Rabu, 15 Juli 2020

SEDIKIT MENGANALISA VIAN, 2 dan Puisi-Puisi Lainnya


*Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi




Sedikit Menganalisa Vian, 2

vian adalah jam dinding
yang mencengkeram lambungku
membuatku memuntah hantu-hantu
kenangan masa depan yang kaku

vian adalah kematian sejarah
yang menusuk keningku
mengusir seribu doa gagal
dari lubang luka membusuk

(Jakarta, Oktober 2019)





Jendela yang Baik

sebagai sebuah jendela yang baik,
yang merasa beruntung sebab telah
diciptakan ayahmu, di tubuhku
aku memasang pagi, siang, dan malam

untuk menghiburmu,
sesekali kubuatkan hujan salju
atau dedaunan gugur atau hal lainnya
agar kaupikir segalanya

terus bergerak di luar sana,
meski tubuhmu setengah lumpuh
dan akan sepenuhnya lumpuh.
kautahu, aku melihat kau tersenyum

umpama lelaki tua melihat usainya perang
dari balik jendela kamar, perang yang
berlangsung sedari dirinya bocah.
sebab, apa lagi yang bisa kulihat

selain pemandangan di dalam rumah?

di luar tinggal hitam ....
di luar kini hitam pekat ....

(Denpasar, Oktober 2019)





Hancurnya Rumahku

rumahku bersembunyi di balik
sangkar igaku. rumahku tahu bahwa
sesuatu hendak mengetuk pintunya,
atau bahkan membobol jendelanya;
sesuatu yang melesat dari lubang kecil
di puting kirimu, dan akhirnya bersemadi
di titik pusat rumahku, membuat panas
dada, membuat rumahku

meleleh
menetes
ke puting kananmu.

(Denpasar, Oktober 2019)





Menjadi Sepasang Matamu

aku ingin menjadi sepasang matamu
sehari saja
sepasang mata yang secara langsung
melihat ketelanjanganmu di depan cermin
serta ledakan bintang-gemintang di sana

aku ingin menjadi sepasang matamu
sehari saja
sepasang mata yang secara langsung
melihat hantu-hantu bergentayangan di dadamu
dan para petualang membangun tenda
dari kesedihan mereka

aku ingin menjadi sepasang matamu
sehari saja
sepasang mata yang mampu membuatku
memahami bagaimana pohon-pohon bahasa
yang membuahkan mentari-mentari kecil
dapat bertumbuh begitu subur di pusarmu
dan bagaimana pohon-pohon itu
tak kunjung punah meski berkali-kali
ditumbangkan lidah para penyair keji

aku ingin menjadi sepasang matamu
sehari saja
meski kini matamu menuju buta
sebab berkali kucuri penglihatanmu
dan kusembunyikan dalam puisi-puisiku

(Denpasar, Oktober 2019)





Kota yang Terjatuh

kota ini terjatuh dari rambut ikalmu.
kota ini retak di segala sisi,
dari area istana negara
hingga apartemenku.

tapi, ada area yang tak retak setitik pun:
bahasa kota.
kalimat-kalimat masih mengatur kematian
para gelandangan gila secara tertib,
kalimat-kalimat masih mengatur
macet jalanan secara sempurna.

namun tak ada puisi di muka kota ini
pun dalam celah tiap retakan.
puisi masih terjerat dengan nyaman
di rambut ikalmu.

(Jakarta, Oktober 2019)





*) Catatan: Puisi-puisi ini dimuat di majalah Mata Puisi No. 2, Juni 2020.

Kamis, 09 April 2020

DINDING-DINDING RUMAH SEORANG PEMBUNUH -- Sebuah Cerpen

*Sumber Gambar: Takanta.id




Gempa membangunkan si Pembunuh dan istrinya yang tengah hamil besar pada tengah malam. Gempa tersebut berlangsung selama kira-kira lima detik, membuat seluruh dinding rumah si Pembunuh dipenuhi retakan, hingga tampak seperti cangkang telur yang hampir dipecahkan oleh seekor anak ayam dari dalam. Lucunya, langit-langit pun lantai tak terluka sama sekali.
            
“Biaya renovasinya pasti akan amat mahal,” komentar si Pembunuh.
            
“Berapa orang yang mesti kau bunuh untuk memenuhi biaya renovasi itu?” tanya sang istri.
            
“Entah. Akan segera kupikirkan.”
            
Mereka memutuskan untuk lanjut tidur. Ketika si Pembunuh hampir kembali terlelap, mendadak ia mendengar suara-suara aneh dari seluruh penjuru mata angin, begitu dekat dengan dirinya. Tentu ia segera membuka mata. Dan, si Pembunuh pun mendapati roh-roh memasuki kamarnya melalui retakan-retakan di dinding; mereka tampak seperti cairan yang bisa melewati celah sekecil apa pun. Ia mengingat wajah seperempat dari roh-roh itu, yang tak lain adalah korban-korbannya terdahulu. Roh-roh lainnya pasti juga para korbanku, hanya saja telah kulupakan.

***

Sembari sarapan di ruang makan, si Pembunuh menceritakan pada istrinya soal roh-roh yang semalam ia lihat, roh-roh yang sang istri tak lihat karena tidur terlalu nyenyak.
            
“Tapi, ke mana mereka semua sekarang?” tanya sang istri.
            
“Entah. Mungkin mereka hanya muncul pada malam hari, seperti di cerita-cerita fiktif.”
            
“Maksudmu, malam nanti dan malam-malam seterusnya mereka akan muncul lagi?”
            
“Entah. Tapi toh aku tidak takut pada mereka. Kau juga, pastinya.”
            
Sang istri tampak menimbang-nimbang sejenak. “Mereka tidak akan melukai kita?”
            
“Tidak. Karena telah banyak roh yang kulihat, aku jadi bisa membedakan mana yang akan melukai, mana yang sekadar menakut-nakuti dengan menampakkan diri, atau mana yang sekadar lewat. Hantu-hantu yang semalam muncul adalah jenis kedua.”
            
“Bagaimanapun, sebaiknya kita segera merenovasi dinding-dinding rumah ini, jika memang mereka masuk melalui retakan-retakan itu. Apa kau mau persetubuhan kita disaksikan banyak roh? Tidakkah kau merasa risih, sekalipun tidak takut?”
            
“Ya. Pasti akan membuat risih.” Si Pembunuh mengembuskan napas berat. Lalu ia mengganti arah pembicaraan, “Lucu sekali kalau dipikir-pikir. Kenapa mereka masuk lewat retakan-retakan di dinding yang baru muncul semalam, alih-alih lewat ventilasi yang telah ada sejak rumah ini dibangun?”
            
“Mungkin faktor selera?”
            
Mereka pun tertawa terbahak-bahak.

***

Siangnya, seorang ahli bangunan berkunjung ke rumah mereka. Setelah mengamati dinding di seluruh ruangan, ia mengucapkan sebuah harga. Si Pembunuh pun berpikir, Setidaknya aku mesti membunuh tiga orang.
            
Sorenya, si Pembunuh menerima surat pemesanan untuk membunuh seorang gigolo muda. Menjelang malam, ia langsung berangkat menuju lokasi targetnya, dan sukses menyelesaikan tugas dengan tak terlalu sulit pada pukul sembilan malam. Pukul sepuluh malam di hari yang sama, ia berjumpa dengan orang yang memberinya order dan menerima bayaran di tempat. Dua jam kemudian, si Pembunuh memasuki rumahnya dan mendapati roh-roh telah memenuhi ruang depan, beterbangan di udara, umpama ikan-ikan di akuarium. Berdiri di depan pintu kamar, ia mendengar desahan-desahan sang istri. Ia merancap sebab tak sabar menungguku pulang. Begitu membuka pintu, kontan si Pembunuh dan istrinya menjerit kaget. Sang istri menjerit karena melihat si Pembunuh baru pulang; si Pembunuh menjerit karena melihat sang istri sedang bersetubuh dengan diri si Pembunuh yang lain! Diri si Pembunuh yang lain pun serta-merta berubah ke wujud aslinya: roh sang gigolo muda. Itu adalah pembalasan dendam paling menyakitkan yang pernah si Pembunuh terima dari korbannya.

***

Si Pembunuh berbisik pada istrinya, “Aku akan mengucapkan kode begitu aku-yang-asli pulang nanti. Kodenya: pisau jatuh dari langit.”
            
Sang istri bergumam, mengulang kode tersebut.
            
“Jika aku tak mengucapkan kode itu,” tambah si Pembunuh, “berarti itu bukan aku.”
            
Si Pembunuh pun pergi ke lokasi target pembunuhan selanjutnya, di sebuah rumah sakit. Menurut surat pemesanan yang diterimanya pagi tadi, targetnya adalah seorang dokter kandungan. Entah kenapa si Pemesan ingin dokter tersebut mati. Yang jelas, setelah membunuh sang dokter kandungan dan menerima bayaran dari sang pemesan, si Pembunuh langsung pulang dan mendapati sang istri, dikelilingi roh-roh yang berdansa-dansi bahagia, menangis tersedu-sedu di tempat tidur.
            
“Pisau jatuh dari langit. Ada apa? Apa hantu-hantu membuatmu takut?”
            
Setelah bertanya demikian, tanpa sang istri menjawab, si Pembunuh tersadar bahwa perut wanita itu telah mengempis. Bakal bayi mereka lenyap entah ke mana, dan pembalasan dendam itu lebih menyakitkan ketimbang yang kemarin.

***

Sebelum menuju lokasi target pembunuhan berikutnya, si Pembunuh mengantarkan istrinya ke Penginapan X yang jauh dari rumah—dan tak terkena dampak gempa—yang tiap sisi dindingnya terbebas dari retakan. Tentu itu dilakukannya karena pembalasan dendam yang ditujukan pada orang-lain-yang-dicintai jauh lebih merepotkan ketimbang yang ditujukan pada diri sendiri. Lebih-lebih, ia diberi tahu bahwa target pembunuhannya kali ini adalah pensiunan pembunuh bayaran.
            
Dan, sesuai dugaan si Pembunuh, terjadi pertempuran sengit antara ia dan targetnya. Di akhir pertarungan, si Pembunuh kehilangan tangan kiri, sedang sang lawan kehilangan nyawa.
            
Tidak, itu bukan akhir pertarungan. Rupanya, korban si Pembunuh belum benar-benar kalah; sesaat kemudian muncullah rohnya, yang segera memberi serangan bertubi-tubi. Tapi tetap saja roh itu gagal menang, meski si Pembunuh telah benar-benar kelelahan. Bagaimanapun, sebelum roh itu mati, si Pembunuh mesti kehilangan tangan kanannya pula.

***

Para pekerja bangunan sedang menumpas retakan-retakan pada setiap sisi dinding di rumah si Pembunuh. Sementara itu, si Pembunuh diopname di sebuah rumah sakit sederhana—yang, telah ia pastikan, tak memiliki retakan sama sekali pada tiap sisi dindingnya—di dekat Penginapan X.
            
“Berjanjilah untuk tak membunuh lagi,” kata sang istri, ketika menjenguk suaminya untuk pertama kali, pada suatu pagi.
            
“Tentu. Aku juga tak akan mendapat surat pemesanan lagi begitu kondisiku diketahui oleh para pelanggan.”
            
“Kita akan sama-sama memikirkan cara lain untuk mencari uang.”
            
Seminggu berlalu, akhirnya sepasang suami istri itu sudah bisa beristirahat dengan nyaman di kamar mereka, di rumah yang setiap dindingnya tak dihiasi retakan sekecil apa pun. Tentu saja kemudian mereka bersetubuh untuk “mengembalikan” bakal bayi yang hilang, tanpa disaksikan roh-roh yang mengisi udara malam. Tiba-tiba, gempa bumi. Sekitar lima detik kemudian, mereka yang masih telanjang dan berada pada posisi menyenangkan pun tak lagi melihat dinding-dinding di sekeliling, melainkan roh-roh yang berdansa-dansi bahagia.




*) Cerpen ini dimuat di Takanta.id pada 29 Maret 2020.

MEMBACA LOVECRAFT dan Puisi-Puisi Lainnya

*Sumber Gambar: Pinterest




Membaca Lovecraft

monster-monster memasuki mataku
sebab matahari pecah
rumahku segelap gua asing
dalam kata-katamu
terlihat taring memotong lenganku
tentakel menjerat batang leherku
cakar menyisir perih ususku

sebelum mata terpecah
tak mampu menampung horor
yang tiba sebelum matahari
lahir kembali
dari akhir ceritamu
dan aku, dalam butaku, merindukan
ketakutan yang menggoda itu

(Jakarta, Juni 2019)




Setelah Kau Pergi dari Kamarku
            –kepada Erviana Madalina

1/

aroma tubuhmu tertinggal
di kasurku, aku menjelma
sehelai rambutmu tanggal
ke lantai dan kesepian

2/

potret-potret tidurmu melekat
pada bulan di mataku, tampak seorang
astronaut sekarat + pasrah seakan
bumi “tergoda” hela napas black hole

 3/

odysseus pun akhirnya terdampar
di halaman selembar buku, ia tergoda
dogma-dogmamu yang mematikan
seperti kepala-kepala scylla

4/

andrei tarkovsky menonton film
di bioskop usang, sutradara itu
merasakan sentuhan waktu
sepelan hancurnya aku

5/

kepergianmu menjatuhkan neraka
di kamarku, rindu membirukan tubuh
sampai aku tersadar: neraka ini
adalah neraka dante yang indah

(Jakarta, Juni 2019)





Mengorbankan Ikarus


kunaikkanlah suhu matahari
tatkala ikarus terbang melintas

hingga jatuh ia ke matamu
dan leleh lilin di bebulu berserakan

kupakai untuk merekatkan
perasaanmu kupecah

*
di matamu ikarus mati tenggelam
terbebaslah aku dari daftar

tumbal redakan amuk minotaur
pada gelap labirin dadamu

(Jakarta, Juni 2019)





Pahlawan Baru

biarkan hercules menyusu
di dadamu, kepala-kepala hydra

terus bertambah, sedang pedangku
akhirnya patah, dan kau perlu

pahlawan baru untuk hinggapi
tubuhmu. selamat tinggal.

(tertanda: aku yang kepalanya
kaurenggut dan tak kunjung
tumbuh kembali)

(Jakarta, Juni 2019)





Dalam Vian, Aku Mencoba Bunuh Diri

keluar dari rahim ibu,
aku bercita-cita mati
di rahimmu, kutelan belati
atau kubakar diri

biar darahku mengiris laparmu
biar darahku menghanguskan
rumah-rumah hantu di perutmu

(Jakarta, Juli 2019)





*) Puisi-puisi ini dimuat di Takanta.id pada 22 Maret 2020.

Senin, 09 Maret 2020

HUMOR TENTANG TEMBAKAN-TEMBAKAN -- Sebuah Cerpen


*Sumber Gambar: Kompas




Pajenong sedang memakai deodoran di depan cermin, sambil mendengarkan pembawa berita di TV berbicara tentang terus bertambahnya kasus pemerkosaan di kota ini setahun belakangan. Tiba-tiba pistol Sarimin memuntahkan pelor ke belakang kepalanya. Pajenong seketika tumbang.

Sarimin yang dari tadi telah menyusup ke apartemen itu dan mengamati pemiliknya diam-diam dari kolong ranjang pun merangkak keluar dan memeriksa ponsel Pajenong. Screensaver ponsel itu berupa tulisan Kencan dengan Vianna pukul sembilan malam di Kafe X dengan font Times New Roman berwarna putih, berlatar belakang hitam.

Untuk tiba di wallpaper, Sarimin mesti memasukkan PIN yang tepat. Jika Sarimin berhasil memasukkan PIN yang tepat, pasti ia akan mengirim pesan ke Vianna, berbunyi, “Maaf, Sayang, aku tidak bisa kencan hari ini. Aku mendadak ingin putus denganmu. Omong-omong, kupikir Sarimin-lah pria yang paling tepat untukmu.” Sarimin lalu mencoba memasukkan PIN beberapa kali secara acak. Ketika ponsel Pajenong terblokir, Sarimin melempar ponsel itu keluar melalui jendela yang terbuka, bodoh amat perihal kepala siapa pun yang bakal terhantam sebuah ponsel yang terjun bebas dari ketinggian sepuluh lantai.
            
Akhirnya Sarimin tak tahu lagi mesti berbuat apa. Awalnya ia memang sengaja datang ke apartemen Pajenong berbekal sepucuk pistol. Tapi ia sama sekali tak berencana untuk membunuhnya, melainkan hanya secara tiba-tiba keluar dari kolong ranjang, menakut-nakuti Pajenong, memaksanya untuk membatalkan kencan dengan Vianna, dan memaksanya untuk memutuskan hubungan dengan wanita itu. Namun kemarahan yang secara mendadak menggigit kepalanya membuat Sarimin refleks menjulurkan tangan dari kolong ranjang dan menembak belakang kepala Pajenong, tanpa sempat ia memikirkan cara untuk mengamankan mayat korbannya, maupun cara menyelamatkan diri seandainya ia dikejar-kejar polisi.
            
Yang kemudian Sarimin lakukan, setelah menatap jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam, adalah melangkah cepat mendekati mayat Pajenong dan menendang-nendangnya sekuat tenaga hingga kakinya sendiri terasa sakit. Sarimin menganggap tendangan-tendangannya adalah pembalasan dendam atas pemerkosaan yang Pajenong lakukan terhadap Vianna. Lantas Sarimin memuntahkan enam peluru yang tersisa di pistolnya hingga kepala Pajenong hancur betul, dan menganggap tembakan-tembakan itu sebagai pelampiasan kefrustasiannya, karena tak dapat mengerti kenapa Vianna mau berkencan dengan pria yang telah memerkosanya.
            
Tiba-tiba terdengar pintu apartemen Pajenong diketuk. Suara tembakan-tembakan pasti telah menarik perhatian orang yang kebetulan berada di dekat pintu itu. Gempa dahsyat segera melanda jantung Sarimin sebab ia sama sekali belum siap untuk dipenjara. Keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya seakan ketuban bocor. Ketika sebentar kemudian terdengar pintu diketuk lagi dengan sedikit lebih keras, Sarimin langsung bergerak cepat menutup pintu kamar, mematikan TV, dan mengguling-gulingkan mayat Pajenong ke kolong ranjang. Deodoran Pajenong ia letakkan di tempat semula setelah dibersihkannya darah di sana dengan beberapa lembar tisu. Lantas jejak-jejak kematian di lantai ia bersihkan dengan handuk yang diambilnya dari lemari pakaian dan dibuangnya juga ke kolong ranjang.
            
Sarimin berpikir untuk melangkah tanpa suara ke pintu dan mengintip sang pengetuk. Namun terdengarnya ketukan berikutnya yang jauh lebih keras membuatnya batal mendekat ke pintu, sebab ia merasa ketukan itu adalah ketukan mengancam, semacam yang dilakukan para penagih utang terhadap pintu rumah si Pemilik Utang yang tak kunjung melunasi utang sejak seabad lalu.

Sarimin menyesal berat karena telah menghabiskan pelurunya. Penyesalan ini sama beratnya seperti saat ia menyatakan cinta kepada Vianna dua minggu lalu, mengakibatkan rusak totalnya persahabatan yang telah mereka jaga seperti aib-aib sendiri selama bertahun-tahun. Oh, seandainya malam itu aku memutuskan untuk diam saja, Vianna pasti tidak akan marah-marah, tidak akan lari dari rumahku, tidak akan bertemu dengan Pajenong di tengah jalan, tidak akan diperkosa di dalam mobil, dan tidak akan berujung pada pembunuhan yang kulakukan hari ini, Sarimin membatin.
            
Kali ini pintu bukan lagi terdengar diketuk, melainkan ditabrak dengan keras, tapi belum sampai terlepas dari engsel-engselnya. Jantung Sarimin nyaris terlontar keluar ke jendela yang terbuka, yang jika dimanfaatkannya untuk kabur sekarang pasti malah akan membuatnya bunuh diri. Sarimin pun mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari apa saja yang dapat digunakannya untuk menyelamatkan diri: tongkat bisbol, tongkat golf, dan kaki lampu berdiri. Dipukul dengan ketiga benda tersebut mestinya lumayan sakit. Tapi seketika terlintas dalam pikirannya bahwa semua itu belum tentu dapat menyelamatkan dirinya, jika ternyata yang menunggu di balik pintu adalah lebih dari satu orang. Ataukah aku mesti menjelaskan secara baik-baik kepada sang pengetuk bahwa Pajenong layak dibunuh, tak lain karena ia telah memerkosa Vianna dan dengan bangganya meneleponku untuk mengabarkan pemerkosaan itu?

Bagaimanapun, pembunuhan sama saja jahatnya, sambung Sarimin dalam hati. Akhirnya tatapan Sarimin terpaku ke lemari pakaian yang ukurannya lumayan besar. Tepat setelah terdengar pintu berhasil ditumbangkan, tanpa pikir panjang Sarimin mengumpet ke dalam lemari pakaian tersebut. Aroma harum seluruh pakaian Pajenong memenuhi bagian dalam lemari, mengingatkannya pada aroma bebunga harum yang ditaburkan ke dalam peti mati.
            
Mulailah terdengar suara langkah kaki di luar sana. Langkah kaki yang sangat ringan, seakan sang pemilik kaki mencoba melangkah di udara sebelum menyergap lawannya dari atas. Meski Sarimin benar-benar ketakutan, ia masih sanggup untuk fokus pada apa yang didengarnya, dan ia bisa menyimpulkan bahwa itu adalah suara langkah kaki satu orang—tak mungkin lebih. Dan karena hanya ada satu orang, semestinya Sarimin bisa keluar dari lemari sekarang juga dan bertarung melawannya, atau sekadar menodongkan pistol ke arahnya sambil melangkah keluar dari apartemen. Tapi melakukan yang mana pun di antara dua kemungkinan itu tidaklah mudah. Orang di luar sana mestilah orang yang kuat lagi pemberani, terbukti dari beraninya ia mendobrak masuk ke apartemen ini.
            
Beberapa jenak kemudian suara langkah kaki itu lenyap sekonyong-konyong. Tidak mungkin orang itu telah keluar dari apartemen ini. Jika ia melangkah keluar, semestinya yang terdengar adalah suara langkah kaki itu semakin mengecil dan mengecil dan hilang, alih-alih seketika hilang. Orang itu pasti sedang terbang! Dan, pintu lemari pakaian itu terdengar dikunci dari luar.

***

Harusnya Vianna menembak Pajenong ketika mereka berjumpa di Kafe X pukul sembilan malam nanti, tanpa peduli akan diapakan dirinya oleh orang-orang di sekitar. Namun Vianna keburu tak sabar untuk membantai Pajenong saking murkanya ia, sehingga ia memutuskan untuk langsung berangkat ke apartemen mantan kekasihnya itu berbekal sepucuk pistol, menumpang sebuah taksi—yang radionya menyiarkan berita tentang terus bertambahnya kasus pemerkosaan di kota ini setahun belakangan—dan tiba di tujuan pada pukul tujuh malam.
            
Karena tak kunjung dibukakan pintu, Vianna menerjang pintu apartemen Pajenong hingga roboh, dan ia sendiri kaget karena dirinya bisa menjadi sekuat itu. Alih-alih mendapati Pajenong yang terkejut, Vianna mendapati ketidakberadaan siapa pun di dalam sana. Mungkin Pajenong sudah berfirasat aku akan datang membunuhnya, sehingga sekarang ia sedang mengumpet. Wanita itu lantas melangkah masuk dengan sangat perlahan, seakan mencoba melangkah di udara sebelum menyergap Pajenong dari atas.

Apartemen Pajenong tidaklah luas, sehingga sebentar kemudian Vianna telah usai menjelajahi seluruh sudutnya tanpa mendapati keberadaan siapa-siapa, termasuk di kolong ranjang. Sambil duduk di tepi ranjang, Vianna berpikir, Apakah Pajenong begitu tak sabar berkencan denganku, sehingga ia sudah berangkat ke Kafe X?

Mendadak sesuatu entah apa membuatnya memaku tatapan ke lemari pakaian. Tubuhnya sontak menggigil. Dengan langkah tanpa suara, Vianna pun mendekati lemari tersebut dan mengunci pintunya. Lalu ia mundur beberapa langkah, menarik napas panjang-panjang, dan memuntahkan ketujuh butir peluru di pistolnya.

Darah menetes-netes dari celah bawah pintu lemari.

Vianna tersenyum dingin, menjatuhkan pistolnya ke lantai, dan meninggalkan apartemen itu dengan perasaan damai.

***

Vianna tetap datang ke Kafe X pukul sembilan malam. Ia merayakan kemenangannya yang cukup gemilang dengan memesan makanan mahal. Sembari menunggu makanan pesanan tiba, ia mengeluarkan ponselnya, mengakses situs berita terpercaya, dan membaca berita tentang terus bertambahnya kasus pemerkosaan di kota ini setahun belakangan.

Mendadak ia merindukan Sarimin dan membayangkan pria itu duduk di hadapannya. Ah, seharusnya waktu itu aku tidak usah marah-marah kepadanya. Tidak ada yang salah dengan ia jatuh cinta ....
            
Tepat setelah makanan pesanannya tiba, Vianna melihat seorang pria berpakaian rapi memasuki kafe. Pria itu melambaikan tangan ke arahnya sambil melangkah mendekat. Napas Vianna sontak tercekat. Dan ia hampir pingsan ketika Pajenong, dengan wajah dipenuhi bekas luka yang baru kering, duduk di hadapannya.




*) Cerpen ini dimuat di Kompas pada Minggu, 8 Maret 2020.