Minggu, 21 Juli 2019

MONSTER DAN PAHLAWAN DI SEBUAH RUMAH -- Sebuah Cerpen


*Sumber Gambar: Pinterest




Bocah itu kembali ke ruang dalam rumah dengan batu memenuhi genggamannya. Ia berdiri beberapa langkah di hadapan televisi yang menyala, menampilkan film kartun pahlawan super kesukaannya. Ia mengambil ancang-ancang; selain batu, sebilah pedang sudah siaga di tangan satunya lagi, sebilah pedang yang sama dengan milik sang pahlawan super, sebagaimana kostum yang dikenakannya kini. Di layar televisi, akhirnya sang pahlawan super berjumpa dengan monster musuh beratnya. Bocah itu memantapkan ancang-ancang. Ketika layar televisi terlihat dipenuhi oleh big close-up[i] ekspresi marah sang monster, bocah itu segera melayangkan batu di tangannya. Layar televisi pun pecah, tapi tak ada monster yang keluar dari sana, padahal ia sudah siap untuk menghadapinya, dalam rangka membantu sang pahlawan super, sekaligus melatih diri untuk menjadi pelindung bagi ibunya yang sudah tak bersuami.
            
Terkejut, ibu bocah itu keluar dari kamar, dan ia hanya bisa memarahi putranya, sekaligus sekali lagi berusaha meyakinkannya bahwa monster itu tidak ada di dunia nyata, dan tidak akan pernah ada, sebelum menyuruhnya untuk membantu membersihkan pecahan layar televisi yang terserak di lantai.
            
Sekonyong-konyong bocah itu berkata, “Bagaimana kalau sebenarnya Ayah mati karena dibunuh oleh monster, Bu?”
            
Ibu bocah itu langsung tercelus dalam kesedihan. Sejenak ia memandangi lubang di tubuh televisi yang sebelumnya tertutupi oleh layar; di bagian pinggirnya masih terdapat pecahan layar yang menempel, berbentuk seperti taring. Lalu ia mengalihkan tatapan ke putranya dan membentak, “Sudah Ibu bilang, jangan katakan itu lagi!”
            
Bocah itu segera menangis dan berlari ke kamarnya. Ia duduk menekuk lutut di sudut, tampak seperti pahlawan yang kehilangan kepahlawanannya karena tak ada monster barang seekor pun untuk dikalahkan, untuk membuat masyarakat tetap membutuhkan jasa seorang pahlawan super.

Ia menangis terus sampai ketiduran, sampai tiba pagi keesokan harinya. Setelah bangun, ia langsung membuka kostum pahlawan super itu, lantas bersama pedangnya ia buang ke tempat sampah yang ada di sudut lain kamar.
            
Dari luar ruangan, terdengar ibu bocah itu berkata, “Cepatlah mandi, Nak. Sebentar lagi kita akan kedatangan seorang tamu istimewa. Aku ingin memperkenalkannya padamu.”
            
Tak lama kemudian, bocah itu dan ibunya sudah duduk di ruang tamu, menunggu kehadiran sang tamu istimewa.
            
“Apa kau ingat saat ibu mengatakan soal ‘ayah baru’?”
            
Bocah itu mengingat-ingat barang sejenak, lalu mengangguk.
            
Kemudian hening, sampai terdengar suara mobil dari luar sana, disusul jeritan klaksonnya yang jelas-jelas membuat sang ibu begitu bahagia. Wanita itu cepat-cepat bangkit dari sofa, melangkah ke pintu, dan ....
            
Bocah itu menyesal telah membuang kostum dan pedang pahlawan supernya.
            
Bocah itu melihat seekor monster seukuran pria dewasa berpelukan dengan ibunya, lantas menoleh ke arahnya sembari berkata, “Jadi, itukah putramu, sang pahlawan super?”

***

Monster itu meninggalkan ruang tamu, menuju toilet.
            
Dengan tubuh dan suara bergetar, sang bocah berkata, “Bu, bolehkah aku membunuh monster itu?”
            
“Apa?”
            
“Boleh aku membunuh monster itu? Monster yang bertamu kemari, maksudku!”
            
“Monster? Jaga omonganmu! Ia adalah pria yang sangat baik. Ia itu calon ayah barumu!”
            
Bocah itu tertegun. Ia tak mengerti kenapa ayah barunya mesti seekor monster, alih-alih seorang pahlawan super.
            
Sang monster telah keluar dari toilet dan kembali duduk di ruang tamu bersama mereka.
            
Bocah itu langsung berlari ke kamarnya, mengabaikan sang ibu yang terus memanggilnya, mengunci diri di sana, dan memungut kembali kostum serta pedangnya.

***

Ibu bocah itu dan sang monster pun menikah. Padahal, sebelumnya, bocah itu sudah menyatakan keberatan, tapi sang ibu berpikir bahwa nanti putranya akan sadar dengan sendirinya bahwa sang ayah baru adalah orang baik. Justru, bocah itu melihat sang monster berubah menjadi semakin menakutkan semenjak ia resmi menjadi ayah barunya; tubuhnya membesar, tanduknya memanjang, cakar dan geliginya meruncing!
            
Kenapa Ibu tidak bisa melihat kengerian monster itu? pikir bocah itu. Kalau begitu, Ibu bisa-bisa dibunuh dengan mudah!
            
Tiba-tiba bocah itu mengingat sebuah adegan di salah satu episode film pahlawan super, ketika sang monster membunuh kawan baik sang pahlawan super dengan mudah, karena orang yang dibunuh itu sedang tidur nyenyak.

***

Beberapa menit sesudah sang ibu mencium kening bocah yang pura-pura tidur itu dan pergi, sang bocah diam-diam mengenakan kostum pahlawan super, keluar dari kamar dengan menenteng pedangnya, melintas-tanpa-suara di ruang tengah di mana ibunya dan sang monster sedang asyik bercumbu—Monster itu pasti sedang menyerap sari kehidupan ibuku!—dan menyelinap ke kamar mereka, bersembunyi di kolong ranjang.
            
Beberapa jenak kemudian, sang ibu dan sang monster masuk, disusul dengan terdengarnya suara kunci pintu yang diputar. Bocah yang dengan sabar menunggu di kolong ranjang itu tak tahu bahwa ibu dan ayah barunya sedang bersetubuh di atas kasur; ia hanya merasakan kasur berguncang-guncang, menyangka bahwa sang monster sedang menyiksa ibunya, lebih-lebih sang ibu mengeluarkan desah-desahan yang dipikirnya merupakan reaksi dari rasa sakit.
            
Satu jam kemudian, kasur berhenti berguncang-guncang, sang ibu berhenti mendesah-desah, dan tiga puluh menit berikutnya sudah terdengar dengkuran sang monster, dengkuran yang menurut bocah itu akan membuat hantu penguasa malam jadi kejer saking takutnya.

Ia pun keluar dari kolong ranjang, sejenak memandangi sang monster yang telentang dan sang ibu yang memeluknya dari samping, dengan tangan mulusnya di atas perut monster itu. Lantas ia, teramat perlahan, naik ke kasur, mengangkat pedang tinggi-tinggi seraya mengarahkan ujungnya ke dada kiri sang monster, dan … ia berhitung dalam hati, satu sampai tiga, dan … ia menarik napas, mengumpulkan energi agar hunjamannya semakin mantap, dan … sekonyong-konyong, tanpa alasan jelas, dari perut sang monster, tangan sang ibu bergeser ke atas dada kirinya, bersamaan dengan dihunjamkannya pedang itu sekuat tenaga.

***

Pintu kamar sang pahlawan super dikunci dari luar. Di tangan kanannya adalah bilah pedang yang patah, terpisah dari gagangnya yang ia genggam di tangan kiri. Dan, topeng itu sudah basah, juga asin, karena ia terus menangis. Ia merasa dirinya adalah pahlawan paling tolol, yang pasti akan dikucilkan oleh pahlawan-pahlawan lainnya.

Sang ibu yang tadi terbangun langsung memekik kesakitan—membangunkan sang monster—dan berteriak marah, sebelum mematahkan pedangnya. Berkat bantuan pencahayaan dari lampu tidur, bocah itu dapat melihat kulit punggung tangan ibunya yang robek, walau pedangnya hanyalah mainan. Apa yang dilihatnya itu membuatnya bergidik ngeri, dan semakin ngeri lagi saat darah menetes dari sana, menimpa dada kiri sang monster. Dan, rupanya, bocah itu masih bisa merasa jauh lebih ngeri lagi, yaitu saat melihat ibunya, perlahan tapi pasti, berubah menjadi monster—sepasang tanduk mencuat dari kepala, geligi dan kuku-kukunya meruncing—kala sang ayah baru memeluk wanita itu sambil menenangkannya dengan sikap manis.

Tiba-tiba bocah itu merasa amat lelah. Ia melempar gagang pedang dan bilahnya ke tempat sampah, lantas berbaring di kasur. Ia terus memandang ke arah pintu, berharap akan segera ada yang membukanya dari luar. Bocah itu kemudian merasa topengnya yang basah menciptakan sensasi tak nyaman di wajah. Ia bangkit, melangkah ke hadapan cermin, melihat pantulan seorang pahlawan super yang gagal, berkata dalam hati, Aku akan berhenti menjadi pahlawan super dan berhenti melawan monster, sebelum melepas topengnya. Dan, bocah itu menjerit ketakutan karena melihat wajah seekor monster di cermin!


[i] Salah satu tipe (ukuran) shot dalam dunia fotografi dan perfilman; dalam konteks ini, berarti menampilkan wajah sang monster dari dagu hingga dahi.




*) Cerpen ini dimuat di kurungbuka.com pada 14 Juli 2019.

Kamis, 04 Juli 2019

SETELAH MENGUNDUH FILM PORNO


*Sumber Gambar: Pinterest




Setelah Mengunduh Film Porno

deduri pun tumbuh di batang kemaluanku.
kulit tanganku yang resah menipis-menghangat,
berdansa cepat saat kelopak-kelopak mawar
berebut keluar dari layar komputer,
menjilat bola-bola mata di sekujur badanku
—yang terluka—
umpama anjing kepada tulang
atau lidah pria kepada dada wanita
atau nafsu kepada tualang.

(Jakarta, Oktober 2018)



Sela Bibir

udara yang merayap di tubuh
telanjangmu
udara yang menyelundupkan ruh
ke rahimmu
udara yang mengeringkan ompol bayi
di seprai putihmu
udara yang mengusir uap panas
pada susu beracun

adalah udara dari sela
bibir pucat
yang sama

(Jakarta, Oktober 2018)



Sajak Para Sel

keluar dari terowongan rumah
mereka pun sadar: maut akan merebut

kehendak pun melemah
gravitasi telah memaut

tak ada fetus
tak ada bayi
tak ada bocah kecil
tak ada remaja
tak ada dewasa
tak ada penggerak dunia

tak ada ovum
hanya kencing dan tahi
yang kelak (mayat) mereka temukan

(Jakarta, Oktober 2018)



Ia Pulang

ia pulang sekolah dengan mulut terjahit.
tampak dada dan kepalanya
semakin besar
sebab tangkai-tangkai bunga berduri
tak bisa melata
keluar
dari sela bibirnya sepanjang hari.

ia pulang sekolah dengan mata mengantuk,
mata yang terantuk-antuk
ke papan tulis dan mimpi tak berbentuk.

ketika ia tidur,
mendadak aku merindu
tangkai-tangkai bunga berduri
yang merobek udara palsu
di sekitarku.

(Jakarta, Oktober 2018)



Mencicipi Karl Jaspers

/1/

menghadap cermin
mempelajari chiffer-chiffer:
tertawa terbahak-bahak

/2/

dibangunkan pagi
memikirkan “esok” dan “nanti”:
tertawa terbahak-bahak

/3/

menyeruput kopi
sehitam situasi batas:
pahit & manis

/4/

tertawa terbahak-bahak
+ mencicip pahit & manis
= aku merenung lagi

(Jakarta, Oktober 2018)



Midnight in Jakarta

nocturne no. 13 bertamu ke kamarku
membawa dingin dan selimut
pengeram telur-telur keheningan

yang menyembunyi hujan, kabut,
bara, dan asap hitam di balik cangkangnya.

nocturne no. 13 menyatu dengan kasurku,
lampu kamarku, cerminku, pendingin udaraku,
seluruh pakaianku, baik di tubuh pun lemariku,

dan lumut-tebal yang tumbuh di tembok
pengepungku, seperti memori tentang “ada”-mu.

(Jakarta, Oktober 2018)



Oleh-Oleh

udara perawan di puncak gunungmu
kubawa turun dengan kantung dadaku

lalu kuembuskan:
oleh-oleh kepada udara jakarta yang rawan

(Jakarta, Oktober 2018)




*) Puisi-puisi ini dimuat di Tatkala.co pada 29 Juni 2019.

Selasa, 04 Juni 2019

MELANKOLIA YASUR


*Sumber Gambar: Pinterest



Melankolia Yasur


gedung itu abu dan semakin kelabu.
retak di tubuhnya adalah kesengajaan
yang tak disadari(?) sejak dalam blueprint
yang hendak dibakarnya.

gedung itu lebih abu ketimbang mendung
yang berujung pada basah di pipi yasur;
kantor di dalamnya penuh berisi para pekerja
yang gagal memproduksi bahagia.

gedung itu lebih abu
ketimbang beda antara baik-dan-jahat,
sehat-dan-sakit, sedih-dan-bahagia,
lucu-dan-tragis, atau abu-dan-kepasrahan.

gedung itu tak kunjung mengabu
meski orang-orang di dalamnya
sibuk membakar diri
dengan kebencian masing-masing
terhadap diri.

(Jakarta, Mei 2018)




Tenggelam Dalam Litha

di kamar ini, aku mengurai tubuhmu
dengan pisau tajam
yang kaumuntah lewat matamu.

aku mengurai kulit dari dagingmu,
otot dari tulangmu,
emosi dari akal sehatmu,
hingga nyawa dari tubuhmu:
aku memperoleh kata demi kata
yang menenggelamkanku
pada kedalaman tematik
tiap sisi ke-“ada”-an kau.

*
kata demi kata itu terserak di kasurku
seperti sampah yang ingin dibuang,
atau remah-remah yang ingin disusun kembali
menjadi makanan.

aku tak tahu perumpamaan mana yang tepat.
tapi kata demi kata yang kudapat itu
selalu saja menyayat mata lalu pikiranku
saban kubaca dengan harap yang kaku.

maka tak heran, saat sajak itu berhasil kutuntaskan,
tuntas pula masa hidupku
berkat darah yang mengucur seperti ombak.

(Jakarta, Mei 2018)




Kelupaan Yasur

aku lupa cara mengenalmu
aku lupa cara mengenal bahaya dari dirimu

aku lupa cara mengenal bom di matamu
pedang di lidahmu
racun di jarimu
paku di langkahmu
bahkan maut di keberadaanmu

aku lupa cara mengenalmu
aku lupa cara mengenal bahaya dari dirimu
ataukah aku lupa cara mengenal diriku
lupa cara membahagiakan diri sendiri?

(Jakarta, Mei 2018)




Sebelum Menyentuh Tubuhmu

sebelum menyentuh tubuhmu
kau bertanya soal cairan yang kugunakan
untuk membasuh tanganku:
darah, air mata, atau air sungai yang mengalir ke dadaku,
air sungai yang digunakan orang-orang
melarung kepercayaan masing-masing

sebelum menyentuh tubuhmu
kau bertanya soal bahan dasar yang kugunakan
untuk membentuk tangan kotorku:
madu palsu, atau susu yang mengalir dari puting induk dusta
ketika menyusu anak-anaknya

sebelum menyentuh tubuhmu
—yang semestinya tak disentuh oleh seorang pun—
aku bertanya pada diri sendiri
soal siapa saja yang mesti kubantai sebelum ini

(Jakarta, Mei 2018)




*) Puisi-puisi ini dimuat di Litera.co.id pada 1 Juni 2019.

Jumat, 03 Mei 2019

MATINYA SUN IE KAI -- Sebuah Cerpen


Visual Grรคfenberg
*Sumber Gambar: Pinterest



Sekitar 30 menit lagi aku akan sampai di kediaman Sun Ie Kai. Itu berarti Sun Ie Kai akan mati sekitar 30 menit lagi, dengan darah menodai bilah pedangku ini. Tak ketinggalan menodai tanah. Mungkin pula akan menodai pakaian, wajah, serta rambut putihku yang panjang. Setidaknya, setelah mati, Sun Ie Kai tidak akan menodai dunia ini lagi.
            
Cuaca di gurun pasir yang kulewati ini sungguh panas. Tapi tentu panas yang badanku rasakan taklah sepanas api yang membunuh-hanguskan adik perempuanku, Ming Yu Tai. Tepatnya, tidak sepanas api yang dikobarkan oleh Sun Ie Kai ke tubuh perempuan manis yang sedang bekerja di sebuah kedai itu, yang berkali-kali menolak ajakannya untuk bercinta. Namun, apakah yang lebih panas ketimbang api neraka yang kelak membakar Sun Ie Kai setelah pedangku mencabut nyawanya?
            
Sun Ie Kai tinggal bersama anak-anak buahnya yang berjumlah sembilan orang. Dan, kesemua anak buahnya pandai beradu pedang, meski tentu tak sepandai Sun Ie Kai sendiri. Katanya, anak-anak buahnya itu akan mengeroyok orang-yang-menantang-Sun Ie Kai habis-habisan, bahkan sebelum penantang tersebut sempat mencabut pedang dari sarungnya atau mengeluarkan senjata apa pun dari wadahnya. Tapi aku tidak takut. Aku hanya takut jika Ming Yu Tai tidak tenang di alam sana, sebab orang yang membunuhnya masih berkeliaran dengan santainya di dunia ini.
            
Tak terasa, gubuk kayu tempat Sun Ie Kai tinggal—bersama anak-anak buahnya—sudah terlihat di depan sana. Gubuk tersebut terletak di tepian gurun pasir ini. Dari jarak ini, aku tak mendapati keberadaan siapa pun di sekitaran gubuk itu. Bagaimanapun, aku langsung mencabut pedangku dari sarungnya, sebelum melanjutkan langkah-langkahku yang entah kenapa semakin terasa berat—demi apa pun, jangan kauartikan itu sebagai ketakutan yang menghinggapiku.
            
Cahaya matahari terasa semakin panas. Angin berpasir pun bertiup kencang, membuat rambut putihku yang panjang berkibar seperti bendera.
            
Akhirnya, gubuk kayu itu tinggal beberapa langkah lagi di depanku. Dari sini pun aku tak mendapati keberadaan siapa-siapa di sekitaran. Bahkan, ketika kubuka lebar pintu gubuk itu, tampak ketidakberadaan siapa-siapa di dalam sana.

Apakah Sun Ie Kai dan anak-anak buahnya telah kabur, karena telah menduga bahwa aku akan datang? Apakah mereka takut padaku? Mungkin saja. Namun mungkin pula ini adalah jebakan dari mereka.
            
Sebelum aku masuk, aku memotong engsel-engsel pintu gubuk agar tak ada yang tiba-tiba mengunciku dari luar, dengan maksud menjebakku.

***

Sehabis merampok persediaan makanan di desa terdekat, kami bersembilan kembali berkuda untuk balik ke gubuk. Tiap kuda kami kebagian jatah mengangkut persediaan makanan dengan beban yang sama. Saat sedang kencang-kencangnya kuda kami melaju, tiba-tiba kuda yang kutunggangi terjatuh. Aku dan kudaku pun berguling-guling di pasir, sementara kedelapan kawanku reflek menghentikan laju kuda masing-masing.
            
“Satu-satunya perempuan di kelompok ini, satu-satunya pula yang terjatuh,” cemooh Wong Xie, dan aku segera mendelik padanya sebelum ia melanjutkan cemoohannya itu dengan tawa.
            
Lantas, salah satu dari mereka berdelapan, Yao Sin namanya—ia adalah saudara laki-lakiku—turun dari kuda dan membantuku berdiri. Ketujuh kawanku yang lain lalu turun dari kuda pula untuk membantu kudaku berdiri, tapi kuda itu segera terjatuh-menyamping begitu diberdirikan.
            
“Kudaku sudah menunjukkan tanda-tanda sakit sejak tadi pagi,” akuku.

“Kupikir sebaiknya kalian bertujuh kembali duluan ke gubuk,” sambung Yao Sin. “Barangkali Sun Ie Kai sudah sampai di sana dan menunggu kita dengan kelaparan. Aku akan pergi ke tempat lain untuk mencari dokter hewan buat kuda Mae Yun, sementara Mae Yun tetap di sini untuk menjaga kudanya.”

“Baiklah,” sahut Wong Xie. “Apa perlu kami membawakan persediaan makanan di kuda kalian, heh?”

“Tidak usah,” kata Yao Sin. “Kupikir, bisa saja kami membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mengurusi masalah ini, sehingga kami perlu memakan persediaan makanan yang kami bawa.”

Tak lama kemudian, mereka bertujuh telah menghilang di balik cakrawala. Tinggallah aku dan Yao Sin di sini, serta kuda kami masing-masing. Tiba-tiba saja, Yao Sin memelukku erat-erat dan mencium bibirku. Ah, saudaraku ini memang benar-benar tahu bagaimana caranya membuatku bergairah ....

***

Sore ini aku kedatangan seseorang. Katanya, ia membutuhkan pertolonganku karena ada seekor kuda yang “tidak beres” di tengah gurun pasir. Dan, ia memintaku untuk datang menghampiri kuda tersebut, sebelum menanyakan berapa harga yang mesti dibayarnya.
            
“Masalah biaya, nanti saja kita bicarakan,” sahutku. “Omong-omong, siapa namamu, Tuan?”
            
“Aku Yao Sin.”
            
“Baiklah, Tuan Yao Sin, berikan aku waktu untuk menyiapkan obat-obatan yang akan kubawa. Tidak akan lama, karena aku akan dibantu oleh asistenku.” Kemudian aku menoleh ke samping, tepatnya ke arah asistenku yang berdiri membelakangi lemari obat-obatan, dan berkata, “Kau tahu kan apa saja yang kita perlukan untuk menolong kuda malang itu?”
            
Asistenku—yang sudah kudidik sedemikian rupa—pun dengan cepat memilih obat-obatan yang tepat dari dalam lemari, lalu menyerahkannya padaku.

***

Aku tidak menemukan apa pun yang berarti di dalam gubuk kayu ini. Aku hampir merasa tak menemukan alasan untuk tetap di sini, sampai ketika kudengar derap-cepat beberapa ekor kuda dari kejauhan, yang semakin lama semakin dekat. Saat aku mengintip keluar melalui jendela, kulihat anak-anak buah Sun Ie Kai sedang menuju kemari. Tapi entah di mana Sun Ie Kai.
            
Aku menggenggam erat gagang pedangku ....

***

“Masalah biaya, nanti saja kita bicarakan,” sahut si Dokter Hewan. “Omong-omong, siapa namamu, Tuan?”
            
Aku menjawab, “Aku Yao Sin.”
            
“Baiklah, Tuan Yao Sin, berikan aku waktu untuk menyiapkan obat-obatan yang akan kubawa. Tidak akan lama, karena aku akan dibantu oleh asistenku.” Kemudian si Dokter Hewan menoleh ke samping, tepatnya ke arah sebuah lemari yang entah apa isinya, dan berkata, “Kau tahu kan apa saja yang kita perlukan untuk menolong kuda malang itu?” entah kepada siapa. Kepada kekosongankah?
            
Lantas dokter itu melangkah ke lemari tersebut, membukanya, dan dengan cepat memilih obat-obatan yang terdapat di dalam sana. Si Dokter Hewan pun berkata lagi kepada kekosongan, “Terima kasih, asistenku yang cerdas.”

***

Kudaku akhirnya bisa berdiri dengan baik. Si Dokter Hewan pun pergi. Tinggallah aku dan Yao Sin di sini, serta kuda kami masing-masing. Tiba-tiba saja, Yao Sin memelukku erat-erat dan mencium bibirku. Beberapa jenak kemudian, Yao Sin mengajakku bersenggama di titik ini juga, dan aku dengan tegas menolaknya—meski aku yakin bahwa aku akan menikmati persenggamaan itu.

Rupanya Yao Sin tak langsung menyerah; beberapa kali lagi ia memintaku, beberapa kali lagi pula aku menolak ajakannya dengan tegas. Dan ....

***

Tujuh anak buah Sun Ie Kai berhasil kubunuh. Tujuh buah kepala terpisah dari leher masing-masing. Darah mereka menodai pedangku, menodai lantai gubuk yang hanya berupa tanah, dan tak ketinggalan menodai pakaian, wajah, serta rambut putihku yang panjang. Tapi, ya, hanya tujuh anak buah Sun Ie Kai yang kubunuh, karena hanya tujuh anak buahnya yang datang ke gubuk kayu ini. Entah ke manakah perginya dua orang anak buah yang tersisa itu.
            
Tahu-tahu, entah sejak kapan, Sun Ie Kai telah berdiri di ambang pintu gubuk dengan pedang siaga di tangan kanannya. Aku pun tersenyum dingin kepadanya, dan ia membalas dengan tatapan penuh amarah. Segeralah Sun Ie Kai menerjang ke arahku, dan kami bertarung hebat ....

***

Ketika gubuk kayu sudah tampak di hadapan aku dan Yao Sin, kami lihat ketujuh kuda kawan-kawan kami berada di luar gubuk tanpa ditambatkan—tidak seperti biasanya. Tiba-tiba terlihat Sun Ie Kai terlempar keluar dari dalam gubuk, dengan tubuh berlumuran darah. Bahkan, saking banyaknya darah, keseluruhan rambut putihnya yang panjang itu menjadi merah.

Kami reflek mempercepat laju kuda kami untuk menolong Sun Ie Kai. Sementara itu, Sun Ie Kai langsung bangkit, meraih pedangnya yang mendarat tak jauh darinya, dan .... menyabet-nyabetkan pedangnya ke udara kosong.
            
“Tuan, apa yang kau lakukan?!” seru Yao Sin.
            
Sun Ie Kai menoleh ke arah kami, lalu menusukkan pedangnya ke dada kirinya sendiri!

***

Sun Ie Kai tumbang. Yao Sin dan Mae Yun segera memeriksa tubuhnya, mendapatkan kepastian bahwa pemimpin mereka telah mati, sebelum memeriksa bagian dalam gubuk, untuk mencari tahu siapakah yang tadi membuat Sun Ie Kai terlempar dari dalam sana. Namun, tak mereka dapati keberadaan siapa-siapa di dalam gubuk kayu yang adalah markas mereka itu, kecuali mayat ketujuh kawan mereka ....



*) Cerpen ini dimuat di Semay Media pada April 2019.