khesya dari toko buku.) Kekasih Khesya sibuk membaca novel saya, mengabaikan Khesya yang menatap benci entah ke arah novel itu atau wajah sang kekasih.
            
Makanan yang saya pesan tiba bersamaan dengan makanan pesanan Khesya dan kekasihnya. Tapi tampaknya makanan di meja mereka tak akan tersentuh dalam waktu yang relatif lama; kekasih Khesya masih sibuk dengan novel saya, sementara Khesya masih sibuk melemparkan tatapan bencinya.
            
Saya memutuskan untuk berhenti memerhatikan mereka dan mulai menikmati makanan saya. Saat makanan saya sudah tinggal kira-kira seperempat piring, tiba-tiba terdengar Khesya berteriak marah, amat kencang! Saya, kekasih Khesya, serta orang-orang lainnya jelas saja terkejut dan langsung menoleh ke sumber suara. Rasanya belum ada sang kekasih melemparkan tatapan bertanya-tanya selama satu setengah detik, Khesya telah merenggut novel dari tangannya, melemparkannya jauh-jauh, lantas menampar keras-keras lelaki itu sebelum menutup wajah sendiri dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu!
            
Selama beberapa jenak kekasih Khesya hanya diam menganga. Barulah kemudian ia melontarkan kalimat-kalimat penyesalan dan permintaan maaf, yang malah membuat Khesya semakin murka: perempuan itu meraih sebilah pisau dari tempat sendok di mejanya dan menodongkannya pada sang lelaki! “Pergi!” teriaknya, dan langsunglah kekasihnya itu berlari terbirit-birit, entah ke mana.
            
Begitu lelaki itu menghilang dari jarak pandang saya—mungkin juga dari jarak pandang Khesya—Khesya segera meletakkan pisau itu pada tempatnya semula dan kembali menangis sembari menutup wajah dengan kedua tangan. Saya dan orang-orang lain yang memerhatikan adegan itu pun berusaha untuk kembali bersikap normal, kembali fokus pada kegiatan masing-masing, kecuali seorang wanita paruh baya, yang memungut novel saya dan meletakkannya di meja Khesya, tapi toh setelah itu ia kembali menjalankan kesibukannya di meja makan sendiri.
            
Beberapa saat kemudian, sesudah makanan saya habis, Khesya masih saja menangis seperti itu. Saya pun, atas inisiatif yang entah berasal dari mana, memutuskan untuk berpindah ke hadapan Khesya. Saat saya mendaratkan bokong di hadapannya, ia tetap menangis, seolah tak menyadari keberadaan bokong saya yang mendarat di kursi di mana kekasihnya duduk beberapa saat lalu. Saya lantas berdeham ....

***

Saya memesankan sebuah taksi online untuk mengantar Khesya pulang ke apartemennya. Tepatnya, ke apartemen tempat ia dan kekasihnya tinggal. Sopir taksi itu tak sendirian mengantarkan Khesya; ada saya, yang duduk bersama gadis itu di jok belakang. Saya merasa mesti ikut sebab Khesya masih saja menangis, dan saya berfirasat, ketika taksi ini melaju cepat, ia mungkin melompat ke tengah jalan raya jika tak ada yang mengawasi. (Sopir taksi sendiri pastilah terlalu sibuk mengawasi jalanan di depan-samping-belakang mobilnya, sehingga tak sempat mengawasi Khesya.)
            
Apartemen Khesya terletak tak jauh dari rumah saya. Ketika kami turun dari taksi di halaman parkir apartemen—sudah pukul 9 malam, padahal kami memulai perjalanan dari mall sekitar pukul 6 sore—Khesya berkata pada saya dengan sisa tangisnya, “Ikut saya masuk.”
            
Hening beberapa jenak, saya bingung mesti menjawab apa. Pertama, karena saya baru saja berniat mengatakan, “Dari sini, saya akan berjalan kaki ke rumah saya.” Kedua, saya sudah lelah mendengarkan sedu-sedannya—yang berusaha menyaingi bising kemacetan—di dalam taksi selama kurang lebih 3 jam. Sayangnya, saya tak tega meninggalkannya.
            
“Saya takut ia memukul saya,” lanjut Khesya. “Maksudnya, kekasih saya. Ia hanya pura-pura tak berdaya setiap kami bertengkar di tempat umum.”
            
Tapi, ketika saya sudah masuk ke apartemennya, ternyata kekasih Khesya belum pulang. (Apa istri saya sudah pulang?) Dan tiba-tiba Khesya mengunci pintu di belakang saya, mencium bibir saya dengan liar, memeluk tubuh saya dengan ganas, menggiring saya ke tempat tidur dengan beringas, lalu ....
            
Saya tiba-tiba teringat bahwa kami belum berkenalan—tentu Khesya tak tahu nama saya dan lain-lainnya, termasuk ia tak tahu bahwa sayalah penulis novel yang, secara tak langsung, membuat hubungan antara ia dan kekasihnya “retak”, bahkan sebentar lagi saya akan menjadi penyebab langsung bagi “keretakan” tersebut. Namun, apakah persetubuhan yang hebat hanya bisa terjadi di antara dua orang yang saling mengenal?

***

Setelah saya mengatakan bahwa saya akan orgasme, Khesya langsung melepaskan diri dari saya, meraih tasnya yang tergeletak di lantai—bersama pakaian kami—dan mengeluarkan novel saya yang beberapa jam lalu adalah bacaan kekasihnya. Ia lalu meraih pistol saya, menodongkannya ke novel saya sendiri, dan tangannya melakukan gerakan lincah yang menyenangkan, disertai senyum kejam yang menggoda.
            
Apakah menodai anak rohani sendiri bisa disebut inses? tiba-tiba saya berpikir demikian.



*) Cerpen ini dimuat di Semay Media, pada Maret 2019.