Kamis, 06 Februari 2020

BOCAH DAN PISAU -- Sebuah Cerpen

*Ilustasi oleh: Mahdiduri




Mungkin beberapa saat lagi bocah itu akan membunuh ayahnya, mungkin pula tidak. Yang jelas, cita-citanya untuk membunuh sang ayah telah mengalami kemajuan: malam ini, ia sudah berani meraih sebilah pisau dari rak di dapur, meski dengan tangan gemetar, begitu mendengar ibunya dimarahi lagi oleh sang ayah di kamar mereka, tak ketinggalan pula mendengar rintihan-rintihan sang wanita malang dan bunyi tinju-tinju mengenai tubuh.
            
Ia sudah lama bercita-cita membunuh ayahnya, agar suasana di rumah kecil yang tampak akan roboh dua-tiga tahun lagi itu menjadi tenang. Lebih spesifik, ia ingin membunuhnya menggunakan pisau dapur bergagang merah muda, warna kesukaan sang ibu—Dengan begitu, kematian Ayah pasti akan mendapat nilai tambah di mata Ibu, pikirnya. Namun pada malam ketika ia akhirnya berani meraih pisau dapur, yang diambilnya malah pisau bergagang hitam, sebab pisau bergagang merah muda tak dapat ditemukannya. Apa pun warna gagangnya, tak masalah, yang penting Ayah mati.
            
Pelan-pelan, tanpa suara, bocah itu melangkah ke hadapan pintu kamar orang tuanya yang tertutup. Suara-suara yang dihasilkan kemarahan ayahnya terdengar makin jelas. Ketika ia mengintip ke dalam lewat lubang kunci, yang dilihatnya hanya hitam, seperti masa depan yang ia bayangkan setelah membunuh sang ayah—tapi itu tak menggugurkan cita-citanya—pasti sebab kunci tertancap di balik pintu.
            
Ia membayangkan beberapa kemungkinan: 1) ia membuka pintu, berlari menuju tubuh Ayah, dan menikamnya tepat di dada kiri; 2) ia membuka pintu, berlari menuju tubuh Ayah, dan menikamnya tak tepat di dada pun area vital lain—karena saking paniknya ia saat menyerang—sehingga pria yang kerap menyakiti ibunya itu tak mati, berkesempatan melakukan serangan balik, dan ia yakin dirinya yang bertubuh jauh lebih kecil akan kalah; dan 3) ia membuka pintu, berlari menuju tubuh Ayah, dan gagal menikamnya sama sekali, sehingga seketika dirinya akan dibuat mampus. Meski kemungkinan gagal lebih besar, dengan tangan masih gemetar, ia memberanikan diri meraih gagang pintu. Dan, ternyata pintu dikunci.
            
Sejenak hening di dalam sana, barangkali mereka berdua dikejutkan suara gerakan gagang. “Kembali ke kamarmu, Edo!” sang ayah berteriak. Teriakan mengerikan itu membuat sepasang kaki sang bocah bergetar. Tapi, ia tetap bertahan di sana. Seolah masih dapat merasakan keberadaan bocah itu di balik pintu, sang ibu melanjutkan, “Tidurlah, Edo. Besok kau mesti sekolah.” Suara itu bergetar dan penuh kasih sayang.
            
Edo pun masuk ke kamarnya; ia tak sanggup melawan kehendak Ibu, lebih-lebih ketika wanita itu sedang merana—seperti biasanya. Bagaimanapun, pisau bergagang hitam masih berada di tangannya; pisau tersebut, sembari ia telentang di kasur, digenggamnya dengan kedua tangan di atas dada. Seketika Edo teringat saat dulu ia suka tidur telungkup di atas tubuh Ibu, menempelkan telinga ke dada kirinya, dan degup jantung yang ia dengar seakan memberi semacam kekuatan hidup yang lembut. Mungkinkah pisau ini merasakan hal itu sekarang?
            
Kemudian ia teringat saat minggu lalu, di dapur, ia melihat Ibu menggunakan pisau bergagang merah muda itu dengan amat lihai buat memotong-motong daging ayam, untuk membuat sup. “Masakan kesukaanmu, Edo,” ucap sang ibu, sembari melirik ke arahnya dan memperlihatkan seulas senyum yang selalu ditunjukkan pada Edo setiap hari, tanpa berhenti memotong-motong. Lalu ingatannya berpindah ke pukul tujuh malam tadi, saat ia meminta Ibu untuk membeli daging ayam lagi, agar ia bisa menelan masakan kesukaannya itu. Namun, alih-alih pulang dengan membawa daging ayam, Ibu malah pulang bersama Ayah yang menjambak rambutnya seraya berjalan cepat. “Uang kita tinggal sedikit! Jangan belanja sembarangan!” bentak sang ayah di kuping Ibu. Ayah pun menyeret Ibu ke kamar mereka, dan bocah kecil itu, penuh keraguan, melangkah ke dapur buat meraih pisau bergagang hitam dengan tangan gemetar.
            
Tiba-tiba Ibu menjerit keras. Edo ditikam kebimbangan setajam pisau; ia ingin berlari ke kamar mereka dan menggedor-gedor pintunya yang terkunci, tapi di saat bersamaan ia tak mau melanggar suruhan Ibu. Setelah terdengar jeritan keras kedua yang hadir sekitar setengah menit setelah jeritan pertama, Edo memutuskan untuk melangkah cepat, tanpa suara, ke hadapan pintu kamar orang tuanya, dan—entah kenapa baru terpikir olehnya—mengintip ke dalam sana melalui lubang bawah pintu.

Ia tak melihat siapa pun di kamar itu, tapi ia melihat celana dalam Ibu tergeletak di dekat kaki ranjang yang berderit-derit. “Ucapkan, ‘Dagingmu enak sekali,’” ucap Ayah, di tengah napasnya yang memburu. “Dagingmu … enak sekali,” sahut Ibu, di tengah desah kesakitan.

Perutnya yang mencium lantai keramik dingin mendadak keroncongan; bocah itu belum mendapat makan malam berupa sup ayam yang ibunya janjikan.

Entah apa yang terjadi di atas kasur, Ibu kemudian menjerit lebih hebat lagi. Tubuh Edo bergetar semakin hebat, mungkin akan langsung tumbang andai ia tak sedang telentang di lantai. Teriakan tersebut mengingatkan Edo saat Ibu berjuang melahirkan adiknya sekitar setahun lalu, dan keguguran. Ah, tidak, tidak sekeras itu. Lebih tepatnya, teriakan itu sekeras saat, pada tengah malam keesokan harinya di tempat pemakaman umum, si Penjaga Pemakaman dan Ayah berusaha merebut mayat adik Edo dari pelukan Ibu. Peristiwa tersebut bermula dari istri si Penjaga Pemakaman yang menggedor-gedor pintu rumah dengan keras, membuat Ayah dan Edo terbangun, lalu segera berlari menuju pintu. “Istrimu menggila! Ia menggali makam bayinya!” kata istri si Penjaga Pemakaman, ketakutan. Ayah dan istri si Penjaga Pemakaman pun berlari ke pemakaman. Cahaya dari petromaks di tangan istri si Penjaga Pemakaman tampak seperti arwah berbentuk bola cahaya yang terbang mencari mayatnya. Edo sendiri mesti mengendap-endap ke tempat itu karena sang ayah sempat berkata, “Kau jangan ikut, Edo! Tidur saja lagi!” Dari balik sebatang pohonlah Edo melihat kejadian tersebut; apa yang paling tak dapat dilupakannya adalah mulut dan tangan ibunya yang dipenuhi darah, serta perut mayat adiknya yang telah koyak. “Biarkan ia kembali ke tubuhku! Ia mati karena menolak dunia luar!” pekik Ibu. Edo mendadak mual, segera kembali ke rumahnya, muntah di kamar mandi, dan berusaha tidur—meski tak kunjung bisa.

Baju Ibu pun tanggal ke lantai, di dekat celana dalamnya. “Anjing!” maki Ayah. “Pintar juga kau, ya!” Lantas ada sesuatu yang terpelanting ke lantai, ke dekat lubang bawah pintu di mana Edo mengintip. Bocah kecil itu terbelalak seketika. Benda yang terpelanting itu adalah pisau bergagang merah muda. Ibu kemudian terlihat turun dari ranjang dengan gerakan cepat, menggapai pisau itu, dan Ayah dengan cepat pula bergerak menyusulnya. Ibu langsung berbalik menghadap Ayah, dan Ayah tahu-tahu terjatuh dalam posisi menyamping. Wajah Ayah menghadap lubang bawah pintu, tatapannya berjumpa dengan tatapan Edo. Tatkala darah mulai keluar dari mulut sang ayah, bersamaan dengan air mata Edo yang tumpah, gerakkan mulutnya menunjukkan bahwa ia ingin menyebut nama anak laki-lakinya itu, namun tak ada suara yang keluar.

Edo cepat-cepat kembali ke kamarnya, tanpa mempertimbangkan kemunculan suara langkah-langkah kakinya yang pasti terdengar sampai ke dalam kamar Ayah dan Ibu, lantas naik ke kasur, menutup diri dengan selimut, sambil menggenggam pisau bergagang hitam itu di atas dada. Lama-lama, tanpa ia kehendaki, meski ketakutan sibuk menggigiti sekujur tubuh, akhirnya ia ketiduran.

***

Pisau bergagang hitam itu tak ada di tangannya kala Edo terbangun keesokan harinya. Mungkin cuma mimpi. Ia lantas mengucapkan, “Ibu!” dengan suara lantang, dan mendapat balasan, “Ibu di dapur, Sayang. Ayo sarapan!” Edo turun dari kasur, kakinya gemetaran selama melangkah. Langkahnya sangatlah pelan, seakan tubuhnya menolak untuk dibawa keluar dari kamar. Dan, tumben-tumbennya, Edo berharap ia akan melihat sang ayah begitu keluar dari kamar, sekalipun Ayah sedang memarahi Ibu—yang penting, nyata-atau-tidaknya kejadian semalam menjadi jelas.
            
Edo pun keluar dari kamarnya. Suasana begitu sepi. Dari situ Edo dapat melihat pintu kamar orang tuanya yang tertutup, entah terkunci atau tidak. Dengan langkah semakin pelan, ia mendekati pintu kamar tersebut. Kutub seakan berpindah ke belakangnya saat ia hendak mengintip ke lubang bawah pintu.
            
“Edo, ayo sarapan! Jangan sampai kau terlambat ke sekolah!”
            
Terbata-bata, bocah kecil itu menjawab, “Iya, Bu!” dan meninggalkan kamar yang tertutup di hadapannya, tanpa sempat mengintip melalui lubang bawah pintunya.
            
Di dapur, di atas meja makan, terlihat sebuah panci besar mengepulkan uap. Di belakang panci itu Ibu berdiri tegak, dengan seulas senyum yang selalu ditunjukkannya pada Edo setiap hari. Edo mengalihkan tatapan ke rak; di sana, pisau bergagang hitam dan pisau bergagang merah muda terdiam di tempat yang seharusnya, berdempetan, seperti sepasang suami istri yang mesra. Ia mengalihkan tatapan kembali ke Ibu yang mengisi salah satu mangkuk dengan sup, dan berkata, “Masakan kesukaanmu, Edo.” Edo kemudian duduk di hadapan mangkuk tersebut. Ia menatap potongan-potongan daging yang berenang-renang di sana dan berpikir, Daging ayam tidak tampak seperti ini. Ia menatap Ibu. Ibu tersenyum semakin lebar. Ia menatap kedua pisau di rak lagi. Dan ia merasa semestinya ia mengintip melalui lubang bawah pintu kamar orang tuanya terlebih dahulu sebelum mulai sarapan.
            
“Edo, kenapa kau bengong?”
            
Tangan Edo kontan gemetaran seperti tadi malam. Ia ingin cepat-cepat meraih pisau bergagang hitam itu.




*) Cerpen ini dimuat di Biem.co pada 25 Januari 2020.

Sabtu, 04 Januari 2020

MIND EXPRESS -- Sebuah Cerpen

*Ilustrasi oleh: Mahdiduri



Ia sudah mendengar soal Mind Express, kereta khusus untuk mengunjungi pikiran orang-orang lain—kecuali presiden, wakil presiden, para menteri, dan sebagainya—sejak kereta itu diresmikan setahun lalu. Waktu itu, begitu mendengar berita peresmian Mind Express di televisi, ia langsung mengutuki perusahaan kereta tersebut, karena menurutnya mengunjungi pikiran orang-orang lain bukanlah tindakan benar, kecuali dilakukan oleh orang-orang tertentu macam ahli jiwa—itupun dengan izin sang pemilik pikiran. Pasalnya, tak ada peraturan demikian di Mind Express, seakan memasuki pikiran orang-orang lain sama saja seperti berlibur ke pantai.

Ia bersumpah tak akan pernah sekali pun menggunakan layanan kereta hina itu. Sayang, kini ia terpaksa membatalkan sumpah tersebut. Semua tak lain gara-gara ia merasa perlu mengunjungi pikiran putri semata wayangnya, putri yang tak dapat lagi ia mengerti pikirannya, sehingga terasa ada jarak jauh di antara mereka, seperti antara otak orang tak berpendidikan dan otak Einstein.
            
Putrinya mulai jarang bicara dan murung berkepanjangan sejak masuk SMA. Ia, sang ayah, semula berpikir bahwa itu adalah semacam tanda-tanda jatuh cinta. Entah lelaki mana yang ia terus-menerus pikirkan. Aku tak akan menginterupsi “lamunan cinta” itu. Tapi lama-kelamaan kondisi putrinya semakin ganjil: suatu pagi, saat sarapan, sesudah suapan pertama, putrinya berkata, “Rasanya seperti abu,” sebelum muntah di atas meja makan; selanjutnya, kejadian kurang lebih serupa terjadi hampir tiap hari, saat makan pagi-siang-malam; pihak sekolah sering mengabarinya soal itu saban terjadi di sekolah. Sang putri sama sekali tak memberi tahu siapa pun perihal apa yang terjadi pada dirinya. Seandainya istriku masih ada, mungkin ia bisa sangat membantu. Awalnya ia berencana mengajak putrinya ke psikolog atau psikiater, namun sang putri menolak keras, dan ia tak berani untuk memaksa. Ia akhirnya memutuskan untuk membeli tiket Mind Express sesudah secara tak sengaja mendapati putrinya sedang berancang-ancang menyileti punggung sendiri di kamar mandi—gadis itu pasti lupa mengunci pintu.
            
Ia pergi ke Mind Station—stasiun khusus Mind Express—di hari pertama musim liburan, pukul enam pagi, sementara di rumah sang putri sedang bersama bibinya. (Ia meminta adik iparnya itu untuk menjaga sang putri secara ketat, dengan tak membiarkannya berada sendirian di suatu ruang, termasuk kamar mandi.) Mind Station sama seperti stasiun-stasiun pada umumnya di kota itu, kecuali karena di sana terdapat sebuah portal ajaib yang seperti mulut menganga lebar di udara, menampakkan dimensi lain di dalamnya.
            
Tiap penumpang Mind Express diberi chip organik untuk ditelan, lalu mereka mesti membuat chip tersebut bekerja dengan memunculkan wajah seorang-yang-dipilih di benak masing-masing selama setengah menit, sebelum naik ke gerbong. Nantinya chip organik itu akan melebur di perut—dan berhenti bekerja sama sekali—dalam jangka waktu sesuai paket perjalanan yang dibeli. Ketika ia mencoba memunculkan citra wajah putrinya, pertama kali yang muncul adalah ekspresi sedih gadis itu. Lantas ia mencoba mengganti ekspresi putrinya, menjadi ceria atau setidaknya datar, namun tak bisa. Seakan sudah beradab-abad ia terus melihat kesedihan di wajah putrinya, sampai-sampai ia melupakan bentuk ekspresi nonsedih di wajah tersebut.
            
Tak lama kemudian ia telah duduk di samping salah satu jendela di dalam kereta—tiap jendela hanya bersisian dengan satu tempat duduk. Dari speaker terdengar, “Mohon perhatian. Kereta ini akan mulai melaju sebentar lagi. Sesudah melewati portal di depan sana, pada jendela di samping Anda akan tampak pikiran orang lain yang ingin Anda kunjungi. Kami tidak akan bertanggung jawab atas rasa sakit hati atau semacamnya yang diakibatkan oleh pikiran orang tersebut. Jika pikiran orang lain membuat Anda merasa tak nyaman, segeralah menutup mata. Jangan sampai tersedu-sedu, berteriak, dan lain sebagainya, karena itu akan mengganggu kenyamanan para penumpang lain. Apabila ada masalah, silakan bertanya pada para petugas. Terima kasih atas perhatian Anda, selamat menikmati pikiran orang lain.”
            
Saat Mind Express melaju mendekati portal, ia mendadak takut menoleh ke jendela di sampingnya. Tepatnya, ia takut mendapati bahwa ia tetap tak memahami pikiran sang putri, sekalipun ia sudah memasuki pikirannya, dan tetap tak bisa menemukan jalan keluar bagi masalah di pikiran gadis itu. Seharusnya aku membayar seorang ahli jiwa untuk duduk di tempat dudukku ini.
            
Begitu Mind Express memasuki portal, jendela di samping tiap-tiap penumpang pun, secara mengagumkan, menampilkan pemandangan-pemandangan yang membuat ia nyaris disorientasi. Ada jendela yang menampilkan citra acara pernikahan dan membuat orang yang duduk di sampingnya tersenyum bahagia, kemudian citra tersebut tampak tergeser oleh citra lain karena kereta terus bergerak; ada jendela yang menampilkan citra adegan perang-perangan yang dimainkan para bocah dan membuat orang yang duduk di sampingnya tersenyum geli, kemudian citra tersebut tampak tergeser oleh citra lain karena kereta terus bergerak; ada jendela yang menampilkan citra adegan persetubuhan dan membuat orang yang duduk di sampingnya menangis tanpa suara, kemudian citra tersebut tampak tergeser oleh citra lain karena kereta terus bergerak; bahkan ada jendela yang menampilkan gambaran-gambaran abstrak yang entah apa maksudnya, sekalipun kereta terus bergerak. Mind Express seolah melintasi banyak tempat sekaligus di waktu bersamaan.

Semula, ia kira menatap pikiran orang lain melalui jendela Mind Express hanya akan terasa seperti menonton film; rupanya, memang kesan yang ditimbulkan begitu nyata, sebagaimana ia melihat pemandangan asli.

Kira-kira, citra apa yang muncul di jendela di sampingku? Detak jantungnya mengencang. Setelah sekitar tiga puluh menit tersiksa oleh ketakutan itu, akhirnya ia memberanikan diri buat menoleh ke jendela di sampingnya. Dan, inilah yang ia lihat: hitam. Seumpama Mind Express menerobos lautan tinta.

Ia pun memanggil seorang petugas yang kebetulan melintas di sampingnya. “Mungkinkah ia sedang tidur, sehingga tak memikirkan apa-apa?” tanyanya. “Atau chip organik yang saya telan ternyata bermasalah?”

Sang petugas mengerutkan kening sejenak sebelum menjawab, “Maaf, saya rasa bukan karena pemilik pikiran itu sedang tidur. Mind Express mengunjungi pikiran orang-orang, bukan mengunjungi apa yang orang-orang sedang pikirkan. Jadi, sekalipun pemilik pikiran sedang tidur, pikirannya akan tetap tampak melalui jendela, karena pikiran manusia akan tetap ada selama manusia itu hidup.”

“Berarti, chip organik saya bermasalah?”

“Ada dua kemungkinan.” Jeda sejenak, sang petugas berdeham. 

“Kemungkinan pertama, chip organik Anda bermasalah. Kemungkinan kedua ....”

Tiba-tiba seorang penumpang di belakangnya meledakkan tangisan. Entah apa yang disaksikannya melalui jendela.

***

Mungkin seharusnya ia bukan mengatakan, “Jangan membiarkannya berada sendirian di suatu ruang, termasuk kamar mandi,” kepada sang adik ipar, melainkan mengatakan, “Kau harus selalu melihatnya tiap detik.”
            
Adik iparnya menemani gadis itu memasuki kamar mandi. Gadis tersebut semula keberatan, tapi kemudian ia menyerah pada kehendak sang bibi. “Tapi, biarkan tirai bak mandi tertutup, Bibi.” Sang bibi pun mengangguk setuju, karena ia pikir itu bukan masalah. Sayang, ia tak tahu bahwa gadis itu menyimpan silet di balik behanya.



*) Cerpen ini dimuat di Biem.co pada 7 Desember 2019.

KEMARI, KUBISIKI KAU PERIHAL CARA MENGENANGKU -- dan puisi-puisi lainnya

*Sumber Gambar: Pinterest





Kemari, Kubisiki Kau Perihal Cara Mengenangku

aku bukan jalan tak ada ujung
bukan jalan sekadar gelap
yang bisa kauselidiki dengan mata
sepeka kucing

aku bukan ide tak ada akhir
yang bisa kautemukan dengan puisi
pun dalam puisi
bukan pula ide sesuka hati

jangan kautanya padaku!

pun aku tak menemu bayang
diri di kulit danau jernih
tak menemu bayang
diri yang dicipta api
tak menemu tubuh
diri di foto keluarga kecil
—sedang namaku tercantum
jelas di sebelah sini

mungkin aku ikan mati
di lambung predator
kekenyangan

mungkin aku bintang
di atas kota malam
berpolusi cahaya

mungkin aku komposisi puitik
di mata orang
tak bisa baca

mungkin aku …

(Jakarta, Januari 2019)



Nasib Sebuah Puisi Modern di Sebuah Tempat yang Dekaden

dengan tubuh penuh ludah hinaan
puisi itu marah sekaligus sedih
membanting diri ke lantai
pecah terserak seperti bulan kaca
tergelincir dari langit
sebab kini ia sadar
orang-orang hanya mencari
hangan tubuh kekasih
asin air mata
anyir darah kotor
dengan sobekan halaman kitab suci
koran maupun buku motivasi
dari tubuh seksinya
sedang bukan demikian
takdirnya ketika dikeluarkan
dari luka-bernanah
seorang penyair
yang remuk sekujur badan
tergencet pemahaman

(Jakarta, Januari 2019)



Malam Penjemputan

dibangunkan dingin bilah sabit pada dada,
ditahannya jerit agar degup jantung malam
tetap pelan, digerakkan tubuhnya perlahan
agar tak menyenggol-pecah udara yang terbuat
dari kaca, diciumnya kening anak dan istri
setenang keluar-masuk napas mereka,
ditinggalkannya rumah dengan langkah
terlampau ringan, dirasakannya udara dingin
menyeret ia kembali ke bawah selimut.

“pakailah ini.”

ia pun mengenakan jubah hitam
malaikat itu, dijalari tubuhnya dengan
hangat kematian, dan ia merasa akan
segera tidur senyenyak tadi.

(Jakarta, Januari 2019)



Penguasa Sebuah Dunia

1/

matahari memasuki lubang hidung saat ia menghela napas. kehidupan di dalam tubuhnya pun kembali berjalan normal: sawah-sawah dapat menjadi sekering luka lama, para ayah dapat menjadi pupuk di sana setelah mati kepanasan, para ibu dapat menunggu laut menjadi garam buat mempersedap kesedihan yang mereka lahap sehari-hari, anak-anak dapat memasuki hutan untuk bermain, mumpung hari tak lagi gelap dan menyesatkan, tanpa tahu bahwa para predator sedang giat mencari mangsa.

2/

doa para manusia melesat dari lubang hidung saat ia mengembus napas. doa-doa itu tak pernah mencapai rumah tuhan yang diyakini berada di langit di balik kulit ubun-ubunnya. doa-doa itu hanyalah daun-daun yang gugur namun tak pernah mencapai tanah, apalagi menjadi pupuk yang menyenangkan pohon tempat tinggalnya.

3/

di hela napas selanjutnya, tak ada yang tahu apa lagikah yang memasuki lubang hidungnya, apa lagikah yang akan melengkapi kehidupan di dalam tubuhnya.

(Jakarta, Januari 2019)



Api di Bawah Perut

laki asing yang menanam api
di bawah perutmu itu, istriku,
biarlah membusuk dan tertanam
sebagai pupuk di bawah pohon

pernikahan kita. biar menguat
pohon itu, bertumbuh dengan ceria,
menghasilkan berbagai buah
semerah api, lagi semanis

darah laki asing yang tumpah
di bawah kakiku ini. api di bawah
perutmu itu, istriku, tak perlu
kaubiarkan membakar

tubuhmu, meski hujan
yang kubawa ke bawah perutmu
tak mungkin bisa memadamkan
api nista tersebut.

(Jakarta, Januari 2019)



Bayang-Bayang di Langit-Langit Kamar

bayang-bayang yang semula hanya bersemadi di langit-langit kamarnya itu kini mulai menetes pelan-pelan memasuki nganga mulutnya hingga hitamlah seluruh darah di tubuhnya telentang-telanjang di kasur hingga tergerak kedua tangannya menggapai mercusuar pemancar cahaya-ingatan tentang bagaimana ia menyusu pada ibu bagaimana ia tidur di pelukan ibu bagaimana ia dicium-cium oleh ibu hingga tubuh mercusuar itu bergetar-getar hebat seperti hendak menembakkan lendir ke langit-langit buat membersihkan bayang-bayang yang tahu-tahu telah membanjiri sekujur kamar plus menenggelamkan ia tanpa diketahui ibu dan ayah yang lantun desah keduanya mencapai kamar tersebut

(Jakarta, Januari 2019)



Lelaki Tua dan Bach di Sebuah Kamar

air tumpah dari corong gramofonnya.
lelaki tua yang menguning di kamar itu
mulai merasa nyaman, bach membersihkan
angka-angka nol berserakan di lantai,
dinding, langit-langit, kasur, apa pun itu
termasuk tubuhnya, kecuali kaca jendela
sejernih kehilangan mencupang dadanya.

lelaki tua itu bangkit dari kasur,
melangkah ke jendela tanpa takut,
memandangi barisan pasukan nazi
menginjak genangan darah itu sama
seperti yang mengalir dalam tubuhnya.

dari arah belakang, lelaki tua mendengar
suara pintu kamar didobrak. air masih
bertumpahan dari corong gramofon,
seperti darah dari lubang-lubang peluru
di tubuh itu.

(Jakarta, Januari 2019)



Puisi-puisi ini dimuat di Nyimpang.com pada 22 Desember 2019.

Senin, 02 September 2019

SEJARAH DONAT -- Sebuah Cerpen


*Sumber Gambar: Bacapetra.co



Hanson Gregory, baik yang seorang kapten kapal asal Denmark ataupun seorang anak laki-laki berusia 15 tahun asal Maine[1], bukanlah penemu donat yang sesungguhnya. Penemu donat sesungguhnya tak lain seorang koki roti bernama Nosnah Yrogreg, pria berusia 35 tahun yang tinggal di sebuah kota kecil bernama Crocket. Ia adalah satu-satunya koki di Toko Roti Tekcroc, satu-satunya toko roti di kota kecil itu.
            
Semua orang di Crocket mengakui bahwa roti buatan Nosnah Yrogreg rasanya luar biasa. Bahkan, kata si Pemilik Tekcroc, “Sejak adonan pun sudah luar biasa.” Walaupun, mesti diakui, bentuk dari roti-roti yang dibuatnya biasa-biasa saja: seperti donat—yang belum ditemukan di masa itu—pada umumnya, tapi tanpa lubang di bagian tengah.

Nosnah Yrogreg dan Toko Roti Tekcroc semakin dikenal masyarakat luas setelah seorang aktor terkenal bernama Ghuda memuji roti buatannya di hadapan para wartawan; berita soal koki roti dan toko roti itu pun sempat heboh di koran-koran lokal selama beberapa minggu, sama hebohnya dengan berita kecelakaan yang dialami Ghuda sebulan lalu. (Tambahan informasi: kecelakaan itu menyebabkan Ghuda kehilangan tangan kiri dan keempat jari di tangan kanan—yang tersisa hanya telunjuk. Bagaimanapun, kecacatan tak mengganggu kariernya sama sekali.)

Di lain sisi, si Pemilik Tekcroc dan si Koki Roti jatuh cinta pada seorang wanita yang sama: Dona, penjaga kasir di toko roti itu. Belum ada seorang pun yang mengetahui perasaan si Pemilik Tekcroc terhadap penjaga kasirnya, tapi setiap orang Crocket tahu bahwa si Koki Roti jatuh cinta pada Dona karena mereka berdua berpacaran.
            
“Nosnah Yrogreg selalu memperlakukanku selayaknya adonan roti,” begitulah kata Dona. Tentu maksud dari kalimat itu adalah si Koki Roti selalu memperlakukannya secara luar biasa.
            
Si Pemilik Tekcroc tentu cemburu. Seandainya Nosnah Yrogreg tidak luar biasa, ia pasti sudah memecatnya. Toh, mungkin saja nanti hubungan mereka kandas, pikirnya, sekadar menghibur diri.

***

Dona menolak ajakan Nosnah Yrogreg untuk bersetubuh saat ia, pada hari libur, mampir ke kamar sewaan tempat si Koki Roti tinggal. “Bersabarlah. Toh, sebentar lagi kita akan menikah,” tambah Dona, agar Nosnah Yrogreg tak terlalu masam.
            
Ketika Dona pulang, segeralah Nosnah Yrogreg masturbasi, sambil membayangkan memperlakukan wanita itu selayaknya adonan roti.

***

Tak ada yang tahu soal rencana pernikahan Nosnah Yrogreg dan Dona, sampai ketika mereka menyebarkan undangan pernikahan tepat seminggu sebelum acara itu diselenggarakan. Bagi orang-orang Crocket, hadirnya undangan pernikahan itu terbilang mendadak, tapi tak masalah. Yang menganggapnya sebagai masalah hanyalah si Pemilik Tekcroc, sebab menurutnya tak mudah untuk mencari cara membatalkan pernikahan tersebut dalam satu minggu.

***

Tak ada yang tahu pasti bagaimana bisa seminggu kemudian Dona malah menikah dengan si Pemilik Tekcroc—undangan pernikahan mereka baru disebarkan sehari sebelum acara itu berlangsung.
            
Berikut saya jabarkan beberapa versi cerita—yang tak terlalu jelas sumbernya—mengenai alasan Dona meninggalkan Nosnah Yrogreg dan menikah dengan si Pemilik Tekcroc:
1) Dona memergoki Nosnah Yrogreg berduaan dengan seorang pelacur di suatu tempat, sehingga wanita itu memutuskan untuk meninggalkannya, lantas langsung dilamar oleh si Pemilik Tekcroc;
2) Nosnah Yrogreg memaksa Dona untuk bersetubuh, sehingga wanita itu merasa terancam dan meninggalkannya, lantas langsung dilamar oleh si Pemilik Tekcroc;
3) Dona diancam sedemikian rupa oleh si Pemilik Tekcroc supaya meninggalkan Nosnah Yrogreg dan menikah dengannya;
4) Si Pemilik Tekcroc membayar seorang penyihir untuk membuat Dona jatuh cinta pada dirinya seketika.

***

Semenjak Dona menjadi istri si Pemilik Tekcroc, posisinya sebagai penjaga kasir digantikan oleh seorang lelaki muda. Bagaimanapun, Dona selalu datang ke Tekcroc saban buka untuk menemani suaminya—padahal sebelumnya sang suami selalu bekerja sendirian. Dona selalu berlagak bagai tak mengenal Nosnah Yrogreg setiap mereka berjumpa di toko roti itu, dan tentu saja Nosnah Yrogreg benar-benar sakit hati karenanya.
            
Suatu hari, sesudah si Koki Roti menyelesaikan belasan adonan roti—tapi belum memasukkannya ke pemanggang—tiba-tiba ia mendengar desahan Dona dari ruang kerja si Pemilik Tekcroc—apakah desahan tersebut hanya terdengar sampai dapur, atau mencapai area kasir, kita tak tahu. Karena suatu dorongan, si Koki Roti lalu melangkah mendekati pintu ruang kerja si Pemilik Tekcroc dan menempelkan telinganya di sana. Desahan Dona pun terdengar jauh lebih jelas, jauh lebih menggoda.
            
Di sela-sela desahan Dona, didengarnya si Pemilik Tekcroc berkata, “Dona, kau tahu seberapa enak dirimu?”
            
“Tidak tahu,” balas Dona dengan manja.
            
“Enak dirimu luar biasa. Seperti roti buatan Nosnah Yrogreg.”
            
Air mata si Koki Roti langsunglah bertumpahan, dan ia cepat-cepat melangkah-tanpa-suara kembali ke dapur, di mana desahan Dona masih terdengar. Ketimbang merasa semakin sakit hati, si Koki Roti memutuskan untuk benar-benar fokus bekerja; ia segera memasukkan adonan-adonan roti yang sudah jadi ke pemanggang. Namun, tepat setelah menyentuh adonan roti terakhir, sebelum memasukkannya ke pemanggang yang pintunya masih terbuka, terdengarlah desahan Dona sedikit bertambah keras. Dan, desahan itu mendadak membuat Nosnah Yrogreg terangsang hebat.

Enak dirimu luar biasa. Seperti roti buatan Nosnah Yrogreg, kalimat itu melintas di kepalanya.

Si Koki Roti pun menurunkan celana, menusuk adonan roti di tangannya dengan kelamin yang tegang, hingga bagian tengah adonan itu berlubang! Ia lalu mengeluarkan kelaminnya dari lubang adonan roti, memasukkannya lagi, mengeluarkannya lagi, memasukkannya lagi, mengeluarkannya lagi, dan begitulah terus selama beberapa saat, secara perlahan-lahan, seraya menikmati desahan Dona, seraya membayangkan dirinyalah yang membuat wanita itu mendesah.

“Dona .... Dona ....” Nosnah Yrogreg mulai mendesah pula.

“Nosnah Yrogreg, kenapa rotinya lama sekali!?” tiba-tiba terdengar si Lelaki Penjaga Kasir berkata, dibarengi suara langkah kakinya yang mendekati dapur.

Si Koki Roti yang terkejut dan panik pun cepat-cepat melepaskan adonan roti itu dari kelaminnya, memasukkannya ke pemanggang, dan menaikkan celana. Tepat sedetik kemudian si Lelaki Penjaga Kasir membuka pintu dapur, dan Nosnah Yrogreg mengatakan, “Maaf, tanganku terkilir tadi.”

“Kenapa matamu merah, Nosnah Yrogreg? Kau seperti habis menangis.”

“Aku baik-baik saja,” balasnya, sambil menutup pintu pemanggang dan menyalakannya.

***

“Kenapa bagian tengah roti ini berlubang?” tanya Ghuda, ketika si Pelayan—yang tadi membelikan roti itu di Tekcroc—akan menyuapinya roti berlubang tersebut.
            
“Entahlah, Tuan. Hanya kebetulan, mungkin?”
            
Ghuda terdiam sejenak, memikirkan sesuatu.
            
“Apa Tuan tidak mau memakan roti yang berlubang ini?”
            
“Ah! Aku paham!” tiba-tiba Ghuda berseru senang. Dengan gerakan cepat, ia memasukkan telunjuk kanannya ke lubang di bagian tengah roti, dan menarik-lepas roti itu dari tangan si Pelayan. “Pasti lubang di roti ini dibuat agar orang-orang cacat seperti aku lebih mudah memegangnya!”
            
Si Pelayan terbengong-bengong. Mungkin penjaga kasir Tekcroc sudah mengenal wajahku dan yakin bahwa roti yang kubeli adalah untuk Tuan Ghuda, batinnya.
            
“Roti ini sungguh luar biasa!” Ghuda berseru lagi. “Sungguh roti yang bentuknya bersahabat dengan kecacatanku! Hei, panggilkan para wartawan sekarang juga! Sebagai ucapan terima kasihku kepada si Koki Roti dan Tekcroc, aku ingin roti berlubang ini diberitakan di tiap koran lokal!”



[1] Ada dua versi identitas Hanson Gregory yang muncul di berbagai sumber; kita belum tahu secara pasti yang manakah yang benar.




*) Cerpen ini dimuat di Bacapetra.co pada 7 Agustus 2019.