Sabtu, 04 Juli 2026

AYAM; DAN PUISI-PUISI LAINNYA

*Sumber Gambar: Kurubungka.co


Ayam

 

menyeberang ke kantor:

teringat seekor ayam

di sebuah teka-teki

 

(Jakarta, Maret 2024)


Minggu, 31 Mei 2026

LAPORAN KEPADA KOMANDAN: PELUANG REPRODUKSI DI BUMI -- Sebuah Cerpen

*Ilustrasi oleh: Mujahidin Nurrahman




Kepada Komandan Tim Riset Interplanet,

 

Melalui laporan ini saya, M931, sekaligus mewakili mendiang F929, akan menyampaikan hasil riset kami di Bumi, mengenai peluang kolaborasi reproduksi dengan Homo sapiens, dalam rangka memperluas penyebaran spesies kita dan mencegah kepunahannya.


Sejak dua tahun lalu, saya dan F929 telah mempelajari secara intensif salah satu bahasa Homo sapiens dari Kamus Bahasa Interplanet oleh mendiang M172, karena penguasaan bahasa adalah salah satu aspek penting dalam kolaborasi reproduksi. Akhirnya, pada 25 Ptorias 1997[1], kapsul kami turun ke Bumi; koordinat pendaratan kami adalah tempat dari mana bahasa dalam kamus M172 berasal. Kami sengaja menunggu hari gelap untuk mendarat, ketika aktivitas Homo sapiens paling minimum, sehingga potensi mereka menyadari kehadiran kami sangatlah kecil. Kapsul kami meluncur menembus permukaan sungai berair cokelat dan penuh sampah—tidak ada siapa pun di sekitar sana—dan parkir di dasarnya. Setelah berenang keluar ke bantaran, kami mengubah wujud menyerupai Homo sapiens: saya menjadi pejantan; F929 menjadi betina—lengkap dengan kostum khas spesies tersebut.


Dari bantaran, kami berjalan ke sembarang arah. Tiba di pinggir sebuah lapangan, kami melihat sepasang Homo sapiens jantan-betina sedang melakukan sesuatu di antara semak-semak: si Betina duduk di atas si Pejantan, mengulang-ulang gerakan dan kalimat pendek yang sama. Kami pun bersembunyi di balik pohon, saya mengaktifkan mode rekam pada mata dan telinga (rekaman saya sertakan bersama laporan ini); kemungkinan mereka tengah bereproduksi karena kata-kata si Betina menyiratkan demikian.


Melalui teleserfo[2] F929 berkata, “Ayo bajak percintaan mereka? Aku dengan si Pejantan, kau dengan si Betina.”

JURU CATAT -- Sebuah Puisi

*Ilustrasi oleh: Gemini AI




aku ditugaskan di bahu kirimu

tanganku pegal mencatat

sayapku pegal terbang bolak-balik

membeli pulpen dan buku catatan baru

sedang temanku di bahu kananmu

apa yang ia kerjakan?

hampir tak ada

Rabu, 18 Maret 2026

POHON KEPALA -- Sebuah Cerpen


*Ilustrasi oleh: Marc Chagall



Pohon itu tumbuh di halaman belakang rumahku, tampak serupa pohon mangga, tapi pohon mangga tidak berbuah kepala. Awalnya hanya ada satu kepala di sana, tak lama menjadi dua, lalu tiga, lalu terus membanyak seakan sekarang musim kepala.

Sebelum pohon kepala ada, dinding bata abu-abu di halaman belakang hanya setinggi leherku, dan sambil bermain kelereng aku bisa melihat segerombolan mahasiswa berjalan melewati belakang rumahku, membawa spanduk-spanduk dan meneriakkan nyanyian marah. Suatu Sabtu Ayah membawa para tukang untuk meninggikan dinding halaman belakang, katanya: “Mungkin ada maling di antara para mahasiswa itu, bukan?” Para tukang pun membangun dinding setinggi atap rumahku, dan halaman belakang terkubur bayangan dinding, dan pot-pot tanaman hias dipindahkan ke halaman depan agar tak kekurangan sinar matahari.

Beberapa hari setelah dinding ditinggikan, sepulang sekolah, aku mendapati Ayah berjongkok di halaman belakang, mengubur sesuatu dengan sekop tanah kecil. “Ini biji pohon kekayaan,” jelas Ayah. “Kau akan berkuliah di luar negeri. Kau tidak perlu berdemo.” Ayah menarik pisau dapur yang terselip di pinggang, dan menyayat telapak tangannya tanpa meringis, dan meneteskan darah ke biji yang ia tanam. “Berapa nilai ulanganmu tadi?”

“Tujuh puluh lima.”

“Tolong jangan buat Ayah sia-sia mencari uang.”

HARI INI PEKERJAANMU BELUM SELESAI -- Sebuah Cerpen

*Ilustrasi oleh: Kurt D. Peterson



Hari ini kau selesai bekerja pukul 19.36
―sedikit lebih cepat, eh?―lalu berdiri berdesak-desakkan di bus bersama mereka yang (semoga saja) sama pecundangnya denganmu, dan tiba di depan pintu kamar indekos pukul 21.01. Akhirnya hari ini berakhir, kau membatin, siap betul untuk membuat keturunan dengan istrimu malam ini juga, sekaligus merayakan ulang tahun pernikahan kalian. Tapi, begitu membuka pintu kamarmu, kau melihat ruang kerjamu di kantor.

Benar, matamu tak salah lihat, Pecundang.

Di balik pintu kamarmu, kau menemukan ruang kerjamu dengan meja rapat di tengahnya, plus Fatur dan Ryan dan Diana yang masih sibuk dengan laptop masing-masing di sana―dan tadi kau telah mengucapkan, “Selamat tinggal, Pecundang,” pada mereka. Entah ke mana lenyapnya kasur tanpa ranjangmu, lemari pakaian kainmu, maupun istrimu; entah ke mana lenyapnya kamar indekosmu.

Dan, terdengar langkah-langkah berat itu dari ruang kerjamu, dari kanan pintu; semakin lama semakin dekat, semakin memualkan seperti biasa. Akhirnya, masuklah babi itu ke area pandanganmu. “Kau tidur di toilet, eh?” ucapnya, membetulkan letak kaca mata di atas hidung yang penuh komedo. “Revisi.”

Oke, Bung, silakan tarik napas. Wajar jika kau tak siap menghadapi pemandangan ini. Toh, kau jarang siap menghadapi apa pun.

MALAM PERTAMA, KAMAR 404 -- Sebuah Cerpen


*Sumber Gambar: Kompas.id




Telentang di kasur, tangan kirinya menurunkan karet celana, tangan kanan meraba guratan-guratan di bawah pusar. Tatapan nanarnya terarah ke pintu balkon dan jendela di sampingnya. Jendela itu tertutup gorden marun tipis, menyala oleh cahaya bulan dan lampu-lampu jalan: satu-satunya sumber cahaya di kamar.

Ia mengambil ponsel dari samping bantal, mengangkatnya ke atas wajah, membuka chat di sebuah aplikasi. OTW. Pesan dikirim pukul 20.32. Di sudut kanan atas layar ponselnya: 21.04. Pendingin ruangan berdenging. Kulkas mini di kolong meja rias berdengung. Samar-samar terdengar rengek bayi dan motor-motor yang melintas.

Ting!

Sampai. Pukul 21.05.

Air matanya mengalir ke pelipis, meresap ke rambut hitam sebahu yang terurai di bantal. Jari-jarinya yang gemetar mengetik, Kamar 404, lantai 4. Ketuk saja. Kirim.

Segera ia menyalakan lampu kekuningan di kedua sisi ranjang dan lampu pucat di atasnya. Jejak air mata berbentuk lingkaran kasar tercetak di sarung bantal. Ia menghadap cermin, menarik tisu dari kotaknya di meja rias, menotol-notol basah pada wajah: celak dan bedaknya tak luntur. Ia memaksakan senyum, menyisir cepat rambut dengan jari-jari, mendorong naik cup bra dengan kedua tangan.

“Hai,” ucapnya ke cermin.

“Halo,” ucapnya lagi, lebih ramah.

“Ahh.”

“Aahhh!”

Ia membuang muka, menatap lantai, berdeham-deham. Tukang parkir di kejauhan berseru, “Terus, terus!” Ia menarik napas, menatap cermin lagi—wajahnya merah.

Oh, yes,” desahnya.

Oh, yes!

Pintu diketuk.

ADA SIAPA DI RUMAH INI SELAIN KITA? -- Sebuah Cerpen


*Sumber Gambar: Basabasi.co




Terdengar seseorang membuka-tutup pintu depan. Terdengar seseorang itu lewat dengan langkah ringan di depan Basar yang duduk di sofa. Aroma deodoran semprotnya tercium sesaat.

Felicia?” ucap Basar. Kau memakai deodoran pria sekarang?

Yang ditanya tidak menjawab; terdengar ia menaiki tangga.

Sesaat kemudian, seseorang membuka-tutup pintu depan lagi, sekilas angin menyentuh samping wajah Basar.

“Hai.” Ini jelas suara wanita. “Maaf lumayan terlambat.

Felicia?”

“Kau mengenali suaraku meski aku flu. Itu bagus.” Terasa Felicia duduk di sampingnya dan sofa berkeriut. Ia memakai parfum wanita. “Lapar?”

“Mamaku barusan kembali?”

“Ia ke kantor, bukan? Mobilnya tidak di depan.

“Siapa yang tadi ke atas …? Ia belum turun.

 

Minggu, 07 Desember 2025

SARANG TRAGEDI; DAN PUISI-PUISI LAINNYA


*Sumber Gambar: iStock




Sarang Tragedi

 

tragedi bersarang pada air yang mendinginkan kerongkonganmu

tragedi bersarang pada kopi yang mendentangkan jantungmu

tragedi bersarang pada manis krim di ujung lidahmu

tragedi bersarang pada kulit ayam yang berkriuk di gigimu

tragedi bersarang pada soda yang mengembungkan perutmu

tragedi bersarang pada gurih makan pagi dan siang dan malam

 

Kamis, 26 Juni 2025

MALAM PEMBUNUHAN -- Sebuah Cerpen

*Gambar oleh: Bambang Nurdiansyah



 

Demi Tuhan dari segala agama, jika kelak aku beranak-pinak, jangan sampai ada anakku yang menjadi penyair. Aku tak mau mereka gila. Aku tak mau mereka seperti Ibu.

Ibu tak tampak seperti seorang yang akan menjadi penyair. Ia adalah ibu rumah tangga yang selalu membersihkan debu hingga ke lantai sudut, berani menggoreng apa pun tanpa refleks mundur tiap minyak meletup, dan kuat menahan isak tangis saat menyeterika di ruang tengah seraya menonton sinetron—tapi ia tak sekali pun bersentuhan dengan puisi atau sesuatu yang berhubungan dengan literasi. Sungguh, tak ada gejala-gejala kepenyairan dalam dirinya.

Ibu mendadak menggilai puisi pada Juni tahun lalu, ketika hujan turun hampir setiap malam dan, pada paginya, beranda rumah dipenuhi bangkai sepasukan laron dengan sayap-sayap rontok.

4.695135, 96.749397; dan Puisi-Puisi Lainnya

*Sumber Gambar: openart.ai




4.695135, 96.749397.


keimanan sebatas padi

merunduk pasrah

dan berhalusinasi: sebongkah gereja

menjelma burung-burung

dan para petani sedang hibernasi

memeluk boneka sawah di ranjang 


(Jakarta, Oktober 2023)

 

Senin, 25 November 2024

SPA, KONTEN, DAN PERAMPOKAN -- Sebuah Cerpen

 
*Sumber Gambar: Solopos



Luxy Spa & Massage; ruang tunggu itu berwarna dominan krem dan beraroma lavender dan dipenuhi musik instrumental tenang. Di sofa panjang: Lea sedang mengatur posisi ponselnya di kepala monopod sebelum membuat vlog; Abeng sedang mengatur napasnya sebelum merampok.

Masker wajah Abeng basah oleh keringat dingin; kamera CCTV menatapnya tajam. Jendela menampakkan matahari kemerahan di langit barat, gumpalan awan yang lewat menyembunyikannya. Abeng pura-pura terbatuk agar tampak beralasan untuk terus bermasker. Pisau lipat di saku jinnya perlahan memanas.

“Hai, Leanicious!” Lea melambai ke kamera depan ponsel dan menjelaskan di mana ia berada dan lain-lain. Ada satu hal yang tak ia ucapkan: ia akan membuat konten prank.

ODE UNTUK KATA-KATA KASAR; dan Puisi-Puisi Lainnya

 


*Sumber Gambar:
Angel of Death (Horace Vernet), dari WikiArt.org.




Ode untuk Kata-Kata Kasar

 

terima kasih kepada kata-kata kasar

yang tak mungkin kusebutkan satu pun di sini

yang tangan halusnya menyelamatkan

kepala atasan dari bogemku

kepala bawahan dari sol sepatuku

kepala teman dan keluarga dari pelorku

dan tangan lembut kata-kata itu

penuh kesabaran menggandengku

menjauh dari gerbang penjara

pun gerbang neraka

 

PEREMPUAN DI VIDEO YANG SEMPAT VIRAL -- Sebuah Cerpen

*Sumber Gambar:




Dara hanya perlu bersikap tenang di meja makan ini, di hadapan keluarga Adam, sambil menyantap steik, dan menjawab pertanyaan kedua calon mertua soal seluk-beluk seorang pustakawan. Tapi, tatapan Birawan dari sisi seberang meja terus mengulitinya. Tatapan itu terlalu familiar, serupa tatapan dari banyak pria yang mengulitinya sejak lima tahun lalu—terutama lima tahun lalu—di mana pun perempuan itu berada. Ia berusaha tak peduli.

“Apa kita pernah bertemu?” tanya Birawan akhirnya.

Sisi kiri lidah Dara tergigit. Keringat dingin menuruni lehernya. Anyir darah segera bercampur dengan potongan steik di mulut. Di samping perempuan itu, Adam menatapnya bertanya-tanya; di hadapannya, kedua calon mertua menatapnya bertanya-tanya—dan di samping Calon Ayah Mertua, Birawan menatap Dara curiga, seraya membetulkan letak kaca mata yang berlensa tebal.

Tubuh tambun Birawan mengeluarkan bau kaus kaki berkeringat. Pipi kirinya bopeng dan berminyak, pipi kanannya tertutup sempurna oleh keloid luka bakar. Dara mual memikirkan bagaimana pria itu—pasti pernah—membayangkan menyentuhnya.

“Mungkin Kakak melihatnya di perpustakaan?” kata Adam.

“Aku tidak pernah ke perpustakaan pacarmu,” balas Birawan.

Hening sejenak, sampai Calon Ibu Mertua mengingatkan mereka untuk lanjut menyantap steik. Birawan mengatakan ia harus menjawab panggilan dari atasan—meski ponselnya tak berdering—dan tatapan Dara, diam-diam, mengikuti calon kakak iparnya ke balik bar dapur. Birawan mengeluarkan ponsel dari saku, menahan tombol untuk menurunkan volume suara, sebelum memerhatikan layar ponsel dengan dahi mengernyit. Sesaat kemudian, ia menatap lekat wajah Dara. Tatapan itu terlalu familiar, serupa tatapan dari banyak pria yang mengulitinya sejak lima tahun lalu—terutama lima tahun lalu—di mana pun perempuan itu berada.

 

***

 

Kau perempuan di video itu.

Ponsel terlepas dari tangan Dara, jatuh ke lantai. Pesan WhatsApp itu dikirim oleh nomor tak dikenal. Suatu gumpalan menyekat jalur napasnya mendadak. Tubuhnya gemetar, jatuh ke kasur, air matanya meleleh—jeritan tertahan di pangkal lidah.

Ponselnya berdering. Semenit. Dua menit. Dara tak sanggup bergerak. Ponsel berhenti berdering.

Dan terdengar pesan WhatsApp masuk.

Ketika Dara berhasil mengendalikan diri, ia mengambil ponselnya dari lantai. Nomor tak dikenal itu mengirim sebuah foto. Tangkapan layar dari sebuah video. Seorang perempuan, telanjang, terbaring di ranjang, dengan kain hitam membelit matanya, tali kabel membelit kedua tangannya di sandaran tempat tidur bermodel jeruji.

Dara menjerit dan membanting ponsel.

 

***

 

Dara tahu-tahu berada di sebuah kafe, tempat pertemuan pertamanya dengan Adam enam bulan lalu. Adam tak tampak di mana pun. Para Dara-yang-lain duduk di setiap meja, di sekelilingnya, dalam rangkulan pria-pria berbeda.

Mereka semua kompak berciuman.

Tiba-tiba Adam sudah duduk di depannya, menangis, menampar-nampar diri sendiri. Hentikan, pekik Dara. Adam terus menampar diri sendiri. Perempuan itu hendak menghentikannya, tapi tangannya terikat tali kabel ke lengan kursi.

 

***

 

Pergelangan Dara kembali berdenyut-denyut. Dengus napas lelaki itu kembali terdengar: awalnya hanya di dalam kepala, lama-lama seperti berasal dari antara rak-rak buku. Tak ada seorang pengunjung pun pagi ini. Dara berlari ke toilet dan muntah di wastafel. Wastafel mungkin akan mampet lagi, tapi masa bodoh.

Begitu ia keluar dari toilet, seorang pria telah berdiri di hadapan meja pustakawan yang kosong. Pengunjung pertama. Jantung Dara tercelos. Suatu gumpalan kembali menyekat jalur napas. Pria itu menoleh ke arahnya.

“Bisa bicara sebentar?” Suara Birawan bergetar.

Dara memaksakan senyum dan setenang mungkin kembali ke meja pustakawan. “Buku apa yang kau cari?”

“Perpustakaan selalu sepi, eh?” Birawan menoleh ke sekeliling, menyeka lensa kaca mata dengan ujung kemeja. Bau tubuhnya menyentak tenggorokan.

Satu hal yang paling Dara suka dari perpustakaan provinsi adalah jarangnya ada pengunjung. Jarangnya ada yang menemuinya. Jarangnya ada yang, kemungkinan, pernah melihat wajahnya—berbeda dengan di kafe dulu. Semakin sedikit orang yang suka membaca, semakin bagus.

“Maaf jika kedatanganku mengejutkanmu,” lanjut Birawan. Dari gemetar suaranya, ia tak siap untuk membicarakan topiknya. “Omong-omong, kenapa kau tidak membalas pesanku? Atau menjawab panggilanku?”

Mata Dara menghangat. Ia tak boleh menangis. Tangisan hanya membenarkan tebakan calon kakak iparnya. Dara hanya perlu bersikap tenang di meja pustakawan ini, di hadapan Birawan.

“Ponselku jatuh di tangga.” Dara mengeluarkan ponsel dari saku. Layarnya retak. “Lihat, aku tidak bisa menyalakannya. Akan kubawa ke tukang servis.”

Birawan menelan ludah. “Aku belum bilang apa pun ke adik atau orang tuaku. Tapi … boleh kita bicara sebentar?”

Dara mengangguk.

Dara telanjur mengangguk.

Kenapa ia harus telanjur mengangguk?

Birawan melangkah ke rak-rak buku. Dara mengikutinya, seperti melangkah di dasar sungai, melawan arus. Denyut di pergelangannya semakin menusuk. Rak buku setinggi dua ratus sentimeter di kedua sisinya semakin mengimpit dan mengimpit, bayangannya mengubur mereka berdua. Pria itu pun berhenti dalam apitan dua rak paling ujung, rak kategori teknologi dan budaya, dan terbatuk singkat.

“Aku tahu ini salah.” Birawan memijat-mijat jembatan hidung. “Tapi, aku hanya ingin merasa dicintai—sekali saja. Setelah itu, lupakan.

Pola kalimat itu familiar.

Tatapan Birawan tertuju ke barisan buku terbawah di rak budaya. “Aku tak setampan Adam. Adam sudah enam kali berpacaran—termasuk denganmu—sedangkan aku tak pernah. Tidak ada yang suka dengan pipi kananku, bukan begitu? Satu kesalahan di masa lalu, dan tak ada yang menyukai pipi kananku selamanya.” Ia menyedot ingus. “Selain itu, Ayah memilih Adam untuk memimpin perusahaan—dan bukan aku. Aku tak pernah dapat kesempatan untuk apa pun.”

Salah satu kamera pengawas berada di sudut langit-langit terdekat, menatap mereka. Dara tak bisa menampar Birawan. Dengus napas itu pun terdengar lagi. Semakin keras dan semakin keras. Setiap buku di sekelilingnya bernapas, hidup, memerhatikannya.

“Besok malam Adam dan kedua orang tuaku pergi,” lanjut Birawan. “Dan, aku bisa menyuruh pembantu kami pergi beberapa jenak.

Air mata Dara menetes. Ia langsung berbalik meninggalkan Birawan dengan langkah-langkah cepat, seolah lorong rak buku terus menyempit, hendak meremukkannya. Ia hampir terjatuh karena hak tinggi—tapi ia terus melangkah cepat. Ketika Dara lolos dari himpitan rak buku, tampak sepasang mahasiswa-mahasiswi berdiri bergandengan di depan mejanya.

“Hai, bisa bantu kami?” tanya si Mahasiswi. Ada cupang di lehernya.

 

***

 

Jalan termudah adalah meninggalkan Adam dan mencari pacar baru yang tak satu pun anggota keluarganya pernah melihat video itu. Tapi, tak ada jalan mudah dengan janin di rahim, dengan janji sang pacar untuk bertanggung jawab dalam waktu dekat—minimal hingga kedua orang tuanya benar-benar mengenal Dara.

Dara menekan tombol bel di samping gerbang. Sekitar lima menit kemudian, pintu beranda terbuka. Wajah Birawan pucat terkena cahaya lampu beranda. Tak tampak seorang tetangga pun di luar rumah.

“Kau belum memberi tahu mereka, bukan …?” tanya Dara.

 

***

 

Birawan menggandengnya ke kamar. Di samping ranjang, rak buku menutup satu sisi dinding, hampir menyentuh langit-langit. Dara familiar dengan beberapa punggung buku, semisal Kuasai Jalan Hidupmu. Birawan melepas gandengan dan menyalakan pendingin ruangan dan duduk di tepi kasur, keloid di pipi kanannya memantulkan cahaya, bau tubuhnya memenuhi ruangan. Di meja belajar: selembar masker penutup mata dan sebungkus tali kabel.

“Kau tidak perlu memakainya, jika keberatan.” Suara Birawan gemetar seperti kemarin.

Dara menatap wajah pucatnya di cermin. Sudah bertahun-tahun ia menolak cermin, sudah bertahun-tahun ia ingin menyayat wajah sendiri. Lekuk tubuhnya masih hampir sama seperti lima tahun lalu. Seperti di video. Seperti bentuk yang menguasai kepala banyak pria.

Ia tak ingin kabur lagi.

“Aku bersedia.”

Birawan menelan ludah. Dara mengambil masker penutup mata dan dua helai tali kabel. Ia tersenyum seraya menggigit bibir bawah—senyum yang pernah ia latih tanpa lelah. Birawan sekali lagi menelan ludah, dan Dara melepas kaca mata berlensa tebalnya—lantas memakaikan masker ke mata sang pria.

“Kenapa mataku …?” tanya Birawan.

“Sedikit variasi pasti lebih seru. Aku berpengalaman.”

Birawan cepat-cepat melepas pakaian, meletakkan kepala di bantal, merentangkan tangan. Ini pasti hari terindahnya. Dara mengikatkan kedua tangan pria itu ke sandaran tempat tidur bermodel jeruji seraya berbisik, “Nanti, usahakan sedikit melawan.”

“Terima kasih.” Birawan hampir menangis terharu.

Persiapan selesai. Tanpa suara, Dara melangkah ke rak buku. Ia tak bisa dibodoh-bodohi untuk kali kedua. Di antara buku Kuasai Jalan Hidupmu dan Menjadi Raja dalam Sehari, terdapat celah selebar setengah jengkal. Dalam keremangan celah, sebuah ponsel bersandar ke dinding dalam rak, kameranya mengarah ke tempat tidur. Dara sudah melihatnya dari awal. Pelan-pelan, ia mengeluarkan ponsel itu.

“Apa yang kita tunggu?” tanya Birawan.

Ponsel itu sedang merekam, kini memasuki menit keempat belas. Pasti rekaman dimulai sejak Dara menekan bel.

“Aku akan membuka pintu,” kata Dara. “Rasanya akan lebih menantang dan seksi.”

“Baik.”

Dara menghentikan dan menghapus rekaman, membuka Instagram Birawan, menggeser layar ke kanan. Live. Ia memastikan wajahnya tak tertangkap kamera, dan memberdirikan ponsel dengan menyandarkannya ke buku, kamera mengarah ke tempat tidur.

Dara membuka pintu kamar. Dan ia keluar.

 

***

 

Begitu Dara membuka pintu beranda, para Dara-yang-lain sudah menunggu di luar, menghadap ke arahnya. Mereka berjumlah belasan. Puluhan. Ratusan. Mereka memenuhi beranda. Memenuhi halaman. Memenuhi area di balik gerbang. Mau apa mereka? Ketika Dara melangkah meninggalkan ruangan, para Dara-yang-lain berbondong masuk, membuatnya berkali-kali terdorong kembali ke ruang dalam.




*) Cerpen ini dimuat di Janang.id pada 21 Oktober 2024.